Belenggu Cinta, Mafia Kejam

Belenggu Cinta, Mafia Kejam
Cerita Rehan


__ADS_3

Malam harinya, Rehan kembali menemui Reva di kamarnya setelah pertengkaran pagi tadi. Reva masih berbaring murung di kasurnya, matanya benar-benar sembab karena menangis terus-menerus.


"Keluar! " Ucap Reva dingin tanpa bergerak ataupun melihat ke arah Rehan barang sedikitpun


Rehan yang masih tetap sama seperti pagi tadi, memilih untuk diam dan tidak membalas ataupun menghiraukan ucapan Reva. Sebaliknya, Rehan justru duduk di samping kasurnya dengan kaki ditekuk.


Rehan terdiam sejenak, dengan tangan yang sejak tadi memegang sebuah kalung dengan bentuk love.


"Apa kamu sebegitu membenciku? " Tanya Rehan pada akhirnya membuka pembicaraan


"Iya" Jawab Reva singkat tanpa sedikitpun rasa ragu terutama karena perlakuan Rehan selama dua hari ini


Rehan menghela nafasnya, menatap foto yang terselip di kaling berbentuk love itu "Apa kamu tidak ingin mendengar alasannya? Mengapa aku berbuat seperti ini dan menipu semua orang?" Tanya Rehan lirih


Reva hanya terdiam mendengar pertanyaan Rehan. Baginya ia tidak lagi bisa percaya akan apa yang dikatakan Rehan. Fakta bahwa dia menipu dan mengkhianatinya sudah cukup membuatnya enggan untuk percaya padanya untuk yang kedua kalinya.


"Tolong jangan begitu membenciku. Ini pertama kalinya aku begitu tertarik pada seseorang hingga membuatku rela melepas balas dendam yang sudah bertahun-tahun aku susun. Aku bahkan masih membiarkan mereka bernafas dengan lega di luaran sana, bahkan ketika pikiranku setiap saat memintaku untuk membunuh mereka"


"Apa yang sudah kamu lakukan pada Nevan? Apa kamu benar-benar..? " Tanya Reva tak sanggup melanjutkan ucapannya


"Dia mengalami kecelakaan.. Dia dirumah sakit dan saat ini masih belum sadar.. " Jawab Rehan tidak berniat menyembunyikannya lagi


Reva sontak terbangun menatap Rehan yang kini menyandarkan kepalanya di kasur menyaksikan reaksi Reva.


"Aku ingin menemuinya.. Biarkan aku pergi? Hmm? Aku mohon Rehan hiks..!" Pinta Reva memohon, kali ini dengan nada pelan tanpa sedikitpun bentakan seperti sebelumnya

__ADS_1


"Maaf.. Aku bisa memenuhi semua permintannmu. Tapi tidak dengan yang satu ini.. " Tolak Rehan tidak menyukainya


"Aku mohon Rehan. Biarkan aku menemuinya, Rehan hiks.. "


"Maaf Reva.. " Ucap Rehan menggenggam tangan Reva erat


"Aku tidak butuh permintaan maafmu, aku hanya ingin menemuinya" Ucap Reva sedikit berteriak sembari menghempaskan tangan Rehan


"Dia akan baik-baik saja. Dia bukannya akan segera mati. Dia hanya belum sadarkan diri. Aku sudah cukup berbaik hati untuk tidak membuatnya mati saat ini jadi berhenti meminta hal yang tidak masuk akal seperti itu" Ucap Rehan tajam


"Kenapa hiks..? Kenapa kamu melakukan ini? " Tanya Reva duduk tak berdaya


"Kamu benar ingin tahu? Kamu benar ingin mendengar apa yang mereka perbuat padaku? Lebih tepatnya pada ibuku? " Tanya Rehan menatap Reva lirih


"Mereka membunuh Ibuku" Ucap Rehan menahan sesak di dadanya, bayanganya - bayangan saat ibunya berbaring tidak berdaya kembali terlintas di pikirannya


"A-apa maksud kamu?" Tanya Reva menutup mulutnya tak mengerti dengan apa yang didengarnya barusan


"Mereka membunuh Ibuku.. " Sorot mata Rehan berkaca-kaca saat mengatakannya, bibirnya bergetar dengan lidah keluh tak sanggup mengucapkannya


"Aku bisa maklum jika mereka hanya membunuh ayahku karena dia memang pantas mendapatkannya. Tapi kenapa? Kenapa mereka harus memperlakukan ibuku seperti itu. Ibuku bahkan bukan seorang pelacur, jadi mengapa? Mengapa mereka harus berbuat seperti itu pada ibuku? "


Reva hanya diam mendengar kata demi kata yang diucapkan oleh Rehan yang semakin lama ikut membuat dadanya terasa sesak, membuatnya melupakan kondisi Nevan di rumah sakit untuk sesaat.


"Selama 2 tahun aku dan ibuku bekerja untuk melunasi hutang ayahku. Tapi kamu tahu? Bajingan-bajingan itu bukan hanya membawa uang ibuku, mereka bahkan melec*hkannya secara brutal. Tidak cukup dengan melakukan itu, mereka pada akhirnya membunuh ibuku. Satu-satunya orang yang begitu berharga di hidupku direnggut tepat di hadapanku sendiri"

__ADS_1


"Dengan semua itu, apa menurutmu aku akan tetap diam saja membiarkan mereka hidup bahagia sementara ibuku meninggal dalam keadaan begitu menyedihkan seperti itu? Bahkan kematian mereka tidak cukup untuk membalas rasa sakit dan penghinaan yang dirasakan Ibuku"


Tanpa Reva sadari, air matanya jatuh menetes membayangkan rasa sakit yang dirasakan oleh Rehan saat itu. Bahkan meski ia tidak mengetahui kejadian nya secara menyeluruh, ia tetap merasa simpati akan apa yang dirasakannya.


"Maaf.. Tidak seharusnya aku melampiaskan nya padamu" Ucap Rehan menyadari perkataannya dan mencoba berdiri meninggalkan ruangan itu sebelum ia benar-benar lepas kendali


"Tidak.." Reva menarik lengan Rehan mencegahnya untuk pergi "Ceritakan padaku" Pinta Reva ingin mendengar semuanya secara rinci


Rehan lalu duduk kembali di lantai, samping tempat tidur Reva. Duduk bersandar dengan kapala yang masih menunduk berusaha menenangkan hati dan pikirannya yang sejak tadi menahan amarah karena teringat kejadian memilukan itu.


"Aku masih berumur 11 tahun saat Ayahku membawa lari uang majikannya. Dan majikan yang aku maksud adalah Haris Elard Caleis, ayah dari Nevan" Ucap Rehan mulai menceritakannya namun Reva sudah memasang wajah tak percaya akan nama yang baru saja disebut oleh Rehan


Bukan karena Nevan melainkan karena ayahnya. Ia benar-benar tidak menduganya, ia tidak memyangka akan mendengar nama itu dari Rehan. Terutama karena ayah Nevan sangat berbeda dengan apa yang saat ini didengarnya dari Rehan.


"Sulit untuk dipercaya bukan? Sosok orang yang selama ini kamu lihat sangat berbeda dengan apa yang aku katakan. Dimataku dia tidak lebih hanyalah seorang laki-laki dingin yang tidak berperasaan. Bahkan setelah semua kerja keras yang dilakukan oleh ibuku, dia malah membiarkan bawahannya mempermainkan tubuh ibuku"


"Kamu tahu.. Malam itu saat aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, aku bersumpah suatu saat aku pasti akan membalasnya. Membalasnya berkali-kali lipat dari apa yang dirasakan oleh ibuku saat itu. Tapi apa yang aku lakukan sekarang? Bukan hanya tidak membalas dendam ibuku, aku justru bimbang karena perasaanku padamu.. " Ucap Rehan yang bingung akan perasaannya


"Sudah cukup.. " Ucap Reva tiba-tiba menghentikan Rehan dan memeluknya dari belakang "Aku tidak tahu jika kamu se menderita ini.. Maafkan aku.. " Ucap Reva menenangkan Rehan yang saat ini sedikit terisak


"Apa sekarang kamu merasa kasihan padaku?" Tanya Rehan


"Tidak.. Hanya saja punggungku terlihat begitu kesepian. Lagipula, sudah sewajarnya aku memelukmu disaat seperti ini karena aku sudah menganggapmu sebagai kakak angkatku"


Mendengar hal itu, Rehan sontak berdiri melepas pelukan Reva "Sudah ku katakan, aku menyukaimu sebagai seorang wanita. Aku tidak memiliki keinginan untuk menjadi kakak angkatmu" Ucap Regan mengingatkan kembali sebelum beranjak pergi meninggalkan Reva yang saat ini merebahkan tubuhnya bingung dengan semua yang terjadi

__ADS_1


__ADS_2