Bebegig

Bebegig
Chapter 16


__ADS_3

Ya, Jingga memutuskan.


Ya.


Aku akan berlari pulang. Aku akan mencari buku puisiku. Dan mencari bait kedua dari sajak itu.


"Nanti aku ke sini lagi!" Jingga berseru pada si orang-orangan sawah. Lalu ia berbalik, melepaskan diri dari cengkeramannya yang dingin membeku.


Ia berlari menuruni lereng gunung. Dan memekik kaget karena hampir bertabrakan dengan ibunya!


"Mama!" Jingga berteriak.


"Mama udah kasih kamu peringatan!" katanya dengan nada melengking tinggi. "Mama udah berusaha nakut-nakutin kamu, supaya kamu jangan kemari."


Rupanya memang Mama yang berbisik padaku malam-malam, dan memperingatkanku tentang si orang-orangan sawah!


Sorot mata Ragnala menyala-nyala memantulkan cahaya kuning api dari obor yang dibawanya. Wajahnya yang biasanya pucat kini tampak merah padam dan berpendar-pendar kekuningan. Mantel hitamnya yang panjang tidak dikancing, hingga berkibar-kibar tertiup angin. Nyala api meliuk-liuk di ujung obornya.


Ragnala membawa buku besar berwarna hitam, dan mengangkatnya tinggi-tinggi. "Jingga---ini kan, yang kamu cari?" ia bertanya dalam gumaman rendah.


"Buku puisiku?" Jingga menjerit.


Ibunya mengangguk.


"Mama---jadi bener, ya?" Jingga bertanya sambil melirik si orang-orangan sawah. "Apa iya dia… ayahku?"


Wajah Ragnala langsung berkerut-kerut karena terkejut. "Hah? Ayahmu?" ia berseru. "Itu yang dia ceritain sama kamu? Dia bilang dia ayahmu? Itu bohong, Jingga. Bohong besar! Emang kamu mau punya ayah Jurig?"


"DIA YANG BOHONG!" suara si orang-orangan sawah membahana.


Jingga tersentak kaget.


Tapi ibunya tidak menghiraukan seruan menggelegar itu.


"Dia bohong, Jingga," Ragnala mengulangi perbuatannya sambil mendelik ke arah si orang-orangan sawah. "Dia bukan ayahmu. Dia monster jahat! DIA JURIG!"


"BOHONG!" si orang-orangan sawah kembali meraung. Seluruh gunung ikut bergetar.


"Nenek sama ayah kamu memang dukun sakti," Ragnala melanjutkan tanpa memedulikan teriakan si monster. "Siang-malem mereka mempraktekkan ilmu gaib. Tapi mereka melangkah terlalu jauh. Tanpa sengaja mereka menciptakan monster." Ragnala menunjuk si orang-orangan sawah. Dia monster jahat," ia mengulangi sambil mengertakkan gigi. "Dia Jurig Bebegig!"


Jingga tergagap-gagap, menatap ibunya dan si orang-orangan sawah dengan mata dan mulut membulat.


"Waktu nenek sama ayah kamu sadar apa yang mereka lakukan, mereka sangat terpukul. Mereka memateraikan monster itu di dalam gua. Gak lama kemudian, ayahmu menghilang. Jadi Mama sama nenek kamu bawa kamu pergi dari desa ini. Kami lari untuk menyelamatkan diri dari kebusukan monster ini!"

__ADS_1


"PEMBOHONG!" teriak si orang-orangan sawah sambil mengayun-ayunkan lengan. Jubah dan kain selubungnya mengepak-ngepak di kiri-kanannya, bagaikan sepasang sayap kelelawar raksasa. Gelombang hawa dingin terus terpancar dari tubuhnya.


"Jingga, jangan percaya padanya," si orang-orangan sawah memohon. "Aku mohon, selamatkanlah aku! Aku ayahmu." Tangannya berusaha meraih Jingga. "Tolonglah," ia mengiba. "Aku tahu ini sulit dipercaya. Tapi sebenarnya ibumulah yang jahat. Dia tukang sihir. Dia, nenekmu, dan juga aku—kami semua tukang sihir. Aku tidak jahat. Aku bukan monster. Tolong lah..."


"Pembohong!" Ragnala menjerit. Ia memegang buku puisi di tangannya seolah hendak melempar si orang-orangan sawah. "Aku tidak punya kekuatan gaib!" Ragnala memekik. Lalu membungkuk, menancapkan obornya di tanah, kemudian duduk bersila di bawah cahaya obor itu. "Aku tidak tahu mantra apa pun! Aku bukan tukang sihir!" la membuka buku di tangannya. Kalang kabut ia membalik halaman demi halaman. "Aku bukan tukang sihir. Buku ini kubawa karena aku tahu rahasianya. Aku tahu bagaimana caranya agar kau selama-lamanya jadi orang-orangan sawah!"


Si orang-orangan sawah masih berusaha meraih Jingga. "Jingga, selamatkan aku. Sebelum terlambat," ia memohon.


Pandangan Jingga berpindah-pindah. Sesaat ia memandang ibunya, lalu ia berpaling pada si orang-orangan sawah.


Siapa yang harus kupercaya? pikirnya.


Siapa di antara mereka yang berbohong?


Tiba-tiba ia mendapat ide.


Serta-merta Jingga merebut buku puisi dari tangan ibunya.


"Jingga!" Ragnala memekik. la langsung melompat maju untuk merebut kembali buku puisi itu.


Tarik-menarik pun terjadi. Halaman-halaman buku tua itu terkoyak dan terbang terbawa angin. Sampulnya yang tebal retak-retak.


Nyala obor berkeredap dan hampir padam.


Ragnala mengayunkan tangan hendak menyambar buku itu. Tapi Jingga lebih cepat.


Ragnala maju selangkah. Ia menatap si orang-orangan sawah, dan berhenti berjalan. "Jingga! Kamu melakukan kesalahan besar!" seru Ragnala.


Jingga mulai membalik-balik halaman buku tua itu sambil bersandar ke dinding gua. "Sajak itu akan kucari sampai ketemu," ujarnya penuh tekad. "Dan aku akan membaca bait yang kedua. Ini satu-satunya cara supaya aku bisa tahu siapa yang benar."


"TERIMA KASIH, PUTRIKU!" si orang-orangan sawah berkata dengan suaranya yang menggelegar.


Ragnala langsung memprotes. "Mama gak bohong, Jingga!" serunya. "Selama ini Mama yang ngerawat kamu, ngegedein kamu. Mana mungkin Mama bohong sama kamu?"


Tapi Jingga sudah membulatkan tekad. Aku harus membaca bait kedua, tekadnya. Itu satu-satunya cara untuk mengetahui siapa yang berkata benar dan siapa yang bohong.


"Dia monster jahat, Jingga!" seru Ragnala.


Si orang-orangan sawah berdiri membisu. Tanpa berkata apa-apa ia memperhatikan Jingga membolik-balik halaman buku puisi itu.


Di mana sajak itu?


Mana sajaknya?

__ADS_1


Mana!


Jingga menoleh. "Ma...?"


Ragnala membungkuk dan memungut selembar kertas dari tanah.


Jingga melihat ia tersenyum ketika ia membaca kata-kata yang tertulis pada kertas itu.


Tiupan angin membuat mantelnya berkibar-kibar. Matanya berbinar-binar. "Jingga, Mama gak bisa biarin kamu baca sajak ini," katanya.


"Jadi, kertas yang Mama pegang...?" seru Jingga.


"Kamu gak boleh baca ini," Ragnala menegaskan. Dan kemudian dilemparkannya kertas itu ke jurang.


Jingga memekik terkejut. Ia menyaksikan kertas itu melayang melewati tepi tebing.


Celaka! pikirnya.


Ia takkan pernah tahu bagaimana bunyi bait kedua. Kertas itu akan hilang terbawa angin. Dan ia takkan pernah melihatnya lagi.


Tapi gadis itu kembali memekik—ternyata tiupan angin membawa kertas itu kembali ke atas lagi. Melayang ke arah Jingga!


Cepat-cepat gadis itu menangkapnya. Masih tercengang ia menatap kertas itu. Dan sebelum ibunya merebut kembali kertas itu, ia membaca bait kedua sajak itu:


"Sanggeus raat cihujan… mangsana halimun midang, kuniang aleut-aleutan…"


"Jangaaan!" teriak Ragnala. Ia melompat ke arah Jingga. Dan sambil mengayunkan tangan, ia merampas kertas itu dari tangan putrinya. Dan merobek-robeknya.


Si orang-orangan sawah mengerang tertahan. Ia membungkuk. Berusaha menangkap Ragnala. Namun terlambat.


Sobekan-sobekan kertas itu berjatuhan ke jurang.


"Ma---kenapa?" ujar Jingga dengan suara parau.


"Mama gak mau kamu berbuat begitu," jawabnya. "Dia monster, Jingga. Dia bukan ayah kamu. Dia gak boleh sampai bebas."


"Bohong!" si orang-orangan sawah berkeras. "Dia tidak rela kau mengenalku, Jingga. Dia tidak rela kau mengenal ayahmu sendiri. Dia ingin agar aku selama—lamanya terjebak di gua keramat ini."


Jingga kembali berpaling pada ibunya.


Raut muka Ragnala terlihat keras. Ia menatap putrinya dengan dingin.


Jingga menarik napas dalam-dalam. "Ma, aku harus tahu siapa yang bener," ujar gadis itu pada ibunya.

__ADS_1


"Mama gak mungkin bohongin kamu," Ragnala bersikeras.


"Aku harus memastikannya sendiri," sahut Jingga. "A—aku udah baca baris terakhir sajak itu. Sebelum Mama ngerampas dan ngerobek kertasnya. Aku tahu seluruh sajak itu, Ma."


__ADS_2