Bebegig

Bebegig
Chapter 23


__ADS_3

Di ujung selatan ladang, terpisah dari kerumunan rumah-rumah penduduk, jauh dari area persawahan, jauh di seberang sana sungai di kaki gunung, sebuah bukit batu tinggi mencuat ke permukaan ngarai, condong ke air terjun seolah mencoba meraih sungai berhutan yang gelap di seberangnya.


Pada ketinggian bukit batu hitam, yang licin karena embun tebal dan lembap, dalam bayang-bayang bukit batu yang kokoh itu, terasing dan sunyi, kecuali hanya ada empasan air terjun ke sungai yang tak kenal kasihan, seekor kelelawar meluncur dan melayang turun ke tempat pertemuan antara kabut dan awan, berputar cepat di puncak tebing sambil melipat sayapnya, berpusing dalam tarian yang seram dan tanpa irama, kemudian mendarat tanpa suara.


Ia muncul dari tarian itu dalam wujud manusia, berubah bentuk menjadi seorang anak laki-laki dengan mata berkilat-kilat merah, karena marah.


Marah sekali pada Magenta.


Pada saat yang sama, kabut tebal mengendap turun di bawah kakinya, menyelimuti seluruh tempat di sekeliling Magenta sehingga cowok itu mendadak kehilangan arah.


Ia berbalik memunggungi ladang ilalang di mana Magenta berkutat berusaha menemukan jalan keluar.


Ia mengibaskan rambutnya yang ikal sebahu ke belakang dengan menyentakkan kepalanya, kemudian bersedekap memandangi bebatuan yang miring terjal ke jurang, berpikir keras.


Lama ia terdiam dalam sunyi, sementara Magenta terus berkutat dan berputar-putar di tempat yang sama, terjebak oleh kekuatan tak kasatmata yang kuno.


Magenta terus berjalan menguak semak-semak ilalang setinggi dada, tapi ladang ilalang itu membentang dari satu bukit ke bukit-bukit lainnya, tak ada habisnya.


Orang-orangan sawah berjubah hitam yang tampak tak asing tertancap miring di tengah-tengah semak ilalang di kaki tebing.


Sudah lebih dari tiga kali Magenta menemukan orang-orangan sawah itu.


Ini aneh, pikirnya.


Bagaimana bisa aku tersesat di areaku sendiri?


Bukankah seharusnya di ujung ladang ilalang ini adalah sawahku?


Kenapa rasanya ladang ilalang ini tidak ada habisnya?


Magenta berhenti sejenak dan mengedar pandang. Meneliti setiap sudut tempat di sekelilingnya. Napasnya terengah-engah karena lelah berjalan. Dan itu jarang terjadi ketika ia hanya pergi memancing dan pulang-pergi ke sawah.


Jarak yang ditempuhnya jelas berbeda dari biasanya.


Tapi ia mengenali setiap sudut tempat itu dengan baik.


Aku tidak ke mana-mana! ia menyimpulkan.


Lalu mengamati orang-orangan sawah yang tertancap pada tiang tinggi yang miring di atas semak-semak ilalang itu dengan mata terpicing.


Ia tak bisa melihatnya dengan jelas, tapi ia tahu persis orang-orangan sawah itu adalah orang-orangan sawah yang sama seperti yang biasa mereka buat dari waktu ke waktu. Tapi mereka sudah tidak pernah membuatnya lagi sekarang.


Siapa yang membuat orang-orangan sawah seperti itu? pikirnya.


Dewa?

__ADS_1


Apakah Dewa masih suka ketakutan diserang hantu orang-orangan sawah?


Merasa janggal dengan situasi itu, Magenta memutuskan untuk mengubah arah. Ia berbelok ke tengah semak-semak menuju tempat orang-orangan sawah itu ditancapkan meski tak ada jejak jalan setapak sebagai pertanda bahwa tempat itu pernah dilalui seseorang.


Ia tak peduli.


Ia hanya ingin memastikan apakah orang-orangan sawah itu seperti dugaannya.


Ia menguak semak-semak itu dengan kedua tangannya seperti gerakan seseorang yang sedang berenang, tanpa menoleh ke sana kemari, tatapannya tetap tertuju pada orang-orangan sawah itu.


Lalu di luar dugaannya, ia tiba-tiba keluar dari semak-semak dan sampai di pematang sawahnya.


Magenta tertegun dan mengedar pandang lagi.


Bukankah seharusnya ia sampai di kaki tebing?


Magenta terkekeh sinis. Ini jelas tak beres, pikirnya. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah gubuk kecil di tengah sawah, penduduk setempat biasa menyebutnya Saung Ranggon, gubuk kecil seukuran pos ronda untuk beristirahat saat bekerja di sawah.


Barangkali mereka masih memiliki persediaan air minum di gubuknya, pikir Magenta.


Ia benar-benar haus dan merasa sangat lelah. Ia mungkin akan beristirahat sebentar dan menyalakan api. Siapa tahu itu bisa membantunya sedikit lebih tenang.


Ia tidak merasa takut dengan sergapan tali gaib yang biasa disebut Areuy Bindeng. Fenomena semacam ini biasa terjadi di sekitar ladang dan persawahan, atau perkebunan. Di mana setiap orang yang bahkan mengenal tempat itu dengan baik masih bisa tersesat dan berputar-putar di tempat yang sama. Itu adalah salah satu fenomena gaib.


Salah satu mitos yang diyakini masyarakat setempat.


Setelah sampai di gubuk, ia menyalakan pemantik plastik yang biasa dibawanya ke mana-mana dan mulai membuat api unggun.


Napasnya masih tersengal-sengal ketika ia selesai membuat api. Ia memeriksa kendi di sudut gubuk itu. Airnya masih penuh. Ia pun menenggaknya dan duduk sejenak untuk memulihkan napasnya.


Nyala api mulai membesar di pekarangan gubuk, tak jauh dari kakinya berpijak. Berkeretak dan meretih memantulkan cahaya pucat yang memberikan sedikit penerangan.


Pada saat itulah Magenta menyadari seseorang masih bekerja di sawahnya.


Seorang wanita berkebaya putih dengan kain batik dan caping, membungkuk di antara rumpun padi di tengah sawah.


Siapa yang masih bekerja malam-malam begini? pikirnya heran.


Memangnya pukul berapa sekarang?


Ia tak yakin berapa lama ia terjebak di ladang, yang ia tahu ia terpisah dari Jingga saat matahari tenggelam.


Mungkin belum terlalu malam, pikirnya. Tapi tetap terlalu malam untuk bekerja di sawah.


Magenta segera keluar dari gubuknya dengan sedikit membungkuk karena atapnya yang rendah, lalu menerawang ke tengah sawah yang bersebelahan dengan sawahnya. Kemudian memanggil wanita itu, "Bu…?"

__ADS_1


Wanita itu tetap membungkuk.


Magenta melangkah ke pematang dan melingkarkan telapak tangan di seputar mulutnya membentuk corong, "Bu!" panggilnya lagi. Sedikit meninggikan suaranya.


Wanita itu tetap membungkuk.


Magenta bergegas menghampiri wanita itu dan membungkuk di tepi sawahnya, "Bu—" suaranya tercekat di tenggorokan.


Wanita itu rupanya bukan sedang membungkuk untuk bekerja, tapi sedang bersila membaca buku.


Membaca buku?


Di tengah sawah?


Magenta menelan ludah dengan susah payah dan tersentak mundur selangkah ke belakang, nyaris terjungkal, sebelah kakinya terperosok ke sisi pematang.


Ia bisa mendengar bisikan lirih wanita itu. Suaranya rendah dan serak.


"Lamun hujan ngagelebug, komo wanci sambekala… Kade Bebegig, Anaking! Kade Bebegig! Bebegig mawa dodoja."


Bulu kuduk Magenta serentak meremang. Ia memekik tertahan dan menahan napas seraya terhuyung ke belakang.


Apa dia sedang membaca mantra? Magenta bertanya dalam hatinya. Apa buku itu semacam kitab sihir?


Bagaimana bisa seseorang membaca buku di tengah-tengah sawah di dalam kegelapan?


"Ne---nenek siapa?" Magenta bertanya tergagap-gagap.


Tiba-tiba wanita itu mengangkat wajahnya.


Dan seketika Magenta terkesiap.


Wajahnya tidak terlalu tua meski rambutnya telah putih semua.


Mirip sekali dengan ibu Jingga, pikir Magenta.


Wajah wanita itu seperti menyala dalam kegelapan hingga Magenta dapat melihat senyumnya.


Dia tersenyum!


Magenta terbelalak.


"Buku Ambu soek---buku Ibu sobek," kata wanita itu seraya mengangkat bukunya, mencoba memperlihatkan bagian yang sobek pada Magenta. "Cik cukcruk ka belah kidul---tolong telisik ke selatan!"


Magenta hanya mengerjap, sekujur tubuhnya membeku kecuali matanya.

__ADS_1


"Geuwat---cepat!" hardik wanita itu pada Magenta. "Tong talangke---jangan lelet!"


Magenta tersentak dan tanpa berpikir ia menghambur dari pematang, menjauh dari wanita itu, berlari pulang dengan tersaruk-saruk.


__ADS_2