
"Reva? Apa benar ini kamu?" Tanya Nevan tak kuasa menahan tangisnya
"Aku benar-benar ingin berbicara lebih lama denganmu, tapi karena keadaan kita tidak bisa berlama-lama. Hanya masalah waktu hingga Rehan datang ke kamarku"
Nevan mengepalkan tangannya erat saat mendengar nama Rehan "Aku pasti akan membunuhnya saat bertemu nanti" ucap Novanto penuh amarah
"Tidak. Kamu tidak boleh membunuhnya, jadi tahan amarahmu" Sanggah Reva
"Kenapa kamu membelanya?"
"Aku akan menjelaskannya saat bertemu nanti. Jadi kapan kamu akan menjemputku?"
"Besokk. Tapi jika kamu ingin, aku bisa berangkat nanti malam"
"Tidak. Lakukan seperti yang sudah kamu rencanakan. Aku akan mencoba untuk menarik perhatian Rehan jadi lakukan dengan hati-hati, karena di sekeliling rumah ini dipenuhi kamera CCTV"
"Tidak apa-apa. Karena cara yang akan aku lakukan besok sedikit ekstrim. Jadi kamera CCTV itu sama sekali tidak berpengaruh untukku"
"Apa maksudmu?" Tanya Reva bingung
"Kamu tidak perlu khawatir. Kamu hanya perlu duduk diam dan menungguku. Selain itu, bagaimana keadaanmu? Aku sangat merindukanmu?"
"Aku baik-baik saja" Jawab Reva lirih
"Yah.. Aku akan mengetahuinya saat kita bertemu nanti" Ucap Nevan yang tidak begitu percaya dengan kata baik-baik saja dari mulut Reva
"Aku benar-benar baik-baik saja, aku masih bisa menahannya. Jadi sebelum aku lepas kendali, cepatlah datang. Aku akan menunggumu" Ucap Reva untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya menutup panggilannya
Nevan yang masih ingin berbicara lebih lama lagi, hanya bisa menghela nafasnya panjang dengan raut wajah yang kini cemberut layaknya seorang anak kecil.
.....
Setelah berbicara dengan Reva, Nevan langsung menghubungi Rangga untuk segera bersiap-siap menjalankan rencananya.
__ADS_1
Di sisi lain, Reva yang kini selesai menghubungi Nevan sedikit merasa lega karena masih diberi kesempatan untuk bisa berbicara dengan Nevan karena ia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya.
"Apa yang harus aku lakukan dengan ponsel ini?" Gumam Reva menggigit jarinya berusaha berfikir keras
Hingga kemudian, pandangannya tertuju pada bagian atas kloset. Sama seperti yang pernah dilihatnya di film, ia lantas membuka penutuo bagian atas kloset itu.
"Seperti yang aku duga, meski ini sedikit kerrrassss.. " Ucap Reva berusaha membukanya dengan sekuat tenaga
Meski ia tidak yakin dengan tempat itu, ia hanya bisa pasrah seraya berharap agar Rehan tidak mengetahuinya. Dan karena itu pulalah, Reva sengaja membawa garpu masuk ke dalam wc.
Satu-satunya hal yang ada di pikirannya saat ini, yang pastinya akan mengalihkan perhatian Rehan adalah dengan menusuk pergelangan tangannya sendiri.
Reva memposisikan garpu itu agar tidak mengenai nadinya, jika saja ia terlalu ceroboh dan malah mencelakai dirinya sendiri.
Reva mengatur nafasnya berusaha menenangkan dirinya, diikuti hitungan yang sedari tadi digumamkannya. Dan barulah pada hitungan ketiga, Reva benar-benar menusuk pergelangan tangannya.
"Aaarrrggggggggghhhhh.... " Reva berteriak sekeras mungkin
Ia memang sengaja untuk berteriak agar memancing keributan, namun tetap saja rasa sakit dan nyeri kini menjalar di seluruh tubuhnya. Khususnya karena garpu yang digunakaknya sama sekali tidak runcing, yang membuat Reva semakin merasakan rasa sakit hingga garpu itu benar-benar menancap di tangannya.
"Ini benar-benar sakit.. Seharusnya aku memakai kaca beling.. " Gumam Reva pelana sedikit menyesali keputusannya karena memilih garpu
Di tengah rasa sakit yang dirasakannya, pintu kamar mandi itu perlahan diketuk dari luar. Terlihat jelas perasaan panik dan khawatir, dari gagang pintu yang sejak tadi bergerak tak beraturan.
"Rasanya aku benar-benar mengantuk.. " Gumam Reva mulai berbicara sembarangan tak kalah kedua matanya perlahan tertutup karena pengaruh dari darah di pergelangan tangannya yang sedari tadi mengalir
Bersamaan dengan itu, pintu kamar mandi akhirnya terbuka tepat setelah Reva benar-benar memejamkan matanya setelah berusaha menahan rasa sakit dan nyeri itu.
"Reva.. " Panggil Rehan dengan raut wajah paniknya
Regan dengan cepat mengangkat tubuh Reva keluar dari kamar mandi dan membawanya ke kasurnya.
"Panggil Dr.Dimas sekarang.. " Ucap Rehan memberi perintah dengan nada tajam
__ADS_1
Salah seorang bawahannya yang membantu mendobrak pintu tadi, segera berlari menghubungi Dr. Dimas yang kebetulan masih berada di rumah itu karena Rehan yang tidak memperbolehkannya keluar sebelum Reva benar-benar sembuh.
....
Seraya menunggu Dr. Dimas datang, Rehan segera merobek kemejanya, dan mengikatnya di pergelangan Reva agar darahnya berhenti mengalir terus.
"Dimana dia? Apa sebenarnya yang dia lalukan? Menatap begitu lama" Pekik Rehan tak sabar karena Dr. Dimas tak kunjung datang
"Apa sebenarnya yang kamu pikirkan, bagaimana bisa kamu terus-menerus melukai dirimu seperti ini" Ucap Rehan tak tahan melihat luka di tubuh Reva yang lagi-lagi bertambah
"Aaarrgghhh.. " Rehan mengacak-acak rambutnya kesal lalu berdiri dan berbalik berniat keluar untuk mencari Dr. Dimas
Namun tepat disaat ia berbalik, Dr. Dimas masuk dengan raut wajah khawatir selayaknya dokter yang khawatir akan pasiennya.
"Apa yang terjadi? Bukankah sudah kukatakan untuk bersikap hati-hati" Tanya Dr. Dimas segera memeriksa luka Naura
"Aku tidak tahu. Aku hanya membiarkannya di kamar, siapa yang tahu jika dia akan menusuk dirinya sendiri di kamar mandi"
"Gila.. Dia benar-benar gila sama seperti dirimu. Dia hanya seorang gadis, tapi dia memiliki luka sebanyak ini ditubuhnya" Geram Dr. Dimas semakin tidak mengerti dengan orang-orang yang sengaja menyakiti dirinya sendiri seperti itu
"Dia benar-benar gadis yang mengerikan. Membayangkan kulitku ditembus dengan pisau bahkan membuatku merasa merinding, dan dia malah menggunakan garpu yang tumpul seperti ini? Ckckck.. " Dr. Dimas berucap seraya memperhatikan garpu yang baru saja digunakan oleh Reva
Bahkan meskipun ia seorang dokter, ia tetap merasa ngeri akan apa yang diperbuat Reva saat ini.
"Kamu harus benar-benar extra merawatnya mulai sekarang. Bisa jadi saat kamu berbalik, ia sudah menempatkan garpu itu di lehernya.. " Ucap Dr. Dimas mengingatkan
"Jaga omongan kamu Dimas.. " Ucap Rehan memperingatkan untuk tidak melewati batas
"Baiklah. Aku hanya sekedar mengingatkan" Ucap Dr. Dimas tak ingin terlalu menyulut emosi Rehan "Dia akan baik-baik saja. Ia hanya kehilangan banyak darah, jadi berikan obat ini secara teratur saat dia sadar nanti" Sambung Dr. Dimas menyerahkan kertas berisi daftar obat yang harus diberikan pada Reva
Dr. Dimas lalu pergi meninggalkan ruangan itu. Begitu pun dengan Rehan yang ikut keluar dan menemui beberapa bawahannya yang masih berjaga di lair kamar tersebut.
"Perketat penjagaan di kamar ini. Jangan biarkan dia sendiri, awasi semua pergerakannya" Perintah Rehan jika saja Reva sadar nanti
__ADS_1
"Baik Tuan" Balas para bawahan itu seraya menundukkan kepalanya