Bebegig

Bebegig
Chapter 13


__ADS_3

Ternyata Jingga baru bisa keluar rumah sehabis makan siang.


Ibunya memerlukan bantuannya untuk menggantungkan gorden. Setelah itu mereka memasang lukisan dan poster yang mereka bawa dari Jakarta.


Rumah mereka kecil dan penuh sesak. Tapi suasananya sudah lebih mirip rumah sungguhan sekarang.


"Kamu mau ke mana?" seru Ragnala ketika Jingga mengambil mantel dan sarung tangan, lalu berjalan ke pintu.


"Ehm... gak ke mana-mana," ujar Jingga. "Aku cuma mau maen bareng Dewa sama Magenta."


Begitu Jingga mengucapkan nama mereka, ia melihat keduanya masuk ke halaman rumah.


Jingga menutup pintu depan dan bergegas menyambut mereka. Dewa membawa sekop tanah. Magenta menyeret sepasang dahan pohon dan segulung kain warna hitam, yang lalu dijatuhkannya di depan kaki Jingga.


"Buat apaan, tuh?" tanya Jingga. "Ngapain kalian kemari?"


"Kita harus buat orang-orangan sawah di sini," sahut Magenta dengan serius.


"Apa?" seru Jingga.


"Kamu gak bakalan aman sebelum ada orang-orangan sawah di pekarangan rumah kamu," ujar Dewa.


"Begini, ya..." kata Jingga.


"Tanahnya gembur banget," Magenta berkomentar. "Cocok banget buat bikin orang-orangan sawah. Sebentar doang pasti udah kelar. Aku sama Dewa udah nyiapin segala keperluannya."


"Tapi aku gak punya waktu buat bikin orang-orangan sawah," protes Jingga. "Aku harus ke gua keramat sekarang juga!"


Kedua cowok berwajah sama itu sama-sama memekik tertahan.


Dewa mencengkeram gagang sekop dan menatap Jingga dengan terkejut. "Jangan...!" serunya.


"Jingga, aku kan udah kasih kamu peringatan..." Magenta menimpali.


"Aku harus liat dengan mataku sendiri,” Jingga berkata pada mereka. Kemudian ia menambahkan, "Aku minta kalian ikut sama aku."


"Gak bisa!" Dewa memekik.


Magenta hanya menggelengkan kepala. "Kamu tau kan, kita gak akan pergi ke gua keramat. Kamu juga gak boleh ke sana."


"Tapi kalau kita pergi sama-sama..." Jingga mendesak kedua cowok kembar itu.


"Gak bisa!" seru mereka berbarengan. Tampak jelas mereka benar-benar ketakutan.

__ADS_1


Tiba-tiba Jingga mendapat ide. "Oke, oke," katanya. "Kalo gitu kita ambil jalan tengah aja."


Mereka menatap Jingga dengan curiga. "Jalan tengah gimana maksudnya?" tanya Magenta.


"Aku mau bikin orang-orangan sawah bareng kalian, asal kalian mau bantu aku setelah kita selesai," sahut Jingga.


"Gak bisa. Kita berdua gak mau ikut," Dewa bersikeras. "Kita gak mau ke gua keramat pokoknya. Titik!"


"Ya, kita gak bakalan ikut," Magenta menambahkan dengan tegas.


"Kalian gak perlu ikut sampe ke gua, kok," kata Jingga. "Kalian cuma perlu bikin Empu Brajasena sibuk, biar aku bisa lewat tanpa ketauan."


"Hah? Gimana caranya?" Dewa bertanya sambil bersandar pada sekopnya.


"Kita pikirin nanti kalo kita udah sampe di sana," kata Jingga. "Kalo kalian bisa ngajak dia ngobrol terus, barangkali aku bisa ngelewatin pondoknya diem-diem terus naik sampe ke gua."


"Tapi kamu gak boleh sampe ke gua!" seru Dewa.


"Pokoknya, aku tetep mau pergi," Jingga berkata pada mereka. "Dengan atau tanpa kalian. Jadi kalian mau bantu apa enggak?"


Mereka berpandangan. Dewa membisikkan sesuatu pada saudara kembarnya. Magenta menjawab dengan cara yang sama. Kemudian Magenta berpaling pada Jingga. "Tapi orang-orangan sawahnya dibikin dulu, kan?"


"Kamu gak bakalan aman kalo belum bikin orang-orangan sawah," Dewa menambahkan.


Sebenarnya Jingga ingin sekali berkata bahwa orang-orangan sawah takkan bisa melindungi mereka terhadap apa pun. Sebenarnya ia ingin berkata bahwa ide mereka benar-benar konyol. Tapi ia memerlukan bantuan kedua cowok itu. Ia tahu ia takkan bisa melewati Empu Brajasena dan serigalanya kalau Dewangga dan Magenta tidak membantunya.


"Kalo gitu aku sama Dewa mau bantu kamu," Magenta berjanji.


"Tapi kita berdua gak bisa pergi lebih jauh dari pondok Empu Brajasena," Dewa menegaskan. Suaranya bergetar.


Jingga membungkuk dan mulai mengambil dahan kayu yang paling besar untuk mendirikan kerangka orang-orangan sawah.


Magenta membantunya mengikat palang silang-menyilang berbentuk salib, sementara Dewa sudah mulai menggali lubang di sudut pekarangan di mana dahan kayu akan ditancapkan.


Magenta ternyata benar. Tanah yang basah dan gembur memang cocok untuk membuat orang-orangan sawah. Dalam waktu singkat, Dewa sudah selesai menggali lubang.


Jingga dan Magenta kemudian menggotong kerangka orang-orangan sawah itu melintasi pekarangan dan menancapkannya pada lubang.


Dewa memadati lubang dengan tanah yang telah digalinya dan menginjak-injak timbunan tanah itu hingga kerangka badan orang-orangan sawah itu berdiri kokoh.


Magenta memungut batok kelapa dan gulungan kain hitam yang dibawanya bersama Dewa saat mereka datang. Lalu menancapkan batok kelapa yang telah dilubangi di ujung tongkat yang menancap.


Dewa memasangkan jubah dan kain selubung di kepala, kemudian melilitkannya di seputar leher si orang-orangan sawah itu.

__ADS_1


Sebenarnya perasaan Jingga kurang enak. Rasanya seolah ia percaya pada takhayul yang tidak masuk akal. Ia sedang ambil bagian dalam tradisi kuno yang berlaku di desa ini. Tradisi yang didasarkan atas perasaan takut.


Para warga desa membuat orang-orangan sawah karena mereka takut. Dan sekarang ia juga ikut-ikutan.


Haruskah aku merasa ngeri? tanya Jingga dalam hati.


Jingga baru merasa lega ketika pekerjaan mereka akhirnya selesai.


Magenta mulai menggambar mata dan bibir yang menyeringai dengan bekas luka menggunakan spidol warna hitam.


Kedua mata si orang-orangan sawah seakan-akan mendelik ke arah Jingga. Mulutnya tampak menyeringai. Lengannya berayun-ayun karena tertiup angin.


"Oke. Bagus, lho," kata Jingga pada kedua teman barunya. "Sekarang kita tinggal berangkat." Ia menunjuk ke puncak gunung.


"Kamu udah pikirkan mateng-mateng, kan?" tanya Dewa pelan.


"Pastinya!" sahut Jingga dengan lantang.


Tapi begitu mereka mulai menyusuri jalan, hati Jingga tidak semantap ucapannya.


Jalan itu meliuk-liuk mendaki gunung. Tak lama kemudian sudah tak ada rumah di kiri-kanan, dan mereka berjalan melewati hutan yang terselubung timbunan daun kering dan taburan serbuk kuning bunga-bunga akasia.


Mereka tidak bicara. Pandangan ketiganya tertuju lurus ke depan.


Matahari sore mulai menghilang di balik pepohonan. Bayangan-bayangan biru mulai merambat di permukaan tanah. Semakin tinggi mereka mendaki, udara pun semakin dingin.


Jantung Jingga mulai berdegup kencang ketika pondok Empu Brajasena muncul di hadapan mereka.


Jingga berusaha keras untuk tetap tenang. Tapi pertanyaan demi pertanyaan melintas dalam benaknya.


Apakah Empu Brajasena ada di dalam pondoknya?


Di mana serigala putih itu?


Apakah rencana mereka akan berhasil?


Apakah Empu Brajasena benar-benar dukun sakti?


Apakah ia bisa dibohongi?


Mereka bertiga berhenti di ujung jalan dan mengamati pondok yang tampak di depan.


Matahari sore telah menghilang di balik pohon-pohon. Hamparan rerumputan basah di hadapan mereka memperlihatkan berbagai nuansa kelabu.

__ADS_1


Di sebelah kiri pondok tumbuh semak-semak yang terselubung kabut tebal.


"Aku mau ngumpet di balik semak-semak itu," kata Jingga pada Dewangga dan Magenta. "Kalian terus ke pondok. Usahain biar Empu Brajasena sama serigalanya gak liat aku."


__ADS_2