
Sambil terus mengamati air terjun, hampir terbius oleh kemegahannya yang bergemuruh dan gelap, oleh bunyi riak lembut aliran sungai yang bergemericik, Jingga merasa Yasa sangat dekat di belakangnya.
Magenta tak ada di sini, pikirnya. Tak ada seorang pun di sini. Pantai ini sangat kosong.
Aku harus pulang.
Embusan angin lembut seolah menyibakkan rambutnya. la mulai berbalik menghadap Yasa, akan mengucapkan terima kasih karena telah di temani ke tempat gelap ini. Tapi sebelum ia dapat bergerak, kuduknya terasa hangat. Ada embusan yang lebih lembut daripada angin. Lembut seperti napas.
Sebelum ia dapat mengucapkan sesuatu. Sebelum ia menyadari apa yang terjadi, lengan Yasa yang sangat ringan, memeluknya dari belakang.
Yasa menarik Jingga mendekat dengan sangat lembut, memutar tubuhnya dan mendekatkan wajah gadis itu pada wajahnya sendiri, lalu menunduk padanya.
Bibirnya. Bibirnya gelap, sangat gelap. Menekan bibir Jingga dengan lembut.
Mula-mula lembut. Dan lalu semakin kuat.
Oh, wow, pikir Jingga terkejut. Dia menyukaiku. Belum pernah ada cowok yang menciumnya seperti ini. Mencium bibirnya. Pipinya.
Lehernya.
Mencium lehernya sementara awan merendah dan kabut berputar-putar. Mencium lehernya sementara tanah di bawahnya miring.
Yasa memegangi kepalanya dan mencium lehernya dengan kuat, makin kuat.
Panas dan lapar.
Aroma parfumnya, gemuruh air terjun, bibirnya yang basah dan lembut, kabut itu, kabut tebal itu, semuanya itu membuat Jingga terbuai, terlena, mabuk kepayang. Hingga ia tenggelam dalam kegelapan dingin yang menunggunya.
.
.
.
Magenta meregangkan tubuh dan menguap. la melangkah menghampiri jendela kamarnya dan melihat ke luar sambil mengedip-ngedipkan mata terkena sinar terang.
Matahari sudah tinggi di atas pepohonan di langit cerah. Kamarnya terasa panas dan lembap.
Sudah berapa lama aku tertidur? pikirnya.
la kembali menguap, menabrak lemari pakaiannya, membuka laci, mencari celana panjang, dan mengenakannya dengan masih mengantuk.
Dengan langkah-langkah berat ia menuju ke dapur, menyibakkan rambut yang menutupi matanya dengan satu tangan.
Tidak ada siapa-siapa di rumah.
Orang tuanya sudah ke sawah. Dan saudara kembarnya telah bangun pagi-pagi untuk pergi memancing dengan teman-temannya. Mereka tidak ingin mengganggunya.
__ADS_1
Magenta tidur seperti orang mati meski sudah tidur seharian.
Ia tak yakin pukul berapa ia terbangun tadi malam. Ia segera pergi ke lapangan pasar malam untuk melihat apakah Jingga masih menunggunya.
Tapi lapangan itu sudah gelap, semua wahananya sudah tutup, lapak-lapak para pedagang juga sudah tutup.
Pasti lewat tengah malam.
Dalam perjalanan kembali ke rumah, Magenta bertemu dengan Dewa dan Kantata yang baru keluar dari pasar malam itu.
Mereka tidak bersama Jingga.
Tak lama berselang, mereka berpapasan dengan Anes dan Reksa. Salah satu dari mereka mencemooh soal Jingga.
Mereka bilang, Jingga berada di sini sepanjang malam. Dengan cowok lain. Badannya tinggi. Rambutnya gondrong.
"Apa?" tanya Dewa, bingung. Ia bertukar pandang dengan Magenta sementara cowok-cowok itu berjalan pergi, sambil mengejek dan mengolok-olok mereka.
Ketika berjalan pulang, sambil menendang-nendang kerikil, Dewa mengatakan lebih baik ia meminta maaf pada Jingga. Barangkali seharusnya ia tidak menghabiskan waktu di stand permainan sepanjang malam dengan Kantata, meskipun ia menginginkannya setengah mati.
Magenta hanya terdiam menanggapi ocehan saudara kembarnya. Diam-diam menyadari bahwa sikap mengalahnya selama ini tidak membawanya ke mana-mana.
Dan sekarang cowok lain sedang mendekati Jingga. Kali ini tak hanya dirinya yang tak punya kesempatan, saudara kembarnya juga mungkin tak punya kesempatan.
Aku harus menghentikannya. Aku harus menemuinya dan meminta maaf, ia memutuskan, sambil mengendap-endap masuk ke rumah bersama Dewa, berharap orang tua mereka tidak mendengar mereka masuk.
Sekarang sudah pukul setengah sebelas.
Ia meneguk segelas jus jeruk terlalu terburu-buru, hingga menimbulkan rasa nyeri di antara kedua matanya. Lalu ia bergegas ke rumah Jingga.
Ia mengetuk pintu depan rumah gadis itu tiga kali sebelum seseorang akhirnya membukanya.
"Dewa…?" kata ibu Jingga.
"Magenta," sahut Magenta sambil tersenyum.
"Oh. Maaf, saya gak bisa bedain kalian berdua," kata ibu Jingga. "Berarti yang tadi pagi…"
"Mungkin Dewa!" potong Magenta. "Saya baru ke sini."
"Oh, gitu. Tapi Jingga masih tidur."
"Hah?"
Jingga adalah jenis manusia pagi. Biasanya ia bangun ketika fajar merekah.
"Iya, tadi pagi kembaran kamu juga gak ketemu sama dia," Ragnala berkata. "Dia ngeluh gak enak badan, dia bilang rasanya kayak belum tidur berminggu-minggu. Gak biasanya dia begitu. Makanya saya biarin aja dia tidur."
__ADS_1
"Oh," Magenta terkejut. Kenapa rasanya seperti aku kemarin? pikirnya. Ia ingin bertanya, "Pukul berapa dia pulang tadi malam? Apakah dia pulang sendirian?" Tapi sebaliknya ia hanya berkata, "Tolong sampein sama dia saya harap dia cepet sembuh. Kalo dia mau, dia bisa temui saya di rumah."
Magenta akhirnya berpamitan.
Sepanjang siang itu, ia merasa gelisah.
Ia duduk di gubuk di pematang memperhatikan ayah dan ibunya yang sedang bekerja, sementara ia sendiri baru saja beranjak naik dari sawah untuk beristirahat.
Digaruknya belakang lehernya. Seluruh kulitnya terasa gatal. Udara di gubuk kecil itu terasa pengap dan lembap.
Hari ini akan panas sekali, pikirnya. Mungkin sebaiknya aku berenang di Curug.
Namun ketika ia sampai di sana, air terjun telah penuh dengan orang-orang yang berjemur di bawah sinar matahari, beberapa orang menyelam dan berenang di air yang biru kehijauan.
Kantata berbaring di atas selembar handuk di bawah naungan bayang-bayang pohon yang tumbuh di puncak tebing.
"Hei—" panggil Magenta.
"Lu Dewa apa Magenta?" tanya Kantata sambil masih mengantuk.
"Magenta. Di mana yang lain?"
Kantata mengangkat kepalanya dan celingukan. "Gue belum ketemu siapa-siapa. Gue baru bangun tengah hari, terus langsung ke sini."
Magenta mendesah tak sabar dan menjatuhkan dirinya di sisi Kantata, sinar matahari menghangati punggungnya. "Lu gak langsung pulang ya, semalem?"
"Ya." Kantata menguap lebar-lebar. "Gue ngeliat si Yasa semalem."
"Si Yasa yang kuntet itu?"
"Iya. Dia udah gak kuntet lagi. Dia tinggi sekarang," gumam Kantata. "Rambutnya juga gondrong."
"Hah?" Magenta tak bisa menutupi keterkejutannya. "Dalam seminggu, dia tumbuh tinggi langsung gondrong? Lu yakin itu si Yasa? Lu salah liat, kali!"
"Gua juga tadinya mikir gitu!" tukas Kantata. "Makanya gue buntuntin."
"Terus?" desak Magenta.
"Gue malah kejebak kabut aneh yang bikin gue muter-muter di tempat yang sama," cerita Kantata sembari menguap. "Pagi-pagi gue baru sampe rumah."
Magenta mengerutkan keningnya. Sama seperti aku dan Jingga, pikirnya. Sekarang ia tahu penyebab mereka terus-terusan mengantuk. Pasti karena kabut itu, ia menyimpulkan.
"Ini aneh," katanya. "Gue sama Jingga juga pernah ngalamin kayak lu, besokannya kita kena penyakit tumor." Maksudnya tukang molor. "Lu liat bebegig itu juga, nggak?"
Kantata tidak menyahut.
Magenta membungkuk di atas temannya itu, dan mendapati ternyata Kantata sudah tertidur lagi.
__ADS_1