
Kevin baru sehari datang ke kampus dan ia sudah menimbulkan begitu banyak masalah untuk Reva. Pasalnya, gadis-gadis yang tertarik padanya menatap Reva tajam karena terlalu dekat dengan Kevin.
Kehidupan kampusnya yang damai dan tentram seketika lengkap sejak ia dekat dengan Kakak beradik ini.
"Sebaiknya kamu menjauh dariku, aku tidak ingin menjadi target dari gadis-gadis yang kamu goda" Pinta Reva menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil
Kevin hanya diam. Sejak tadi ia sibuk memainkan ponselnya, membuatnya tidak menyadari apa yang baru saja dikatakan Reva.
"Kevin.. "
"Hmm.. "
Karena geram, Reva merebut ponsel dari tangan Kevin. Ia yang awalnya berniat mematikannya, terhenti saat ia membaca pesan teks di layar ponsel itu.
"Kamu mau ikut balapan?" Tanya Reva menatap Kevin yang kini menghela nafas pasrah
"Aku hanya ingin menonton, tidak lebih" Jawab Kevin tidak ingin jika Reva membocorkan nya pada Kakaknya
"Kalau begitu, biarkan aku ikut.. " Ucap Reva sontak membuat Kevin menggeleng cepat
Ia yang awalnya mengira jika Reva akan melaporkannya pada Kakaknya seketika kaget tidak menyangka jika Reva justru meminta untuk ikut dengannya.
"Tidak boleh. Kakak pasti akan membunuhku jika dia tau aku membawamu ke tempat seperti itu"
"Itu jika dia mengetahuinya.. " Balas Reva
Kevin lalu merebut kembali ponselnya "Aku tetap tidak setuju" Tolak Kevin lalu turun dari mobil
"Kalau begitu aku akan membocorkan nya pada Nevan" Ancam Reva bersikeras untuk ikut
Mendengar ancaman Reva, Kevin kembali menoleh menatap Reva yang kini menghampirinya dengan senyum di wajahnya "Baiklah. Tapi aku punya syarat.. "
"Apa?" Tanya Reva
"Pura-pura jadi pacarku besok"
Saat di kelas tadi, Kevin berulang kali mendumel kesal karena mantan kekasihnya yang mengikutinya ke negara ini karena tidak terima diputuskan begit saja oleh Kevin.
"Oke deal.. " Ucap Reva menyetujui "Jadi kapan acaranya?" Tanya Reva mengenai balapan itu
"Besok malam" Jawab Kevin
"Kalau begitu kita sepakat" Ucap Reva merangkul bahu Kevin
__ADS_1
Namun tanpa mereka sadari, beberapa pasang mata sejak tadi menatap keduanya dari arah ruang tamu. Tak terkecuali Nevan yang kini terbakar cemburu melihat kedekatan adiknya dan kekasihnya.
"Reva!" Panggil Nevan bangkit berdiri menghampiri keduanya yang masih berdiri di dekat pintu masuk
"Ne.. Haaaahh?! "Reva sontak menutup mulutnya kaget saat berbalik, begitupun dengan Kevin yang juga ikut memasang raut wajah kaget
"Jangan bilang dia mendengarnya?" Bisik Reva pada Kevin
"Ntahlah.. Tapi aku serahkan padamu.. " Bisik Kevin menepuk pundak Reva memberi semangat sebelum melekang pergi
"Dasar pengkhianat... " Umpat Reva dalam hati karena Kevin yang begitu cepat mengkhianatinya
"Jadi.. Apa yang kalian bahas? Sepertinya seru! " Ujar Nevan menatap Reva yang kini menghindari pandangannya
"Ahh tidak... Bukan apa-apa, kami hanya membahas tentang tugas kuliah.. " Jawab Reva ngasal
"Tugas kuliah?! Kalau begitu kita lanjutkan nanti.. Sebelum itu, ayo aku perkenalkan pada tamu kita" Ucap Nevan merangkul Reva menuju ke sofa ruang tamu
"Bukankah dia gadis yang kemarin.. " Batin Reva melihat gadis yang kemarin di tabrak nya
Meski gadis itu tersenyum ke arahnya. Reva bisa dengan jelas tahu, jika senyum itu dilakukannya dengan terpaksa. Meski begitu, ia tetap membalasnya dengan balik tersenyum mengingat Nevan baru saja menyebut mereka tamu.
"Biar aku perkenalkan, Pa..Ma.. dia adalah Reva.. " Ucap Kevin antusias memperkenalkan Reva namun terhenti saat Nevan menyelanya
"Revalina Ainsley. Kalian bisa memanggilnya Reva dan dia adalah Calon istriku" Tutur Nevan lagi-lagi memperkenalkan Reva sebagai calon istrinya bukan sebagai kekasih
"Nevaaannn... Bagaimama bisa kamu tidak berubah sama sekali" Tegur Reva dengan suara pelan sembari mencubit baju Nevan
"Jadi kamu Reva.. Kevin dan Rangga banyak membahas tentangmu" Ujar Ibu Nevan bangkit berdiri
Reva sontak menatap Kevin. Wajar Jika Rangga membahas tentangnya, tapi Kevin? Mereka bahkan baru bertemu, apa yang bisa ia bahas tentangnya..
"Iya Tante.. " Balas Reva sopan dengan senyum kakunya
"Oh iya.. Beliau adalah Baron Smith Hugo dan ini adalah putrinya, Siska. Kalian pernah bertemu sebelumnya" Tutur Nevan dengan penekanan di akhir
"Salam kenal Om.. " Sapa Reva sopan pada ayah Siska sebelum akhirnya menatap ke arah Siska "Kita bertemu lagi" Ucap Reva tentu saja dengan senyum terpaksa
"Iya. Aku sengaja kesini, khusus untuk meminta maaf karena perlakuan ku yang mungkin sedikit kasar sebelumnya" Tutur Siska dengan nada memelas
"Tidak apa-apa. Aku sudah melupakannya" Balas Reva
"Kalian saling kenal?" Tanya Ibu Nevan
__ADS_1
"Iya tante. Sebelumnya kami terlibat sedikit perdebatan kecil, tapi sekarang sudah tidak apa-apa" Jawab Siska merangkul lengan Ibu Nevan, berusaha mencari muka
"Iya tan. Hanya masalah kecil" Ucap Reva tidak terlalu perduli dengan apa yang dilakukan Siska
"Ayo duduk disini... " Sela Nevan meminta agar Reva ikut duduk di sampingnya
"Tidak.. Tidak.. Sepertinya kalian membahas hal yang penting, sebaiknya aku tidak mengganggu. Iya kan, Kevin! " Tolak Reva merasa canggung jika harus berada disana
"Ii..itu benar.. Aku dan Reva sebaiknya naik ke atas. Kalian bisa lanjutkan kembali pembicaraan kalian.. " Ucap Kevin lalu menarik lengan Reva pergi
"Kalian benar-benar pacaran? Bukan mereka berdua?" Tanya Ibu Nevan karena melihat Kevin dan Reva yang cukup akrab
"Dia memang pacarku. Soal Kevin? Aku bahkan berencana mengusirnya jika dia terus mengganggu" Jawab Nevan yang sejak tadi merasa cemburu dari sejak keduanya datang
"Anak ini memang suka bercanda.. " Ucap Ibu Nevan memegang lengan Nevan, sekedar mengingatkan untuk menahan dirinya
...***...
Sementara itu, Reva dan Kevin yang berhasil lolos dari sana kini berada di kamar Reva membahas kembali mengenai rencana keduanya. Termasuk mengenai kencan yang akan mereka lakukan besok.
"Tunggu dulu.. Mengapa aku harus menghapal ini? Bukankah hanya sebatas kencan?" Protes Reva karena Kevin yang baru saja memberinya semua informasi tentangnya yang harus Reva hapal sebelum kencan besok
"Ini yang tidak kamu mengerti. Meskipun kita ber pura-pura pacaran, tapi kita harus membuatnya se real mungkin supaya dia bisa percaya. Karena itulah, kamu harus menghapal semua informasi tentangku"
Reva hanya bisa mendengus kesal karena tidak ada jalan kembali untuknya sekarang "Kalau begitu, kamu juga harus menghapal informasi tentangku" Ucap Reva meraih kertas kosong dan pulpen lalu menulis informasi tentangnya
"Hanya ini?" Tanya Kevin membaca informasi Reva yang terlalu sedikit
Hanya ada informasi tentang kampus dan tempat tinggalnya. Selebihnya ia tidak menuliskannya terutama informasi tentang keluarganya.
"Iya. Hanya itu, tidak perlu banyak protes"
"Bagaimana dengan makanan favorite mu? Minuman favorite? Warna favorite? Hobby? Apa kamu tidak memilikinya?"
"Apa harus serinci itu?"
"Tentu saja"
"Makanan favorite nasi goreng. Minuman favorite caffe latte. Warna favorite hitam. Hobby? Aku tidak memilikinya tapi aku seorang hacker itu berarti hobbyku programing? Aku juga cukup ahli dalam beladiri dan boxing" Jawab Reva tanpa sadar menyebut keahliannya
"Kamu jago boxing? Kalau begitu ayo latihan denganku. Aku sering melakukannya saat berada di Amerika"
"Baiklah. Tapi jangan menyalahkanku kalau wajah tampan mu ini jadi rusak"
__ADS_1
"Jangan meremehkanku. Hal itu juga berlaku untukmu" Balas Kevin tak mau kalah