
Langit malam terlihat terang, cerah dan tak berawan. Fenomena yang langka terjadi di desa hujan.
Permukaan air sungai di bawah air terjun berkilauan seperti bunga perak raksasa di bawah sinar purnama.
Pasangan-pasangan duduk berdempetan di bebatuan di sepanjang tepian sungai sembari mencelupkan kaki, arus air yang tidak stabil memukul-mukul pergelangan kaki mereka.
Anak-anak cowok berkumpul dalam kelompok-kelompok, mengobrol dan tertawa-tawa sambil duduk di atas hamparan tikar plastik.
Musik berdentam-dentam dari sound portabel, kadang terdengar kadang tidak di antara deburan air terjun yang beradu kekuatan dengan angin.
Sangat ramai!
Sangat… tidak terduga.
Akhirnya Jingga tahu di tempat ini ada wisata air terjun.
Bisa jadi aku kerasan tinggal di sini, pikirnya.
Di kaki bukit batu yang rendah, beberapa anak telah membuat api unggun kecil.
Dewa, dan Magenta berjalan menghampiri tempat itu, diikuti Jingga di belakang mereka. Mereka mengenali beberapa anak, teman-teman sekolah mereka dari desa tetangga di sisi lain kaki gunung.
"Woi, Deblog!" Dewa memanggil cowok yang wajahnya dipermainkan bayang-bayang api yang berkedip-kedip cepat.
Kantata.
Anak laki-laki bertubuh tinggi besar dan berambut pendek spiked, berpaling mendengar namanya dipanggil. Matanya menyipit memandang Dewa dan Magenta. "Hei—si kembar pink! Apa kabar? Kalian masih banci?"
"Lu masih goblok?" Dewa menepuk punggung Kantata keras-keras.
Kantata mengerang, "Coba ulangi kalo mau berenang malem-malem!"
Dewa mengangkat tangannya, bersiap menepuk punggung Kantata lagi, tapi Kantata menghindar.
Beberapa anak yang lainnya menyapa Jingga dan Magenta. Dua di antaranya bernama Anes dan Reksa.
Dewa dan Jingga kemudian ikut duduk di atas tikar, menikmati kehangatan api yang meretih-retih.
Semuanya serentak mulai ngobrol, menggerombol disinari cahaya merah api unggun.
"Wey---Gen, masih ada tempat buat lu," panggil Dewa, baru teringat pada saudaranya.
__ADS_1
Magenta, yang terlupakan, berdiri salah tingkah dengan kedua tangan terselip di saku parkanya, lalu ragu-ragu menempatkan diri duduk berseberangan dengan Jingga.
"Guys, kenalin—ini Jingga, dari Jakarta!" Dewa mengumumkan seraya merangkul bahu Jingga. "Dia mau pindah sekolah ke sekolah kita!'
Magenta kembali mengerjap dan tertunduk. Merasa tak nyaman dengan sikap Dewa yang seolah memamerkan bahwa Jingga adalah miliknya. Sepasang matanya berkilat-kilat memantulkan nyala api.
Jingga meliriknya dengan raut wajah tak berdaya.
"Kalian belum liat pasar malem?" Kantata bertanya pada Dewa. "Banyak permainan keren tau."
"Udah kok, tapi kita nggak ada yang bawa uang," sahut Dewa.
"Gua bawa!" kata Kantata sambil bangkit berdiri. "Kita ke sana, yuk!"
Dewa mulai beranjak berdiri, kemudian teringat Jingga dan saudaranya. "Hmm… lain kali aja deh!" katanya sembari kembali ke sisi Jingga dan memeluk bahu gadis itu dengan sikap posesif, lalu tersenyum pada Kantata.
"Kenapa semua orang jadi gak asyik kalo udah punya cewek?" Kantata mengerang dan duduk kembali.
Semua orang terkekeh gelisah kecuali Magenta.
Cowok itu tersenyum tipis tanpa ekspresi. Tatapannya terpaku pada nyala api yang seolah menyihirnya untuk tidak berpaling.
"Dia baik, ya?" kelakar Dewa, sembari mempererat pelukannya pada Jingga.
Jingga menanggapinya dengan cemberut, lalu berpaling ke arah Magenta, yang berada di ujung tikar seorang diri.
Cowok itu sedang memutar-mutar pemantik plastik biru dengan jemarinya, menggelinding-gelindingkannya di telapak tangan, hal yang selalu dilakukannya bila ia sedang gelisah atau merasa tak enak.
Jingga bersiap mengatakan sesuatu padanya, tetapi Dewa memegang dagunya, mendongakkan wajahnya, dan membisikkan sesuatu.
Sesosok bayangan gelap bertengger di atas bukit batu di puncak air terjun, matanya yang merah kecil bersinar memperhatikan Jingga, mengintai dalam kegelapan seperti radar setan, mengamati gadis itu dengan hati-hati. Segumpal air liur meluncur menuruni dagunya.
Tak lama kemudian makhluk itu melayang turun, terbang rendah ke arah para remaja yang melingkari api unggun, berputar-putar di atas kepala mereka.
Jingga memandang ke atas saat bayangan gelap itu melayang mendekat dan berseru kaget. "Apaan, tuh?!" pekiknya.
Semua orang spontan mendongak.
"Cuma kelelawar," ujar Magenta dengan tenang.
"Jangan takut," kata Dewa, sambil menarik Jingga mendekat. "Mereka gak berbahaya."
__ADS_1
Desis tawa meluncur keluar dari mulut makhluk yang menyeringai dalam kegelapan, menukik tajam ke arah bara api yang meloncat-loncat di bawah sambil mengepak-ngepakkan sayap hitamnya dengan marah, jantungnya berdegup lebih cepat daripada kepak sayapnya.
Angin kencang menentang sayapnya yang terkembang, melambungkannya cukup tinggi di kegelapan hingga tak nampak.
Desis tawanya menyebar di langit malam ketika makhluk itu membubung tinggi dan terbang menjauh. Tawanya yang kering dan parau menggetarkan, menembus kekosongan yang gelap di atas bukit batu di puncak air terjun.
.
.
.
Keesokan harinya…
Magenta membeku di tepi sungai, mendongak ke seberang seraya mencoba menarik jorannya yang mulai bergerak-gerak ketika umpannya berhasil menjerat seekor ikan.
Baru sejenak kemudian ia menyadari bahwa titik kecil yang meloncat-loncat di sepanjang lapangan rumput yang digenangi air adalah burung.
la berdiri di atas batu rata rendah mengamati seberang sana sungai, mencoba memusatkan perhatiannya pada burung bersayap gelap di seberang sungai. Itu kelelawar, ia menyimpulkan, matanya mengikuti ketika burung itu melayang di sepanjang tepi sungai, berzigzag memutari lapangan rumput hingga kegelapan menelannya.
Dengan tangan yang masih sibuk melepas mata kail dari mulut ikan, Magenta membiarkan pandangannya menyusuri garis tepi bukit batu yang curam dari bawah hingga ke puncaknya yang merata, membentuk dataran. Lalu kembali memandang ke air, ia nyaris dapat melihat garis tepi pulau kecil yang hitam dan rendah, seperti ujung kapal selam yang muncul dari air.
Pasti tempat semua kelelawar itu berasal, pikirnya, sambil mencari-cari makhluk terbang itu di langit ungu yang berkabut.
Ia hanya melihat satu. la tak bisa melihat telalu jauh.
Awan merendah menutupi puncak gunung, menyamarkan cahaya jingga matahari sore, membuat seluruh tempat di sekelilingnya berbayang-bayang panjang dan aneh.
Gumpalan-gumpalan kabut melayang di sepanjang tepian sungai. Udara dingin, berat, dan lembap.
la telah menemukan hulu sungai yang sepi ini, letaknya tak jauh di bawah area persawahan keluarganya, di seberang pulau berhutan yang misterius itu. Oleh karena itu ia sangat menyukainya.
Dengan tenang ia bersandar pada tebing batu yang rata dan dingin seraya memandangi arus air yang tenang sepuas hatinya, sementara peralatan memancingnya sudah selesai dirapikan dan semua ikan hasil tangkapannya hari ini juga sudah diamankan ke dalam kepis.
Entah sudah berapa lama ia berdiri di sana mengamati awan-awan yang merendah dan kabut yang melayang-layang itu sembari bersiap pulang, Magenta tidak tahu pasti.
Yang ia tahu, ia pergi memancing setelah makan siang. Moga-moga kau tak berubah jadi sejenis makhluk ganjil penyendiri, ia memperingatkan diri sendiri, sambil membungkuk memunguti barang-barang bawaannya, kemudian melangkah meninggalkan sungai itu dan mulai memanjat naik ke area persawahan.
Libur panjang ini seharusnya menyenangkan, pikirnya. Kalau saja aku bisa memperbaiki diri dan berhenti jadi orang yang membosankan. Kalau saja aku bisa berhenti merasa sangat kikuk, terus-terusan merasa sangat tak cocok berada di suatu tempat, dan…
Lamunannya terusik oleh bunyi kepak di atas kepalanya.
__ADS_1