
Nada bicara pendaki itu akhirnya melembut seiring curahan hatinya yang terus tertumpah.
Mula-mula ia bicara menggebu-gebu seperti orang sedang berdemo, lalu meracau seperti orang mabuk. Sekarang sudah mulai lebih tenang, meski sesekali terdengar erangan seperti orang mengumpat.
Orang ini benar-benar sakit jiwa, pikir Jingga.
"Sejak kejadian itu, kayaknya gue jadi agak sinting," Rogan mengakui.
Jingga membenarkan dalam hatinya. Aku bisa lihat itu!
Cowok itu sedang bercerita tentang Violet yang katanya tertangkap basah sedang berselingkuh beberapa hari yang lalu di rumah kontrakan ini.
"Bokin gue! Maksud gue, dia udah gila kali, ya? Masa tiba-tiba dia marah-marah gak jelas. Terus, tau-tau minta putus. Padahal gue dari pagi bareng dia." cerita Violet pada Jingga beberapa hari yang lalu, sesaat setelah kecelakaan.
Violet juga mengatakan kecelakaan itu disebabkan karena cowok itu mengusirnya sehingga ia terpaksa harus berkendara dalam cuaca hujan.
Mana yang benar? Jingga bertanya-tanya dalam hatinya.
Violet selalu terbuka padaku selama ini.
"Tunggu—dengerin gue dulu!" sergah Violet. "Gue gak bohong. Maksud gue---gue gak niat bohongin Nyokap. Gue beneran niat ke kampus. Bokin gue tiba-tiba nyegat gue di depan kampus. Dia bilang ada hal penting yang mau dia omongin. Sampe di kostan dia, gak taunya dia cuma minta begituan."
"Begituan apa?" potong Jingga ketus.
"Please, jangan minta diperjelas!" tukas Violet setengah merajuk. "Lu tau hubungan gue sama bokin gue udah sejauh mana. Bisa nggak lu dengerin gue aja cerita sampe selesai?"
Sudah seterbuka itu, apakah antara aku dan Violet masih perlu ada rahasia?
Diam-diam Jingga melirik ke dalam mata Rogan melalui sudut matanya, mencoba menebak-nebak apakah cowok itu sedang berkata jujur.
Raut wajahnya terlihat sungguh-sungguh dan meyakinkan. Yasa sampai terenyuh mendengar curahan hatinya.
Tapi kata-kata Violet kembali terngiang di benak Jingga.
"Padahal kalo dia minta putus, tinggal bilang aja. Gak usah pake drama. Gue masih bisa terima kalo dia bosen sama gue atau dia punya pacar baru. Meskipun sakit, gue lebih suka dia jujur daripada harus aneh-aneh. Dasar seniman!"
Dia seniman, pikirnya. Dia jago drama!
"Niatnya gue pen bawa barang-barang ini ke sekretariat. Biar si Vivi bisa ambil sendiri nanti ke sana. Gue udah gak mau ngekost lagi," Rogan melanjutkan. "Itu kepikiran setelah gue liat dia," katanya sambil mengerling pada Jingga. "Waktu gue liat dia keluar dari kampus si Vivi, gue niatnya pen nitip pesen ke dia. Tapi dia malah kabur karena ketakutan liat komuk gue."
Jingga tertunduk dan tersenyum murung, "Sori," bisiknya.
"Ya, gue gak nyalahin lu, kok!" sergah Rogan. "Ditambah lu pernah mergokin gue lagi konsultasi di ruang psikiatri, gue bisa ngerti perasaan lu! Siapa yang mau ambil risiko berurusan sama pasien sakit jiwa, ya kan?"
__ADS_1
Ternyata dia gak sakit jiwa, pikir Jingga. Cuma sakit hati!
Diam-diam Jingga merasa bersalah. Ia terus tertunduk selama mereka mengobrol di dalam rumah kontrakan yang tidak diduga Jingga ternyata bekas tempat tinggal sahabat dekatnya dengan seorang pria dan pria lainnya.
"Gue cuma mau pesen, kalo lu ketemu si Vivi, bilang barang-barangnya gue titip di sekre," katanya pada Jingga.
Jingga mengangguk tanpa berani menatap Rogan. Tatapan liar pria itu masih membuatnya agak ngeri.
"Sori, Sa," kata Rogan muram. "Gue udah ganggu waktu kalian cuma buat curhat."
Yasa tersenyum samar, "Kebetulan gue juga pengen nanya beberapa hal sama lu," kata Yasa. "Ah—sebenernya, gue gak nganggap pertemuan kita sebagai kebetulan," ia menambahkan cepat-cepat, memperbaiki ucapannya.
Jingga dan Rogan tersentak bersamaan.
"Itu juga kalo lu gak keberatan!" Yasa buru-buru menambahkan.
"Soal apa?" tanya Rogan terkejut.
"Agak pribadi," jawab Yasa.
"Gue gak keberatan," tukas Rogan.
Yasa melirik arlojinya sekilas. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Sudah hampir jam makan siang, pikirnya. "Kita ngobrol sambil makan siang, yuk!" ajaknya.
Rogan terlihat ragu-ragu.
"Biar lebih relaks, kita ngobrolnya sambil ngopi," kata Yasa lagi. "Kontrakan ini udah gue bayarin. Daripada lu titip di sekre, mending biarin aja di sini dulu. Abis bulan, kalo si Vivi belum ambil juga, terserah."
Rogan menelan ludah dan tergagap, "Tapi—"
"Ntar gue bantu ngomong sama si Ibu," tukas Yasa.
"Bukan itu masalahnya," sergah Rogan.
"Nanti Jingga tinggal bilang sama si Vivi kalo lu udah gak mau ngekost lagi, kalo mereka ketemu di kampus nanti," Yasa mencoba menenangkan Rogan.
Jingga mengangguk mendukung argumen Yasa.
"Tapi kita baru kenal, Sa…" Rogan menggumam lirih.
Yasa tersenyum tipis—seperti biasa. "Gak ada pengaruhnya buat gue," katanya. "Baru kenal artinya udah kenal. Apa lu gak pernah denger pepatah, kesan pertama adalah yang sebenarnya? Dalam ilmu spiritual, itu disebut intuisi!"
Rogan mengerjap menatap Yasa penuh kekaguman dan rasa hormat. Usianya jauh lebih muda di bawah gue, pikirnya. Tapi kepribadiannya jauh lebih dewasa dibanding gue! Penampilannya sedikit ketinggalan tren tapi wawasannya gak kalah dari pelajar unggulan.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, mereka akhirnya berpamitan pada pemilik rumah dan menitipkan barang-barang Violet hingga akhir bulan.
Si pemilik rumah merasa jauh lebih tenang, keputusan Yasa membuatnya terbebas dari rasa bersalah.
Rogan menyelinap ke dalam mobilnya dan mengikuti mobil Yasa.
Yasa memarkir mobilnya di rumah makan lesehan yang kemarin, mencari tempat yang paling nyaman dan lebih pribadi.
Beruntung konsep rumah makan itu sepertinya memang dirancang untuk rekreasi keluarga. Jadi mereka bisa makan sambil bersantai dalam gazebo tanpa mengganggu pengunjung lain, begitu juga sebaliknya.
Usai makan siang, Yasa memesan dua cangkir kopi dan teh untuk Jingga. Lalu memulai interogasinya.
"Lu kenal Aruna, kan?"
Pertanyaan Yasa menyentakkan Rogan.
"Lu siapanya Aruna?" Rogan balas bertanya.
"Bukan siapa-siapanya," jawab Yasa santai. "Tapi… entah lu percaya apa nggak, tapi gue pernah ketemu hantu Aruna."
Jingga langsung tertunduk. Mengingat hantu Aruna membuatnya kehilangan selera untuk meneguk tehnya.
"Di mana?" tanya Rogan, matanya belum berkedip sejak Yasa menyinggung nama Aruna.
"Di rumah nenek lu," jawab Yasa yang secara spontan membuat Jingga dan Rogan kembali tersentak.
Nenek? pikir Jingga terkejut.
Bu Lastmi neneknya Rogan?
"Jingga ngekost di rumah nenek lu," jelas Yasa.
"Tunggu dulu," sela Jingga. "Kamu tau dari mana Bu Lastmi neneknya Rogan?"
Yasa tersenyum sambil mengusap-usap pangkal lengan Jingga, "Rogan gak bakal percaya kalo aku bilang aku tau dari visi," katanya.
"Visi?" Rogan menyela mereka. "Maksud lu penglihatan spiritual?"
Jingga dan Yasa langsung terdiam.
"Lu punya mata ketiga, Sa?" Rogan bertanya antusias.
Yasa tersenyum tipis sekali lagi, "Yah, bisa dibilang begitu," jawabnya ragu. Tak ingin terkesan sok jago.
__ADS_1
Tapi reaksi Rogan membuat Yasa merasa diterima.
"Slow, Sa," kata Rogan bersemangat. "Gue terbuka untuk pembicaraan tabu."