Belenggu Cinta, Mafia Kejam

Belenggu Cinta, Mafia Kejam
Flashback


__ADS_3

Sejak tiba tadi, Arya berulang kali mengecek ponselnya, menunggu kabar dari Nevan yang tengah melacak keberadaan Reva. Sementara dirinya kini berada di rumah sakit menemani Rehan yang saat ini diperiksa oleh Dokter setelah sadarkan diri beberapa saat yang lalu.


"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Arya menatap sang dokter serius


"Tidak baik. Meski luka tusukan nya tidak begitu dalam dan mengenai organ vitalnya, namun ia mengalami beberapa patah tulang di kaki dan tangannya, belum lagi bagian kepala yang sepertinya terkena pukulan benda berat membuatnya mengalami geger otak" Jawab Dokter pria menatap prihatin pada kondisi Rehan yang begitu mengenaskan


"Apa aku bisa berbicara dengannya?" Tanya Arya meminta persetujuan sang dokter karena bagaimanapun kondisi Rehan bgitu memprihatinkan dan akan sangat buruk baginya jika harus memaksanya berbicara


"A-aku bisa kak.. Ughh.. " Jawab Rehan berusaha beebicara dengan segenap tenaganya


"Jangan terlalu berlebihan.. " Tutur Dokter itu memberi saran sebelum meninggalkan keduanya di ruangan


Setelah kepergian dokter itu, Rehan lalu dengan perlahan menceritakan apa yang terjadi tiga jam yang lalu.


....


(Flasback On)


3 jam sebelumnya..


Reva yang semakin kelaparan karena menunggu Nevan yang tak kunjung datang, meminta Rehan untuk membawanya ke sebuah minimart, membeli beberapa makanan di pinggir jalan yang diminatinya, serta es krim yang menjadi tujuan utamanya datang ke minimart tersebut.


Keduanya duduk di kursi pinggir jalan, dengan Reva yang masih menikmati semua makanan yang baru dibelinya.


"Pelan-pelan Non.. " Tutur Rehan membantu Reva membersihkan tumpahan makanannya


"Aku haus.. Belikan aku coke zero di minimart tadi.. " Pinta Reva mengeluarkan selembar uang kertas berwarna merah dari saku celananya


Rehan memperhatikan jarak dari minimart dan tempatnya berada, merasa ragu-ragu untuk meninggalkan Reva sendiri.


"Pergilah, aku bisa menjaga diriku sendiri" Tutur Reva menyadari kekhawatiran dari Rehan


Pada akhirnya Rehan menuruti permintaan dari Reva dan segera berlari ke minimart untuk membeli coke zero yang diinginkannya.


Beberapa menit kemudian, tanpa menunggu uang kembaliannya, Rehan segera keluar dari minimart dan untungnya Reva masih berada di tempat tersebut.

__ADS_1


Namun belum sempat ia menghampiri Reva, seorang wanita paruh bayah datang berbicara dengan Reva membuat Rehan segera berlari menghampiri keduanya, menanyakan apa yang terjadi. Karna sejak keluar tadi, terdapat perasaan aneh yang dirasakannya seolah bahaya tengah menanti dirinya dengan Reva.


"Siapa kamu?" Tanya Rehan memegang pundak wanita itu membuatnya berbalik secara paksa


"Berhenti Rehan, dia sedang tersesat karena itulah ia menanyakan jalan padaku" Tutur Reva segera menghentikan tindakan Rehan


"Nona yakin dia sedang tersesat?" Tanya Rehan kembali berusaha bersikap hati-hati


"Rehan.. " Tegur Reva tak suka jika Rehan terlalu berlebihan seperti ini terutama pada seorang wanita paruh baya


"Maaf atas kelancangan saya.. " Ucap Rehan sedikit membungkuk pasrah meski ia masih merasa janggal dengan hal ini


"Tidak apa-apa nak.. Aku baru pertama kali datang ke kota ini dan masih merasa asing, karena itulah aku bertanya pada nona muda ini"


"Sudah lah Bi, bagaimana jika aku mengantar Bibi?" Tanya Reva menawarkan bantuan


"Tapi Non.. " Cegat Rehan tidak setuju


Namun lagi-lagi Reva menatap Rehan "Cukup Rehan.. " Tutur Reva tegas


Rehan hanya bisa menghela nafas pasrah, sembari mengikuti keduanya dari belakang.


....


"Ini benar rumah anak bibi?" Tanya Reva memastikan


"Iya benar, ini rumahnya. Terima kasih atas bantuan kalian" Tutur wanita itu membungkuk sembari tersenyum simpul


Rehan yang masih tidak setuju dengan sikap Reva yang terlalu baik hanya memalingkan wajahnya memperhatikan sekitar rumah.


"Kalau begitu, kami pamit pergi bi" Tutur Reva balas tersenyum lalu menarik Rehan yang sejak tadi memasang wajah datar


"Maaf Non.. Aku bukannya bersikap lancang, hanya saja wanita tadi terlihat begitu mencurigakan"


"Sudahlah, ayo pulang ke rumah sebelum Nevan mendahului kita" Tutur Reva segera mempercepat langkahnya karena Nevan pasti akan menegurnya jika ia keluar begitu saja tanpa mengabarinya

__ADS_1


"Baik No- ughh... " Ucapan Rehan terpotong saat tiba-tiba seseorang dari belakang memukul kepalanya dengan pipa besi


"Re-han ummnnghhhh... " Sesaat setelah Reva berbalik, mulutnya tiba-tiba di bekap seseorang dari belakang


Hal terakhir yang dilihatnya sebelum kesadarannya menghilang adalah Rehan yang kini tersungkur di tanah dengan cairan merah kental yang kini mengalir di kepalanya.


Reva di bawah masuk ke dalam mobil oleh dua pria dengan setelah hitam dan masker hitam. Sementara Rehan ditarik oleh yang lainnya masuk ke dalam lorong gelap tepat disamping keduanya mendapat serangan tadi.


"Si-siapa kalian? Lepaskan Re-va" Tutur Rehan mencoba bangkit dengan kepala yang kini terasa begitu sakit, pandangannya kabur membuatnya kesulitan bergerak


"Kamu masih bisa berdiri, kalau begitu jangan salahkan aku bersikap kejam. Salahkan gadis itu karena menyinggung Nyonya besar.. " Tutur pria itu lalu kembali melancarkan pukulan bertubi-tubi di setiap bagian tubuh Rehan, mulai dari kaki, tangan hingga perutnya


Namun meski setelah semua pukulan yang didapatnya itu, ia tetap berusaha sekuat tenaga meraih kaki laki-laki itu dan menjatuhkannya di tanah.


"Aiisshh.. Dasar brengsek" Umpat laki-laki itu melempar pipa besi itu, lalu mengeluarkan sebuah pisau dari dalam saku jaketnya


Laki-laki itu menghampiri Rehan lalu menjambak rambutnya, menendangnya beberapa kali. Meski sudah kehilangan tenaga, Rehan masih belum bisa menyerah dan menahan pisau yang dipegang laki-laki itu dengan tangannya. Namun malangnya, bagaimana pun ia berusaha melawan ia sudah kehilangan tenaga membuatnya tidak bisa menghalau pisau itu yang kini menancap di perutnya.


"Seharusnya kamu sadar, dihadapan sebuah kekuasaan, kamu tidak akan bisa berbuat apapun selain menerima kematianmu" Tutur Laki-laki itu sebelum menarik pisaunya kembali membuat Rehan jatuh tak berdaya di tanah


Melihat kondisi nya yang begitu mengenaskan, laki-laki itu pergi setelah memastikan Rehan sudah tidak sadarkan diri. Ia bahkan tidak segan untuk menendang tubuhnya beberapa kali sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Rehan.


Namun yang ia tidak sadari, meski kondisi Rehan sudah begitu mengenaskan dengan luka parah di sekujur tubuhnya ia masih menyimpan sedikit tenaganya, untuk ia gunakan menghubungi Nevan. Karena disaat laki-laki tadi terjatuh di lantai, Rehan bertindak sembunyi-sembunyi dengan melempar keluar ponsel di sakunya.


(Flasback Off)


...


Setelah mendengar cerita dari Rehan, Arya mengepalkan tangannya dan memukul meja di depannya. Buka hanya Arya, Rehan yang saat ini tidak bisa menggerakkan tubuhnya, juga merasakan hal yang sama dan bahkan melebihi dari apa yang Arya rasakan.


"B*jingan kurang ajar.. Aku pastikan membuatmu menderita lebih dari apa yang aku rasakan.. " Batin Rehan kesal mengingat wajah dari laki-laki yang memukulinya


"Istirahatlah.. Aku akan keluar membantu Nevan" Tutur Arya tak ingin membuang-buang waktunya lagi


"Tu-nggu.. Laki-laki yang menghajar ku sempat menyebut Nyonya besar.. Sepertinya ia adalah dalam di balik semua ini" Tutur Rehan mengingat kembali setiap kata dari laki-laki itu

__ADS_1


"Nyonya? Jangan bilang 'dia'?" Mendengar Nyonya besar membuat Arya seketika memikirkan seseorang yang paling mungkin menjadi dalangnya


"Aku juga mencurigainya" Tutur Rehan mengerti karena tanpa berfikir pun ia bisa langsung tahu siapa Nyonya besar yang dimaksud oleh laki-laki yang menghajarnya, lagipula tidak ada satupun yang bisa melakukan hal seperti ini selain wanita itu


__ADS_2