
"Aku terlihat seperti seorang anak kecil.. " Ucap Reva terkekeh memikirkan dirinya yang sejak tadi hanya diam memperhatikan Nevan melakukan semuanya
Dari sejak mandi tadi, memakai pakaiannya dan lotion di tubuhnya hingga mengeringkan rambutnya. Semuanya dikerjakan sendiri oleh Nevan yang tampak begitu menyukainya.
"Kamu bisa seperti ini selamanya, aku pasti akan mengurusmu dengan baik" Ucap Nevan tersenyum hangat
Reva mengerutkan keningnya. Ini bukan hal yang diinginkannya. Sejak di kamar mandi, ia beberapa kaki sudah mencoba menggoda Nevan tapi bukannya tergoda Nevan justru bersikap biasa-biasa dan bahkan memperlakukannya seperti anak kecil.
"Aku pikir kita akan melakukannya" Ucap Reva tiba-tiba memeluk Nevan
"Reva.. Ughh.. Apa yang kamu lakukan?" Tanya Nevan mencoba bangun saat Reva tiba-tiba saja membuat tubuh Nevan berbaring di kasur
"Aku sudah mengodamu sejak di kamar mandi tadi, tidak mungkin kamu tidak menyadarinya" Ucap Reva membuka satu persatu kancing piyama Nevan
"Hentikan Reva.. Kita tidak bisa melakukannya, aku masih memiliki beberapa pekerjaan hari ini.. " Tolak Nevan sembari memegangi tangan Reva
"Kamu menolakku?" Tanya Reva menatap Nevan kecewa
"Tidak.. Bukan seperti itu, hanya saja.. mari lakukan dilain hari" Jawab Nevan memalingkan wajahnya ragu-ragu
Melihat tanggapan dari Nevan, Reva langsung melepas tangannya dan turun dari tubuh Nevan.
"Aku mau turun ke bawah.. " Ucap Reva berlalu pergi setelah menutup pintu lumayan keras membuat Nevan sedikit kaget
"Dia marah.. " Gumam Nevan memijit kepalanya
Bagaimana mungkin ia tidak menginginkannya disaat juniornya bahkan sudah tegak sejak di kamar mandi tadi. Ia mencoba menahannya karena mempertimbangkan kondisi tubuh Reva.
...***...
Di sisi lain, Reva yang kini mendumel kesal karena keinginannya gagal terpenuhi kini berada di ruangan gym. Beberapa pengawal yang sejak tadi berada disana dibuat kaget karena kedatangannya untuk kedua kalinya di ruangan itu.
"Sepertinya aku masih belum sepenuhnya sadar.. " Gumam Reva duduk di sofa saat kepalanya tiba-tiba terasa pusing mengingat sebelumnya ia hampir menghabiskan satu botol wine
"Dimana Rangga? Mengapa aku tidak melihatnya sejak tadi?" Tanya Reva pada salah stau pengawal yang ada disana
"Rangga.. " Pengawal itu berfikir sejenak, hingga kemudian seseorang masuk kedalam ruangan "Oh.. Itu dia Non.. " Ucapnya menunjuk Rangga yang kebetulan baru saja tiba
"Dari mana saja kamu?" Tanya Reva saat Rangga menghampirinya dan duduk di sofa lainnya
__ADS_1
Rangga menghela nafasnya berat "Aku baru dari bar Non.. " Jawab Rangga lesu
"Bar? Apa yang kamu lakukan siang-siang begini di bar? Jangan bilang kamu bertemu dengan wanita itu?" Tanya Reva mencoba menebak
Karena permasalahannya baru-baru ini, Reva menjadi lupa akan janjinya pada Rangga yang berniat untuk membantunya menyelesaikan masalahnya.
"Benar Non. Aku baru saja bertemu dengannya" Ucap Rangga mengiyakan
"Kenapa harus di bar kalau begitu? Kalian bisa bertemu di sebuah kafe atau mungkin restoran" Tanya Reva merasakan kejangganlan
"Dia mabuk semalam, karena itulah aku datang menjemputnya disana"
"Hah? Apa dia gila? Dia itu sedang hamil, bagaimana bisa mabuk seperti itu. Bagaimana jika dia kehilangan anak yang dikandungnya.. Ughh.. " Tanpa sadar Reva berdiri menatap Rangga geram
Memikirkan wanita yang tengah hamil itu membuat Reva teringat kembali akan janinnya yang kini sudah tidak ada lagi.
"Non Reva baik-baik saja?" Tanya David khawatir melihat ekspresi Reva tampak pucat, yang memang sejak tadi ikut mendengar keduanya
Reva meremaa jidatnya sembari duduk kembali di sofa "Maaf.. Aku sedikit berlebihan.. " Ucapnya sembari mengatur kembali perasaannya yang sedikit kacau
Rangga menatap Reva merasa bersalah, ia sadar jika Reva baru saja teringat akan janinnya karena dirinya "Maaf Non.. " Ucapnya lirih
"Dia baik-baik saja. Aku sudah mengantarnya ke apartementnya" Jawab Rangga
"Kapan kamu akan menemuinya. Aku akan ikut denganmu"
"Tidak Non.. Bagaimana mungkin aku.. "
"Aku tidak memiliki kesibukan apapun sekarang dan Nevan mengabaikanku karena pekerjaannya itu" Ucap Reva kesal mengingat kejadian sebelumnya di kamar
"Pekerjaan? " Rangga mengerutkan keningnya bingung karena sejak kembali kemarin, Nevan sama sekali tidak memiliki pekerjaan apapun
"Kenapa? "
"Tidak Non.. " Jawab Rangga ikut berbohong meski ia tidak tahu apa yang direncanakan majikannya "Kebetulan aku masih akan bertemu dengannya malam ini, jika Non Reva mau, Non Reva bisa ikut denganku.. "
"Oke. Kita putuskan seperti itu. Aku akan ikut denganmu malam ini, aku ingin lihat wanita seperti apa yang bisa menipu orang sepertimu" Tutur Reva begitu antusias membuat pengawal lainnya menatap ke arahnya khususnya karena ucapannya barusan
"Non.. Sstt.. " Rangga menempelkan jari nya di bibirnya, meminta Reva untuk tidak membongkar rahasianya yang masih belum ia bocorkan pada pengawal lainnya
__ADS_1
"Sorry .. " Sesal Reva meremas jidat sembari duduk kembali
"Tapi bagaimana dengan Tuan, Non. Mungkin tuan tidak akan setuju" Tutur Rangga baru teringat akan Nevan
"Tidak perlu memikirkannya. Bahkan jika dia tidak setuju, aku akan tetap melakukannya" Seru Reva kesal
"Sepertinya mereka bertengkar" Batin Rangga menebak nya, karena setiap kali Reva marah, ia akan selalu melampiaskan kemarahannya pada pengawal Nevan. Hal ini membuat Rangga menjadi kepikiran, karena entah apa yang akan dilakukan Reva nantinya saat bertemu dengannya
...***...
Malam harinya, Nevan dan Reva duduk berhadapan di ruang tamu. Keduanya saling melempar tatapan tajam satu sama lain. Setelah mengetahui jika Reva akan keluar malam ini, Nevan segera menghentikannya dan tidak setuju jika Reva keluar dengan kondisi tubuhnya yang masih belum pulih total.
"Aku tidak perduli, aku akan tetap keluar dengan atau tanpa persetujuan darimu" Kekeh Reva bersikeras
"Tidak. Kamu tidak boleh keluar dari rumah. Jika kami ingin keluar, aku harus ikut denganmu"
"Tapi aku tidak setuju.. " Tolak Reva tak ingin jika Nevan ikut yang hanya akan membuatnya kesalkesal mengingat kejadian siang tadi
"Kalau begitu kamu tidak boleh keluar.. " Tutur Nevan tegas
Rangga yang duduk di tengah-tengah keduanya, hanya bisa mengusap dada tak berani menatap keduanya apalagi menyela.
Reva yang mulai geram langsung berdiri "Ayo pergi.. " Ucapnya menarik lengan Rangga
Namun belum sempat ia pergi, Nevan sudah terlebih dahulu mengangkat tubuhnya dan membawanya secara paksa naik atas kamar.
"Nevan.. Turunkan aku.. Nevaann.. " Teriak Reva berusaha berontak sembari memukul-mukul punggung Nevan namun sama sekali tidak dihiraukan oleh Nevan
Nevan membaringkan Reva di kasur lalu diikuti dirinya yang kini menindih tubuh Reva, kepalanya bersamdar di bahu Reva "Aku mohon.. berhenti keras kepala seperti ini.. " Pinta Nevan lirih
"Aku hanya ingin keluar menemui gadis itu, mengapa kamu harus bersikap berlebihan seperti ini"
"Aku takut.. " Gumam Nevan mengingat kembali kejadian sebelumnya
"Tapi ada Rangga yang ikut denganku"
"Aku tidak perduli.. Jika bukan denganku, aku tidak akan membiarkanmu keluar"
"Jadi kenapa kamu menolakku tadi siang?"
__ADS_1
"Bukan seperti itu. Hanya saja, aku khawatir dengan kondisi tubuhmu. Kamu baru saja keluar dari rumah sakit, akan buruk jika kita melakukannya disaat kondisimu belum benar-benar stabil"