Bebegig

Bebegig
Chapter 31


__ADS_3

Magenta duduk di tempat tidur, disingkirkannya selimut yang telah basah kuyup oleh keringat. Ia melihat ke luar jendela, mendengarkan kicau burung-burung di pepohonan, menyambut datangnya fajar.


"Argh! Gak bisa tidur," keluhnya, sambil menggosok-gosok matanya. "Jam berapa sih sekarang?"


Jam di meja samping tempat tidur menunjukkan pukul 05.35.


Sepanjang malam ia bergulang-guling, pikirannya penuh dengan berbagai masalah.


Hampir sepanjang waktu ia memikirkan Jingga.


Aku harus bicara pada Jingga. Kupikir kami akan bersenang-senang bersama menikmati liburan. Akibat memikirkan Jingga, Magenta tidak bisa tidur semalaman.


Ia sudah mencoba menunggu Jingga sepulangnya dari air terjun tadi malam, tapi gadis itu tak muncul hingga larut malam.


Sekarang, karena langit perlahan-lahan semakin terang dan kicauan burung semakin keras, ia memutuskan tidak ada gunanya lagi tetap di tempat tidur.


Lalu ia mencoba menemui Jingga lagi sesudah sarapan dan ibu Jingga mengatakan gadis itu belum bangun.


Ngapain aja dia semalem? Asyik sama Yasa? pikirnya tak senang.


Ia ingin bertanya, "Sampai jam berapa dia keluar dengan Yasa?" Tapi mengurungkannya.


Joging pagi-pagi di air terjun mungkin bisa menolong menjernihkan pikiranku, katanya dalam hati, dikenakannya celana bersepeda hitam dan sepatu larinya.


Pelan-pelan ditutupnya pintu rumah, lalu ia melangkah ke dalam udara pagi, masih dingin dan berembun. Bau asap dari tungku menyerbu cuping hidungnya ketika ia mulai berlari melintasi saung-saung sawah dan ladang-ladang tanaman yang menuju ke air terjun.


Curah deras air terjun yang memukul-mukul kolam di bawahnya masih tampak hitam kelam di bawah langit kelabu mutiara waktu Magenta menyusuri pesisir sungai. Burung-burung hutan beterbangan ke segala penjuru saat ia melintas, berkaok-kaok keras seperti coba memprotes.


Wisata Curug itu kosong. Hanya ada dia. Tidak tampak seorang pun pejoging lainnya. Di atas horizon yang terang, ia dapat melihat sebentuk layang-layang berwarna gelap. Tersangkut di ranting pohon. Bayang-bayangnya berkilauan di atas air.


Sebuah pagang---jenis perahu penangkap ikan yang terbuat dari bambu, mengambang di permukaan sungai dengan siluet dua pria dalam cahaya pagi yang menyeramkan. Seperti sampan hantu, tidak nyata.


Magenta berlari pelan-pelan tapi dengan kecepatan tetap, melewati bara api yang hampir padam bekas api unggun kecil yang kurang siraman, melewati batang kayu hitam hangus yang hanyut terseret arus, melewati seekor ampibi yang sudah mati dan mengering di sela-sela bebatuan.


Terpaan angin bercampur embun terasa dingin dan menyegarkan di wajahnya sementara sepatu ketsnya menggilas kerikil basah. Warna kelabu mulai meninggalkan langit, bagai tirai pucat yang tersingkap, menampakkan sinar matahari pagi yang kemerahan di bawahnya. Air sungai menjadi terang seiring dengan cerahnya langit.


Indah sekali, pikir Magenta, sambil tetap berlari-lari kecil, butir-butir keringat bermunculan di keningnya meskipun udara dingin. Ia menatap ke depan ke karang gelap yang mencuat dari tepi air di balik bukit-bukit batu.


Ketika ia menghampiri batu itu, pasir yang diinjaknya menjadi berkerikil, lalu semakin keras, ia memandang tepian kolam di bawah air terjun yang menonjol dalam bayang-bayang bebatuan.


Sesuatu tampak mengapung di air di samping sebongkah batu.


Apakah itu perahu karet atau sejenisnya? la terlalu jauh untuk bisa melihat dengan jelas.


Ketika ia semakin dekat, cahaya matahari yang kemerahan menyinari sepanjang tepi air. Dia dapat melihatnya dengan lebih jelas, sesuatu yang gelap, sangat besar, terapung-apung di sebelah batu besar pipih.


Apakah itu bangkai binatang? Magenta menyingkirkan gagasan itu saat ia semakin dekat dan lebih bisa melihat ukurannya.


la berhenti tepat di atas batu pipih di tepi kolam itu, dadanya kembang-kempis setelah berlari jauh. Sambil menyeka keringat di dahinya dengan lengan, ia mengalihkan matanya ke air.

__ADS_1


Dan ia tersentak.


Itu orang.


Terapung-apung seperti perahu karet yang terjungkal.


Terapung-apung dengan wajah menghadap ke bawah.


Lengannya mengambang di sisi tubuhnya dengan kaku, sangat kaku.


Dan bahkan sebelum menyadarinya, Magenta sudah berada di dalam air, dingin terasa di seputar pergelangan kakinya, di atas sepatu ketsnya, tidak terpikir olehnya untuk melepas kan sepatu itu lebih dulu.


la tidak mengira.


la tidak mengira akan menemukan orang.


la tidak mengira apa-apa.


Dan ia menghela bahu orang itu, air naik ke atas pinggangnya. Ia menarik kuat-kuat. Tapi orang itu---mayat itu---sangat berat.


Air terasa dingin sekali, berpusar di sekitar tubuhnya. Magenta menarik napas, dadanya mengembang.


Kau sedang bernapas?


Silakan bernapas!


Mayat itu cowok. Ya. Cowok. Tapi Magenta masih tidak dapat mengangkat wajahnya dari air.


Bagaimana dia bisa bernapas dengan wajah masih di dalam air? Dengan lengan terentang kaku?


Apa yang dikenakannya? Jaket kulit domba warna cokelat?


Kenapa rasanya begitu familier?


Kulitnya sangat putih dan pucat, seperti sejenis makhluk laut.


Hanya makhluk laut yang bisa bernapas dalam air.


Dan orang ini tidak bernapas, tidak dapat bernapas.


Sambil terengah-engah, Magenta mendorong muatannya yang berat menepi. Disibakkannya rambut hitamnya yang basah dan berantakan dari dahinya, Magenta berdiri sejenak, berkacak pinggang, membungkuk, bernapas, bernapas dalam-dalam, menunggu jantungnya berhenti berpacu.


Kemudian ia membungkuk di atas orang itu---mayat itu---berusaha keras membalikkan punggungnya.


Dan berteriak, "Dewangga!"


"Dewa! Kenapa? Kenapa, Dewa?"


Tiba-tiba saudaranya itu tampak semakin jelas dan mengerikan. Wajahnya yang pucat membiru dipenuhi luka-luka akibat terbentur-bentur ke batu di sekitar air terjun.

__ADS_1


Lukanya sangat banyak.


Lukanya sangat banyak, darahnya kelihatan sudah benar-benar kering.


"Kenapa, Dewa? Kenapa?"


Lukanya banyak sekali, di seluruh wajah dan lehernya.


"Nggak. Gak mungkin Dewa. Gak mungkin."


Kenapa Dewa tenggelam?


Kenapa dia berenang dengan pakaian lengkap?


Apakah dia terpeleset dan tercebur membentur batu?


Tidak!


Lukanya sangat banyak.


Tidak mungkin hanya terpeleset.


Lukanya sangat banyak, tidak ada artinya.


Apakah dia jatuh dari puncak air terjun?


Untuk apa dia ke puncak air terjun, jauh sekali dari tempat orang-orang lain?


Apakah mayatnya baru saja terseret ke sini?


Mayatnya?


Bagaimana mungkin sekarang Dewangga sudah jadi mayat?


Bagaimana mungkin dia bukan Dewangga lagi?


Magenta berlutut, pikirannya berputar-putar lebih cepat daripada arus air terjun yang memukul kolam.


la memejamkan matanya, tapi bayangan saudara kembarnya yang tenggelam, kulitnya sangat putih kecuali di bagian-bagian yang luka, luka-luka itu, tetap tampak.


Dewangga bukan perenang tangguh.


Kenapa dia berani menentang arus air terjun pada malam hari?


Dewa tahu betapa kuat arus air terjun itu, dan tinggi. Sangat tinggi, sangat sulit diperkirakan, sangat mematikan.


Jadi kenapa dia pergi ke puncak air terjun?


"Kenapa, Dewa?" pekik Magenta, sambil membuka matanya, mendongak ke puncak air terjun, mendongak ke matahari yang sedang terbit. Beberapa menit kemudian dua pria pencari ikan, dengan menenteng kotak-kotak peralatan memancing dan joran-joran, menghampiri Magenta, yang masih berlutut, masih membungkuk di atas mayat kembarannya, masih bertanya, "Kenapa, Dewa? Kenapa?"

__ADS_1


__ADS_2