
Jingga sedang menyiapkan makan malam ketika akhirnya Bu Lastmi muncul kembali di dapur setelah sebelumnya meminta mereka menunggu sementara ia mandi dan berganti pakaian.
Yasa membungkuk di lantai menyiapkan makanan kucing, ia mendongak menatap Bu Lastmi dan beranjak dari lantai.
Wanita tua itu bertopang pada tongkatnya dan tersenyum penuh rasa bersalah.
Malam itu Jingga dan Yasa terpaksa mengurungkan rencana mereka untuk pulang bersama. Yasa memutuskan untuk menginap semalam lagi setelah pembicaraan panjangnya dengan Bu Lastmi.
Yasa telah mengutarakan tujuan kedatangannya pada Bu Lastmi dan menceritakan pada wanita tua itu bagaimana ia bisa sampai di sini. Bu Lastmi sangat tertarik untuk mengetahui lebih banyak, terutama karena reaksi Cakra juga sedikit khusus.
"Saya buatin kopi, ya? Kamu suka kopi, kan?" Bu Lastmi menawarkan.
"Gak usah, Bu!" cegah Yasa sambil menuntun wanita tua itu ke meja makan. "Biar saya buat sendiri. Ibu duduk aja!"
"Oh, baguslah!" sambut Bu Lastmi antusias. "Saya seneng kamu gak sungkan."
"Nggak, Bu!" sergah Yasa sambil tersenyum. "Saya malah udah lancang bersikap seolah-olah ini rumah saya selama Ibu gak ada."
"Saya gak keberatan soal itu," tukas Bu Lastmi. "Kamu pasti paham, kan? Saya cuma gak suka pasangan anak muda yang terlalu intim," katanya sambil menepuk pangkal lengan Yasa. "Kalian masih terlalu muda," Bu Lastmi menasihati. "Masa depan kalian masih panjang."
"Saya paham, Bu. Makasih udah ngingetin kita," kata Yasa sambil melirik Jingga setengah tersipu.
Jingga, memakai celemek bergaris merah-putih di atas celana khaki dan T-shirt, membolak-balik hamburger satu per satu di atas panggangan arang, mengerjapkan mata karena asap.
Yasa mengambil tongkat Bu Lastmi dan menyandarkannya di sudut terdekat. Lalu bergegas ke sudut dapur, bergabung dengan Jingga untuk menjerang air.
Diam-diam mereka bertukar pandang sambil tersenyum malu-malu, ketika Yasa berdiri begitu dekat di samping Jingga. Dada rata cowok itu menyentuh pangkal lengan Jingga saat tangannya meraih pintu kabinet di atas kepala Jingga.
"Kamu masih muda, tapi udah punya wibawa dan semangat mengayomi," puji Bu Lastmi ketika Yasa membungkuk di atas meja, menata coffee set di depannya dengan elegan. Sorot mata tuanya tak bisa menutupi kekagumannya.
Yasa hanya tersenyum tipis menanggapinya, kemudian menarik salah satu kursi dan duduk di dekat Bu Lastmi. "Itu karena saya punya guru spiritual yang bijaksana," katanya.
"Guru spiritual," ulang Bu Lastmi sambil mengerutkan keningnya. "Saya udah berkali-kali nyari guru spiritual selama dua tahun terakhir," kenangnya dengan ekspresi muram. "Mau cerita soal guru spiritual kamu?" Bu Lastmi bertanya penuh antusias.
__ADS_1
"Guru spiritual saya…" Yasa tersenyum ke arah Jingga. "Sangat istimewa," pujinya. "Dia papanya Jingga."
"Oh," Bu Lastmi membekap mulutnya dengan sebelah tangan sambil menoleh ke arah Jingga dengan ekspresi takjub.
Jingga mengernyit. Ia menepuk nyamuk yang hinggap di lengannya dengan sarung tangan untuk memanggang. "Jangan dengerin Yasa," katanya sambil tersenyum pada Bu Lastmi. "Dia terlalu berlebihan."
"Nggak!" sergah Yasa. "Saya gak berlebihan. Empu Brajasena memang sangat istimewa. Dia yang ngajarin saya arti hidup dan membentuk saya menjadi seorang laki-laki."
"Saya bisa liat itu," timpal Bu Lastmi. "Siapa tadi namanya?"
"Empu Brajasena!" Yasa menjawab cepat.
"Ah, ya, ya… Empu Brajasena," ulang Bu Lastmi dalam gumaman rendah. "Apa dia juga paham soal mistis? Jujur aja, saya udah lama nyari orang yang paham soal… hantu. Udah dua tahun saya konsultasi sana-sini, ngikutin saran orang-orang pintar, tapi hasilnya…" Bu Lastmi menggantung kalimatnya dan mengembangkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. "Kamu liat sendiri, rumah saya jadi kayak toko kelontong!"
Yasa dan Jingga serentak bertukar pandang.
"Dulu anak kost saya banyak," cerita Bu Lastmi. "Rumah saya gak pernah sepi. Tapi dua taun lalu, salah satu penghuni kamar meninggal di danau. Seisi rumah gempar soal penampakan hantu Aruna. Anak-anak itu mulai pindah satu per satu. Setelah itu, gak ada lagi orang yang mau sewa kamar di rumah saya. Kabar penampakan hantu Aruna menyebar ke mana-mana. Jingga orang pertama yang mau sewa lagi kamar di rumah saya," tuturnya sambil menatap Jingga dengan murung. "Dan dia… kamu tahu, dia menderita tidur berjalan!"
Yasa mengerjap dan tertegun.
"Nak, kedatangan kamu pasti bukan kebetulan!"
Suara lembut Bu Lastmi menyentakkan keduanya dari lamunan.
"Jadi semua koleksi barang-barang mistis ini bukan hobi Ibu?" Yasa akhirnya membuka suara.
Bu Lastmi menggeleng. "Saya ngoleksi semuanya selama dua tahun ngikutin saran guru spiritual saya."
Wanita tua ini jelas habis dirampok, pikir Yasa prihatin.
Orang itu… siapa pun dia yang menjadi guru spiritualnya adalah penipu.
Dukun palsu!
__ADS_1
"Ibu beli semuanya dari satu orang?" tanya Yasa lagi.
"Ya, saya dapetin semuanya dari guru spiritual saya. Tapi gak beli," jelas Bu Lastmi. Tapi kemudian dia tercenung. "Beberapa memang ditebus pake mahar!"
Tidak salah lagi. Orang itu berniat memeras Bu Lastmi!
Yasa mendesah pendek. Lalu membungkuk ke arah Bu Lastmi dan menepuk-nepuk lembut punggung tangan wanita tua itu. "Saya gak mau nyaranin Ibu buat ngebuang semuanya. Biar gimana juga Ibu pasti udah ngabisin banyak uang. Tapi kalo boleh saya saranin, sebaiknya mulai sekarang Ibu berhenti ngoleksi barang-barang semacam itu lagi."
Bu Lastmi mengerjap dan menatap Yasa.
"Boleh percaya boleh nggak," kata Yasa. "Barang-barang ini gak bantu permasalahan Ibu."
"Ya, ya…" Bu Lastmi mengangguk-angguk. "Sebenernya saya juga ngerasa begitu. Mungkin karena masih ada barang yang belum ketebus. Guru saya bilang… efeknya bakal buruk kalo gak dilengkapi dalam jangka waktu tertentu. Masih ada—"
"Maaf," potong Yasa tanpa mengurangi rasa hormat. "Tapi maksud saya, barang-barang ini semuanya paslu!"
"Hah?" Bu Lastmi tak dapat menutupi kekagetannya.
"Tapi Ibu jangan khawatir," Yasa menambahkan. "Karena barang-barang ini palsu, gak ada efeknya meskipun tetep disimpen tanpa dilengkapi. Barang-barang ini gak berbahaya. Cuma kesannya aja suram. Tapi gak ada energi negatifnya."
"Kamu bisa ngerasain energi spiritual?" tanya Bu Lastmi.
"Lebih dari sekadar ngerasain," kata Jingga mendekat, menaruh sepiring besar sandwich burger di atas meja di depan Yasa dan Bu Lastmi. "Yasa juga kadang bisa liat dan interaksi sama entitas lain."
"Oh, baguslah!" seru Bu Lastmi penuh syukur. Lalu menggenggam tangan Yasa dengan hangat. "Kamu mau bantu Ibu, kan?" pintanya.
Yasa tersenyum tipis dan mengangguk. "Tapi saya gak bisa jamin hasilnya, saya masih belajar," katanya merendah.
"Saya akan bayar berapa pun maharnya, asal rumah saya rame disewa orang lagi," kata Bu Lastmi memohon. "Ini bukan perkara uang, Yasa. Saya kesepian tanpa anak-anak kost."
Yasa kembali bertukar pandang dengan Jingga dan tersenyum kikuk. "Maaf, Bu. Saya gak bisa bantu Ibu sampe sejauh itu. Saya gak janji bisa ramein tempat Ibu. Ini bukan penglaris atau pemikat dan sejenisnya. Saya cuma bisa berusaha nyingkirin energi negatif yang ada di rumah Ibu."
Bu Lastmi tersenyum sedih seraya mengguncang tangan Yasa di dalam genggamannya. "Saya ngerti," katanya. "Tapi sikap rendah hati kamu ini malah bikin Ibu tambah yakin kalo kamu bukan orang sembarangan."
__ADS_1