
Empat malam kemudian, Magenta berguling-guling di tempat tidur, seprainya berantakan, selimutnya teronggok di lantai. la bermimpi tentang Dewangga.
la melihat bentangan Wisata Curug yang luas dan berkerikil, keemasan di bawah sinar cerah matahari. Semburan air meluncur deras dengan megahnya ke kolam di bawahnya, berujung dengan busa putih, lalu mengempas ke tepi, menyelinap di antara hamparan kerikil yang berkilauan dan mengalir ke hilir.
Dewangga muncul, berlari tanpa alas kaki dengan kecepatan penuh. Ia memakai jaket kulit domba warna cokelat. Langkahnya tidak berbunyi saat melintasi pesisir sungai.
Magenta berusaha keras melihat mukanya sementara Dewa berlari semakin cepat menghampirinya. Tapi, meskipun pesisir sungai berkilauan sinar matahari, muka Dewa diselubungi ke gelapan.
Magenta mengawasi saudara kembarnya itu lari sambil membungkuk, semburan air terjun bergemuruh di belakangnya. Biarkan aku melihat wajahmu! pikirnya.
Lalu Dewa tampak jelas. Wajahnya ketakutan, matanya melotot, mulutnya ternganga seakan menjerit sekuat tenaga tanpa suara.
Langit makin gelap, makin hitam.
Kegelapan mengikuti Dewa, bergerak di depannya, bergerak lebih cepat daripada larinya.
Mula-mula kegelapan tampak seperti awan berbentuk corong menghalangi matahari.
Dewa masih disinari matahari, tapi awan hitam semakin besar, hampir menelannya.
Lalu Magenta melihat kegelapan itu bukan hanya awan. Melainkan sesosok makhluk yang bergerak.
Pandangannya semakin jelas dan ia melihat sayap-sayap hitam, mendengar cicitan melengking, melihat kepala bertudung kain hitam merunduk rendah sambil terbang.
Bayang-bayang hitam yang mengejar Dewa itu adalah bayangan seekor kelelawar.
Kelelawar raksasa, mengepak-ngepakkan sayap, menyambar, menukik, menghalangi sinar matahari, membuat gelap Wisata Curug, mencicit-cicit dan melengking-lengking hingga gemuruh air terjun terdengar samar-samar.
Sambil berlari semakin kencang, keringat mengalir turun di keningnya, Dewa memejamkan mata. Mulutnya tetap ternganga.
Lari, De–-lari! desak Magenta.
Tapi awan kelelawar menyambar-nyambar di atas Dewa. Ia terantuk dan terjatuh ke pasir, pertama lututnya, lalu mukanya. Dan kelelawar raksasa itu melayang turun ke atasnya seperti turunnya malam.
Dan semuanya menjadi hitam.
Magenta duduk tegak di ranjangnya, lega melihat kamarnya, lega melihat sinar matahari kelabu yang masuk ke kamarnya melalui jendela.
la bangkit berdiri, setengah sadar, setengah bermimpi.
Cicitan melengking kelelawar besar itu masih terdengar olehnya ketika ia berjalan terhuyung-huyung menuju ke jendela. Awan kelelawar. Kegelapan turun ke kolam air terjun, ke atas Dewa.
Magenta bersandar pada ambang jendela, ingin keluar dari mimpi itu, ingin terbebas dari cengkaman ngeri ini, tapi tidak ingin melupakannya. Ia menggeleng-geleng keras.
la sadar bahwa ia terjaga dari mimpi itu dengan satu kata di bibirnya.
__ADS_1
Ucapkan. Ucapkan kata itu, desaknya pada diri sendiri.
Maka ia mengucapkannya, "Bebegig."
Mimpi itu mencoba memberitahunya, mencoba menunjukkan padanya.
Magenta tahu.
Sekarang Magenta tahu bagaimana Dewangga tewas.
Kelelawar di pulau misterius di seberang sana sungai itu. Kelelawar raksasa yang menghuni lahan pertanian yang ditinggalkan itu.
Kelelawar yang bertengger di hulu sungai di puncak air terjun itu.
Bebegig!
Kelelawar itu adalah orang-orangan sawah berjubah gelap.
Mimpi itu mengungkapkan kebenaran padanya.
Sekarang ia sudah benar-benar terbangun, cepat-cepat dikenakannya celana pendek tenis yang kusut, disambarnya kaus bekas kemarin dan dipakainya, lalu ia menuju ke pintu belakang tanpa sikat gigi dan menyisir rambut.
"Hei—" panggil ayahnya dari meja makan saat ia bergegas melewati dapur.
Tapi Magenta sudah keluar, mengempaskan pintu depan. "Aku lagi buru-buru!" sahutnya dan mulai berlari kecil ke rumah Jingga.
la tidak mendengar hujan itu. Mimpi itu terlalu mencengkamnya, mula-mula gemuruh air terjun, lalu cicitan seram kelelawar raksasa itu.
Bebegig.
Kade Bebegig, Anaking!
Tiba-tiba ia teringat bisikan wanita tua misterius yang membaca di tengah sawah.
Itu bukan mimpi!
Itu bukan khayalan yang disebabkan karena ketakutan akibat terjerat tali gaib yang membuat dirinya terus berputar-putar di tempat yang sama hingga ia frustrasi dan menjadi sinting.
Wanita tua itu juga mencoba memberitahunya.
la harus memberitahu Jingga. Ia harus memberitahu cewek itu bahwa ia sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Meskipun matahari bersinar dan langit biru, empat hari sejak kematian Dewa berlalu dalam suasana muram dan suram.
Semua peristiwa telah lenyap dalam benak Magenta. Hanya tinggal suara-suara. Tangis pilu orang tua mereka. Gumaman para polisi. Bisik bisik ngeri anak-anak di Wisata Curug dan di desa mereka.
Magenta hanya satu kali bertemu dengan Jingga selama empat hari itu. Mereka mencoba bicara seakan segalanya normal, tapi tak satu pun berhasil berpura-pura. Lalu mereka mencoba membicarakan Dewa. Tapi mustahil juga.
__ADS_1
Magenta meninggalkan Jingga lalu mondar-mandir sendirian di pantai, masih penasaran dengan apa yang terjadi malam itu, kenapa Dewa memutuskan pergi mendaki puncak air terjun, bagaimana Dewa tewas.
Petugas pemeriksa mayat kota itu menyebutnya kecelakaan tenggelam.
Tapi Magenta tidak percaya---sampai mendapat mimpi itu. Sampai ia terjaga dengan jawaban di bibirnya.
Dan sekarang ia harus memberitahu Jingga.
Mendekati pekarangan rumah Jingga, rumah kecil putih dari papan dengan teras luas yang dilengkapi dengan kursi-kursi taman yang bertebaran dan meja bertabur serpihan bunga akasia, ia dapat melihat Jingga lewat jendela kaca.
la meloncat ke teras dan bergegas ke pintu depan, memanggil-manggil.
Jingga mengangkat muka dari meja, terkejut. Ibunya sedang mencuci piring-piring bekas sarapan. Ayahnya beranjak untuk membuka pintu itu.
Magenta menyapanya, masih mencoba meredakan napasnya yang terengah-engah setelah berlari-lari dari rumahnya.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Ragnala, menggulung lengan kemeja yang dikenakannya menutupi kaus putihnya. "Adonan kue dadarnya masih ada."
"Gak usah repot-repot, Bu. Makasih," sahut Magenta, menatap Jingga. Cewek itu tampak sangat pucat dan rapuh dalam cahaya kelabu yang menerobos lewat jendela kaca. "Saya---cuma mau ngobrol sama Jingga."
Jingga berdiri dan dengan lembut tersenyum pada ibunya. "Aku mau keluar ke teras," katanya, tersenyum samar pada Magenta saat melangkah ke luar.
Magenta mengikutinya ke teras, ingin sekali segera memberitahukan apa yang telah di temukannya. Udara pegunungan masih dingin; langit mendung tampak rendah dan kelabu.
Jingga bersandar pada langkan teras dan memandangi pepohonan. Magenta melangkah ke sampingnya, menyeka keringat dingin di dahinya dengan tepi kausnya.
Kaus itu bau, ia baru sadar. Dan tiba-tiba ia ingat, saking terburu-burunya ke rumah Jingga, ia sampai tidak sempat menyisir rambut.
Aku pasti kelihatan menjijikkan sekali, pikirnya. Tapi ia menyingkirkan pikiran ini, bertekad berbagi pengetahuan barunya dengan Jingga.
"Apa kabar?" tanya Jingga agak malu-malu, menatap pepohonan, yang gelap di bawah langit rendah berkabut.
"Baik. Maksudku, gak begitu baik. Tapi oke baik."
"Aku juga," katanya lirih.
"Aku mau ngasih tau kamu sesuatu," kata Magenta, berharap Jingga membalikkan badan dan menghadap padanya. "Sesuatu yang penting. Maksudku..."
Apakah sebaiknya ia langsung mengatakannya?
Jingga akhirnya berbalik, ingin tahu. "Aku ngantuk banget," katanya. "Mungkin karena udaranya seger."
"Denger, Jingga, aku mau ngasih tau kamu soal… ini. Aku udah tau gimana Dewa meninggal."
Mata Jingga menyipit. Muka pucatnya tampak semakin kehilangan rona. "Gen, kami semua juga udah tau gimana Dewa meninggal," katanya, suaranya hanya berbisik . "Dia tenggelem."
__ADS_1
"Nggak—dengerin aku dulu, Jingga---tolong," Magenta memohon, meletakkan lengannya di bahu kaus biru Jingga yang gombrong dan hampir mencapai lutut panjangnya. "Dengerin, ya?"
Jingga tidak menjawab, hanya menatap mata Magenta.