
"Nevan.. Kita meninggalkan pesta begitu saja, apa ini akan baik-baik saja?" Tanya Reva teringat kembali akan pesta tadi
"Tidak masalah. Rangga yang akan mengurus sisanya. Selain itu, kamu sebaiknya memikirkan tentang diriku ketimbang pesta itu" Tutur Nevan yang kini menindih Reva
"Bantu aku.. " Pinta Nevan mel*mat bibir Reva kasar
"Hmmuphh.. Nevan.. Aku tidak bisa bernafas.. " Ucap Reva mengatur kembali nafasnya yang tidak beraturan
"Ughh.. Apa aku benar-benar tidak ada pilihan lain?" Tanya Reva yang langsung diangguki oleh Nevan
"Setelah malam ini, jangan pernah berfikir untuk menyentuh gadis manapun.. " Tutur Reva pada akhirnya pasrah menyerahkan dirinya seutuhnya pada Nevan
"Aku yang seharusnya berkata seperti itu. Kamu milikku satu-satunya. Jangan pernah sekali pun berfikir untuk bersama dengan pria manapun" Balas Nevan sebelum kembali ******* bibir Reva
Berbeda dengan tadi, Nevan kini melakukannya dengan lembut tanpa paksaan sedikitpun. Bahkan Reva sedikit demi sedikit membalas l*matannya dan mengikuti permainannya.
Tanpa berlama-lama lagi, tangan Nevan dengan cepat melepas gaun yang dikenakan Reva, hingga tubuhnya polos tanpa sehelai kain yang menutupi.
"Berhenti menatapku.. " Pinta Reva menutup wajahnya malu karena Nevan yang sejak tadi menatapnya
"Kamu benar-benar terlihat begitu s*ksi, Sayang... " Bisik Nevan di telinga Reva, dengan panggilan sayang yang baru pertama kali di sebutnya
"N-nevan berhenti bermain-main.. Ughhh.. " Ucap Reva tak kala Nevan memainkan jemarinya dengan gerakan lambat
"Panggil aku Sayang.. " Perintah Nevan menatap Reva
Deru nafas Reva sudah tidak beraturan lagi. Tubuhnya merintih dan mel*ngguh meminta untuk dija*mah. Entah setan apa yang merasukinya, hingga ia bahkan lebih berga*rah ketimbang Nevan yang masih dalam pengaruh obat.
"Sa-yang... Aku mohon.." Pinta Reva kemudian
Nevan yang mendengarnya kini tersenyum puas. Lalu kembali melanjutkan aksinya.
"Tahan.. Ini akan sedikit sakit.. " Ucap Nevan sebelum menc*um b*bir Reva untuk mengalihkan perhatiannya
"Akhh.. Eghh.. " Air mata Reva perlahan jatuh, tak kalah Nevan memaksa masuk ke dalam liang kenikm*tannya yang kini berdenyut sakit dan perih
Meski ia tidak yakin akan pilihannya ini, Reva tetap tidak akan menyesalinya karena telah memberikan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya untuk Nevan, Laki-laki yang saat ini begitu dicintainya itu.
Keduanya menikmati dan menghabiskan malam yang dingin ini di atas ranjang panas yang dipenuhi peluh keringat dan suara-suara rintihan yang kian memenuhi seisi ruangan itu.
(Gitu aja guys😁.. Mau dipanjangin, tapi pihak NT nggak pernah lolosin kalau terlalu v*lgar)
__ADS_1
...***...
Keesokan paginya, Reva baru terbangun saat jam di dinding menunjukkan pukul 10 pagi dan itupun karena Nevan yang sejak tadi memainkan rambutnya berulang kali mengecup tangannya.
"Kamu bangun.. " Ucap Nevan dengan senyum cerah dan mata berbinar
Reva hanya mengangguk, balik menatap Nevan yang hanya membuat wajah dan telinganya memerah kembali karena teringat kejadian panas semalam.
"Aku akan mandi.. " Tutur Reva berniat turun dari kasur namun tepat setelah ia bergerak rasa nyeri perlahan dirasakannya dari bagian sel*ngk*ngannya
"Ssstttt... " Ringis Reva menahan sakit
"Jangan bergerak.. Biar aku membantumu.. " Ucap Nevan ikut turun dari kasur lalu menggendong Reva masuk ke dalam kamar mandi
"A-apa yang kamu lakukan?" Tanya Reva kaget saat Nevan ikut melepas boxer yang dikenakannya
"Tentu saja mandi.. " Jawab Nevan "Memang apa yang kamu pikirkan?" Tanya Nevan mendekatkan wajahnya
"T-tapi aku juga mau mandi.. " Ucap Reva sedikit panik
"Kalau begitu bareng.. Lagipula aku sudah melihatnya semalam jadi kamu tidak perlu malu lagi.. " Ujar Nevan menyeringai
Dengan terpaksa Reva pasrah mengikuti keinginan Nevan dan membiarkannya membantunya mandi mengingat ia yang masih belum bisa bergerak sesuka hatinya.
...***...
"Bagaimana dengan Siska?" Tanya Reva pada Rangga
"Sesuai permintaan anda Nona.. " Jawab Rangga menyerahkan ponselnya yang kini berisi beberapa foto dan video yang memperlihatkan Siska dan ketiga gigolo semalam
"Apa yang akan kamu lakukan dengan ini?" Tanya Nevan
"Menyimpannya. Lagipula yang semalam sudah cukup kejam untuknya, tapi jika dia berniat macam-macam lagi, aku tidak akan segan-segan menyebarluaskan video ini" Tutur Reva geram
"Gadis pintar.. Tapi kamu tidak harus melakukannya langsung, serahkan pada Rangga, biar dia yang melakukannya" Pinta Nevan khawatir
"Iya. Aku pasti akan menggunakan Rangga dengan baik.. " Ucap Reva dengan smirk nya
Rangga mendengarnya hanya bisa menelan saliva tak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Reva. Jika Nevan terbiasa membunuh para musuhnya, maka lain halnya dengan Reva yang terbiasa mempermainkan musuhnya terlebih dahulu.
"Tunggu.. Ini bukan jalan pulang ke rumahmu? " Tanya Reva baru menyadarinya saat melihat ke luar jendela mobil
__ADS_1
"Iya. Kita akan ke rumah keluargaku.. " Jawab Nevan
"Hah? Untuk apa? Dalam keadaan seperti ini? Kamu jangan bercanda?" Tanya Reva merasa buruk jika harus bertemu dengan keluarga Nevan saat ia bahkan tidak bisa berjalan dengan normal
"Aku tidak bercanda. Aku sudah mengabari orang tuaku tadi pagi" Ucap Nevan santai
"Laki-laki ini.. Aarrgghhh.. " Batin Reva merutuki Nevan yang masih dalam keadaan bugar
...***...
Tak berselang lama kemudian, mobil Nevan perlahan memasuki pekarangan Kediaman Keluarga Caleis. Terlihat beberapa pengawal yang bertugas menjaga beberapa titik di kediaman tersebut namun tidak seketat di rumah Nevan.
Reva berulang kali menghela nafasnya gugup. Terakhir kali, ia sudah meninggalkan kesan buruk saat ibu Nevan memergokinya dan sekarang ia malah datang dalam keadaan seperti itu. Sementara penyebab semua ini, hanya tersenyum tanpa sedikit pun rasa bersalah.
"N-nevan.. Apa lagi yang kamu lakukan? Cepat turunkan aku.. " Pinta Reva mencoba berontak saat Nevan tiba-tiba menggendongnya ala brodal style saat turun dari mobil
Beberapa pelayan dan pengawal yang melihatnya termasuk Rangga hanya tersenyum melihat keduanya.
"Nevaann.. Aku malu.. " Ucap Reva meremas pakaian Nevan erat menahan malu
"Bukankah kamu tidak bisa berjalan.. Jadi biarkan aku menggendongmu" Ucap Nevan
"Ini juga karena kamu yang terlalu berlebihan semalam.. " Balas Reva
"Oh.. Jika aku tidak salah ingat, bukankah kamu yang memintanya lagi.. Sst.. " Ucap Nevan terhenti saat Reva mencubit punggungnya agar segera menghentikan ucapannya
"Kalian sudah tiba.. " Sela Ibu Nevan dari arah ruang tamu yang kini menghampiri keduanya
"Iya Ma.. " Jawab Nevan
"Cepat turunkan aku.. " Pinta Reva yang pada akhirnya diikuti oleh Nevan
"Halo tante.. " Sapa Reva tersenyum hangat meski dengan rasa malu
"Salah.. Kamu harus memanggilku Mama.. " Ucap Ibu Nevan mengoreksi
"I-iya tante.. Ehh.. Mama.. " Ucap Reva
"Gitu dong, ayo duduk. Mama punya banyak hal yang mau dibicarakan" Ucap Ibu Nevan meraih lengan Reva
Namun lagi-lagi Nevan menghalangi keduanya "Maaf Ma, kalian bisa berbincang nanti malam. Reva masih perlu istirahat" Tutur Nevan mengedipkan matanya
__ADS_1
Ibu Nevan yang mengerti maksud dari kedipan anaknya, segera membiarkan Nevan membiarkannya pergi "Oh.. Kalau begitu cepat bawa Reva istirahat.. " Tuturnya membiarkan
"Oh my god.. Sepertinya aku benar-benar akan kehilangan rasa malu di rumah ini.. " Batin Reva menepuk jidatnya saat Nevan kembali menggendongnya naik ke lantai atas di kamarnya