
Jalanan lengang. Tak ada yang bergerak.
Jingga melewati sebuah rumah yang terang-benderang, tapi ia tidak bisa melihat siapa-siapa di dalamnya.
Hujan terus menerpa wajahnya, dan juga mantelnya, seakan-akan hendak mendorong gadis itu mundur. Seakan-akan hendak memaksanya berbalik.
"Ini gak masuk akal," Jingga bergumam. "Ini bener-bener gila. Freak! Magenta pasti gak mau nemuin aku kalo cuacanya kayak gini."
Jingga memicingkan mata dan melihat tower BTS—menara jaringan telekomunikasi terkesan seperti siluet menara sebuah puri misterius dalam dongeng karena tertutup kabut dan serpihan air hujan.
"Mudah-mudahan gerbang kantor pos gak dikunci," ujar Jingga. "Mudah-mudahan ada tempat buat neduh!"
Gadis itu bergegas melintasi jalan, dan menabrak sesuatu yang keras. Sesuatu yang keras dan sangat dingin. Sepasang mata hitam melotot padanya. Dan ia pun menjerit keras.
Sedetik kemudian ia merasakan sepasang tangan menariknya dengan keras. Dan sebuah suara berseru, "Jingga—ada apa, sih?"
Jingga hampir tersedak.
Ia mundur terhuyung-huyung dan hampir tergelincir di ranah yang licin dan basah.
Ia membalik dan melihat Magenta.
Cowok itu sedang menarik-narik lengan mantel Jingga. "Aku liat kamu nabrak orang-orangan sawah, " katanya. "Tapi kenapa kamu teriak?"
"A---a---a..." Jingga tergagap-gagap. Sambil memicingkan mata ia menatap orang-orangan sawah di hadapannya. Ia menatap matanya yang gelap, dan bekas luka di wajahnya yang bulat. "A---aku cuma kaget," ujarnya.
Sebenarnya gadis itu merasa kesal bercampur malu karena telah bersikap begitu konyol.
Magenta pasti heran melihat tingkahku, sesalnya dalam hati. Ada apa sebenarnya denganku? Masa sih aku sampai menjerit-jerit karena menabrak orang-orangan sawah?
"Kenapa ada yang bikin orang-orangan sawah kayak gini di depan kantor pos?" tanya Jingga.
Magenta tidak menjawab. Ia menatap Jingga dengan matanya yang gelap. "Kamu beneran gak apa-apa?" ia balas bertanya.
"Aku gak apa-apa, kok! Aku baik-baik aja," tukas Jingga cepat-cepat.
Magenta menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya berbalik, "Udah yuk, kita masuk dulu aja, deh."
__ADS_1
Sekali lagi Jingga melirik orang-orangan sawah yang mencibir itu. Lalu ia mengikuti Magenta ke pintu samping kantor pos.
Mereka melangkah masuk dan mengentak-entakkan kaki di keset, agar bulir air hujan yang menempel di sepatu mereka tidak terbawa ke dalam.
"Apa di sini emang selalu turun hujan makanya disebut Desa Hujan?" Jingga menggerutu sambil menarik tudung mantel ke belakang dan membuka ritsleting.
"Gak juga, sih. Waktu itu hujan sempet berhenti sepuluh menit. Kami semua langsung ambil libur musim panas kayak orang-orang Barat," kata Magenta berkelakar.
Jingga memandang berkeliling.
Mereka sekarang berada di semacam ruang tunggu. Sebuah bangku kayu panjang tersandar ke dinding. Sepasang lampu dinding kuno memancarkan cahaya lembut.
Jingga dan Magenta membuka mantel masing-masing dan duduk di bangku.
Jingga menggosok-gosok tangan untuk menghangatkan keduanya. Pipinya seperti membara.
"Di sini lumayan nyaman, lumayan anget," ujar Magenta sambil merendahkan suara. "Para pegawai kantor pos biasa nyalain pemanas. Mereka gak suka kedinginan."
"Siapa yang suka?" Jingga bergumam sambil menggosok-gosok telinganya yang terasa sudah hampir membeku.
"Tempat ini juga tenang, cocok buat ngobrol," Magenta melanjutkan. "Terutama buat ngobrolin hal-hal yang... agak horor." Suaranya begitu pelan.
Magenta memandang berkeliling. Tiba-tiba saja ia tampak tegang dan gugup.
Kenapa ia begitu gugup? Jingga bertanya-tanya dengan heran. Kan, tidak ada siapa-siapa di sini selain kami berdua.
"Mama kamu udah cerita belum soal desa ini?" bisik Magenta. "Soal mitos atau asal-usul desa ini gitu?"
"Belum," sahut Jingga. "Mama belum cerita apa-apa soal desa ini. Kayaknya Mama sendiri juga gak tahu banyak soal desa ini."
"Terus, kenapa kalian pindah ke sini?" tanya Magenta.
Jingga hanya angkat bahu. "Aku juga gak tau. Mama gak pernah jelasin soal itu. Dia cuma bilang udah waktunya kita pindah dari Jakarta."
Magenta mencondongkan badan ke arah Jingga. "Kalau gitu, aku harus ceritain semuanya," ia berbisik. "Sejarah desa ini terbilang cukup aneh. Orang-orang di sini ampir gak pernah nyeritain ini lagi."
"Kenapa?" Jingga menyela.
__ADS_1
"Soalnya terlalu serem," jawab Magenta. "Kembaran aku, si Dewa, sampe sekarang masih ketakutan terus. Makanya aku ngajak kamu ngobrol di sini. Dia gak suka aku ngomongin soal orang-orangan sawah."
"Orang-orangan sawah?" tanya Jingga. Ia menatap Magenta sambil mengerutkan kening. "Emang sebenernya ada apa sih sama orang-orangan sawah?"
Bukankah orang-orangan sawah dibuat untuk menakuti burung?
Kenapa di sini kesannya seolah-olah orang-orangan sawah dibuat untuk menakuti orang?
Magenta bergeser sedikit. Bangku kayu yang mereka duduki berderit-derit. Ia menarik napas dalam dalam, kemudian mulai bercerita.
"Bertahun-tahun lalu ada sepasang paranormal yang tinggal di desa ini. Laki-laki sama perempuan. Semua orang tahu mereka dukun sakti. Gak ada yang berani ngusik mereka."
"Apa mereka dukun jahat?" Jingga menyela.
Magenta menggelengkan kepala. "Enggak. Kalo menurut aku mereka bukan dukun jahat. Paling nggak, aku yakin mereka gak bermaksud buruk." Sekali lagi ia memandang berkeliling.
Jingga menyandarkan punggung dan menunggu cowok itu melanjutkan ceritanya.
"Suatu hari, kedua dukun itu iseng-iseng bikin orang-orangan sawah, terus dibacain mantra. Tau-tau orang-orangan sawah itu idup."
Jingga menahan napas. "Masa, sih?"
Magenta memicingkan mata. "Tolong jangan potong dulu cerita aku. Biar aku gak lupa, tunggu sampe aku kelar cerita. Oke?"
Jingga lalu minta maaf pada Magenta.
Kemudian Magenta kembali mencondongkan badan dan melanjutkan ceritanya sambil berbisik. "Kedua dukun itu menggunakan kekuatan gaib untuk menghidupkan orang-orangan sawah yang mereka buat. Tapi akhirnya mereka kehilangan kendali atas ciptaan mereka. Orang-orangan sawah itu ternyata lebih sakti dari yang mereka duga. Dia juga jahat."
Jingga menelan ludah dan tergagap. Tapi tak berani menyela.
"Kedua dukun itu udah ngasih nyawa ke orang-orangan sawah itu tanpa mereka sadari. Padahal awalnya mereka cuma iseng-iseng. Mereka gak nyangka orang-orangan sawah itu bakal ngancurin desa." Magenta melanjutkan.
Jingga masih menyimak.
"Terus, kedua dukun itu nyoba gunain kekuatan gaib mereka buat ngelawan si orang-orangan sawah. Tapi mereka kalah sakti. Akhirnya semua penduduk desa dikumpulin. Aku gak tahu gimana caranya, tapi mereka berhasil ngedesek si orang-orangan sawah itu sampe ke puncak gunung," Magenta melanjutkan.
Suaranya makin pelan, Jingga hampir tak bisa mendengarnya.
__ADS_1
"Di atas sana ada gua besar. Orang-orang bilang itu gua keramat," lanjut Magenta lagi. "Para penduduk berhasil ngedesek si orang-orangan sawah masuk ke gua. Setelah kejadian itu banyak penduduk yang pindah dari sini, karena mereka tahu makhluk jahat itu masih hidup di puncak gunung. Jadi, sebagian besar penduduk desa pergi. Cuma sedikit yang masih mau tetep tinggal di sini. Kedua dukun sakti itu juga ngilang. Gak ada yang tau ke mana mereka pergi, atau apa yang terjadi sama mereka. Nah, pada saat itulah si Empu Brajasena itu tau-tau muncul!"