Bebegig

Bebegig
Chapter 74


__ADS_3

Jingga menarik wajahnya dari bahu Yasa dan mengerutkan dahi, menatap Yasa dengan terkejut.


"Kamu harus pindah dari sini," kata Yasa sambil mengusap keringat di dahi Jingga. "Rumah ini gak beres!"


"Kamu bilang aura mistis di rumah ini bersifat sugestif?"


"Gak beres gak selalu mistis!"


"Tapi yang punya rumah lagi pergi, gak tau kapan pulangnya," tukas Jingga. "Gak sopan kan, kalo aku pergi gitu aja?"


Yasa mengerutkan keningnya, berpikir keras. "Paling nggak kamu jangan di sini dulu sampe dia pulang."


"Tapi dia nitipin Cakra," sergah Jingga.


Cakra mengeong dengan suara lirih.


Yasa melirik kucing itu dengan ekspresi bimbang. "Kita bawa Cakra," ia mengusulkan.


Giliran Jingga sekarang yang menatap Cakra dengan ekspresi bimbang.


"Aku gak bisa terus-terusan nemenin kamu di sini," kata Yasa lagi. "Kita gak boleh berdua-duaan lagi kayak semalem!"


Jingga menggigiti bibir bawahnya, mencoba menimang-nimang.


"Ayo," kata Yasa memberi dorongan. "Aku temenin cari kostan baru."


"Tapi…" Jingga ragu-ragu.


Yasa mengerti kebimbangan Jingga.


Untuk bisa pindah kostan, Jingga harus berunding terlebih dulu dengan kedua orang tuanya karena masalah dana anggaran bulanan Jingga bergantung pada mereka.


Tapi Yasa sudah memperhitungkan semuanya sebelum menyarankan Jingga mencari tempat baru.


"Udah, kamu gak usah mikirin apa-apa. Yang penting kamu punya tempat dulu," Yasa menenangkannya.


Jingga masih terlihat ragu-ragu. Selain masalah finansial, sebetulnya masalah mencari rumah sewa ini juga tidak mudah di kota industri, terutama di ibukota provinsi.


"Ayo, mumpung masih siang!" Yasa mendesaknya dengan tekanan lembut.


"Oke," Jingga menepuk puncak kepala Yasa sambil tersenyum.


Yasa balas tersenyum dan beranjak dari lantai.


Jingga mengambil buku sajak Bu Lastmi dan mengembalikannya ke perpustakaan. Lalu buru-buru ke kamarnya untuk mengambil sweater, sementara Yasa membantunya membereskan meja makan dan mencuci piring.


Setelah memastikan semua pintu dan jendela sudah terkunci, Jingga kembali lagi ke dapur, sedikit terkejut mendapati semua pekerjaan bersih-bersih itu sudah selesai.

__ADS_1


Yasa mengelap tangannya dengan serbet dan menoleh pada Jingga. "Udah selesai?" tanyanya.


"Udah," jawab Jingga sambil mengerjap menatap Yasa dengan sorot terpesona.


Yasa menaikkan sebelah alisnya.


Jingga buru-buru berpaling dan membungkuk untuk mengangkat Cakra dari lantai.


Yasa mengedar pandang untuk memastikan semuanya sudah rapi. Lalu mereka berjalan beriringan melewati koridor ke pintu depan.


Jingga mengunci pintu depan, sementara Yasa bergegas ke mobilnya sambil menggendong Cakra.


"Nah," kata Yasa pada Cakra setelah ia menyelinap masuk ke belakang kemudi dan menutup pintu. "Sekarang jangan nakal, ya," katanya sambil mengusap-usap punggung kucing itu.


Kucing itu sudah meringkuk dengan nyaman di pangkuannya, ketika Yasa mulai menyalakan mesin dan mengeluarkan mobil itu dari halaman rumah Bu Lastmi.


Selesai mengunci gerbang, Jingga menyelinap masuk ke jok penumpang depan dan mengambil alih kucing itu.


Kucing itu mengerang seperti orang yang sedang menggumam.


Jingga menoyor kepala kucing itu sembari menggerutu.


Yasa hanya tersenyum menanggapinya, lalu mulai menjalankan mobil meninggalkan area perumahan itu, keluar melewati rumah Violet dan berbelok ke jalan raya.


Arus lalu lintas sudah terlihat padat meski waktu baru menunjukkan pukul tujuh pagi.


Acara mencari kostan itu berlangsung hingga hampir setengah hari. Tidak ada kamar kosong di hampir semua kostan. Yasa memutuskan untuk beristirahat sebentar saat jam makan siang.


Yasa memesan banyak menu dan juga ikan yang secara khusus dipesan untuk Cakra.


Dalam hatinya, Jingga bertanya-tanya apakah Yasa tidak pernah kehabisan uang seperti keluarganya.


Setelah kemarin seharian mencari keberadaan Jingga, ditambah mencari kostan baru, tentunya cowok itu sudah menghabiskan banyak uang untuk bahan bakar kendaraannya. Sekarang cowok itu juga harus mengeluarkan uang untuk makan siang mereka. Belum lagi untuk membayar sewa kostan nanti.


Diam-diam Jingga merasa tak enak hati. Tapi ia berusaha untuk tidak memperlihatkannya pada Yasa untuk melihat ketulusan pria itu meski tak perlu.


Alangkah baiknya jika dia adalah Magenta, pikir Jingga muram.


Bukan uangnya, tapi kepeduliannya.


Jingga bisa mengerti kondisi ekonomi keluarga Magenta sama payahnya dengan keluarganya, itulah sebabnya ia merasa bahwa mereka bisa menjadi pasangan sepadan. Tapi bicara kepedulian dan sikap mengalah, kenapa rasanya selalu berat sebelah?


Kenapa selalu Jingga yang harus mengalah dan berusaha mengerti?


Sekarang, ketulusan Yasa membuatnya semakin merasa bersalah.


Magenta takkan menyukai ini!

__ADS_1


Usai makan siang, mereka melanjutkan pencarian.


Tapi ketika mereka akhirnya berhasil mendapatkan kamar kosong di salah satu rumah kost, Yasa melihat aura negatif di tempat itu, jauh lebih buruk dari rumah Bu Lastmi.


Yasa menggeleng pada Jingga, mengisyaratkan gadis itu bahwa tempat itu tidak memenuhi syarat.


Jingga hanya angkat bahu dan memohon diri pada si pemilik rumah. Lalu melanjutkan pencarian.


"Mungkin sebaiknya kita cari rumah petak aja," saran Yasa.


"Maksud kamu kontrakan?"


"Yupz!" Yasa menjawab singkat, sambil meneliti sepanjang tepian jalan yang mereka lewati.


Rumah-rumah kontrakan satu kamar dengan satu kamar mandi yang harga sewanya sesuai dengan kondisi keuangan keluarga Jingga rata-rata sudah penuh.


Banyak kontrakan yang masih kosong tapi rata-rata belum selesai dibangun, itu saja sudah banyak dipesan.


Sisa kontrakan dua atau tiga kamar yang biasa disewa buruh pabrik yang sudah berkeluarga, tapi harganya bisa membuat Empu Brajasena terkena anxiety setiap bulan. Itu saja masih belum benar-benar kosong.


"Orangnya udah pindah, tapi barang-barangnya masih di sini," jelas si pemilik rumah. "Kalau mau nunggu, tiga hari lagi…"


"Ya udah, gak apa-apa!" pungkas Yasa, seraya menarik dompetnya, mengeluarkan sejumlah uang dan memberikannya pada si pemilik rumah tanpa berpikir panjang.


Jingga mencubit lengan cowok itu diam-diam, mengisyaratkan Yasa untuk tidak gegabah mengambil keputusan.


Tapi Yasa berpura-pura tidak mengerti arti peringatan itu.


Pemilik rumah itu langsung memberi kunci cadangan pada Yasa dan menyarankan pada mereka untuk kembali tiga hari lagi.


"Pokoknya, diambil gak diambil barang-barangnya, saya usahain kamarnya udah kosong dalam tiga hari." Si pemilik rumah meyakinkan mereka.


Mereka pun berpamitan dan bergegas kembali ke mobil.


"Ambil barang-barang kamu di rumah itu. Selama tiga hari ini, kamu pulang dulu ke Cipagenggang!" saran Yasa setelah mereka berada di dalam mobil. Lebih terdengar seperti perintah daripada saran.


"Tapi—"


"Kamu mau aku nginep lagi di rumah itu, terus bangun tidur kayak tadi lagi?" sergah Yasa memotong perkataan Jingga, ia melirik Jingga sambil tersenyum nakal.


Jingga mendadak salah tingkah. Entah kenapa ia tidak merasa keberatan sama sekali. Tapi ia tersipu malu.


"Rumah itu sebenernya ada apanya sih, Sa?" Jingga bertanya setelah sejenak terdiam. Tatapannya tetap tertuju pada Cakra di pangkuannya. Tidak berani menatap Yasa.


Yasa meliriknya sekilas dan tersenyum samar. "Rumah yang mana?" godanya pura-pura tak paham.


Jingga langsung menoleh dan memelototinya.

__ADS_1


Yasa mendesis menahan tawa.


Gadis itu akhirnya mengangkat wajah dan menatapnya!


__ADS_2