
"Berhenti, berhenti!" Empu Brajasena menginstruksikan.
Magenta memekik terkejut dan mengerem kendaraannya secara mendadak.
Pickup merah milik toko yang dikendarai Magenta itu berhenti tepat di depan gang di mana Magenta biasa menurunkan Jingga setiap kali mereka berangkat bersama ke kota Serang. Jantungnya berdegup karena cemas menyadari pria paruh baya yang duduk di sebelahnya bisa menemukan tempat itu.
Selain menurunkan Jingga, dia juga pernah masuk ke dalam gang sejauh beberapa blok ketika ia mengantar Violet ke rumahnya setelah melarikan diri dari rumah sakit. Itulah yang membuat Magenta gugup.
"Kostannya bukan di sini," sergah Magenta cepat-cepat.
"Coba masuk ke sana!" Empu Brajasena menunjuk ke dalam gang, tidak menghiraukan alasan Magenta.
"Tapi—" Magenta ragu-ragu. Apa yang aku khawatirkan? pikirnya kemudian. Toh rahasiaku sudah terbongkar!
Magenta benar.
Rahasianya sudah terbongkar dan tetap akan terbongkar bagaimanapun dia berusaha merahasiakannya.
Bahkan jika Empu Brajasena tidak turun tangan.
Yasa sudah mengungkap rahasianya pada hari dia mengunjungi rumah Violet dan duduk di ruang tamu, di mana ia duduk di tempat Magenta duduk sebelumnya. Tak butuh waktu lama atau ritual khusus bagi Yasa untuk mengetahui bahwa Magenta pernah berada di sana.
Itulah sebabnya Yasa mendadak gelisah dan mengajak Jingga buru-buru pergi.
Yasa sebetulnya mendapat visi tentang Magenta.
Tapi dia bahkan merahasiakannya dari Jingga. Tak ingin menjadi pria bermulut rombeng, Yasa membuat strategi jebakan supaya Magenta membuka sendiri kedoknya di depan Jingga.
Bukankah cowok tampan berwajah seperti boneka perempuan itu jauh lebih jantan dibanding Magenta?
Seandainya Jingga mengetahui kebenaran itu, apakah ia akan menyalahkan Yasa atau malah justru semakin cinta?
Bentuk tubuh dan warna kulit ternyata tidak menjamin seseorang seperti kelihatannya.
Dengan berat hati Magenta membelokkan mobilnya ke gang dan mulai merangkak menyusuri gang itu tanpa berniat memberitahu mengenai rumah orang tua Violet. Matanya bahkan tidak berani melirik rumah itu ketika mereka melewatinya untuk menghindari kecurigaan Empu Brajasena.
Magenta tidak mengerti. Empu Brajasena tidak pernah menebak-nebak sebuah situasi dengan membaca gerak-gerik seseorang. Apa yang dilakukannya tidak seperti detektif yang ahli membaca karakter seseorang.
Ilmu spiritual tidak seperti itu.
Namun Magenta merasa lega dalam hatinya karena sampai beberapa blok berlalu setelah melewati rumah Violet, Empu Brajasena tidak menunjukkan sikap atau tatapan yang bisa membuatnya berdebar-debar karena khawatir.
Tapi lalu tiba-tiba Empu Brajasena menginstruksikan, "Berhenti di depan!"
Magenta menelan ludah. Ia memperhatikan sekitar sambil mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu bahwa tempat yang dimaksud Empu Brajasena adalah depan rumah Bu Lastmi di mana Jingga tinggal selama ini.
__ADS_1
Magenta menghentikan mobilnya dan menoleh ke sana kemari untuk memastikan mobilnya terparkir dengan aman tanpa menggangu pengendara lain atau menghalangi gerbang rumah orang lain karena jalan itu sempit sementara barisan rumah cukup padat.
Empu Brajasena akhirnya merunduk dan meneliti sebuah rumah—yang tidak salah lagi adalah rumah Bu Lastmi. Tak lama kemudian pria paruh baya itu tersenyum melihat mobil Yasa terparkir di halaman rumah itu.
.
.
.
Jingga meronta-ronta dan menendang-nendang, berusaha melepaskan diri. Ia mencoba berguling, tapi kedua kaki jenjang Violet menjepit kedua kakinya seperti tang raksasa. Cengkeraman tangannya juga sekuat logam.
Perut Jingga mengejang dan paru-parunya terasa kosong. Ia tak dapat bernapas, tak dapat bersuara. Wajahnya hampir membiru karena sesak.
Violet membungkuk mendekatkan wajahnya ke wajah Jingga, mencoba memagut dada Jingga di balik blus yang sudah terkoyak.
Kemarahan menguasai Jingga, namun tak ada yang bisa dia lakukan. Bahkan cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Violet berangsur-angsur melemah dan terasa kebas.
Air mata menetes di sudut matanya akibat kemarahannya yang menggelegak. Perasaan jijik membuat perutnya terasa kram.
Mengerikan, pikirnya. Gairahnya bahkan berlaku pada sesama jenis. Beginikah sifat asli Violet?
Pandangan Jingga mulai memburam sementara tubuhnya mulai bergetar dan sedikit kejang.
Aku akan mati! pikir Jingga putus asa.
Ketika kesadarannya mulai timbul-tenggelam, sekonyong-konyong cengkeraman Violet melonggar, lalu tiba-tiba cewek itu tersentak dan terdorong ke belakang.
Tidak---bukan terdorong, tapi tertarik ke belakang.
Jingga mendengar cewek itu menjerit.
Apa yang terjadi?
Violet sudah benar-benar melepaskannya sekarang.
Dunia di sekeliling Jingga terlihat berputar-putar. Lalu berhenti perlahan. Namun penglihatannya masih buram. Ia berguling dan beringsut menjauh.
Violet sedang bergulat dengan seseorang yang menjepit lehernya dari belakang.
Jingga mencoba menarik bangkit tubuhnya dengan lutut gemetar dan berdiri limbung di dekat jalan setapak.
Lalu tiba-tiba seseorang menyelimuti dadanya dengan mantel.
Jingga tersentak dan terbelalak. "Papa!"
__ADS_1
Pria tampan paruh baya itu hanya mengedipkan sebelah matanya sembari menyeringai dan bergegas melewatinya.
Jingga tertunduk menatap mantel itu dan mengerutkan keningnya. Bukan mantel Papa, pikirnya. Lalu ia menoleh ke sisi lain dan mendapati Yasa tahu-tahu sudah berdiri di sampingnya bersama Rogan.
Jingga tergagap-gagap antara senang dan terkejut.
Semua jagoannya berkumpul di sini, pikirnya.
Apakah ini pertanda cerita ini akan tamat?
Jingga menoleh pada Violet dan melihat wajah Magenta di balik bahu cewek itu. Terlihat kewalahan untuk menahan lebih lama lagi.
Violet---tidak, lebih tepatnya hantu orang-orangan sawah itu sudah mulai mengeluarkan kekuatan aslinya. Sulur-sulur berwarna hitam mulai merebak dari antara rambutnya dan melilit tubuh Magenta di belakangnya, yang semakin lama terlihat semakin mengetat seiring Empu Brajasena kian mendekat.
Akhirnya aku akan melihat bagaimana ayahku akan beraksi, pikir Jingga penasaran.
Pria itu menoleh pada Jingga, kemudian menatap Yasa.
"Gan!" Yasa menyenggol lengan Rogan dengan siku tangannya.
Rogan segera mendekat ke arah Empu Brajasena dan mengulurkan sebotol cuka pada pria itu.
Mata Violet terbelalak lebar dan seketika sulurnya terlepas dari Magenta. Lalu menjerit dan meronta-ronta dalam jepitan lengan Magenta yang sudah terlihat gemetar kehabisan tenaga.
Terutama setelah melihat Rogan, Magenta terlihat semakin tegang.
Rogan melontarkan tatapan tajam pada Magenta, tapi kemudian membantu cowok itu untuk menahan tubuh Violet.
Violet melayangkan kakinya ke arah Rogan dan kembali meronta-ronta.
Rogan berhasil menangkap kaki Violet dan menahannya.
Lalu bersama-sama dengan Magenta mereka akhirnya berhasil menjatuhkan Violet ke tanah dan memeganginya.
Rogan memegangi kedua kakinya sementara Magenta memegangi kedua tangannya.
Empu Brajasena membuka tutup botol cuka dan menuangkan isinya ke perut Violet.
Jeritan mengerikan melengking dari mulut cewek itu.
Perutnya berdesis seperti api disiram air dan mengeluarkan asap hitam.
Jingga memekik dan membekap mulutnya.
"Sayang, duduk!" Yasa berbisik pada Jingga sambil menjatuhkan dirinya di atas rerumputan di dekat kaki Jingga dan duduk bersila di depan gadis itu. "Duduk di belakang aku!" perintah Yasa sekali lagi.
__ADS_1
Jingga tergagap-gagap sesaat sebelum akhirnya mematuhi perintah Yasa. Otaknya mendadak kacau tak bisa mencerna perintah itu. Mata dan mulutnya masih membulat menyaksikan pemandangan itu.