Bebegig

Bebegig
Chapter 46


__ADS_3

"Jingga—bangun! Bangun!" Teriakan Magenta tersumbat oleh ketakutannya. "Jingga—ayo! Kita harus keluar dari sini!"


Jingga bergerak-gerak.


Pelan-pelan matanya membuka. la memandangi Magenta dengan bingung. "Hah? Genta?" la berusaha memfokuskan matanya, tapi menyerah dengan cepat dan matanya terpejam kembali.


"Jingga—"


Magenta merasakan kehadiran sesuatu di belakangnya. Kehadiran sesuatu yang berat.


la berputar dan menjerit saat Yasa bergerak maju.


Sebagian wajahnya bergambar tato gelap berbentuk akar, bibirnya berwarna hitam, matanya berkilat-kilat merah dengan penuh kemarahan, Yasa meloncat ke muka menyerang. Urat-urat pada punggung tangannya juga berwarna hitam pekat, membetuk tato.


Sambil menggeram seperti binatang Yasa menyergap Magenta, jari-jari tangannya yang terasa sekeras kayu menjepit leher Magenta.


Sulur-sulur aneh berwarna hitam merambat keluar dari gambar tato di jemarinya, melilit Magenta seperti jaring laba-laba berwarna hitam pekat.


Kulitnya terasa perih di tempat yang tersentuh sulur itu. Lalu panas seperti terbakar.


Rasa panik menguasainya. Ia menyentakkan tubuhnya kuat-kuat dari cengkeraman Yasa, berusaha melepaskan diri dari perangkap jaring aneh yang tercipta dari tubuhnya. Semakin ia tarik, semakin erat sulur itu mencengkeramnya. Ia tak dapat berhenti berteriak. Wajahnya serasa terbakar, seolah-olah kulitnya dipilin ke arah yang berlawanan.


Magenta meraung-raung antara kesakitan dan ketakutan.


la tak punya waktu untuk berpikir. Ia tak punya waktu untuk menyusun rencana.


Secara refleks, ia meronta, mendorong dada Yasa dengan kedua tangannya, dan menyodokkan ujung lututnya ke perut Yasa yang sedang memojokkannya di dekat sosok kering Anes dan Reksa.


Tiba-tiba Magenta menyadari apa yang sedang dilakukan Yasa dengan sulur-sulur anehnya.


"NGGAAAAAAAAAK!"


Magenta bahkan tidak menyadari jeritan ngeri yang meraung di kamar panjang itu keluar dari tenggorokannya.


Aku akan mati! pikir Magenta putus asa.


Sulur-sulur itu seperti menghisap daya hidupnya.


Aku akan mengering! batinnya ketakutan. Mengering dan menghitam seperti Anes dan Reksa.


Yasa menggeram, mengetatkan cengkeramannya di leher Magenta dengan jemari tangannya yang begitu dingin. Mukanya mengerut marah.


"Lepasin!" Magenta memohon.


Yasa mengibaskan rambutnya ke belakang dan tertawa, tawa keras yang mengejek. Rambutnya yang tidak diikat berkibaran di atas bahunya.


Magenta memejamkan mata, merosot lemas di bawah tekanan jemari Yasa pada lehernya. Rasa nyeri mengalir turun dari lehernya dan menyebar ke sekujur tubuhnya.


Sekarang aku sekarat, pikirnya tanpa daya.


Lalu Magenta terkejut, tiba-tiba rasa nyeri itu menghilang. Ia berteriak, kaget, matanya terbelalak lebar, berusaha memfokuskannya ke gerakan samar-samar di depannya.

__ADS_1


Yasa tak lagi mencengkeram lehernya dengan tangannya yang dingin membekukan, sulur-sulurnya tak lagi menancap di wajah Magenta.


Terjadi pertarungan di kamar itu. Terdengar erangan dan teriakan. Tubuh-tubuh yang sedang saling mendorong, bergumul, saling mencekik.


Akhirnya semuanya tampak jelas.


"Jingga!" serunya. Sambil bersandar pada dinding, ia mencoba berdiri, mengembalikan keseimbangan tubuhnya.


Jingga telah sadar dan menarik Yasa dari Magenta.


Kini mereka berdua sedang bergumul, saling mencakar, menjambak rambut, menyambar dan memukul, memekik penasaran.


Setelah merasa agak tegak, Magenta melangkah meninggalkan tembok itu. Ia terhuyung-huyung lagi, ruangan itu miring. Bunyi kepakan sayap kelelawar-kelelawar makin keras, makin berisik, hingga suara itu seakan keluar dari kepalanya sendiri.


"Aaaargh!" jeritnya, kedua tangannya menutupi telinganya.


Kegaduhan itu mereda.


la tidak bisa hanya berdiri menyerah di sana. Ia harus menolong Jingga.


Yasa menyergap musuhnya yang lemah, mendorong Jingga keras-keras ke tempat tidurnya, memegangi dagu gadis itu dengan satu tangan, mengoyak pakaian Jingga dengan tangan lainnya, menahan tubuh gadis itu dengan tubuhnya.


Jingga menjerit saat Yasa menyelipkan tangan ke dalam celananya, mencoba mengoyak mahkota kehormatan Jingga dengan jarinya, sementara mulutnya memagut leher gadis itu.


Apa yang bisa kulakukan? Magenta kebingungan, dengan panik mengedarkan pandang ke seputar kamar gelap itu.


Apa yang bisa kulakukan


Pandangannya berhenti pada dua sosok temannya yang mengering.


Magenta meraih salah satunya dan mengangkatnya dengan kedua tangan, kemudian mengayunkannya ke arah Yasa—menghantamkannya ke kepala Yasa.


Yasa menghindar dengan merunduk di bawahnya dengan mudah, mengulurkan tangannya ke atas dan menarik tubuh temannya yang kering itu dari cengkeraman Magenta dengan kekuatan yang tak manusiawi.


Magenta terkejut, jatuh terjengkang ketika Yasa melemparkan tubuh kering itu ke luar jendela. Lalu ia kembali menunduk menatap Jingga, sulur-sulurnya kembali merambat keluar, mengikat tangan Jingga di tempat tidur, sementara tangannya mulai menarik lepas celana gadis itu.


Magenta tersengal-sengal, memandang dengan ngeri. Otaknya berputar lebih cepat daripada kamar itu.


la harus menyelamatkan Jingga. Tapi bagai mana?


Kertas itu, pikirnya.


Kertas itu mungkin berisi mantra yang bisa menolong mereka.


Kertas dari robekan buku tua milik wanita tua misterius itu.


Sambil memikirkan itu, ia teringat pada pemantik api butana dalam sakunya. Aku akan mencoba membacanya, katanya dalam hati.


Terima kasih. Terima kasih, Ambu!


Tangannya gemetaran, menyusup ke dalam saku jinsnya dan menarik keluar pemantik itu dengan sebelah tangan sementara tangan lainnya meraba-raba kantong parkanya dan mengeluarkan kertas itu.

__ADS_1


Ia menyalakan pemantik itu dan mengarahkannya pada secarik kertas, memegangi kedua benda itu di depan wajahnya dan mulai membaca tulisan di kertas itu.


Matanya serentak terpicing.


Hanya sajak Sunda! pikirnya tak yakin.


Apa ini akan berguna?


Tapi jeritan Jingga membuatnya tak mau membuang waktu. Dengan suara bergetar ia mulai membaca tulisan itu sekeras mungkin.


"Sanggeus raat cihujan… mangsana halimun midang…"


"JANGAAAAAN!" Jingga menjerit pada Magenta.


Tapi Magenta mengira gadis itu menjerit pada Yasa. Jadi ia tetap melanjutkan…


"Kuniang aleut-aleutan, ngariung 'na raga gunung…"


"Genta—Jangan! Jangan baca itu!"


Magenta tergagap, pemantik apinya juga mati.


Seluruh tempat kembali gelap gulita.


Lalu mulai sedikit lebih terang setelah mata Magenta mulai menyesuaikan diri dengan kegelapan.


Beberapa inci dari leher Jingga, Yasa mengalihkan tatapannya ke arah Magenta, sementara tubuhnya masih mengungkung tubuh Jingga, tersenyum penuh kemenangan. "Lanjutin!" perintahnya pada Magenta.


"Jangan!" sergah Jingga.


Magenta menelan ludah dan menatap Jingga dalam keremangan cahaya bulan.


"Lanjutin, Genta! Lu pengen tau kan, kebenarannya?" tantang Yasa. "Sekarang kita buktiin siapa yang Jurig Bebegig?"


Apa maksudnya?


Sesaat Magenta menjadi ragu.


"Lu kira selama ini gue Jurig Bebegig, kan?" desak Yasa. "Ayo lanjutin! Biar lu tau siapa sebenarnya yang Jurig Bebegig!"


"Jangan, Genta!" Jingga memohon. "Jangan dengerin dia! Mantra itu memperkuat sihirnya!"


Magenta melirik Jingga sekali lagi.


Gadis itu menggeleng lemah, wajahnya dipenuhi kengerian.


Yasa menarik tubuhnya dari tubuh Jingga sementara sulur-sulurnya masih mengikat gadis itu di tempat tidur. Dengan ekspresi tenang ia menurunkan kedua kakinya dari tempat tidur itu dan berjalan pelan mendekati Magenta.


Dengan dada kembang-kempis dan tangan gemetaran, Magenta menjentikkan pemantik itu.


Jingga berteriak ketakutan saat Magenta mulai mengangkat kertas itu ke dekat nyala api.

__ADS_1


__ADS_2