
"Haris.! " Panggil Anggi dengan suara melengking memenuhi seisi ruangan saat ia tanpa sengaja mendapat sebuah informasi penting terkait Rehan
Semua yang mendengar teriakan Angga sontak menghampiri Anggi di ruagannya karena kaget, termasuk Geral dan Haris yang tadinya berada di ruang tamu membahas kondisi Nevan yang tak kunjung sadarkan diri di rumah sakit.
"Apa yang terjadi? Kamu menemukan sesuatu?" Tanya Haris, Ayah Nevan saat tiba di dekat Anggi
"Lihat ini" Ucap Anggi memperlihatkan apa yang baru saja ditemukannya
Haris membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang baru saja di bacanya "D-dia masih hidup?" Tanya Haris tidak menyangka
"Hmm.. Dia masih hidup dan sekarang dia membawa lari putriku" Ucap Anggi menatap Haris serius
"Aku tidak percaya ini, aku sudah mencarinya selama bertahun-tahun, namun ternyata dia berada di dekatku selama ini"
Ayah Nevan meremas keningnya pusing, kesalahan di masa lalunya yang belum sempat ia selesaikan kini menjadi boomerang untuk kehidupan putranya.
"Apa yang akan kamu lakukan? Ini sudah berlalu beberapa hari dan kita masih belum tahu apa yang terjadi pada Reva. Jangan sampai dia berbuat hal yang keterlaluan pada putriku" Tutur Anggi mencemaskan putrinya
"Bagaimana dengan alamatnya kamu menemukannya?" Tanya Geral
"Tidak. Aku tidak menemukan alamatnya. Aku mengetahui ini setelah mendapat informasi dari salah satu temanku" Jawab Anggi
"Kalau begitu ayo keluar, tidak ada gunanya berdiam diri di sini. Lebih baik mengunjungi tempatnya yang dulu untuk mencari informasi yang mungkin akan lebih berguna ketimbang bergantung pada teknologi terus-menerus seperti ini" Ucap Geral mengusulkan karena bagaimana pun Geral lebih berpengalaman saat bekerja di luar ketimbang di ruangan seperti itu
"Aku juga berfikir seperti itu, tubuhku terasa kaku karena setiap hari berdiam disini" Ucap Anggi merenggangkan tubuhnya
"Aku akan bersiap-siap" Sambung Anggi sembari keluar dari ruangan itu
....
Haris yang masih sedikit syok, masih duduk diam di ruangan dengan ditemani oleh Geral.
__ADS_1
"Jadi apa yang sebenarnya terjadi? Aku hanya tahu bahwa kamu mencari seorang anak laki-laki, tapi kamu tidak pernah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi" Tanya Geral meminta penjelasan pada Kakaknya
Haris menghela nafasnya berat karena itu adalah satu-satunya kesalahan yang benar-benar ingin dihapusnya dalam hidupnya.
"Kamu seharusnya mengenal Andre, salah satu bawahan ku dulu. Dia menipuku dan membawa kabur sejumlah uangku. Karena terlalu sibuk, aku menyerahkan masalah ini pada salah satu bawahanku yang lainnya. Namun yang tidak aku duga, ia justru memanfaatkan kesempatan ini untuk bermain-main dengan Andre dan juga Istri dan anaknya"
"Butuh waktu lumayan lama hingga aku benar-benar sadar akan apa yang telah diperbuat bawahan ku. Aku selalu berfikir jika semuanya telah selesai, namun siapa sangka jika ia akan terus-menerus mengganggu dan bahkan mel*cehkan istrinya bahkan setelah Andre meninggal"
Mendengar cerita Haris, membuat Geral menutup mulutnya tak menduga jika ia akan mendengar cerita seperti itu dari Haris.
"Karena itulah, aku memutuskan untuk datang mengunjunginya dan meminta maaf akan apa yang terjadi. Namun aku lagi-lagi terlambat, tepat saat aku tiba, rumah itu sudah habis terbakar api. Selain jasad wanita yang aku duga sebagai istri dari Andre, aku tidak menemukan jasad siapapun lagi. Karena itulah, aku teris-menerus mencari keberadaan anak Andre yang bahkan aku sendiri tidak tahu akan hidup dan matinya" Sambung Haris menunduk menyalahkan dirinya yang menjadi penyebab semua hal itu terjadi
"Dia pasti sangat membenciku.. " Ucap Haris membayangkan Rehan yang selama ini menahan amarahnya selama bertahun-tahun demi menyusun rencana untuk hari ini
"Dia mungkin ingin membunuhmu" Sela Anggi dari arah pintu yang kebetulan mendengar sebagian cerita dari Haris
"Tapi bukankah ini aneh? Jika dia ingin balas dendam, mengapa dia memilih menculik Reva?" Tanya Geral merasakan kejangalan
"Jangan bilang dia menyukai Reva?" Tebak Geral
"Aku pikir seperti itu. Jika tidak, alasan apa lagi yang membuatnya melakukan hal seperti ini"
"Huh.. terlalu banyak kejutan hari ini.. " Ucap Geral ikut menjatuhkan keningnya memikirkan semua informasi yang baru didengarnya itu
Bahkan di umurnya yang sudah setua itu, ketiganya masih dikejutkan akan kejadian seperti itu. Seolah-olah takdir yang tengah mempermainkan ketiganya, dimana kesalahan yang dulu diperbuatnya malah berimbas pada anak-anak mereka.
"Ayo pergi, semakin banyak yang aku tahu, semakin banyak pula aku akan menyesalinya. Jadi ayo pergi sekarang" Ucap Geral tak ingin mendengar apapun lagi
Keduanya hanya mengangguk sembari mengikuti Geral keluar dari ruangan bersiap untuk keluar. Anggi dan Geral memutuskan pergi bersama sementara Haris memilih memanggil Bagas untuk menemaninya.
...***...
__ADS_1
Di sisi lain, Reva yang saat ini sudah tidak bertengkar lagi dengan Rehan menjalani kehidupan sehari-harinya dengan normal. Berbeda dengan sebelumnya, Reva kini mulai mengikuti kata-kata Rehan. Ketimbang terburu-buru kabur, ia memutuskan untuk mengenal seluk beluk rumah itu terlebih dahulu.
Seperti pagi ini, Reva bangun lebih awal dan menghabiskan waktunya di dapur bersama dengan pembantu dan pengawal Rehan yang berada di dapur.
Sama seperti saat berada di rumah Nevan, Reva juga memperlakukan para pengawal itu dengan baik. Dari memintanya meneminya latihan tinju, hingga belajar memasak dari pembantu Rehan.
"Sudah berapa lama kalian bekerja disini?" Tanya Reva penasaran
"Sekitar 6 tahun Non.. "
"Jadi berapa lama kalian mengenal Rehan?" Tanya Reva penasaran
"Dari sejak pemilik rumah ini masih hidup.. " Jawab pengawal itu tanpa sadar
"Pemilik rumah?" Reva mengerutkan keningnya mendengar informasi baru itu
Namun belum sempat pengawal itu menjawabnya, sebuah suara langkah kaki yang perlahan mendekat ke arah ketiganya menghentikan pembicaraan mereka.
"Apa yang kalian bahas?" Tanya Rehan yang baru saja tiba dan melihat ketiganya berkumpul
"Tidak ada apa-apa" Jawab Reva cepat
Rehan menatap pembantu dan pengawalnya sekilas, lalu beralih ke arah Reva "Mau keluar denganku?" Tanya Rehan kemudian
"Keluar? Dari rumah ini?" Tanya Reva mengulang pertanyaan Rehan jika saja ia salah mengartikan ajakan Rehan barusan
"Iya. Kamu tidak mau?"
"Hahah.. Tentu saja mau. Ayo kita pergi, aku sudah lama menantikan hal ini" Ucap Reva segera memegang lengan Rehan tak sabar untuk keluar dari rumah itu
Sudut bibir Rehan naik memperlihatkan senyum kecil di wajahnya saat melihat tingkah menggemaskan Reva yang sudah lama tidak dilihatnya itu.
__ADS_1
Tanpa berlama-lama lagi, Rehan lalu membawa Reva keluar dari rumah itu meski yang ia maksud adalah keluar ke taman rumah itu. Namun karena melihat rekasi Reva, membuat Rehan semakin ingin mempermainkannya sebentar.