Belenggu Cinta, Mafia Kejam

Belenggu Cinta, Mafia Kejam
Bingung


__ADS_3

Setelah kepergian Anggi ke kamarnya, Reva yang berniat menyusul Ibunya untuk berbicara segera dicegah oleh Nevan yang tiba-tiba menarik lengannya.


"Biar aku yang berbicara dengannya" Ucap Nevan sembari berdiri


"Kamu serius? " Tanya Reva sekali lagi karena menurutnya akan lebih baik jika dia membujuk ibunya dulu


"Iya. Kamu tidak perlu khawatir" Ucap Nevan menenangkan sembari mengelus atas kepala Reva


"Baiklah.. " Balas Reva kembali duduk di samping Ibu Nevan yang kini merangkulnya


...


Nevan lalu naik ke lantai atas menyusul calon ibu mertuanya itu. Berbagai bujukan termasuk alasan sudah dipersiapkan nya di pikirannya. Termasuk rencana permintaan maafnya yang akan dilakukannya nanti.


Tok.. Tok.. Tok..


Nevan mengetuk pintu kamarnya beberapa kali. Hingga dirasanya ada pergerakan di dalam kamar, barulah Nevan berhenti mengetuk dan menunggu ibu Reva membuktikannya pintu.


"Ma.. " Tutur Reva tak tanggung-tanggung memanggil Anggi dengan sebutan 'Mama' sama seperti Reva


"Apa yang kamu inginkan dariku?" Tanya Ibu Reva to the point tak ingin berbasa basi lagi dengan calon menantu anya itu


"Aku ingin bicara dengan Mama, apa aku boleh masuk?" Tanya Nevan berusaha tetap bersikap sopan


"Aku merasa begitu tua dipanggil seperti itu olehmu. Tapi terserah padamu" Ucap Anggi kembali masuk ke dalam dan duduk di kursi "Masuklah" Sambungnya mengizinkan


"Mari langsung ke intinya, aku tahu alasan kamu datang kesini. Tapi aku sama sekali tidak berniat mengubah keputusanku ini" Ucap Ibu Reva dengan tegasnya


Nevan duduk di kursi yang satunya dengan raut wajah tak kalah seriusnya "hmm.. Aku paham maksudnya. Mama bukannya menolak pernikahan kami melainkan ingin menundanya hingga Reva kuliah" Ucap Nevan mengerti sepenuhnya maksud dari calon ibu mertuanya ini

__ADS_1


"Hanya saja, aku tidak tahu apa Mama pernah memikirkannya. Tapi saat ini, baik aku maupun Reva, kami berdua sama-sama terlibat dalam dunia hitam. Meski Reva tidak terlibat secara langsung sepertiku tapi tetap saja ia masih terlibat didalamnya"


"Apa yang ingin kamu katakan sebenarnya?"


"Reva memiliki banyak musuh di luar sana. Selama dua tahun ini, Reva secara tidak sadar membuat beberapa musuh yang entah ia sadari atau tidak. Bahkan jika dia tidak bertemu denganku, ia akan tetap terlibat dengan mereka. Aku berfikir jika dia akan tetap aman jika terus berada di sisiku"


"Justru karena dia memiliki banyak musuh, dia seharusnya lebih berdiam diri saat ini dan fokus pada kuliahnya dari pada memikirkan pernikahan kalian"


"Aku hanya mau kalian menundanya sampai Reva lulus kuliah. Apa hal itu begitu sulit untuk kamu lakukan?" Sambung Ibu Reva menegaskan kembali maksudnya


"Bahkan jika dia bisa tetap aman saat berada di sisimu, tapi bukankah saat ini dia juga sudah berada disisimu. Apa kau hanya akan melindunginya jika Reva sudah menjadi istrimu?"


"Tentu saja tidak Aku pasti akan terus melindunginya" Ucap Nevan tulus


"Jadi apa yang kamu khawatirkan? Aku bahkan belum meminta penjelasan akan perbutanmu sebelumnya yang membuatnya hamil dengan kehendakmu sendiri"


Nevan terdiam. Semua yang dikatakan Ibu Reva memang benar adanya. Alasan terbesar ia ingin menikah dengan Reva hanya satu yaitu karena sifat posesif nya. Reva masih memiliki waktu satu tahun sebelum lulus dan dalam jangka waktu yang panjang itu, akan ada banyak hal yang bisa terjadi. Karena itulah, pilihan terbaiknya saat ini adalah menikah dengan Reva dan mengikatnya untuk tetap berada di sisinya.


"Jika seperti itu, mengapa tidak mencoba menyelesaikan semua urusanmu. Reva sudah memberitahuku, jika kamu memutuskan untuk pensiun setelah menikah. Jadi mengapa tidak menyelesaikannya sembari menunggu Reva lulus kuliah. Bukankah kalian akan lebih merasa tenang jika menikah tanpa harus memikirkan musuh" mu setelahnya" Ucap Ibu Reva memberi saran


"Baiklah Ma. Aku akan memikirkannya" Ucap Nevan lirih


"Hmm.. Bicarakan itu dengan Reva. Berikan dia pengertian karena aku yakin dia akan datang menemuiku setelah ini dan lagi, aku masih belum terbiasa dengan panggilanmu itu.. "


"Bahkan aku yang menyebutnya juga merasa sedikit canggung" Bukan hanya Anggi, bahkan Nevan ikut merasa aneh memanggil Ibu Reva dengan panggilan Mama karena penampilannya yang masih begitu muda


"Kalau begitu aku pergi Ma.. " Ucap Nevan pamit masih dengan panggilan tersebut


"Hmm.. Pikirkan baik-baik semua kata-kataku" Ucap Ibu Reva sebelum menutup kembali pintu kamarnya setelah Nevan keluar

__ADS_1


...***...


Dari sejak berbicara dengan Ibu Reva tadi, Nevan tidak berhenti memikirkan apa yang harus dilakukannya. Jika ia benar-benar memilih untuk menunda Pernikahannya, entah apakah ia bisa menahan sikap posesif nya nanti jika melihat Reva dekat dengan teman satu kampusnya. Tapi di sisi lain, Kata-kata Ibu Reva justru semakin mengganggunya, karena tak ada satupun dari apa yang dikatakannya salah.


"Ini sudah yang kesekian kalinya kamu menghela nafasmu Nevan.. Sebenarnya apa yang kalian bicarakan tadi siang?" Tanya Reva mulai kesal dengan Nevan yang sejak tadi diam merenung dan hanya berakhir menghela nafasnya


"Biarkan aku memikirkannya terlebih dahulu, aku masih belum membuat keputusan" Ucap Nevan kembali memikirkam keputusan apa yang akan dilakukannya


Reva yang sudah mulai geram melihat sikap Nevan, meraih bantal di belakangnya lalu memukul tubuh Nevan kesal.


"Kalau kamu belum memutuskan, maka seharusnya kamu membicarakannya denganku. Bukan hanya kamu yang akan menikah Nevan.. " Pekik Reva masih memukul tubuh Nevan dengan bantal di tangannya


Nevan lalu menangkap bantal tersebut dan merebutnya lalu menyimpannya kembali di belakangnya.


"Aku bingung.. Apa yang dikatakan ibumu memang benar, seharusnya aku menyelesaikan masalahku terlebih dahulu. Begitupun denganmu, kamu harus fokus pada kuliah mu. Dengan begitu kita akan lebih tenang jika melaksanakan pernikahan kita kelak dan tidak perlu memusingkan masalah lain" Ujar Nevan pada akhirnya membicarakannya


"Itu berarti kita harus menunggu setahun lagi?" Tanya Reva memperkirakan


Nevan lalu mengangguk mengiyakan "hmm, sampai kamu lulus kuliah"


"Jadi apa keputusanmu?"


"Aku akan menyetujuinnya. Tapi dengan satu syarat, kamu jangan sampai tergoda dengan laki-laki lain nantinya" Pinta Nevan menarik tubuh Reva masuk ke dalam pelukannya


"Seharusnya aku yang berkata seperti itu.. Kamu tidak boleh tergoda dengan wanita lain saat sedang bekerja" Ucap Reva memukul pelan dada Nevan


"Itu tidak akan terjadi. Kamu harus merasa bersyukur karena menemukan lelaki yang setia sepertiku" Ucap Nevan serius meski terdengar seperti gombalan


"Tidak ada yang tahu bagaimana kedepannya. Lagipula, siapa yang tahu jika suatu saat kamu akan tergoda dengan wanita seksi di kantormu kala itu" Ucap Reva mengungkit soal rekan kerja Nevan

__ADS_1


"Aku bahkan tidak begitu mengingat wajahnya, bagaimana mungkin aku tertarik dengannya. Lagipula, tidak ada yang secantik dirimu"


"Sudah cukup.. Ayo turun ke bawah, semuanya pasti sudah menunggu di meja makan" Ucap Reva menghentikan pembahasan itu


__ADS_2