
Setelah mendengar cerita Rehan kemarin, Reva menjadi sedikit berubah dan amarahnya sedikit mereda, berubah menjadi rasa simpati dan kasihan.
Meski begitu ia akan tetap mencoba bertanya langsung pada Ayah Nevan, memastikan semuanya secara langsung dan tidak berusaha menyimpulkan nya sendiri hanya berdasarkan cerita dari satu pihak saja.
Namun saat ini, hal yang paling penting yang harus dilakukannya adalah memikirkan cara untuk keluar dari rumah itu. Bagaimana pun ia masih tetap merasa khawatir pada Nevan yang masih berbaring di rumah sakit.
"Aku harap kamu baik-baik saja Nevan.. " Ucap Reva lalu perlahan memejamkan matanya
Selama dua hari ini, selain menangis dan merutuki Rehan, Reva sama sekali belum tidur. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang pucat dan mata panda yang begitu jelas di bawah matanya.
Namun kali ini, Reva tanpa sadar tertidur beberapa saat setelah ia memejamkan matanya yang begitu bengkak. Bersamaan dengan itu, pintu kamarnya lagi-lagi terbuka dari luar.
Rehan yang tadinya keluar setelah pembicaraannya dengan Reva tadi, kembali masuk ke dalam kamar untuk memeriksa keadaan Reva.
"Dia akhirnya tertidur.. " Ucap Rehan lembut sembari mengeluarkan rambut Reva
Rehan memperbaiki posisi Reva dan menyelimuti nya dengan lembut. Tatapan yang penuh kasih sayang terpancar jelas dari sorot matanya yang kini menatap Reva penuh harap.
"Maafkan keegoisanku ini, tapi aku benar-benar berharap kamu bisa tetap berada di sisiku Reva.. " Gumam Rehan, kali ini ia menggenggam tangan Reva, menciumnya lembut penuh kasih sayang
Sejak kepergian ibunya, Rehan menutup hatinya rapat-rapat. Menjadi sosok yang dingin yang hanya terobesi akan balas dendam. Namun takdir berkata lain saat ia secara perlahan sadar akan perasaannya pada Reva yang kian hari semakin besar membuatnya sulit untuk melepaskannya dan secara perlahan menjadi belenggu di hatinya.
.....
Malam yang dingin dan menyesakkan itu berlalu dengan cepat berganti dengan terik matahari pagi yang kini menerpa wajah Reva dari arah jendela.
"Ughhh.. " Reva perlahan membuka kedua matanya yang masih terasa berat
Kesadarannya masih belum kembali sepenuhnya saat ia tiba-tiba dikagetkan akan kehadiran Rehan yang saat ini tertidur di sampingnya sembari mengganggam tangannya erat.
"Re-rehan? Sejak kapan dia disini?" Gumam Reva kaget tak menyangka jika ia akan tertidur begitu pulas hingga tidak menyadari kedatangan Rehan semalam
"Apa ia memang selalu memasang raut wajah yang seperti ini?" Tanya Reva dalam hati sembari mengusap pelan kening Rehan yang berkerut
Melihat raut wajah letih Rehan membuat Reva tidak tega untuk membangunkannya. Meski ia masih merasa marah akan perbuatannya, tapi ia tetap tidak bisa mengabaikan apa yang terjadi pada Rehan selama ini.
__ADS_1
"Uhhhmm.. "
Karena sentuhan dari Reva, Rehan perlahan bangun. Tepat saat ia membuka kedua matanya, sorot matanya langsung terkunci pada sorot mata Reva yang juga sedang menatapnya.
"Maaf.. Aku tidak bermaksud seperti ini. Aku akan kembali ke kamarku" Ucap Rehan sontak terbangun merutuki dirinya yang begitu tidak tahu malu karena mengambil kesempatan saat Reva sedang tertidur
"Rehan" Panggil Reva sebelum Rehan beranjak keluar
"Apa aku boleh keluar dari kamar ini?" Tanya Reva penuh harap
Rehan tampak berfikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan. Bagaimana pun, rumah itu memiliki keamanan yang cukup tinggi dan akan sulit bagi seseorang untuk bisa keluar dari rumah itu tanpa sepengetahuan dari Rehan.
"Iya. Kamu bisa keluar, tapi aku ingatkan untuk tidak mencoba kabur karena keamanan rumah ini jauh lebih ketat dari rumah Nevan" Ucap Rehan memperingati
"Aku tahu. Aku bukannya akan mencoba kabur, aku hanya tidak suka berdiam di kamar seperti ini.. " Ujar Reva
"Mandilah terlebih dahulu. Aku tidak akan mengunci kamarmu lagi" Ucap Rehan sebelum akhirnya beranjak pergi meninggalkan Reva di kamarnya
Meski ia belum bisa kabur, Reva tetap bersyukur karena setidaknya Rehan mengizinkannya untuk keluar dari kamar yang pengap itu.
Setelah mandi dan sedikit memperbaiki penampilannya yang sudah beberapa hari ini acak-acakan, Reva akhirnya keluar dari kamar yang dianggapnya sebagai penjara itu.
"Apa ini benar-benar bisa disebut rumah?" Gumam Reva tak habis fikir dengan semua kamera CCTV yang berada di setiap sudut rumah itu
Berapa kalipun Reva melihatnya, ia tetap tidak habis fikir. Dari lantai 4 tempat kamarnya berada, hingga lantai pertama, semuanya dipenuhi CCTV yang setiap detik mengawasi semua gerak-gerak orang yang berada di rumah itu.
"Bukankah ini sudah berlebihan.. " Gumam Reva merasa kurang nyaman jika harus tinggal di rumah dengan pengawasan seperti itu
Berapa kalipun ia memikirkannya, ia tetap tidak bisa mengerti isi pikiran Rehan saat memasang semua CCTV itu. Ia membangun rumah seolah membangun tahanan untuk tawanannnya yang dimana saat ini Reva yang menjadi tawanannya. Seolah-olah rumah itu khusus dibangun untuk dirinya.
Reva merebahkan tubuhnya di salah satu sofa besar di ruang tamu yang dimana pandangannya langsung tertuju pada CCTV di atasnya.
"Aihh.. Ini membuatku gila.. Apa bedanya di kamar dengan di sini" Keluh Reva menghela nafasnya panjang
"Apa ada yang salah? Ini sudah yang kesekian kalinya kamu menghela nafas? " Terdengar suara Rehan dibarengi dengan suara langkah kaki yang perlahan mendekat ke arah Reva
__ADS_1
"Mengapa begitu banyak CCTV di rumah ini?" Tanya Reva menatap Rehan
"Untuk mengawasimu" Jawab Rehan jujur
"Aku sudah menduganya.. " Ucap Reva tidak heran lagi karena itu yang dipikirkannya beberapa saat yang lalu
"Bukankah sudah kukatakan, keamanan rumah ini jauh lebih tinggi dari yang bisa kamu bayangkan. Bahkan jika CCTV ini tidak ada, kamu juga akan kesulitan untuk kabur dari rumah ini"
"Untuk lebih jelasnya, biarkan aku menunjukkannya padamu" Sambung Rehan meraih slah satu kursi kayu yang bisa diangkatnya
"A-apa yang ingin kamu lakukan?" Tanya Reva gugup saat Rehan mengangkat kursi itu seakan-akan ingin memukul seseorang
Rehan hanya menyeringai, lalu melempar kursi ditangannya ke ara jendela dengan begitu kerasnya.
"Rehan..! " Teriak Reva kaget dengan tindakan Rehan
"Tidak apa-apa.. " Ucap Rehan santai karena kursi yang dilempar nya tadi sama sekali tidak membuat kaca jendela itu pecah
Reva menutup mulutnya tak percaya, kaca jendela yang baru dilempar Rehan bukan hanya tidak pecah, kaca itu bahkan tidak meninggalkan bekas apapun disaat kursi yang dilempar Rehan tadi sudah hampir rusak.
....
"A-apa yang terjadi tuan?"
Dari arah pintu dan lantai atas beberapa pengawal Rehan sontak berlari masuk ke dalam untuk memeriksa karena suara pukulan yang begitu keras tadi.
"Tidak apa-apa. Kalian bisa kembali bertugas" Ucap Rehan kembali mengusir para pengawalnya untuk tidak merasa khawatir
.....
Sementara itu Reva yang masih merasa takjub, berungkali mengetuk kaca jendela itu untuk memeriksanya "Bukankah ini luar biasa?" Tanya Reva kagum
"Bukankah kamu seharusnya merasa khawatir? Dengan keamanan yang setinggi ini, akan semakin sulit bagimu untuk kabur dari rumah ini" Ucap Rehan mengingatkan Reva kembali
"Apa kamu akan membiarkanku keluar?"
__ADS_1
"Tentu saja tidak. Aku sudah bersusah payah membawamu kesini, bagaimana mungkin aku membiarkanmu keluar" Ucap Rehan sembari duduk di sofa