
Mungkin sebaiknya aku menemui Yasa! pikir Jingga seraya melangkah keluar, lalu menutup pintu depan yang berat.
Ayahnya ternyata tidak berada di rumah saat ia tiba. Ibunya bilang, mungkin ayahnya baru akan pulang dua-tiga hari lagi.
Ia menghirup udara luar yang segar dan mendongak ke langit. Awan gelap menyelubungi matahari.
Lebih baik aku cepat-cepat sebelum turun hujan, pikirnya.
la menghidupkan pemutar musik di ponselnya, dan mulai menuruni tangga batu menuju jalan.
Jingga tiba-tiba teringat pada kucing hitam milik Bu Lastmi, caranya mengeong keras ketika melihat Jingga mencoba ke kamar Bu Lastmi, caranya memandang.
Stop, Jingga. Hentikan, ia memarahi dirinya sendiri. Jangan biarkan khayalanmu mengembara ke mana-mana lagi.
Jingga berjalan cepat, membiarkan musik berdentam-dentam di telinganya melalui perangkat headset, menyapu semua khayalannya.
Jingga melangkah mengikuti irama musik, tidak memikirkan apa-apa lagi, mulai merasa enak, entakan drum synthesized mengiringi langkahnya.
Tiba-tiba wajah Magenta melintas di benak Jingga.
Apa dia sudah tahu kalau aku berada di rumah?
Tidak.
Dia tidak tahu. Dia tidak ingin tahu, kata Jingga pada diri sendiri.
Sejak malam itu, Jingga belum bertemu lagi dengan Magenta. Ia mengurung diri di rumah selama sisa akhir pekannya, dan cowok itu tidak sedikit pun berusaha menemuinya meskipun sudah berjanji akan menjemputnya di rumah.
Dia lupa pada janjinya!
Kenapa dia sering sekali lupa pada janjinya?
Karena dia tidak peduli!
Kemarahan menyengat Jingga. Tapi lalu ia menegur dirinya sendiri lagi karena uring-uringan.
Ia berusaha memikirkan hal-hal yang menyenangkan, kembali menikmati musik, menaikkan volumenya. Semakin keras musik itu, semakin kecil kesempatan masalah memasuki pikirannya.
Ikuti arus! katanya pada diri sendiri. Ikuti. Ikuti saja arusnya.
Jingga baru saja akan berbelok di sudut jalan di depan kios martabak ketika tiba-tiba ada tangan yang menggamit bahunya.
"Oh!"
Jingga tersentak, lalu melepaskan headphone dan berbalik. "Genta! Bikin kaget aja!"
Magenta cengar-cengir. "Udah sepanjang setengah blok aku panggil-panggil."
"Oh. Pasti aku nyetel musiknya kekecengan." Jingga mematikan pemutar musiknya. "Ngapain kamu di sini?"
Mata gelap Magenta memandang Jingga dengan tatapan menggoda. Disibakkannya rambutnya ke belakang. Ia memakai jeans hitam yang sudah belel dan T-shirt putih berlapis jaket parka loreng army.
Oke, oke. Dia memang kece, batin Jingga. Masalahnya, dia sangat menyadari hal itu.
__ADS_1
"Aku... aku mau ngomong sama kamu, Jingga."
"Lain kali aja. Aku lagi buru-buru." Jingga berbalik dan mulai melangkah. Ia tidak percaya pada sikap dinginnya sendiri... tapi, apa lagi yang dapat dilakukannya pada cowok ini?
Jingga sudah menyia-nyiakan waktu liburannya, menghabiskan sisa akhir pekannya hanya dengan mengurung diri, menunggu cowok itu menjemputnya di rumah tapi sampai larut malam cowok itu tak kunjung menjemputnya.
Dan sekarang, cowok itu di sini, mengekorinya seperti anak anjing.
Pasti bukan sengaja ingin menemuinya!
Cowok ini mungkin hanya kebetulan saja melihatnya, kemudian mengikutinya.
Ia tidak pernah benar-benar peduli padaku kecuali aku melintas di depan batang hidungnya, pikir Jingga kesal.
"Kamu mau ke mana, sih?" tanya Magenta seraya terus membuntutinya.
"Ke rumah Yasa!" jawab Jingga acuh tak acuh, seraya menunjuk persimpangan antara wisata air terjun dan desa selatan, tanpa menoleh pada Magenta.
Magenta mengejarnya dan meraih lengan gadis itu. "Jadi kamu beneran jalan sama Yasa?" desaknya setengah menuntut.
Jingga menghentikan langkahnya dan menatap tajam mata Magenta. "Maksud kamu apa?"
"Anak-anak bilang, mereka liat kamu sama Yasa di pasar malem waktu aku nonton sama Kantata."
"Ya, terus kenapa? Kamunya juga kan pergi nonton!" Jingga berkilah.
"Aku juga kan ngajak kamu, tapi kamu gak mau. Malah pergi sama Yasa!"
"Aku udah terlanjur turun gunung. Dan kamu malah mentingin nonton sama temen-temen kamu! Gak ada salahnya kan, kalo aku juga nikmatin hidup?" sergah Jingga setengah menghardik.
Bahkan Jingga sendiri terkejut dengan hardikannya. Tapi ia tak peduli. Magenta harus belajar mengerti orang lain. Cowok itu harus tahu kalau Jingga kecewa malam itu.
Begitu juga malam berikutnya.
Jingga menarik lengannya dari genggaman Magenta.
"Jingga---aku minta maaf soal itu, aku tau aku salah. Tapi—"
"Tapi kamu bikin kesalahan lagi besok malemnya!" potong Jingga ketus.
"Aku…" Magenta menelan ludah dengan raut wajah berkerut-kerut. "Aku kira kamu pergi lagi sama Yasa."
"Bagus," gerutu Jingga. "Tau gitu aku mending beneran pergi sama Yasa."
"Jingga—" Magenta menangkap lengannya lagi.
"Lepasin!" tukas Jingga dingin.
"Kamu mau ngapain ke rumah Yasa?" Magenta melontarkan pandangan cemburu, pesimis dan krisis percaya diri, yang biasanya selalu berhasil meluluhkan hati Jingga. Tapi sekarang membuatnya kelihatan konyol.
Kenapa dulu aku begitu peduli padanya? tanya Jingga dalam hati. Dia sendiri tak pernah peduli padaku.
"Please," pinta Jingga dengan tatapan memohon. "Aku ada hal penting yang harus diobrolin sama Yasa."
__ADS_1
"Kenapa harus Yasa?" tanya Magenta parau.
"Karena kamu gak bakal ngerti!" jawab Jingga.
Magenta langsung terdiam dengan ekspresi terluka. Dengan patuh Magenta menghentikan langkahnya dan memberi jalan.
Jingga tak peduli. Itu sudah tak mempan lagi, pikirnya muak. Lalu bergegas melewati Magenta.
"Jangan lupa dua tahun yang lalu Yasa itu seperti apa!" teriak Magenta mencoba memperingatkan. Lebih terdengar sedih daripada mengancam.
"Jangan lupa bahagia!" Jingga balas meneriakinya, dan mulai berlari.
.
.
.
Yasa menyapa Jingga dengan malu-malu, keluar dari pintu depan rumahnya, tersenyum agak gugup, dan mengulurkan tangan untuk menyalami Jingga. Ia memakai jins yang berlubang di bagian dengkul dan T-shirt hitam lengan panjang berleher tinggi.
Jingga mengulum senyumnya. Yasa kelihatan kaku dan kikuk ketika mencoba menyalaminya. Jingga senang melihat cowok itu tersipu-sipu. Pipinya yang putih bersemu merah.
"Aku nggak ganggu, kan?" tanya Jingga, sambil berbalik dan berjalan pelan ke halaman depan.
Yasa tersenyum tipis dan menggeleng, "Nggak," jawabnya singkat. "Kamu belum balik ke Serang?" tanyanya ketika mereka mulai berjalan melintasi lapangan berumput.
"Aku balik lagi," Jingga tertawa dan menarik lengan Yasa, dan terkejut menyadari betapa dingin tangan itu.
Dia gugup, pikir Jingga. la jadi merasa senang kemudian menarik lengan cowok itu ke bawah untuk duduk di rumput di sampingnya.
Yasa tampak malu. "Kenapa?" tanyanya.
"Ah—" Jingga ragu-ragu. "Sebenernya… ada sedikit masalah di kostanku yang baru. Aku baru pindah dan baru tidur semalem di sana. Tapi belum apa-apa udah ngalamin hal aneh."
"Hal aneh?" Yasa menoleh pada Jingga dengan mata terpicing.
Jingga mengangguk.
"Jadi itu sebabnya kamu nemuin orang aneh?" tanya Yasa sambil tertawa.
Aku suka tawanya, batin Jingga. Dia jarang tertawa. Biasanya dia sangat serius, tapi kelihatan sangat kece kalau tertawa.
Mereka berdua duduk berdekatan di atas rerumputan dan bercakap-cakap tanpa gangguan selama hampir dua jam.
Jingga bercerita tentang Bu Lastmi dan kucing hitamnya. Juga tentang rumah itu dan perabotannya yang aneh. Lalu ia juga mengutarakan teorinya mengenai kemungkinan Bu Lastmi telah menenungnya hingga ia berjalan dalam tidur.
"Kamu pasti bakalan ketawa dengerin teori aku," Jingga berkata sebelum mengutarakan teorinya.
Tapi Yasa tidak tertawa. Wajahnya makin serius ketika Jingga berbicara, dan ia mulai mengangguk setuju.
"Bisa jadi," katanya ketika Jingga selesai bicara.
"Kamu gak nganggap otak aku miring?"
__ADS_1
"Nggak," Yasa berkata dengan serius.