
"Gimana keadaan kamu?" tanya Empu Brajasena, sambil menuju ke meja dapur dengan mengenakan celana mambo hitam bergaris putih yang selalu dipakainya di rumah. Dengan masih mengantuk ia menuang secangkir kopi.
Jingga sudah bangun pagi-pagi, sebelum pukul delapan, dan merasa masih lelah. "Ngantuk," sahutnya, sambil membuka kulkas dan mengambil sekarton jus jeruk.
"Sangat deskriptif," sindir ayahnya. Ia berdiri di samping meja dapur, meneguk kopinya, memandang ke luar jendela menatap matahari di langit cerah.
Ragnala sedang membungkuk di bak cuci piring di sudut dapur, mencuci ubi tanpa bicara—seperti biasa.
"Aku beneran masih ngantuk," tukas Jingga.
Ayahnya langsung menoleh, "Kamu tidur dari jam enam sore!" sergahnya.
"Aku tau ini aneh," kata Jingga. "Tapi gak tau kenapa rasanya tidurku masih kurang. Padahal semalem tidurku pules sampe mimpi dililit akar pohon. Sampe kebangun, lilitannya masih berasa. Tapi anehnya aku gak bisa tereak."
"Jangan minum dari karton," ayahnya memarahi. "Ambil gelas kamu sendiri."
"Aku cuma mau sedikit," kata Jingga, dikembalikannya karton itu ke dalam kulkas, disekanya mulutnya dengan punggung tangannya. "Semalem Magenta gak ada ke sini?"
Empu Brajasena melihat jam dinding sekilas sebelum menjawab. Setengah sepuluh. "Gak ada."
"Kemaren aku ninggalin dia gitu aja, aku cuma pengen tau apa dia baik-baik aja."
"Papa belum liat dia hari ini," kata ayahnya sambil menguap. "Kamu mau ikut ke sawah nggak hari ini?"
"Lain kali aja, deh!" jawab Jingga cepat-cepat. "Hari ini aku mau ke rumah Genta. Mau minta maaf sekalian liat keadaan dia."
"Kenapa masih ada bebegig di pekarangan?" seru Empu Brajasena sambil menunjuk ke luar jendela.
"Hah?" Jingga spontan melompat menghampiri jendela. "Mana?"
"Udah terbang. Kamu telat!"
"Papa yakin itu bukan rebig Papa yang terbang dari jemuran?" Jingga bergurau. Rebig maksudnya pakaian berkebun. "Semalem selimut aku juga bisa terbang!"
"Ah, Papa lupa hari ini harus masang atep," Empu Brajasena menggumam sambil menggeleng-geleng. Sambil membawa cangkir kopinya, ia membuka pintu dapur dan keluar ke teras belakang. "Apa gak kepagian bertamu ke rumah cowok?" serunya dari luar. Ia sedang membangun ruangan tambahan untuk memperbesar rumah mereka. Mungkin tambahan kamar tidur, entahlah.
"Nggak, Magenta biasa bangun pagi," sahut Jingga, sambil bergegas keluar rumah.
Ayahnya memperhatikan punggung gadis itu dengan alis bertautan.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Jingga sudah mencapai rumah Magenta dan mengetuk pintu rumah cowok itu lima kali sebelum ibu Magenta membukanya. "Ah—ehm, Bu. Magenta ada?"
"Eh, Neng Jingga," jawab ibu Magenta tersengal-sengal. "Maaf, tadi saya lagi di belakang." Beberapa saat ia menunggu napasnya teratur kembali. "Magenta belum bangun. Dia pulang malem banget. Bentar, saya bangunin dulu."
"Dasar kebluk," omel Jingga, sambil melirik jam dinding.
Magenta selalu rajin bangun pagi selama ini. Sejak kapan dia molor terus sampai jam sepuluh seperempat?
la mendengar bunyi pintu kamar Magenta digedor ibunya. Lalu ia mendengar langkah wanita itu tenggelam ke dalam kamar Magenta untuk membangunkan cowok itu.
Setelah menunggu lama. Jingga akhirnya mendengar langkah mendekat, lalu suara Magenta, serak dan masih mengantuk. "Hai," sapa cowok itu dengan kelopak mata layu.
"Magenta? Kamu masih tidur, ya?"
Diam sejenak. "Ya. Kayaknya." la menguap.
"Maaf, ya. Kemaren aku ninggalin kamu gitu aja. Aku ketakutan setengah mati. Kamu gak apa-apa, kan?"
Magenta berdeham. "Aku kejebak di ladang ilalang, kayak kamu."
"Hah?" Jingga tak dapat menyembunyikan kekagetannya. Dewa bilang Magenta tahu jalan.
"Aku cuma muter-muter di tempat yang sama," Magenta melanjutkan.
Magenta terbatuk. "Aku gak tau," ia mengerang, suaranya masih serak.
"Gimana caranya kamu bisa keluar?" cecar Jingga. Penasaran.
"Aku ketemu nenek… gak tau siapa," sahut Magenta dengan mengantuk.
"Nenek siapa?" Jingga mengerutkan keningnya.
"Gak tau," jawab Magenta sembari duduk merosot di sofa, di sisi Jingga. Lalu meringkuk menjatuhkan dirinya dan menumpangkan kepala di paha gadis itu.
"Heeeh," Jingga menggeram memarahinya, meski tak bisa menutupi perasaan senangnya. Magenta selalu sangat pemalu dan salah tingkah selama ini. Sikap manja cowok itu membuat hatinya berbunga-bunga.
Ia mengulum senyumnya seraya menatap wajah Magenta yang mulai terpejam. Alangkah baiknya jika ia berani bersikap seperti ini setiap saat. Terutama saat mereka bersama Dewa.
Magenta selalu mengalah di hadapan Dewa. Dan itu membuat Jingga merasa terjebak di antara keduanya.
__ADS_1
Aku menyukaimu, Bodoh! kata Jingga dalam hati. Lebih suka padamu daripada Dewa.
Meski wajah mereka tidak ada bedanya, Jingga bisa membedakan keduanya hanya dalam sekilas pandang, melalui getaran dalam hatinya.
Ia selalu berdebar-debar saat melihat Magenta. Tapi tidak pernah merasakan apa-apa saat melihat Dewa, bahkan ketika cowok itu menempel posesif pada dirinya.
Terdengar dengkuran halus.
Magenta tertidur di pangkuannya.
Ia tersenyum sementara matanya ikut mengantuk. Napas Magenta yang teratur membuatnya merasa nyaman dan jatuh tertidur. Tertidur dalam posisi duduk dengan kepala mendongak lemas pada sandaran sofa.
Entah sudah berapa lama ia terlelap ketika merasakan pahanya seperti ditekan.
Mungkin Magenta sudah terbangun, pikirnya. Tapi entah kenapa ia kesulitan membuka matanya. Kelopak matanya terasa berat dan ia masih saja merasa ngantuk.
Sebelah pahanya sekarang serasa dicengkeram.
Mungkin Magenta sedang menghela bangkit tubuhnya dengan tangan bertumpu pada pahanya, Jingga menyimpulkan.
Tapi sepertinya tidak demikian.
Tangan itu merayap pelan ke pangkal pahanya, menyelinap ke sela-sela pahanya.
Jingga menelan ludah dan mengerang, tapi suaranya tercekat di tenggorokan. Kelopak matanya bergetar namun masih saja terpejam. Seperti ada perekat yang membuat bulu matanya saling tertaut dan saling melekat satu sama lain hingga matanya sulit di buka.
Tak lama kemudian ia merasakan napas panas menggelitik lehernya, lalu sesuatu yang hangat dan basah mendarat di lehernya, merayap pelan di antara napas yang terengah-engah.
Apakah Magenta sedang menciumku? pikirnya berdebar-debar.
Bersamaan dengan itu, tangan yang menyelinap di sela-sela pahanya sudah menggerayangi bagian sensitifnya dengan tekanan yang berhasil membuat gadis itu menggelinjang.
Ini tidak benar, pikir Jingga panik. Tapi juga terbuai. Darahnya berdesir deras memompa jantungnya hingga meletup-letup.
Magenta, jangan! pekiknya hanya di dalam hati. Mulutnya terbuka namun tidak sepatah kata pun meluncur keluar. Hanya erangan tertahan ketika gerakan jari Magenta menyusur kian ke dalam.
Aku tak percaya dia melakukannya di ruang tamu rumahnya, pikir Jingga.
Tapi lama kelamaan gerakan itu terasa aneh. Jemari pria itu seperti memanjang dan terus merambat melilit tubuhnya.
__ADS_1
Bukan Magenta! Jingga menyadari.
Apa pun yang menggerayanginya tidak seperti tangan manusia. Itu terasa seperti sulur tanaman rambat yang melilitnya, yang semakin lama terasa semakin mengetat, mencekiknya.