
Sekitar jam 9 malam, sebuah mobil sedang hitam tiba di bangunan tua, lokasi tempat Reva dan yang lainnya berada.
Seorang pria dengan setelan jas hitam, mengenakan masker turun dari mobil yang langsung disambut oleh Bagas dan Rehan yang kini menggantikan Arya.
Nevan, Arya dan bawahannya berada di sisi lain bangunan itu karena permintaan dari Reva yang tak ingin mereka ikut campur kecuali Rehan karena desakan dari Nevan.
Sementara Reva kembali ke tempatnya semula bertindak layaknya korban, dengan mulut yang dibekap dan tangan yang seolah-olah terikat.
"Dimana dia?" Tanya pria misterius itu
"Dia di dalam.. " Jawab Bagas santai sembari berjalan masuk ke ruangan tempat Reva berada
Setibanya di ruangan, pria itu melepas maskernya lalu menghampiri Reva yang sejak tadi menatapnya tajam.
"Hmmpphhhaahhhh... " Pria itu menghanpirinya lalu melepas selotip di mutu Reva kasar
"Siapa kamu? Apa yang kamu inginkan dariku hah? " Sarkas Reva menghayati perannya
Pria itu menyeringai lalu duduk di hadapan Reva "Aku tidak menginginkan apapun darimu. Hanya saja, aku sedikit penasaran dengan wanita yang bisa membuat Nevan tertarik" Ungkap pria itu dengan begitu mudahnya
"Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya.. "
"Ada atau tidaknya bukan kamu yang bisa memutuskannya" Balas pria itu mencengkeram dagu Reva kasar
"Dasar bodoh.. " Gumam Reva lalu menggigit tangan pria itu yang masih mencengkram dagunya
"Aaaaakkhhh.. Dasar gadis sialan.. Berani sekali kamu menggigit ku" Teriak pria itu sontak menampar pipi Reva membuatnta terpental kesamping dengan kursi
Rehan yang menatapnya tanpa sadar maju membantu Reva bangun.
"Siapa yang menyuruhmu membantunya hah?" Teriak pria itu lalu menendang Rehan menjauh dari Reva
"Aaiisshhhh... " Reva berdecih kesal, ia lalu melepas ikatan ditangannya yang sejak awal memang tidak terikat dengan benar
"Berani sekali kamu menendangnya" Ujar Reva menatap pria itu "Ganti rencana! Sepertinya kita memang harus melakukannya dengan cara kasar" Ucap Reva dengan sorot mata tajam mendominasi
"Apa ini? Kalian menipuku?" Teriak pria itu menatap ke arah Bagas yang hanya mengangkat bahu tidak perduli "Dasar gadis si*lan" Umpat pria itu berniat melayangkan pukulan pada Reva namun sayangnya ia terlebih dahulu terkena tamparan tendangan dan pukulan bertubi-tubi dari Reva membuatnya tersungkur tidak berdaya di lantai
"Ternyata cuma seorang samp*h " Umpat Reva karena pria itu sama sekali tidak bisa melawan
"Mau kemana kamu. Apa kamu tidak melihatku" Tutur Bagas menghentikan pria yang datang bersama pria tadi yang kemungkinan merupakan asisten atau sekertaris nya
"Berapa banyak dia membayarmu. Aku akan membayarmu 2x lipat, tapi lepaskan tuan muda kami" Tutur pria itu sedikit memohon
"Ooii Reva.. Dia akan membayar 2x lipat jika kamu melepaskan pria itu"
__ADS_1
"Hah? 2x lipat? Bukankah itu terlalu sedikit jika dibandingkan dengan nyawanya" Ucap Reva dengan senyum mematikannya
"Tapi kalian tidak perlu khawatir, aku akan mengambil bayaran ku sendiri sebagai ganti nyawa dari pria ini. Tapi sebelum itu, biarkan aku mematahkan salah satu tangan dan kakinya" Ucap Reva emosi karena pria itu sempat memegangnya dan bahkan menendang Rehan
"Aaaccckkkk... " Pria itu berteriak kesakitan saat Reva dengan kejamnya menginjak tangan dan kakinya hingga tendangan suara "Krekk.. "
Semua yang berada di ruangan itu menelan saliva kaget sekaligus ngeri melihat sosok Reva yang satu ini.
"Berhentiii.. Keluarga Lorenz tidak akan membiarkan kalian, jika kalian berani melukainya lagi" Teriak pria lainnya tak sanggup melihat majikannya dilukai seperti itu
"Kamu mengancamku?"
"Tidak.. Tidak.. Bukan seperti itu.. Aku mohon lepaskan dia. Dia sudah cukup menderita"
"Revaa.. " Tegur Bagas tak ingin terlalu memperpanjang masalah ini
"Huuuhhh.. Bawa dia. Sebaiknya dia tidak berniat membalas dendam, karena jika itu terjadi bukan tangan dan kakinya lagi yang aku patahkan" Ancam Reva
"Baik. Aku janji" Ucap pria itu lalu membantu majikannya berdiri dan membawanya ke mobil
***
Prokk.. Prokk.. Prokkk..
Dari arah pintu ruangan, Nevan masuk sembari bertepuk tangan puas setelah melihat adegan barusan.
"Kenapa kamu berkata seperti itu?" Tanya Arya
"Tidak. Hanya saja, bukankah mereka terlalu lemah?"
"Aku pikir kamu tidak menyadarinya. Tapi dia memang dalang dari penculikan ini, tapi jika tebakanku benar ada seseorang yang sengaja mengatur semua ini untuk melawan ku" Jawab Nevan
"Ohh.. "
"Seharusnya mereka tidak akan lagi mengganggumu tanpa persiapan yang matang" Ucap Nevan mengusap rambut Reva layaknya seorang anak kecil
"Jadi bagaimana sekarang?" Tanya Bagas
"Aku sudah membiarkan mereka pergi. Tentu saja, aku harus mengambil bayaran ku" Ucap Reva lalu mengeluarkan laptop dari tasnya
"Ini yang aku tunggu sejak tadi.." Ucap Arya antusias dengan mata berbinar, tak sabar menunggu Reva membobol keamanan perusahaan Keluarga Lorenz
"Ini milikku"
"Aku Kakakmu, tentu saja kamu harus membaginya" Protes Arya
__ADS_1
"Tapi kamu tidak melakukan apapun hari ini"
"Kamu yang memintaku bertukar dengannya"
Keduanya berdebat layaknya sepasang anak kecil yang memperebutkan mainan sementara yang lainnya hanya menggeleng kepala melihat tingkah keduanya.
Beberapa diantaranya khususnya pengawal dari Nevan masih tercengang dengan sisi Reva yang tadi, yang begitu bertolak belakang dengan sifatnya yang sekarang.
***
Setelah serangkaian peristiwa hari ini, Reva kini berada di mobil bersama dengan Nevan. Karena kelelahan, tanpa sadar ia tertidur bersandar di pundak Nevan.
"Bagaimana dengan yang aku perintahkan sebelumnya?" Tanya Nevan pada Rangga
"Tuan tidak perlu khawatir. Mereka tidak akan berani mengganggu Non Reva lagi" Jawab Rangga
"Hhmm.. Dapatkan informasi sebanyak mungkin dari mereka" Pinta Nevan terkait dalang yang sebenarnya dari tindakan kelurga Lorenz kali ini
"Baik tuan" Balas Rangga
"Mereka benar-benar salah perhitungan kali ini" Batin Rangga membayangkan nasib keluarga Lorenz yang benar-benar hancur karena ulah kedua pasangan ini
Reva membuat cacat keturunan keluarga Lorenz dan bahkan membobol dan mencuri semua informasi rahasia dari perusahaan mereka, membuatnya mengalami kerugian yang begitu besar.
Diikuti oleh Nevan yang juga secara diam-diam memerintahkan untuk menghabisi keluarga Lorenz hari ini juga.
***
Di sisi lain, Arya dan Bagas kini tiba di kasino milik keduanya. Arya menyesap rokok di tangannya, sementara Bagas memilih meneguk bir di mejanya.
Keduanya masih memikirkan tentang Reva yang kini ikut dengan Nevan. Bahkan meskipun keduanya baru mengenal Reva selama dua tahun, tapi keduanya benar-benar tulus menganggap Reva sebagi seorang adik.
"Apa kita akan membiarkannya?" Tanya Bagas khawatir, tak ingin jika Reva terlibat terlalu dalam dengan seorang pria berbahaya seperti Nevan
"Kamu bisa melawannya?"
"Tidak"
"Kalau begitu berhenti bertanya"
Plakk...
Bagas menggeplak kepala Arya kesal dengan sikapnya itu "Kamu tidak khawatir? Dia itu Nevan Roderick. Bagaimana jika dia berbuat sesuatu pada Reva?"
"Aku tahu. Dia itu Nevan Roderick. Seorang Mafia paling kejam dan berkuasa di negara ini. Jadi apa? Kamu mau aku ke sana dan membawa Reva pergi?" Sewot Arya ikut kesal
__ADS_1
"Haiiihh... " Bagas kembali duduk, lalu meneguk habis bir di gelasnya
"Kita bicarakan lain kali. Biarkan Reva yang memutuskannya" Ucap Arya lalu bangkit berdiri meninggalkan Bagas