
Balapan kembali dilaksanakan atas permintaan dari Gavin. Joki yang cantik yang tadi memimpin pertandingan kini kembali ke tengah-tengah lapangan.
Reva menginkat satu rambutnya ke atas, sebelum mengenakan helmnya. Sementara lawannya kini mengerutkan kening bingung karena ternyata lawannya adalah seorang gadis.
"Apa-apaan ini, seorang gadis? Kamu bermain-main denganku?" Protes pria itu merasa direndahkan karena harus melawan seorang gadis
"Tidak perlu khawatir. Aku yang seorang gadis ini, akan mengalahkan rekormu yang sebelumnya" Tutur Reva menyeringai penuh percaya diri
"Ckk.. " Meski tidak suka, pria itu kembali menaiki motornya dan mengenakan helmnya begitu pun dengan Reva
Sorak sorai penonton kembali menggema. Sang joki kembali memainkan benderanya diikuti suara ledakan asap sebagai tanda start.
Pria itu dengan cepat memimpin pertandingan. Sementara Reva masih dibelakang dengan senyum miringnya dari balik helm hitam itu seolah sengaja mempermainkan pria tadi.
Hingga di pertengahan jalan, Reva dengan cepat menambah kecepatannya membuatnya sejajar dengan pria tadi.
Reva menaikkan kaca helmnya menatap pria tadi "Jangan sombong. Kamu tidak sehebat yang kamu bayangkan" Tutur Reva mengedipkan matanya sebelah sebelum kembali menaikkan kecepatannya meninggalkan pria tadi
Reva benar-benar merasa puas dengan aksinya itu, terutama setelah ia mencapai garis finish dalam waktu 9 menit. Lebih cepat dari yang ia perkirakan.
Gavin dan Kevin yang sedari tadi merasa khawatir, segera menghampiri Reva. Terutama Kevin yang kini menghela nafas lega, karena Reva baik-baik saja.
Namun belum sempat, ia merayakan kemenangannya, seorang pria dengan jas hitam lengkap datang menghampiri mereka. Pria itu tidak lain adalah Rangga, yang sejak tadi mengawasi apa yang terjadi.
"R-rangga? Apa yang kamu lakukan disini? B-bagaimana dengan Nevan?" Tanya Reva gugup dan segera turun dari motor, sembari mencari-cari keberadaan Nevan
"Silahkan ikut denganku Nona" Pintu Rangga kemudian
"T-tidak.. Aku mengendarai motorku kesini, kamu bisa pergi lebih dahulu" Tolak Reva sedikit takut dengan apa yang akan Nevan lakukan padanya
"Tuan muda kedua bisa mengendarainya kembali" Ujar Rangga
Dengan terpaksa, Reva memberikan kunci motornya pada Kevin sebelum akhirnya mengikuti permintaan Rangga dan ikut dengannya.
__ADS_1
Kevin hanya diam membatu menatap kepergian keduanya. Ketimbang mengkhawatirkan Reva, ia lebih mengkhawatirkan dirinya sendiri karena entah apa yang akan Kakaknya lakukan padanya nanti.
"Apa yang terjadi? Kemana dia pergi" Tanya Gavin tidak mengerti
"Aku tidak tahu" Jawab Kevin
"Bagaimana aku bisa menghubunginya? Apa aku boleh meminta kontaknya?" Tanya Gavin yang mulai tertarik pada Reva
Kevin menatap Gavin serius "Sebaiknya hentikan. Dia sudah memiliki pasangan. Pria yang tadi adalah sekertaris dari pasangannya. Dan juga pasangannya ini sedikit berbahaya dan kejam" Ucap Kevin mengingatkan
Kevin lalu berbalik pergi meninggalkan Gavin yang masih diam kebingungan di tempatnya. Prioritasnya saat ini adalah mencari alasan yang bisa digunakannya nanti saat bertemu dengan Kakaknya.
...***...
Sementara itu di tempat parkiran, Reva masuk ke dalam sebuah mobil sedang hitam yang tak lain adalah mobil Nevan.
Hening...
Selama di perjalanan pulang, Reva terdiam. Tidak berani bersuara. Berulang kali ia menelan saliva takut dengan sifat Nevan yang sejak tadi diam tak bersuara.
Dan pada akhirnya, keduanya tiba di rumah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Nevan langsung turun dari mobil diikuti Reva dari belakang. Nevan bahkan tidak menatapnya hingga keduanya tiba di kamar Nevan.
"N-nevan.. " Sahut Reva pada akhirnya memberanikan diri
Nevan melepas jasnya dan menggantungnya lalu berbalik menatap Reva "Mandilah. Setelah itu turun ke bawah makan malam" Ucap Nevan sebelum melenggang pergi meninggalkan Reva yang kini dibuat frustasi karena sifat diamnya
Meski Nevan belum mengungkit masalah ia dan Kevin, Reva tetap sadar jika saat ini, Nevan marah dengan cara mendiami nya seperti tadi. Dan itu membuat Reva semakin merasa frustasi menghadapi orang yang marah dengan cara diam. Karena ia sama sekali tidak mengetahui apa yang kini dipikirkannya.
......
Setelah mencari solusi selama setengah jam, Reva pada akhirnya turun ke meja makan tanpa satu pun solusi. Ia bahkan tidak tahu apa yang dipikirkan Nevan, bagaimana mungkin ia bisa mencari solusi yang bisa saja pada akhirnya hanya akan memperkeruh suasana.
__ADS_1
Di meja makan, Nevan masih duduk di sana memainkan ponselnya dengan segelas kopi hangat di depannya dan makanan yang sudah dipersiapkan untuk Reva.
Reva melirik nya sekilas. Nevan sama sekali tidak menoleh ke arahnya, ia hanya fokus pada ponselnya. Reva menghela nafasnya lirih, lalu memakan makanannya.
Sesekali Reva mengedarkan pandangannya ke sekitar yang tampak sepi tanpa satu pun pengawal ataupun pelayan, terutama Kevin yang ia yakini sudah kabur dan meninggalkannya.
"Mulai besok, Rehan yang akan mengantarmu ke kampus. Aku akan dinas ke luar kota selama satu minggu. Jadi, kamu bebas melakukan apapun yang kamu mau"
Deg..
"Bebas melakukan apapun yang kamu mau.. " Reva mengulang kalimat akhir Nevan dalam hati
Bagi Reva kalimat itu seolah memberitahunya, bahwa Nevan sama sekali tidak perduli dengan apa yang akan dilakukan Reva. Ia bisa melakukan semuanya sesuai keinginannya tanpa harus memikirkan Nevan.
"Iya. Kamu hati-hati " Tutur Reva pada akhirnya, lalu meletakkan sendok makannya dan berbalik pergi ke kamarnya karena kehilangan nafsu makan
Setibanya di kamar, Reva merebahkan tubuhnya di kasur. Menenggelamkan wajahnya di bantal dengan mata yang kini berkaca-kaca menahan tangis.
...***...
Sementara itu, Nevan kembali ke ruang kerjanya menemui Rangga. Alasan ia melakukan dinas karena siang tadi ia membatalkan semua rapat yang harus dihadiri nya karena mendapatkan pesan dari seseorang, mengenai Reva dan Kevin yang diam-diam melakukan kencan dan datang ke arena balap tanpa sepengetahuannya.
Rangga hanya bisa mendapatkan lokasi terakhir dari pengirim pesan tersebut karena ponsel yang digunakan merupakan ponsel sekali pakai. Karena itulah, Nevan merasa khawatir pada pengirim tersebut, karena hal ini tentu saja membuktikan jika selama ini pergerakan Reva diawasi secara diam-diam.
"Perintahkan mereka untuk terus mengawasinya jika ia mengaktifkan ponselnya. Dan juga awasi semua pergerakan Reva secara diam-diam. Jangan sampai ia menyadarinya" Perintah Nevan kemudian
"Baik Tuan" Balas Rangga sedikit menunduk sebelum keluar dari ruangan
....
Jam di dinding menunjukkan pukul 1 tengah malam, saat Nevan kembali ke kamarnya untuk beristirahat setelah membaca beberapa berkas kerja sama yang diajukan perusahaan lain.
Nevan yang sudah hampir terlelap dalam tidurnya, kembali tersadar saat sebuah tangan memeluk tubunya dari belakang.
__ADS_1
Dia adalah Reva. Sejak kemabli ke kamarnya. Ia sama sekali tidak bisa tertidur. Karena itulah, ia memutuskan datang ke kamar Nevan.
"Maaf.. Aku salah.. " Lirih Reva semakin mengeratkan pelukannya