
"Sanggeus raat cihujan… mangsana halimun midang… kuniang aleut-aleutan, ngariung 'na raga gunung. Kade Bebegig, Anaking! Kade Bebegig leupas!"
Apa ini? pikir Yasa.
Dan sebelum ia menyadari apa yang terjadi, angin berhembus kencang dan berputar-putar.
Semak-semak ilalang di sekelilingnya meliuk-liuk membentuk pusaran kabut gelap yang meliputi Yasa dan lalu terhisap ke dalam tubuhnya.
Bersamaan dengan itu para pendaki melintas di sisi lain kaki gunung, tak jauh dari pusat kabut yang sedang meresap ke dalam tubuh Yasa. Sulur-sulur kabut itu terinjak salah satu pendaki, hingga menyebabkan kabut itu terpecah.
Sulur kabut itu adalah bagian dari tubuh makhluk yang sama. Menginjak sulurnya ketika ia sedang mencoba bertransformasi tidak ada bedanya dengan menginjak ular yang sedang berganti kulit. Selain hampir membuatnya gagal mutasi, hal itu juga menyakitinya.
Si pendaki itu tak sempat bergerak maupun berteriak. la melihat mata merah berkilat-kilat. Mendengar desir angin, siulan melengking, pekikan serangan.
Yasa terbangun penuh ketakutan dan bangkit dari tempat tidurnya, secara spontan menyapu seluruh ruangan dengan tatapan nyalang. Matanya yang masih kabur mengerjap terbuka, dadanya terasa berat saat tatapannya yang panik menyapu ruangan.
"Sa—" suara lembut di sampingnya membuat Yasa terperanjat dan menoleh. Lalu terperangah.
Jingga spontan mengerutkan keningnya.
Tatapan Yasa tidak tertuju pada wajahnya, tapi ke bagian lain tubuh Jingga.
Jingga juga terperangah.
Detik berikutnya, kedua-duanya tersentak menatap tubuhnya sendiri.
Jingga menjerit seraya menarik selimut ke dadanya.
Entah bagaimana mereka berdua bisa sama-sama telanjang bulat.
Yasa mengerutkan keningnya dan berpikir keras. Mencoba mengingat-ingat apa saja yang sudah dilakukannya semalam. Tapi tidak satu pun diingatnya setelah jatuh tertidur.
Satu kata yang mondar-mandir di kepalanya hanya: Celaka! Celaka! Celaka!
Yasa menyisir seluruh tempat dengan tatapan panik, kemudian mendapati pakaiannya terserak di tepi tempat tidur. Ia segera memungutinya dan mengenakannya satu per satu.
Jingga masih bergelung membungkus dirinya dengan selimut. Tubuhnya bergetar. Mungkin sedang menangis, pikir Yasa prihatin.
Untuk sesaat, tidak satu pun dari keduanya tahu apa yang harus dikatakan.
Sampai…
__ADS_1
Yasa akhirnya berpakaian lengkap dan memutari tempat tidur, mendekat ke arah Jingga dan duduk di sisi tempat tidur. Meraup tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. "Maaf, Jingga. Aku gak tau apa yang terjadi antara kita. Tapi aku bener-bener gak ngapa-ngapain kamu semalem." ia berusaha meyakinkan Jingga meski ia sendiri bahkan tak yakin.
Jingga tidak merespon. Tubuhnya berguncang semakin hebat. Tangisnya mulai meledak.
Yasa sampai meringis karena tak tega. Diam-diam matanya menelisik tempat tidur, mencari-cari sesuatu yang mungkin mencurigakan. Tapi tempat tidur itu benar-benar bersih.
Tidak terjadi apa-apa! Yasa menyimpulkan. Lalu melonggarkan pelukannya dan mendorong bahu Jingga, ia membungkuk untuk mensejajarkan wajah mereka. "Denger, Jingga!" katanya hati-hati. "Kamu coba pastiin, apa ada bagian tubuh kamu yang sakit?"
Jingga menurunkan selimut dari wajahnya dan mengerjap menatap Yasa. "Maksud kamu?"
Yasa tersenyum kikuk dan tergagap. "Kalo aku ngapa-ngapain kamu, seharusnya bagian itu… sakit, kan?" katanya terbata-bata.
Jingga mengerutkan keningnya. Bagian itu? pikirnya tak mengerti.
"Maksud aku…" Yasa kembali tergagap dan memalingkan wajahnya sedikit, lalu tertunduk dengan wajah tersipu.
Butuh waktu lama sampai Jingga akhirnya memahami arah pembicaraan Yasa. "Ah—aku paham," katanya terbata-bata juga.
Lalu keduanya sama-sama tergagap sekarang. Saling memandang dengan wajah merona.
"Ehm, aku tunggu di luar!" kata Yasa cepat-cepat, sambil buru-buru memalingkan wajah dan beranjak. Lalu bergegas keluar.
Jingga melangkah turun dari tempat tidur dengan hati-hati, mencoba merasakan bagian tubuhnya yang paling rahasia.
Tidak ada yang mencurigakan! pikirnya.
Setelah mandi dan berpakaian, ia keluar dari kamar dan menghampiri Yasa di ruang tamu. Wajahnya masih tersipu.
Yasa juga tersipu.
Bagaimanapun mereka sudah saling melihat bagian tubuh paling rahasia satu sama lain.
Mengingat hal itu membuat keduanya sama-sama kikuk dan mau tidak mau membuat mereka membayangkan hal-hal yang memalukan.
"Maaf, Sa," desis Jingga. "Aku… sempet berprasangka buruk sama kamu. Aku—"
"Aku juga minta maaf," tukas Yasa sambil menarik bangkit tubuhnya dari sofa dan menghampiri Jingga sambil tersenyum tipis. "Aku semalem masuk kamar kamu dan tidur di samping kamu."
"Nggak apa-apa," sergah Jingga sambil tertunduk. "Makasih udah jagain aku."
Senyuman penuh kelegaan melebar di sudut bibir Yasa. "Kamu gak apa-apa, kan?" tanyanya lembut.
__ADS_1
Jingga menggeleng cepat-cepat. Tapi tidak berani mengangkat wajahnya.
Yasa mendesah lega dan memeluk Jingga dengan hati-hati.
Jingga tidak menolak.
"Oh, ya!" Jingga berkata setelah lama terdiam. Ia menarik wajahnya dari dada Yasa, lalu mendongak menatap wajah tampan itu. "Ada sesuatu yang mau aku unjukkin sama kamu."
Yasa mengembangkan senyumnya sebagai isyarat mempersilahkan.
Jingga bergegas ke kamarnya, mengeluarkan buku puisi yang ditemukannya di meja baca Bu Lastmi dari dalam ranselnya, kemudian keluar lagi, tapi tidak kembali ke ruang tamu. "Kita ngobrol di dapur yuk, Sa!" panggilannya, lalu bergegas ke dapur untuk menjerang air dan menyiapkan makanan kucing.
Kucing itu mengikutinya dengan gembira, kemudian menggosok-gosokkan badannya ke pergelangan kaki Jingga, seakan-akan sedang mencoba berterima kasih.
Yasa menyusul beberapa saat kemudian.
"Kita ngobrol sambil sarapan," kata Jingga. Sikapnya mulai normal kembali.
Yasa menarik salah satu kursi dan duduk menghadap ke arah Jingga yang membungkuk di atas meja racik memunggunginya.
Gadis itu memanggang dua tangkup roti isi telur mata sapi, dan membuat dua cangkir minuman panas.
Yasa sedang membolak-balik halaman buku puisi tua yang diletakkan Jingga di meja, ketika Jingga berbalik dan berjalan ke arah meja makan.
Sambil menguap, Jingga meletakkan piring berisi roti panggang isi telur mata sapi di meja di depan Yasa. "Apa yang kamu rasain mengenai buku itu?" ia bertanya sambil berbalik kembali ke arah meja racik untuk mengambil minuman panas.
Yasa menunduk mengamati roti sandwich di piringnya. "Kamu tau dari mana aku butuh sedikit kolesterol sebagai sumber tenaga?" godanya sambil tersenyum.
"Oh---hohoho! Papaku kan orang sakti," kelakar Jingga menirukan lelucon ayahnya.
Yasa terkekeh menanggapinya.
Aku suka tawanya, pikir Jingga terpesona.
"Ini kayaknya cuma buku sajak lama," komentar Yasa sambil meletakkan buku tua itu di meja, kemudian menarik piringnya mendekat.
"Kamu yakin cuma sekadar sajak?" Jingga meletakkan kedua cangkir minuman panas yang dibawanya di meja, kemudian menarik bangku di dekat Yasa.
"Semua aura mistis di rumah ini bersifat sugestif," tutur Yasa. Ia mengambil pisau dan garpu dari tempat sendok di tengah meja, kemudian memberikannya pada Jingga.
Jingga menerimanya sambil mengamati wajahnya dengan dahi berkerut-kerut.
__ADS_1
"Mungkin pengaruh koleksi barang-barang antik," Yasa mengambil pisau dan garpu lagi untuk dirinya. "Aroma barang-barang antik ini memang lumayan tua, tapi gak ada yang bener-bener mengandung aura mistis. Kayak yang aku bilang kemaren, pemilik rumah ini kolektor sejati."