Bebegig

Bebegig
Chapter 61


__ADS_3

"Hey!" Suara Violet terdengar parau dan jauh sekali. Ia berbicara perlahan-lahan, seolah baru bangun dari tidur panjang.


"Vi—lu kedengaran aneh." Jingga mencengkeram erat telepon selulernya, tangannya sampai terasa sakit.


"Yah. Gue tahu. Mungkin ini pengaruh obat bius."


"Lu luka parah, ya?"


Lama sekali tidak ada sahutan.


"Nggak. Udah enggak lagi. Gue... bentar, Ga. Perawat mau ngasih obat lagi."


Jingga mondar-mandir di dapur. Terima kasih, Tuhan, dia masih hidup, pikirnya. Dia pasti akan sembuh.


"Halo, lu belum pingsan, kan?" Violet berkata, suaranya hanya terdengar berbisik sekarang. "Kayaknya gue baik-baik aja, Ga."


"Jangan bohong, lu!" sergah Jingga. "Dokter bilang kecelakaannya parah tadi."


"Yah. Pergelangan tangan gue patah. Rusuk gue memar. Tapi lu jangan bilang-bilang nyokap gue dulu, ya!"


Jingga membayangkan Bu Lastmi ketika sedang mencincang tulang kaki sapi itu.


"Nyokap gue bisa kena serangan jantung kalo liat kondisi gue sekarang," kata Violet. "Gue sempet syok waktu pas siuman liat slang-slang di tangan gue. Tapi untungnya nasib gue masih baik."


"Baik?" Tangan Jingga berkeringat. Dijepitnya ponsel di bawah dagunya, lalu ia mondar-mandir lagi.


"Gue cuma gak nyangka aja, orang gila itu bener-bener pengen bunuh gue."


Sejenak Jingga terdiam.


Orang gila?


Apa yang sedang dibicarakan Violet?


Obat bius yang diberikan perawat itu pasti telah mulai bekerja dan membuatnya agak aneh, pikir Jingga.


"Apa lu bilang? Orang gila?"


"Bokin gue! Maksud gue, dia udah gila kali, ya? Masa tiba-tiba dia marah-marah gak jelas. Terus, tau-tau minta putus. Padahal gue dari pagi bareng dia."


"Oh, jadi itu sebabnya lu gak ngampus hari ini? Padahal lu pamit dari rumah mau ke kampus, kan? Sejak kapan lu belajar bohongin orang tua?"


"Tunggu—dengerin gue dulu!" sergah Violet. "Gue gak bohong. Maksud gue---gue gak niat bohongin Nyokap. Gue beneran niat ke kampus. Bokin gue tiba-tiba nyegat gue di depan kampus. Dia bilang ada hal penting yang mau dia omongin. Sampe di kostan dia, gak taunya dia cuma minta begituan."

__ADS_1


"Begituan apa?" potong Jingga ketus.


"Please, jangan minta diperjelas!" tukas Violet setengah merajuk. "Lu tau hubungan gue sama bokin gue udah sejauh mana. Bisa nggak lu dengerin gue aja cerita sampe selesai?"


"Oke, lanjut!"


"Nah, abis itu. Dia keluar sebentar. Katanya ada panggilan mendesak dari sekretariat. Kebetulan, minggu depan kita emang ada rencana naik gunung lagi. Pulang-pulang dia marah liat gue di kamarnya. Raut mukanya tuh… kayak orang gak kenal sama gue. Kan, gila!"


"Hah?" Jingga tak bisa menutupi keterkejutannya.


"Padahal kalo dia minta putus, tinggal bilang aja. Gak usah pake drama. Gue masih bisa terima kalo dia bosen sama gue atau dia punya pacar baru. Meskipun sakit, gue lebih suka dia jujur daripada harus aneh-aneh. Dasar seniman!" cela Violet.


"Tunggu!" sela Jingga. "Lu yakin gak keberatan ditinggal gitu aja. Hubungan lu sama dia udah terlalu—"


"Gue gak peduli!" potong Violet. "Gue lebih gak bisa terima dia yang kayak gini. Tau-tau ngusir gue. Mana lagi ujan deres!"


"Jadi itu sebabnya lu kecelakaan?"


"Gue kecelakaan karena ujan lagi deres-deresnya!" kata Violet. Tidak terdengar sedih sedikit pun karena putus. "Ah, sial!" gumam Violet semakin lemah. "Gue ngantuk. Pil-pil ini…"


"Ya, udah. Lu tidur aja, deh! Ntar gue ke situ," kata Jingga. Ditunggunya sahutan Violet, tapi rupanya gadis itu benar-benar sudah tertidur.


Sekretariat? pikirnya. Naik gunung?


Jingga menutup panggilan dan mengunci layar ponselnya dan menyadari bahwa tubuhnya sedang bergidik. Seluruh tubuhnya menggigil. Bukan karena udara dingin. Rasa dingin itu dimulai dari otaknya, lalu turun ke tubuhnya. Karena pikirannya. Ia menggigil karena takut.


Cowok itu, ia berkata dalam hati sambil memeluk tubuhnya sendiri, berusaha berhenti gemetar. Cowok gondrong yang tadi keluar dari sekretariat pecinta alam…


.


.


.


Mimpinya malam itu begitu jelas.


la dapat mencium aroma cemara, merasakan dinginnya air yang jernih ketika ia melangkah menuju danau.


Hari ini cerah, matahari bersinar terang, begitu terang sehingga segalanya tampak cemerlang dan berkilauan. Warna-warna kelihatan tajam dan jelas. Ia dikelilingi selubung kuning gemerlapan cahaya matahari. Begitu hangat, begitu cerah.


Di bawah kakinya danau tampak biru, biru yang dingin. Riak lembutnya terkena sinar matahari, memerciki kaki telanjangnya.


la berjalan melintasi air, perlahan-lahan, kedua lengannya di samping, pandangannya lurus ke depan, selalu lurus ke depan ke atas permukaan danau yang luas.

__ADS_1


Alangkah cerahnya hari ini!


Namun ia tak dapat melupakan masalah yang membebaninya.


Seseorang sedang mengawasinya dari tepi danau. Seseorang mengamatinya ketika ia berjalan di atas danau. Siapakah dia?


la membalikkan badan untuk melihatnya. Tapi cahaya kekuningan yang menyilaukan serasa membutakannya. Jingga memejamkan mata, lalu melihat ke kejauhan. Cahaya yang menyilaukan itu membentuk semacam tirai. la tidak dapat melihat ke baliknya. Ia tak dapat melihat siapa yang mengamatinya.


Air danau mendadak terasa dingin. Di bawah, riak ombak mengempas kakinya lebih keras. Cahaya matahari kekuningan memudar dan berubah menjadi kelabu, kemudian hitam.


Jingga terbangun.


Di manakah aku? pikirnya.


Pepohonan berbisik. Angin meniup pakaian tidurnya.


Aku di luar lagi, hanya memakai baju tidur.


Dikelilingi pepohonan, cemara-cemara tinggi, ek, belukar pendek. Sebuah sepeda roda tiga tergeletak terbalik di jalan mobil yang berkerikil, di halaman sebuah rumah tua beratap rendah yang gelap. Daun jendelanya terempas-empas.


Itu bukan rumah Bu Lastmi, pikirnya.


Aku tidak berada di depan rumah Bu Lastmi. Aku ... berada di tempat lain.


Akibat dicekam ketakutan, Jingga baru menyadari bahwa ia menahan napas sejak tadi. Diembuskannya napas dari paru-paru dan di hirupnya udara dingin dalam-dalam.


Di manakah aku?


Ada lampu jalanan sekitar setengah blok dari situ. Pohon-pohon tua merunduk dan bergesekan.


Jingga menunduk melihat kakinya. Sangat basah, dingin sekali. Ia sedang berdiri di genangan air yang dalam, lumpur lembut menyelip di antara jarinya, hampir setinggi mata kaki.


Aku berdiri di dalam lumpur. Tapi di mana?


Ia memaksakan diri untuk menarik napas lagi.


Mimpi itu kembali membayang jelas, dan Jingga mendesah kaget. Bagaimana aku bisa berjalan di atas danau? Kenapa aku ada di sana?


Kenapa aku di sini?


Ia keluar dari dalam genangan. Angin seakan berhenti. Begitu sepi, sesunyi foto hitam putih. Seolah-olah hanya dialah yang bisa bergerak. la berjalan menjauhi pepohonan yang sekarang diam. Di balik semak-semak hijau yang rendah terlihat jalanan. Di seberang jalan itu ada rumah bergaya Victoria yang tinggi dan tua dengan lampu kuning pucat, sepucat bulan. Hanya ada satu jendela di lotengnya.


Jalan itu tampaknya sudah tak asing lagi baginya, tapi tetap terasa janggal.

__ADS_1


__ADS_2