Belenggu Cinta, Mafia Kejam

Belenggu Cinta, Mafia Kejam
Tuan Muda Kedua


__ADS_3

"Logika macam apa itu" Batin Reva menatap gadis dengan rambut blonde itu


"Aku sudah meminta maaf dan dari yang aku lihat barang-barangmu sama sekali tidak mengalami kerusakan apapun, jadi apa yang harus aku ganti?"


"Bukankah sudah kukatakan, kamu membuat tasku lecet" Ucap gadis itu perlahan emosi


"Tapi aku tidak melihat kerusakan di tasmu? Jadi sebelah mana yang lecet?" Tanya Reva dengan nada yang sama sejak tadi


"Aaarrggghhh... Pelayan!" Teriak gadis itu membanting tasnya ke lantai


Reva manatap tasnya di lantai "Dia membanting nya? Dia benar-benar pemarah" Batin Reva tidak habis pikir


Bersamaan dengan itu, seorang pelayan wanita kini menghampiri keduanya, setelah mendengar suara teriakan barusan.


"Apa yang bisa saya bantu Nona?" Tanya pelayan itu sedikit membungkuk pada gadis itu


"Dia pelayan yang tadi.. " Batin Reva menatap pelayan wanita itu


"Usir dia keluar" Perintah gadis itu dengan sorot mata penuh kebencian


"Bagaimana mungkin aku mengusirnya, gadis ini pelanggan di ruangan VVIP. aku tidak mungkin mengusirnya" Batin pelayan itu bingung harus berbuat apa


"Bukankah kamu terlalu berlebihan. Aku bahkan tidak merusak barang-barangmu dan kamu sendiri yang membanting nya kembali. Jadi apa yang membuatmu marah? Aku bahkan sudah meminta maaf" Ucap Reva masih dengan nada santainya


"Maaf Nona, untuk permintaan anda barusan, saya tidak bisa melakukannya. Bagaimana pun dia adalah pelanggan di restoran kami. Bagaimana jika diselesaikan dengan cara baik-baik?" Tutur Pelayan itu se sopan mungkin, agar gadis itu tidak semakin emosi


"Aku tidak perduli, usir gadis kamp*ngan ini dari sini. Jika tidak, panggil manager kalian sekarang juga"


"Sudahlah. Aku akan pergi sendiri. Tidak perlu memperpanjang masalah" Ucap Reva tak ingin menimbulkan masalah


"Tapi Nona.. " Cegat pelayan itu kebingungan, bagaimana pun Reva merupakan pelanggan VVIP di restoran itu


"Apa yang kamu lakukan hah? Apa sesulit itu mengusirnya dari sini? " Bentak gadis itu pada pelayan tersebut "Kamu mau aku aku pecat?" Teriak gadis itu kasar


Reva yang tadinya sudah berbalik pergi, mengurungkan niatnya dan menghampiri gadis itu kembali.


"Kenapa? Restoran ini milik ayahku, aku bisa mengusir dan memecat kalian sesuka hatiku" Tutur gadis itu kembali


"Tidak perlu memecatnya. Aku akan pergi dari sini. Lagi pula nafsu makanku sudah hilang karena mu. Dan untuk barang-barangmu, aku akan menggantinya tidak perlu begitu histeris seperti ini cuma karena beberapa barang saja" Tutur Reva masih dengan nada datar sebelum beranjak pergi meninggalkan gadis itu yang kini mengepalkan tangan kesal sementara pelayan wanita tadi hanya menunduk takut karena tidak mengenali anak majikannya mengingat ia yang baru bekerja beberapa hari sebelumnya


...***...


Reva kembali ke ruangan VVIP tadi menemui Nevan yang sudah sejak tadi menunggunya karena terlalu lama berada di depan wc.

__ADS_1


"Ayo pergi.. Aku sudah tidak lapar lagi.. " Tutur Reva setelah memasuki ruangan


"Tapi kita belum makan apapun? Apa ada yang terjadi? Kamu begitu lama di wc"


"Tidak ada. Ayo pergi.. " Pinta Reva sekali lagi


Nevan yang sedikit bingung, hanya menuruti permintaan dari Reva dan pergi dari restoran itu.


Sebelum keduanya meninggalkan restoran, pelayan wanita yang tadi membela Reva datang menghampiri keduanya.


"Tunggu Nona.. Saya benar-benar minta maaf soal yang tadi" Tutur pelayan itu sedikit membungkuk


"Tidak apa-apa. Ini bukan kesalahan kamu, kamu tidak perlu meminta maaf. Ayo pergi" Balas Reva sebelum menarik lengan Nevan masuk ke dalam mobil


"Apa yang terjadi? " Tanya Nevan penasaran


"Aku baru saja bertengkar dengan anak pemilik resto ini" Jawab Reva jujur karena percuma bagi dirinya berbohong karena Nevan pasti akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi


"Bertengkar?"


"Hanya seorang gadis kecil, ini tidak termasuk bertengkar. Mungkin sedikit perdebatan kecil....Ugghhh lupakan.. Aku benar-benar lapar sekarang.. " Keluh Reva mengusap perutnya


"Sekarang kamu yang putuskan tempat makannya"


"Padahal ini kencan pertama kita.. " Gumam Nevan sedikit kecewa


"Kencan?"


"Bukankah ini termasuk kencan? Aku berniat mengajakmu makan lalu nonton bersama nantinya, siapa yang tahu malah akan berakhir seperti ini"


"Kalau begitu kita lakukan lain kali" Tutur Reva memahami perasaan kecewa Nevan


"Kejadian seperti tadi, aku jamin tidak akan terjadi lagi" batin Nevan


...***...


Di sisi lain, di rumah Nevan. Sebuah mobil bmw hitam keluaran terbaru, baru saja memasuki pekarangan rumah. Rangga yang sejak tadi menunggu kedatangannya, segera menghampirinya.


Kevin liam caleis. Tuan muda kedua keluarga Caleis. Sejak SMA ia memilih untuk tinggal di US bersama dengan Kakek dan Neneknya. Namun setelah mendengar kabar kedekatan Kakaknya dengan seorang gadis dari ibunya, ia memutuskan untuk datang menemuinya karena penasaran dengan gadis yang bisa menaklukkan watak kakaknya itu.


Bahkan di keluarga Caleis, satu-satunya yang bisa mengatur tingkah laku Kevin hanyalah Nevan. Karena kedua orang taunya yang terlalu memanjakannya, membuatnya menjadi nakal dan bertingkah semaunya.


"Kakak dimana?"

__ADS_1


"Tuan sedang keluar, tuan muda. Mungkin sebentar lagi akan kembali" Jawab Rangga


"Baiklah.. " Ucap Kevin mengeluarkan ponselnya lalu berbaring di sofa ruang tamu berniat bermain game


...***...


Tak lama setelah kedatangan Kevin, Nevan dan Reva akhirnya kembali ke rumah. Reva yang sempat melihat mobil milik Kevin merasa sedikit familiar dengan mobil tersebut, namun karena rasa laparnya ia memilih untuk mengabaikannya.


Reva yang tadinya berniat ke dapur menemui Bi Eka, kembali mengurungkan niatnya saat berjumpa dengan Kevin di ruang tamu.


"Kamu?! " Tutur keduanya bersamaan saling menunjuk


"Kalian saling kenal?" Tanya Nevan melihat reaksi terkejut keduanya


"Jangan bilang dia adik kamu?" Tanya Reva menatap Nevan menunggu jawaban darinya


Nevan mengangguk mengiyakan "Iya. Dia memang adikku. Kevin Liam Caleis"


Siapa yang menyangka jika dunia akan begitu kecil. Laki-laki menyebalkan kemarin tak lain adalah adik dari Nevan.


"Dan Kevin. Dia adalah Revalina Ainsley. Calon Kakak Ipar kamu"


"Nevan.. Apa kamu tidak malu mengatakannya" Protes Reva saat Nevan memperkenalkannya seperti itu "aku bahkan belum setuju"


"Bukankah kamu sudah setuju?"


"Kapan aku setuju? Kamu bahkan tidak pernah bertanya"


"Oh.. Kalau begitu kamu akan setuju jika aku bertanya? "


"Nevan" Reva bangkit berdiri dengan wajah yang kini memerah "Aku lapar... aku akan ke dapur" Ucap Reva mengalihkan lalu berlari ke dapur


Kevin yang menyaksikan keduanya, sedikit tercengang dengan sikap Kakaknya yang begitu berbeda dengan yang selama ini dilihatnya.


"Jadi apa yang terjadi? Bagaimana kalian bisa saling mengenal?"


"Kami hanya terlibat kecelakaan kecil. Karena itulah aku meminta Rangga untuk mencari informasi tentangnya. Bagaimanapun dia meninggalkan black cardnya begitu saja padaku" Jawab Kevin mengeluarkan kartu hitam kecil itu dari dompetnya


Nevan yang baru pertama kali melihatnya semakin dibuat penasaran dengan identitas Reva yang selama ini belum pernah ia ceritakan.


"Apa ini dari kakak?"


"Bukan. Ini miliknya" Jawab Nevan karena ia belum pernah memberi Reva uang sepeserpun karena takut jika Reva tidak menyukai hal seperti itu

__ADS_1


"Gadis ini semakin lama, semakin misterius" batin Nevan menatap black card di tangannya


__ADS_2