Bebegig

Bebegig
Chapter 29


__ADS_3

Mula-mula Yasa mencium bibir Jingga, menatap mata gadis itu dengan penuh gairah. Lalu mulai terengah-engah saat mulutnya mendarat ke leher gadis itu.


la memejamkan mata dengan perasaan melayang dan akan merayap makin turun ketika tiba-tiba terdengar jeritan itu.


"Tolong! Tolong---tolong aku!"


Jeritan cewek. Sangat ketakutan. Sangat ngeri.


Sangat dekat.


Sial!


Yasa mengerang kecewa.


Hampir, hampir saja.


Dan aku sudah hampir karatan, pikirnya kesal.


Sudah lama sekali ia menahannya sejak ia terjebak dalam kabut aneh yang membuat dirinya hanya berputar-putar di tempat yang sama, sampai ia berkeringat dan merasa kepanasan. Rasa panas yang aneh yang menuntut pelepasan di mana ia mendamba seseorang untuk menyentuhnya.


Tapi yang lebih aneh hal itu tidak bekerja ketika ia mencobanya pada gadis lain.


Yasa tak pernah tahu apa yang terjadi pada dirinya. Ia hanya ingin disentuh dan menyentuh seseorang. Tapi ketika ia mencobanya pada seseorang, desir aneh yang menuntut itu seolah tersumbat dan membatu di bawah perutnya.


Dan itu hanya membuat dirinya semakin tersiksa. Itu terasa seperti gangguan prostat.


Membuat pembuluh darahnya membeku dan menghitam di bagian bawah tubuhnya seperti tato yang terus merambat seiring ketegangannya yang terus meningkat.


Pembuluh darah yang menghitam itu sekarang sudah mencapai setengah bagian tubuhnya.


Dan ia tak tahu apa sebabnya.


Ia membutuhkan pelepasan untuk mengatasi masalah ketegangan itu.


Sayangnya hanya satu orang yang paling mungkin bisa melepas semua sumbatan itu.


Hanya Jingga.


Hanya gadis itu satu-satunya yang mampu membuat hasratnya bergejolak.


Ia hanya bisa mencapai puncak bersama Jingga.


la membuka matanya dan melihat Jingga menoleh ke arah jeritan itu dan mulai bergegas mendaki bukit batu, sandalnya membuat pasir berhamburan, berlari melintasi rerumputan.


Ketika mereka menuruni bukit pasir, orang-orang berkerumun mengitari cewek yang ke takutan itu.


Suara-suara penuh perhatian yang berusaha menenangkan dan wajah-wajah penuh ingin tahu merubung si cewek yang terisak-isak histeris.


Jingga menerobos lingkaran menuju ke tengah.


Seorang laki-laki dan seorang wanita memeluk bahu seorang cewek, mencoba menenangkannya.


Ketika cewek itu menurunkan tangannya yang menutupi mukanya, Jingga melihat mukanya yang tembam dan bundar, rambutnya yang ikal acak-acakan sepanjang bahu. la memakai celana sepeda hitam dan kaus pink yang gombrong. Cewek itu berhenti menangis, tapi bahunya masih berguncang.


"Coba bilang ada apa," desak wanita yang memeluknya. "Coba cerita."


Cewek itu membuka mulut akan bicara, tapi tangisnya kembali meledak. Diangkatnya kedua tangannya ke wajahnya, lalu dengan hati-hati menurunkan satu tangan ke lehernya.

__ADS_1


"Kenapa, sih?"


"Ada apa?"


"Apa dia luka?"


Suara orang-orang yang berkerumun itu semakin keras ketika semakin banyak orang ingin tahu yang ikut bergabung.


Jingga mencari-cari sosok Yasa, akhirnya melihat cowok itu di seberangnya.


"Aku digigit," kata cewek itu akhirnya sambil mengertakkan gigi. "Aku digigit."


Kegaduhan mereda, orang-orang berhenti bertanya, mendesak maju, menunggu keterangan berikutnya.


"Dia digigit nyamuk," bisik seorang cowok di belakang Jingga dengan keras, dan temannya yang kurus menyeringai.


"Kelelawar!" teriak cewek itu, satu tangannya menunjuk ke langit dan tangannya yang lain tetap memegangi lehernya. "Kelelawar itu terbang ke bawah. Nyamber aku terus nancep di bahu."


Jingga mendengar suara-suara memekik kaget, ngeri.


Seorang anak perempuan kecil di belakang kerumunan langsung menangis. Sang ayah cepat-cepat menggendongnya dan meninggalkan kerumunan itu.


"Bawa dia ke dokter," seru seseorang.


"Leher lu mau gue gigit?" cowok di belakang Jingga berbisik pada temannya sambil cekikikan, menirukan vampir di film horor barat yang sedang marah, kedua tangannya meraih leher temannya.


"Nggak lucu," kata cewek tinggi berambut lurus yang memeluk bahu cewek yang menangis dengan ketus. "Kelelawar itu mungkin rabies,"


"Elu rabies!" balas cowok itu.


Menurut temannya balasan itu telak.


Tangisnya sudah berhenti tapi ia masih memegangi lehernya.


"Di mana orang tua kamu?" tanya wanita berambut lurus tadi.


"Aku gak tahu," Jingga mendengar cewek itu menjawab, suaranya melengking dan ketakutan. "Aku gak tahu."


"Naik mobil kita aja. Kita anterin ke rumah sakit," kata si laki-laki.


Cewek itu mengatakan sesuatu, tapi mereka sudah terlalu jauh sehingga Jingga tidak dapat mendengarnya.


Begitu mereka meninggalkan air terjun, kerumunan orang mulai ramai.


Semua orang serempak mulai bicara, Jingga melihat beberapa orang ketakutan. Beberapa terkejut. Beberapa menggeleng-geleng tidak percaya.


"Ada apa?"


"Cewek itu jatoh apa gimana?"


"Cewek itu kenapa?"


"Apa ada yang tenggelam?"


Suara-suara kaget, suara-suara bingung, semakin mengalahkan debur air terjun, diselingi tawa gelisah.


Jingga meringis ketakutan, dan gemetaran.

__ADS_1


Yasa menghampirinya. "Jingga---kamu gak apa-apa?" tanya cowok itu penuh perhatian.


Jingga memeluk dirinya sendiri dan menggeleng. "Aku takut kelelawar!" serunya.


Yasa memegang tangan Jingga. "Kamu dingin banget!" Diremasnya tangan gadis itu.


"Kasian cewek itu," desah Jingga sambil bergidik. Ia memegangi lehernya, membayangkan seperti apa rasanya digigit kelelawar. Dengan waswas ia melihat ke atas ke langit gelap, mencari-cari kelelawar, sambil berpegangan pada lengan Yasa. "Aku jadi takut." la tersenyum saat Yasa merangkul bahunya yang gemetar.


Kelelawar apa, pikir Yasa jengkel.


Tidak pernah ada kelelawar di area sini kecuali layang-layang hitam yang dibuat oleh Dewa untuk menakut-nakutinya.


Itu pasti ulah teman-temannya.


Mungkin si kembar dan Kantata, pikirnya, menahan diri untuk tidak tertawa keras.


Aku tahu itu mereka.


Mereka melihat aku berhasil mendekati Jingga. Mereka juga mendengar rencana kami pergi. Dan mereka berusaha menggagalkan kencan kami. Mereka tahu aku takkan berhasil dengan adanya cewek yang menjerit-jerit histeris seperti tadi.


Mereka akan melakukan apa pun untuk mengerjaiku.


Yah, tapi kali ini mereka tak bisa menipuku, pikir Yasa sengit.


Aku bukan lagi si kuntet yang bisa kalian bully!


Kemarahannya mendorongnya untuk memperkuat keinginannya membalas dendam.


Bagaimana aku akan membalas kalian?


Aku sudah cukup mengalah selama ini!


Kenapa?


Karena itu lebih mudah daripada melawan mereka.


Karena selalu lebih mudah menyerah, bukannya melawan.


Karena aku paling kecil.


Karena aku lemah.


Karena aku pengalah.


Pecundang!


Semua jawaban itu tampaknya benar bagi Yasa. Dan salah.


Benarkah aku begitu pengalah? tanyanya pada diri sendiri.


Ditatapnya Jingga dengan penuh rasa sayang, memandang gadis itu seperti barang berharga. Aku takkan jadi pengalah dalam hal Jingga, ia memutuskan.


Jingga mendesah dan menempelkan wajahnya ke lengan cowok itu. "Ayo, Sa," bisiknya. "Kita pergi dari sini."


Lihat dia, pikir Yasa. Dia jatuh cinta setengah mati padaku. Ia mengangguk, memeluk gadis itu erat-erat, dan melangkah menuju ke dalam kegelapan.


Kau sudah kalah, Magenta!

__ADS_1


Sekarang siapa yang lemah?


__ADS_2