Bebegig

Bebegig
Chapter 88


__ADS_3

Jingga melambaikan tangan pada ayah dan ibunya sewaktu Yasa memundurkan mobil keluar halaman. Dari dalam mobil yang menderu pergi, dilihatnya rumah kecil mereka semakin lama semakin mengecil---menjauh.


Ia menyandarkan punggungnya di kursi mobil dan tersenyum pada cowok tampan yang duduk di belakang kemudi yang akan menjadi suaminya beberapa hari lagi.


Cowok itu membalasnya dengan senyuman tipisnya yang khas, namun wajahnya terlihat berseri-seri hari ini. Kebahagiaan terpancar dari sorot matanya yang gelap yang mengandung magnet.


Dia terlihat bersemangat, pikir Jingga berbunga-bunga.


Mereka sedang menuju ke kota Serang untuk menemui Bu Lastmi dan mengabarkan rencana pernikahan mereka, sekalian mengundangnya, dan jika wanita tua itu berkenan, Yasa juga berencana mengajaknya pulang dan menjadikannya sebagai pendamping menggantikan orang tuanya yang telah lama tiada.


Bisa jadi Tuhan mempersiapkan Bu Lastmi untuk hari ini, pikir Yasa khidmat.


Setiap kali mobil itu berhenti di perempatan ketika lampu merah menyala, tangan mereka bertautan saling menggenggam dan bertukar senyum.


Aku benar-benar bahagia, pikir Yasa. Tapi lalu mendadak khawatir karena terlalu bahagia. Kebahagiaan ini terlalu berlebihan hingga terasa seperti bukan kenyataan. Dan ia khawatir jika ini hanya mimpi, ia akan kecewa saat terjaga.


"Jingga," bisiknya sambil menatap ke dalam mata kekasihnya.


"Iya, Sayang?" Jingga merespon dengan penuh hasrat, memandang Yasa dengan rasa sayang, lalu membungkuk untuk mengecup punggung tangannya.


Yasa tergetar oleh sentuhan itu, jantungnya berdetak cepat dan nadinya berdenyut di tempat gadis itu mengecupnya. "Tampar aku!" godanya sambil tersenyum nakal.


"Hah?" Jingga spontan memelototinya dengan alis bertautan.


"Aku cuma mau mastiin kalo ini bukan mimpi," Yasa mengaku.


Jingga tertawa dan meninju bahunya.


"Aku serius!" Yasa bersikeras, namun senyumnya bertambah lebar.


"Aku punya cara lain," bisik Jingga dramatis. Ia membungkuk ke arah Yasa sambil membengkokkan telunjuknya mengisyaratkan cowok itu untuk mendekatkan wajahnya.


Yasa mendekatkan wajahnya ke wajah Jingga dan melihat mulut gadis itu menuju mulutnya dan tahu apa yang akan dilakukannya.


Gadis itu menciumnya. Keras, panas dan lapar. Lalu menggigit bibirnya.


"Sssh!" Yasa meringis sambil menarik wajahnya menjauh.


"Sakit, Yang?" ejek Jingga sembari menyeringai.

__ADS_1


Yasa tersenyum dan menggeleng-geleng, lalu meluruskan tubuhnya, kembali menghadap ke depan. Begitu lampu berubah kuning dan hijau ia memacu mobilnya dalam kecepatan sedang. Dan selama itu bibirnya terus tersenyum.


Jingga meliriknya dengan ekspresi alami orang kasmaran.


Mendekati area kampus Jingga, Yasa melirik arlojinya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh lewat. "Kamu mau langsung ke kampus?" ia bertanya pada Jingga.


"Iya, Sayang. Kamu ke rumah Bu Lastmi aja. Nanti aku kabarin kalo aku udah kelar."


"Oke," sahut Yasa, kemudian berbelok ke arah kampus dan berhenti di depan gerbang. Lalu membungkuk ke arah Jingga sambil tersenyum, menagih ciuman selamat tinggal.


Jingga terkekeh dan mendekatkan mulutnya ke telinga cowok itu, "Hei, kita belum beneran nikah!" godanya. Tapi pada akhirnya tetap tak bisa menahan diri untuk tidak mengecup bibir merah di depan matanya.


Yasa terkekeh menanggapinya. "Emang kamu tahan?" bisiknya balas mengejek.


Dan sebagai jawaban, Jingga mengecup bibirnya lagi. Lalu menyelinap keluar dan melontarkan ciuman jauh.


Yasa tersenyum lagi. Benar-benar keterlaluan, pikirnya. "Jaga diri ya, Sayang!" katanya setengah menggumam. Lalu beranjak dari tempat itu menuju pusat perbelanjaan.


Ia mungkin tak akan punya waktu lagi untuk menyiapkan segala sesuatu untuk keperluan acara lamaran nanti. Jadi ia memutuskan untuk berbelanja sementara calon mempelai wanitanya kuliah.


Di pelataran kampus, sesaat setelah Yasa berlalu, seseorang menghadang Jingga.


Jingga terperangah menatap kemunculannya yang entah dari mana, atau sejak kapan cewek itu menunggunya di sana. Ia menoleh ke sana kemari untuk memastikan bahwa ia tidak sendirian.


Violet memicingkan matanya, "Lu kenapa?" ia bertanya curiga.


"Ah—gue gak apa-apa," Jingga tak dapat menutupi perasaan gugupnya. "Lu keliatan mendingan," katanya cepat-cepat, berusaha untuk bersikap seperti biasa.


Violet tidak menjawab, ia bergerak mundur dan memiringkan kepalanya, menopangkan salah satu tangan di pinggangnya, menyapu sekilas area pekarangan dengan tatapan waspada, kemudian kembali menatap Jingga, salah satu alis rampingnya terangkat tinggi.


"Gimana caranya lu pulih secepet ini?" Jingga bertanya dengan hati-hati.


"Lu yakin lu gak apa-apa?" Violet balas bertanya.


"Gue–" Jingga kembali tergagap. Dia mencurigaiku, katanya dalam hati. Mungkin sebaiknya aku jangan bersikap gegabah. Bersikaplah seperti biasa! Ia berkata pada dirinya. Tapi itu tidak semudah kedengarannya. "Gue ke rumah sakit," kata Jingga akhirnya. "Dokter bilang…"


Violet mendesah pendek dan tertunduk, "Sori," katanya. "Gue pasti kayak berandalan, ya kan?" gumamnya muram. "Tapi bokap gue udah kelarin masalah itu, kok!" Violet kembali menatap Jingga.


Jingga menelan ludah dan membeku. Tak yakin bagaimana harus bereaksi. Tapi kemudian ia teringat pada Rogan. "Gue ketemu bokin lu," katanya dengan suara tercekik karena gugup.

__ADS_1


"Lu gak diapa-apain, kan?" Violet menyambar bahu Jingga.


Jingga terperanjat, secara spontan menarik dirinya dari cengkeraman Violet. "Ng---nggak! Gue gak diapa-apain," tukasnya cepat-cepat. Pengalamannya di danau berkelebat dalam benaknya, membuatnya ketakutan setengah mati.


"Kapan lu ketemu dia? Dia ngomong apa aja?" Violet mengetatkan cengkeramannya dan mengguncang bahu Jingga.


Jingga kembali menelan ludah. "Gue udah tiga kali ketemu dia," tuturnya terbata-bata. "Pertama, di seberang sana!" ia mengerling ke arah halte di seberang jalan. "Tapi waktu itu gue berhasil kabur."


"Bagus!" sahut Violet. Akhirnya melepaskan cengkeramannya. Ia menurunkan tangannya dan bersedekap, bersandar pada tiang penyangga balkon.


"Kedua, waktu gue mau jenguk lu di rumah sakit," lanjut Jingga. Sikapnya mulai kembali normal. "Lu masih inget, kan? Orang gila yang gue ceritain. Pasien sakit jiwa yang ngejar-ngejar gue?"


"Oke, jadi ternyata itu dia?" Violet menimpali.


"Gue gak tau dia bokin lu," tukas Jingga.


"Ya, sori. Gue gak pernah ngenalin dia sama lu!" kata Violet. "Gue pikir itu gak penting!" Ia berkilah.


"Ya," timpal Jingga sinis. "Dan lu gak pernah bilang kalo dia cucu Bu Lastmi."


Violet tidak nampak terkejut. "Kan barusan gue bilang, gue pikir itu gak penting!"


Jingga mengawasi Violet. Sikapnya biasa saja, pikirnya. Tidak terlihat mencurigakan sama sekali.


"Jadi lu ketemu dia ketiga kalinya di rumah Bu Lastmi?"


Pertanyaan Violet membuat Jingga nyaris tersedak air liurnya sendiri.


Bagaimana aku akan menjawabnya? pikirnya kebingungan. Ia berusaha berpikir cepat. Tapi tatapan Violet membuatnya merasa terdesak. Lalu ia memutuskan untuk berbohong. "Ya," katanya ragu-ragu. Sebenarnya ia tak pandai berbohong.


Violet menatap ke dalam mata Jingga, seakan mencoba mencari kejujuran di situ.


Jingga memalingkan wajahnya ke sembarang arah dan tertunduk, "Ternyata dia ngejar-ngejar gue cuma mau titip pesen," tuturnya. "Dia tau gue temen lu."


"Pesen apa?" tanya Violet. Sorot matanya meredup.


"Dia udah bayarin kontrakan bulan ini," cerita Jingga.


Violet mengerutkan keningnya.

__ADS_1


__ADS_2