Bebegig

Bebegig
Chapter 60


__ADS_3

Jingga merasa yakin belum pernah bertemu dengannya, namun orang itu kelihatannya mengenali dirinya. Ekspresinya pelan-pelan berubah, dari terkejut menjadi marah.


Sekonyong-konyong ia mulai mendekati Jingga, melangkah lebar dan cepat. "Kamu!" serunya, lebih mirip geraman daripada ucapan.


Dia berbahaya, kata Jingga dalam hati. Tiba-tiba ia merasa waswas dan ngeri. Dia berniat menyakitiku. Dia bisa mencelakaiku. Wajahnya lumayan tampan. Tapi ada sesuatu yang salah pada diri orang itu. Mungkin ukuran tubuhnya. Mungkin pandangan tajamnya.


Jingga berbalik dan mulai berlari.


"Hei... berhenti!"


Jantung Jingga berdegup kencang, ia berlari makin cepat.


Apakah orang itu mengikutinya?


Jingga tidak berani menoleh untuk memeriksanya. la tidak berhenti hingga mencapai halte bus berikutnya. Kemudian, sambil terengah-engah, ia bersandar pada tiang halte dan menengok ke belakang.


Orang itu tak ada.


Dia tidak mengikuti.


Jingga memegangi tiang halte dengan sangat lega, menunggu degup jantung dan napasnya kembali normal.


Siapa orang itu?


Apa maunya?


Jingga yakin belum pernah melihat laki-laki itu meski ia mirip dengan Yasa dan juga Magenta. Bahkan jika ia tak mirip siapa-siapa, Jingga pasti akan mengingat orang yang begitu besar dan tampak sangat berbahaya. Terutama karena laki-laki itu juga lumayan tampan.


Tak lama kemudian bus yang ditunggunya datang, dan ia melangkah masuk. Menjadi satu-satunya penumpang. Limo ber-AC milikku pribadi, pikirnya. Ia menjatuhkan diri ke tempat duduk plastik dan menyandarkan kepala ke kaca jendela yang dingin.


Bus terlalu cepat sampai di depan gang ke arah rumah Violet. Jingga masih ingin tetap berada dalam bus. Sejuk dan tenang. Kekagetannya belum hilang akibat dikejar cowok aneh itu. Wajah cowok itu masih terbayang di benak Jingga.


Ketika melangkah keluar dari bus, Jingga sedikit terkejut merasakan hangat dan lembapnya udara luar. Ia menyeberang dan berjalan menuju gang ke arah rumah Violet yang juga masih satu gang dengan konstannya yang baru. Hanya terhalang beberapa rumah. Rumah Violet lebih dekat dari gang masuk.


Begitu sampai di rumah Violet, ibunya mengatakan hari ini Violet berangkat ke kampus dan ia belum pulang.


Aneh! pikir Jingga setelah meninggalkan rumah Violet. Teman-temannya bilang, Violet tidak ke kampus hari ini. Tapi ibunya bilang hari ini dia ke kampus. Ke mana dia?


Setahu Jingga, Violet bukan anak yang suka berbohong pada ibunya.

__ADS_1


Apa terjadi sesuatu?


Jingga pulang menerobos hujan yang turun meskipun langit terang-benderang. Ia merasa letih dan gelisah.


Begitu sampai di rumah Bu Lastmi, ia bergegas ke serambi depan, dengan sedikit terburu-buru ia memasukkan anak kunci ke lubangnya dan bergegas masuk, melangkah ke dalam rumah, yang terasa dingin meskipun cuaca di luar sedang panas.


"Bu… Bu Lastmi di mana?" panggilnya.


Tidak ada jawaban.


la menuju dapur dan mendongak melihat jam dinding yang terbuat dari kuningan di atas bak cuci piring.


Setengah lima.


Jingga melihat Bu Lastmi sedang membungkuk di bak cuci piring. "Selamat sore, Bu Lastmi," sapanya.


Namun tampaknya wanita tua itu hanya terfokus pada bak cuci, tidak menanggapinya.


Wanita tua itu berpakaian serba putih—blus putih lengan panjang dan rok putih berlipit. Rambutnya yang dicat hitam pekat dan kulitnya yang bersemu merah membuatnya kelihatan berumur setengah usia sebenarnya.


"Kenapa jam segini baru pulang?" Bu Lastmi tiba-tiba bertanya tanpa menoleh. Ia mengangkat sebuah pisau daging besar, jenis yang hanya dilihat Jingga di tempat pejagalan, dan mulai memotong-motong sesuatu—mengangkat pisau itu tinggi-tinggi dan mengayunkannya ke bawah keras-keras hingga menimbulkan bunyi berdebum.


Jingga terlonjak, "Saya... maaf, saya—" katanya tergagap-gagap sambil mendekati bak cuci piring untuk melihat apa yang sedang dipotong wanita tua itu dengan sepenuh tenaga. Lalu ia mundur, mengerang, merasa mual.


Dengan senyum ganjil di wajahnya, Bu Lastmi berbalik dan memandangi ekspresi Jingga.


"Jingga... ada apa?" Bu Lastmi bertanya sambil mengangkat pisau daging itu tinggi-tinggi, siap mengayunkannya kembali.


"Yang Ibu cincang itu..." Jari telunjuk Jingga menunjuk.


Bu Lastmi tertawa. "Ada apa? Kamu gak pernah liat tulang kaki sapi, ya?"


Tulang kaki sapi? Kayaknya bukan deh…


"Oh ya, Jingga. Sebenernya ada mau saya omongin sama kamu," kata Bu Lastmi tanpa menghentikan pekerjaannya.


Jingga kembali terperanjat dan menelan ludah dengan susah payah.


Apakah dia akan mengaku telah mengguna-gunaiku?

__ADS_1


Itulah yang pertama muncul dalam benak Jingga.


Sebersit rasa takut muncul di dalam perutnya. Tiba-tiba ia merasa kedinginan. Kenapa begitu dingin dalam rumah ini? Suhu udara di luar saat itu paling tidak 29 derajat Celsius.


Bu Lastmi mendesah pendek dan memutar tubuhnya, lalu bersandar ke bak cuci piring dan tersenyum. "Saya mau pergi selama beberapa hari."


"Oh!" Kata itu keluar begitu saja dari mulut Jingga, ungkapan perasaan terkejutnya. Ia sama sekali tidak menyangka hal itu yang akan diucapkan Bu Lastmi.


"Adik saya sakit. Saya mau jenguk dia di kampung," lanjut Bu Lastmi, mendadak sibuk membetulkan bagian depan blusnya.


"Jadi saya bakal sendirian di rumah?" Jingga bertanya sambil mencoba menyembunyikan kegembiraannya. Namun dalam hati ia bersorak kegirangan.


"Ya. Tapi, saya harap kamu gak kemana-mana. Saya kan gak bisa bawa Cakra," pinta Bu Lastmi. Cakra adalah nama kucingnya. "Jadi saya minta kamu ngasih dia makan tiap hari. Dan selama saya pergi, saya mau kamu bersih-bersih rumah, nyiremin tanaman…"


"Oh, oke. Gak masalah!" seru Jingga. Dia akan pergi, katanya dalam hati. Pergi. Pergi. Mungkin selama dia pergi aku dapat tidur dengan tenang lagi.


"Kalau perlu saya akan bayar buat jagain Cakra," kata Bu Lastmi.


"Oh, gak usah, Bu! Makasih!" Bila perlu saya yang akan membayar Anda untuk pergi dari sini, pikir Jingga. "Saya pasti jagain Cakra, kok! Ibu gak perlu khawatir!" Ia berharap suaranya tidak terdengar terlalu antusias.


Cakra memandang Jingga dengan ragu. Kucing hitam itu terus-menerus berada di dekat kaki Bu Lastmi dari tadi, seakan tahu akan segera ditinggal pergi majikannya.


"Saya berangkat besok pagi," katanya. "Hari ini, adik ipar saya lagi ke sini." Ia membalikkan badan lagi untuk meneruskan pekerjaannya.


Crok, crok, crok.


Bu Lastmi tampak gembira sekali ketika mengangkat dan mengayunkan pisau besar itu.


Crok. Crok. Crok…


Jingga mengernyit dan memutar tubuhnya, menjauh dari bak cuci.


Ketika ia membuka lemari es untuk mencari minuman dingin, ponselnya bergetar. la memeriksanya.


Panggilan suara dari Violet.


Jingga segera keluar dari dapur untuk menerima panggilan itu.


"Halo!" Suara seorang pria. "Saya dokter Dradjat dari rumah sakit Kencana. Ada kecelakaan."

__ADS_1


Sekonyong-konyong seluruh tubuh Jingga terasa dingin. "Kecelakaan?"


"Ya. Saudari Violet ada di sini. Di rumah sakit. Di bangsal saya. Dia mendapat kecelakaan parah sewaktu mengendarai sepeda motor."


__ADS_2