
"Ada apa? Merasa kecewa?" Tanya Rehan sedikit terkekeh saat melihat reaksi Reva yang kini menatapnya kesal
"Hmm.. Aku benar-benar kecewa. Bukan kah kamu berkata akan membawaku keluar rumah?" Protes Reva tidak terima dengan sikap Rehan yang mempermainkannya
"Aku sudah membawamu keluar, bukankah ini diluar rumah" Ujar Rehan dengan santainya
"Lupakan. Bagaimana mungkin kamu membawaku keluar" Ucap Reva sembari merebahkan kepalanya di meja karena merasa kecewa
"Itu benar. Aku tidak mungkin membawamu keluar, setelah susah payah membawamu kesini" Batin Rehan menatap Reva lirih sembari mengelus rambut Reva
"Tapi sampai kapan kamu akan menahanku di rumah ini?" Tanya Reva lirih
Rehan yang tadinya diliputi rasa bahagia saat menyentuh rambut Reva seketika berubah saat Reva menanyakan pertanyaan itu seolah ia benar-benar tidak ingin berasa disini.
"Kenapa kamu menanyakan hal itu? Apa kamu benar-benar ingin meninggalkanku?" Tanya Rehan
"Aku hanya ingin pulang.. " Jawab Reva masih menyandarkan kepalanya di meja tak ingin mematap Rehan yang ia yakini saat ini tengah menatapnya
"Tidak.. Aku tidak akan membiarkanmu pergi.. Kamu hanya akan tinggal di rumah ini bersama denganku"
"Bagaimana dengan orang tua dan orang disekitarku, apa kamu tidak akan membiarkanku bertemu dengan mereka"
"Aku bisa membawa mereka menemuimu disini"
"Rehan!" Reva kembali meninggikan suaranya, kali ini ia berdiri menatap Rehan serius
"Kenapa? Apa kamu sebegitu bencinya tinggal denganku? Bukankah sudah kukatakan, aku akan memenuhi semua keinginanmu tapi tidak dengan pergi dari rumah ini"
"Mari berhenti.. Aku sedang tidak mood bertengkar denganmu" Ucap Reva berniat pergi
Dengan cepatnya Rehan mencegat Reva dan menarik lengannya yang sontak membuat Reva berbalik ke arahnya.
Rehan memegang rahang Reva membuatnya mendongak menatapnya "Tolong lihat aku juga.. " Ucap Rehan agar Reva merespon perasaannya
"Maaf.. " Tolak Reva memalingkan wajahnya
Namun lagi-lagi Rehan menangkup wajah Reva, mendekatkan bibirnya hingga bersentuhan dengan bibir Reva.
Reva yang begitu syok karena perlakuan tiba-tiba Rehan, sontak mendorong dada Rehan menjauh darinya dan....
__ADS_1
Plak..
Sebuah tamparan mendarat di pipi Rehan. Reva menutup bibirnya kaget tidak menyangka jika Rehan akan melakukan hal seperti itu tanpa seizin nya.
"Re.. "
Baru saja Rehan ingin membela dirinya, Reva sudah terlebih dahulu berbalik meninggalkan Rehan dengan semua rasa kecewanya terhadap Rehan. Perasaan amarah yang tadinya mereda setelah mendengar kisah mengharukan Rehan kembali menyelimuti diri Reva karena perbuatan Rehan yang sudah begitu melewati batas kesabarannya.
"Aih.. Aku bukannya bermaksud seperti itu.. Bagaimana bisa aku sebodoh ini.. " Ucap Rehan merutuki dirinya dan tidak berani mengejar Reva yang mungkin akan semakin emosi jika melihatnya
...***...
Anggi dan Geral yang sebelumnya memutuskan untuk keluar secara langsung mencari informasi dari Rehan kini berada di sebuah bar di pinggir kota, yang berada tidak jauh dari lokasi rumah orang tua Rehan dulunya.
Keduanya duduk di meja bar sembari sesekali mengedarkan pandangannya memeriksa sekitar jika saja keduanya diikuti oleh orang lain.
Barulah saat bartender di bar tersebut menyajikan minumannya, Anggi langsung mengeluarkan selembar foto dari saku bajunya yang tadi sempat dicetaknya. Foto daris sorang anak remaja.
Anggi hanya memperlihatkan selembar foto itu tanpa bertanya, membiarkan bartender itu melihat foto itu dan melihat reaksi yang diperlihatkan nya.
"Apa yang kalian inginkan?" Tanya bartender itu sedikit mengerti maksud keduanya
Anggi lalu menyeringai karena mendapat lampu hijau "Kamu mengenalnya?" Tanya Anggi kemudian
"Kamu tidak berhak mengetahuinya. Cukup jawab pertanyaan kami" Sahut Geral menatap pria itu dingin
"Kalau begitu silahkan pergi" Usir pria bartender itu tak ingin melanjutkan pembicaraan itu lagi
"Berani seka-.. "
"Geral! " Tegur Anggi agar Geral tidak tersulut emosi
"Baiklah. Aku akan diam.. " Ucap Geral memainkan wajahnya tak geram
"Jadi apa yang kamu ketahui tentangnya? Aku hanya ingin mengetahui keberadaannya, karena saat ini dia membawa pergi putriku" Tanya Anggi kembali
"Apa kalian tidak salah, pria ini bukan seseorang yang akan begitu saja melakukan hal seperti itu" Sanggah pria itu
"Aku tidak perduli bagaimana sikap dia saat berada di sekitar mu, yang aku tahu pria ini saat ini membawa pergi putriku. Jadi katakan semua yang kamu tahu, karena aku sudah cukup bersabar saat ini"
__ADS_1
"Sepertinya kalian akan kecewa. Aku memang mengenalnya, tapi sejak beberapa tahun yang lalu dia menghilang"
"Menghilang?"
"Sebenarnya tidak sepenuhnya menghilang karena setiap 6 bulan sekali, ia akan selalu mengirim sejumlah besar uang ke panti asuhan yang berada tak jauh dari tempat ini. Hanya saja, aku sudah tidak pernah lagi bertemu dengannya secara langsung"
"Apa hubungannya dengan panti asuhan itu?"
"Dia berasal dari panti asuhan itu. Orang tuanya meninggal saat ia berumur belasan tahun. Tapi ia hanya tinggal selama beberapa bulan di panti asuhan itu, setelahnya ia hidup di luar dengan identitas yang berbeda"
"Cukup mengesankan untuk anak seumurannya bisa bertahan hidup dan bahkan mencapai sesuatu hal yang bahkan sulit untukku hanya dengan mengandalkan dirinya sendiri" Sambung pria itu terkesan akan perjuangan Rehan
"Siapa yang sedang kamu puji disini.. Dia bahkan berani menculik seorang wanita.. " Seru Geral tak tahan mendengar cerita pria itu
Bahkan jika ia merasa kasihan pada apa yang dialami Rehan saat kecil dulu, ia tetap tidak bisa menutup mata akan perilakunya yang telah berani menyentuh Reva.
"Aku hanya menjawab pertanyaan kalian. Dimataku, dia bukan seseorang yang akan melakukan sesuatu tanpa alasan yang jelas"
"Siapa yang tahu apa yang akan dia lakukan.. " Seru Geral lagi-lagi menyela ucapan pria bartender itu
Pria itu mendengus pelan, ikut kesal dengan sikap Geral "Hanya itu yang aku tahu, selebihnya aku sama sekali tidak mengetahuinya" Ucap pria itu menyerahkan kembali foto remaja Rehan
"Sejak kapan sifat kamu jadi kekanak-kanakan seperti ini" Ujar Anggi tak habis fikir dengan sikap Geral barusan
"Aku sudah cukup bersabar tadi" Ucap Geral
Bukan tanpa alasan Geral berkata seperti itu, karena biasanya ia hanya akan langsung menangkap orang yang ingin dimintainya informasi dan bahkan tanpa ragu menyiksanya hingga ia membuka mulutnya.
"Sudahlah, ayo pergi" Ucap Anggi masuk ke dalam mobil
Namun sebelum Geral masuk ke dalam, seorang wanita datang menghampiri keduanya.
"Tunggu dulu.. Aku memiliki beberapa informasi yang mungkin bisa membantu kalian" Cegat wanita dengan hodie hitam itu
"Siska?" Ucap Geral saat wanita itu membuka tudung hodie nya kebelakang "Kamu masih berani memperlihatkan wajahmu di hadapanku?" Ucap Geral kesal karena sebelumnya Siska yang menculik Regan dan saat itu pula lah semunya bermula
"Aku bisa memberitahukan beberapa informasi pada kalian" Ucap Siska dengan begitu yakinnya tanpa menghiraukan tatapan tajam dari Geral saat ini
"Seberapa yakin kamu akan informasimu? Kamu seharusnya paham dengan sifatku, jika sampai kamu bermain-main denganku, aku pastikan hari ini menjadi hari terakhirmu di dunia ini" Ancam Geral mencengkram dagu Siska kasar
__ADS_1
"Tidak ada salahnya jika kalian mendengarnya terlebih dahulu" Ucap Siska sembari menahan sakit karena cengkraman Geral tadi
"Masuk ke mobil" Perintah Geral saat melihat tatapan serius dari Siska