
Reva kembali menjalani kehidupan sehari-harinya sama seperti sebelumnya, menjadi seorang mahasiswa biasa yang fokus pada studinya. Namun karena kondisi Rehan yang masih dalam tahap pemulihan, tugasnya dialihkan pada David dan Rangga yang saling bergantian menjaga Reva.
Jika sebelumnya Rehan hanya mengantar dan memantau Reva dari kejauhan, maka kali ini berbeda. Karena Nevan secara langsung mengatur David, masuk ke Universitas tersebut sebagai seorang mahasiswa, membuatnya bisa menjaga Reva bahkan saat berada di kelas sekalipun.
Reva yang sudah terbiasa diawasi seperti itu, hanya bersikap santai dan sama sekali tidak terganggu sama seperti sebelumnya.
Namun berbeda dengan Feli yang sejak tadi mencuri pandang ke arah David yang masih fokus memantau Reva.
"Matanya dikontrol.." Tegur Reva menutup mata Feli agar berhenti menatap David yang sejak tadi sama sekali tidak melihat kearahnya
"Apa semua pengawal Nevan setampan ini, dia benar-benar tipe ku.. " Ucap Feli girang
Meski Rehan dan Kevin yang sering dijumpainya juga tampan, tapi keduanya sama sekali bukan tipenya. Berbeda dengan David yang tadi pagi baru dijumpainya. Dia benar-benar memiliki semua kriteria idaman Feli selama ini.
"Kenapa? Kamu berniat menggodanya?" Tanya Reva
"Tentu saja. Bagaimana mungkin aku melewatkan kesempatan langka seperti ini, dimana lagi aku bisa menemukan pria setampan dirinya" Jawab Feli benar-benar tersihir engan pesona dari David
David adalah seorang pria blasteran, terlihat dari matanya yang berwarna kecoklatan begitupun dengan rambutnya, diikuti fitur wajahnya yang benar-benar terlihat seperti orang Eropa sama seperti ayahnya yang juga berasal dari Eropa. Karena alasan ini juga lah, Feli menjadi tertarik sejak pertama bertemu dengannya.
"Lakukan sesukamu.. " Tutur Reva membiarkannya berbuat semaunya "itupun jika dia meladenimu" Lanjut Reva melirik ke arah David yang tampak tidak tertarik barang sedikitpun
"Aku pasti akan mendapatkannya" Ucap Feli penuh keyakinan akan kemampuan menggodanya
Reva hanya memutar bola matanya sembari menggelengkan kepalanya. Lalu beralih pada David "Aku mau ke kantin" Tutur Reva yang kemudian diangguki oleh David
"Silahkan Non.. " Ucap David sedikit membungkuk mempersilahkan
"Bukankah sudah kukatakan untuk tidak memanggilku Non.. " Bisik Reva tak ingin terlalu menarik perhatian mahasiswa lainnya "Panggil aku Reva dan anggap aku sebagai temanmu saat kita berada di kampus" Sambung Reva merangkul pundak David akrab layaknya seorang teman
"Tapi Non.. "
"Sstt.. Tidak ada bantahan, ini di kampus jadi bersikaplah layaknya mahasiswa bukan seorang pengawal" Sela Reva
"Baik Non.. " Jawab David kembali memanggil Non
Reva lalu menatapnya dengan alis terangkat, memperingatinya untuk mengganti panggilannya itu.
"Re-reva.. " Ucap David pada akhirnya
"Nah.. Sekarang kita ke kantin, aku lapar.. " Ucap Reva kembali melanjutkan langkahnya sembari merangkul pundak David dan Feli secara bersamaan di kedua sisi
.....
__ADS_1
Ketiganya duduk di satu meja di kantin sembari menikmati makanan yang dipesan termasuk David yang juga ikut makan karena desakan dari Reva.
Meski ketiganya duduk di meja yang sama, namun ketiganya fokus pada urusan masing-masing. Reva yang tengah bertukar pesan dengan Nevan yang sebentar lagi datang menjemputnya. Feli yang sejak tadi fokus memperhatikan wajah David. Sementara David yang fokus pada makanannya dan sesekali mengawasi Reva yang duduk tepat di sampingnya.
"Ada apa dengan suasana akhward ini?" Dari arah pintu kantin, suara Kevin terdengar
Feli hanya melirik nya sekilas dengan tatapan sinis, lalu kembali menatap David.
"Tuan.. " Sapa David berdiri
"Duduklah.. Tidak perlu terlalu sopan terhadapku" Ucap Kevin santai
"Cckk.. " Feli berdecak ke arah Kevin
Meski keduanya sering bersama, keduanya sama sekali tidak bisa akur. Sifat keduanya benar-benar bertolak belakang dan sering kali bertengkar bahkan untuk hal kecil sekalipun.
"Suami mu menunggu di depan fakultas, apa kamu tidak akan memanggilnya kesini" Tutur Kevin pada Reva dan tidak menghiraukan decakan Feli
"Nevan ada disini?" Tanya Reva yang tidak mengetahuinya meski ia tengah bertukar pesan dengan Nevan
"Aku baru saja bertemu dengannya saat kesini" Jawab Kevin
"Kalau begitu aku pergi.. " Tutur Reva tidak melanjutkan makannya lagi
Reva yang mengerti akan maksud dari isyarat itu hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya "Aku akan pulang dengan Nevan. Jadi jika kamu tidak keberatan, tolong antar dia pulang ke apartemennya" Pinta Reva pada David
"Baik Non.. "Balas David masih belum terbiasa memanggil Reva tanpa kata Non
"Bagaimana denganku?" Tanya Kevin menunjuk dirinya sendiri
"Pulanglah sendiri" Ucap Feli membungkam mulut Kevin dengan ayam goreng milik Reva yang sejak tadi belum disentuhnya
....
Reva berjalan dengan langkah cepat menuju ke parkiran depan fakultas. Dan benar saja, Nevan kini tengah berdiri di depan mobilnya sembari memainkan ponselnya.
"Nevan.. " Panggil Reva sembari mengatur nafasnya yang tersengal
Nevan berbalik dengan alis berkerut dan segera menghampiri Reva "Kenapa kamu lari?" Tanya Nevan mengusap keringat dari wajah Reva
"Mengapa tidak memberitahuku jika kamu sudah disini" Tanya Reva memukul pelan dada Nevan
"Bukankah kamu sedang makan. Aku hanya tidak ingin mengganggumu" Jawab Nevan sembari membuka pintu mobilnya untuk Reva
__ADS_1
"Lain kali beritahu aku.. " Tutur Reva memperhatikan sekitarnya
Sebelum menghampiri Nevan tadi, Reva sempat beberapa kali melihat beberapa mahasiswi yang tampak membicarakan Nevan yang sejak tadi berdiri di depan mobilnya.
"Jadi kemana kamu akan membawaku?" Tanya Reva kemudian
"Ke kantor, aku masih memiliki rapat hari ini" Jawab Nevan yang langsung membuat Reva membulatkan matanya
"Jadi untuk apa kamu menjemputku?" Tanya Reva tidak mengerti
"Aku sudah janji akak menjemputmu, tentu saja aku harus menepatinya" Tutur Nevan bersikap layaknya pria sejati yang menepati janjinya
"Tapi apa yang harus aku lakukan di kantormu?"
"Terserah, kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau. Bukankah jurusan kamu manajemen bisnis, kamu bisa mencoba bertanya"
"Baiklah... " Ucap Reva menyetujui karena hanya itu satu-satunya pilihannya
...***...
Sesuai dengan apa yang dikatakan Nevan, Reva benar-benar melakukan apapun sesukanya. Dari mulai berkeliling di seluruh perusahaan, berbincang dengan beberapa karyawan dan berakhir di ruang rapat memperhatikan Nevan yang tengah fokus dengan rapatnya.
"Apa dia selalu seperti ini?" Tanya Reva pada Rangga yang juga duduk di sampingnya
"Tidak Non. Rapat hari ini berjalan dengan lebih lancar dari sebelumnya.. "
"Oh.. Memang seperti apa biasanya?"
Rangga menghela nafasnya panjang sebelum menjawab "Tuan biasanya akan langsung memarahi jika terjadi sedikit saja kesalahan, bahkan tidak segan memecatnya di tempat. Mungkin karena hari ini Non Reva hadir, makanya tuan tidak melakukannya hari ini"
"Kalau begitu aku akan keluar.. " Ucap Reva sembari berdiri dari kursinya membuat seisi ruangan itu menatap kearahnya termasuk Nevan
"Ada apa? Kamu membutuhkan sesuatu?" Tanya Nevan ikut berdiri
"Tidak.. Tidak.. Aku hanya bosan disini, lebih baik aku ke kantin" Ucap Reva segera menggelengkan kepalanya
"Rangga.. Ikut dengannya" Perintah Nevan
"Baik tuan.."
"Kalau begitu aku pergi. Kamu bisa melanjutkan rapatmu" Pamit Reva keluar dari ruangan diikuti oleh Rangga di belakangnya
Namun belum sempat Nevan duduk di kursinya kembali, pintu ruangan kemabli dibuka dari luar dengan Reva yang hanya memunculkan kepalanya saja "Dan cobalah untuk sedikit tersenyum, wajahmu terlihat mengerikan jika terlalu galak seperti itu" Tegur Reva memberi saran membuat seisi ruangan kaget sekaligus kagum dengan keberanian Reva
__ADS_1