Belenggu Cinta, Mafia Kejam

Belenggu Cinta, Mafia Kejam
Kakak angkat


__ADS_3

Dua hari berlalu, kondisi Reva di rumah sakit kini perlahan membaik. Meski hal itu hanya kondisi fisiknya saja, karena nyatanya ia masih merasa terpukul. Selain Nevan, Reva tidak banyak berinteraksi dengan orang yang datang, ia memilih untuk menghindar karena tak suka dengan pandangan prihatin dari orang yang melihatnya.


Karena ia sendiri di kamar, Reva memutuskan untuk mengunjungi Rehan yang sudah beberapa hari di rumah sakit namun belum sempat ia kunjungi. Reva meminta bantuan dari seorang suster untuk mengantarnya ke kamar Rehan yang hanya berjarak tiga kamar dari kamarnya.


"Aku bisa sendiri Sus. Suster bisa kembali.. " Tutur Reva saat ia berada di depan pintu kamar Rehan


"Kalau begitu saya pergi" Ucap Suster tersebut


Reva lalu membuka pintu kamar Rehan, lalu masuk ke dalam dengan menaiki kursi roda yang tadi dibantu di dorong oleh Suster.


"Rehann.. " Panggil Reva


Rehan yang tengah menonton TV, segera menoleh ke arah sumber suara dan dilihatnya Reva yang tengah mengendarai kursi rodanya.


"Non.. Non Reva sendiri kesini ughh ?" Tanya Rehan berniat bangun namun gagal karena luka di perutnya yang masih terasa sakit


"Kamu tidak perlu bangun. Aku bisa melakukannya" Ucap Reva sebelum akhirnya tiba di dekat Rehan "Jadi bagaimana keadaanmu? Apa preman itu melukaimu begitu dalam?" Tanya Reva kemudian, menanyai keadaan Rehan yang saat ini di penuhi gips di tangan dan kakinya


"Non Reva bisa melihatnya, kaki dan tanganku dibuat patah olehnya. Beruntungnya, ia tidak mengenai organ vital ku saat menusukku, jika tidak aku mungkin sudah berbaring di dalam tanah saat ini" Ucap Rehan terkekeh, sedikit bercanda karena melihat Reva yang sejak memasuki ruangannya terlihat begitu sedih


"Baguslah, dengan tubuhmu itu aku yakin kamu akan sembuh dalam beberapa bulan" Ucap Reva ikut menghibur


"Setidaknya aku bisa beristirahat cukup lama Non"


"Maafkan aku Rehan... Seharusnya aku menghiraukan peringatan darimu, aku malah bersikap keras kepala dan membuatmu berakhir seperti ini" Tutur Reva penuh sesal


"Tidak Non. Jangan katakan itu, siapapun akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi itu. Non Reva tidak boleh menyalahkan diri sendiri" Ucap Rehan menghibur


"Lagipula, aku yang merasa bersalah saat ini, karena tidak bisa melindungi Nona dengan baik" Sambung Rehan kemudian


Reva tersenyum kecil, Kata-kata Rehan sama persis dengan kata-kata Nevan, mereka saling menyalahkan diri sendiri dan berakhir meminta maaf satu sama lain.


"Sudahlah, berhenti menyalahkan dirimu. Lebih baik kamu fokus memulihkan dirimu" Tutur Reva berusaha bersikap kuat


"Non Reva..?"

__ADS_1


"Jangan melihatku seperti itu. Anggap ini sebagai peringatan dan hukuman untuk sikapku selama ini. Jadi tidak perlu melihatku dengan sorot mata kasihan, aku tidak menyukainya" Tutur Reva merasa muak dengan semua tatapan kasihan dari orang-orang yang bertemu dengannya


"Aku datang kesini hanya untuk berbincang denganmu. Nevan sibuk selama dua hari ini dan aku benar-benar bosan di kamar. Aku pikir kamu juga akan merasakan hal yang sama" Tutur Reva kemudian


Rehan menatap ke arah TV yang masih menayangkan film yang baru di tontonnya, ia memang sedikit bosan beberapa hari ini. Selain menonton TV dan memainkan ponselnya, ia tidak memiliki kegiatan lain selain makan dan tidur.


"Non Reva benar, aku memang merasa bosan akhir-akhir ini" Ucap Rehan mengakui "Seperti ini akan lebih bagus, setidaknya ada kamu disini" Lanjut Rehan dalam hatinya menatap Reva penuh arti


....


"Bagaimana dengan orang tuamu? Apa mereka tahu keadaanmu sekarang?" Tanya Reva penasaran


"Aku ini anak yatim piatu Non. Orang tua ku sudah meninggal" Jawab Rehan menunduk menghel nafas


"Maaf.. "


"Tidak apa-apa Non. Lagipula, hampir sebagian besar pengawal yang bekerja di rumah Tuan adalah yatim piatu, selebihnya karena gaji yang tinggi. Dan aku termasuk dalam yatim piatu, karena itulah aku tidak akan menyesal jika harus mempertaruhkan nyawa seperti ini"


"Aku tidak akan mati semudah itu, masih ada banyak hal yang belum selesai aku lakukan" Lanjut Rehan dalam hatinya


"Kalau begitu, mulai dari sekarang kamu adalah keluargaku sama seperti Kak Bagas dan Kak Arya. Kedepannya tanpa seizinku, kamu tidak boleh membahayakan dirimu" Ucap Reva memutuskan begitu saja


"Mulai sekarang aku akan menganggapmu sebagai kakak angkat ku, jadi tidak perlu memanggilku Non, Nona besar dan apapun itu"


"Tidak Non.. Tuan pasti tidak akan setuju.. "


"Kamu tidak mau?" Tanya Reva memasang wajah kecewanya


"Bu..bukan seperti itu Non.. "


"Kalau begitu lakukan seperti kataku, mulai sekarang kamu adalah Kakak angkat ku. Aku akan memanggilmu Kak Rehan.. ? Tidak..Tidak.. Umur kita hanya berbeda 1 tahun aku akan tetap memanggilmu Rehan" Ucap Reva mengoreksi karena sudah terlalu nyaman dengan panggilan Rehan tanpa embel-embel kak


"Baiklah.. Jika itu kemauan Non Reva" Balas Rehan pada akhirnya menyetujuinya


"Panggil aku Reva"

__ADS_1


"Re-reva.. " Panggil Rehan sedikit ragu


"Tapi aku tidak menginginkan hubungan seperti ini Reva. Ketimbang menjadi kakakmu, aku menginginkan posisi sebagai pasanganmu dan pasti akan aku lakukan di masa depan nanti" Batin Rehan memiliki maksud tersembunyi pada Reva


Selama mengenal Reva, Rehan yang pada awalnya mendekatinya karena Nevan perlahan mulai merasakan perasaan yang berbeda pada Reva. Perasaan yang semakin lama berkembang, membuatnya semakin ingin membuat Reva berada di sisinya.


Namun untuk saat ini, ia akan tetap mengikuti keinginan Reva dan bermain Kakak adek dengannya, sebelum ia benar-benar mengungkapkan keinginannya yang sebenarnya.


....


Setelah menghabiskan waktu yang lumayan lama di kamar Rehan, Reva kembali ke kamarnya saat Nevan datang menghampirinya dan membawanya pulang.


"Apa yang kamu lakukan di kamar Rehan?" Tanya Nevan penasaran sembari menyuapi Reva makan malamnya


"Aku hanya menjenguknya, bagaimanapun ini karena aku, dia jadi seperti itu" Jawab Reva "Dan juga, mulai hari ini dia bukan lagi pengawal ku tapi keluargaku, aku memintanya untuk menjadi Kakak angkat ku" Lanjut Reva kemudian


"Kakak angkat?" Nevan mengerutkan keningnya bingung


"Iya. Kenapa? Kamu tidak setuju?"


"Tidak. Itu terserah kamu. Lagipula Rehan sudah mendapat kepercayaanku, jika tidak aku tidak akan membiarkannya tinggal di dekatmu" Ucap Nevan tidak keberatan


"Kalau begitu kita putuskan seperti itu" Ucap Reva merasa senang


Nevan ikut tersenyum, melihat Reva tersenyum seperti ini sudah cukup untuknya. Karena itulah, ia akan menyetujui apapun keinginannya selama itu tidak bertentangan dengan prinsip hidupnya.


"Ngomong-ngomong bagaimana dengan 'dia'?" Tanya Reva menanyakan kelanjutan dari kasus ibu tirinya


"Aku sudah menyerahkan semua buktinya pada polisi, menjebloskan nya ke penjara bukanlah hal yang sulit. Hanya saja, entah ayahmu akan membantunya atau tidak.. " Tutur Nevan merasa enggan membahas ayah Reva


"Dia pasti akan membantunya, bagaimana pun dia itu istrinya" Ucap Reva sudah menduganya


"Mereka akan bercerai. Aku mendengarnya dari ayahmu kemarin"


"Justru karena mereka akan bercerai. Ayah pasti akan membantunya, sebagai balasan atas perceraian ini"

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Reva memegang wajah Reva dan mengusapnya


"Aku baik-baik saja. Sejak awal, aku memang tidak ingin terlalu berharap padanya" Ucap Reva yang sudah merasa kebal akan sikap ayahnya yang selalu bertentangan dengan keinginannya


__ADS_2