
Geral dan Anggi kini berada di salah satu restoran yang berada tak jauh dari hotel Anggi. Sejak di mobil tadi, Geral berulang kali bertanya akan apa saja yang diingat Anggi namun Anggi sama sekali tidak menjawabnya karena malu.
"Makanlah... Sampai kapan menatapku terus" Tegur Anggi karena Geral yang sejak tadi tidak menyentuh makanannya dan malah menatap Anggi terus menerus
"Kalau begitu katakan apa yang kamu ingat malam itu? Aku benar-benar penasaran sekarang" Ujar Geral pantang menyerah
"Apa kamu tidak merasa malu membahasnya?" Tanya Anggi dengan wajah dan telinga yang sudah memerah menahan malu jika mengingat kejadian malam itu
"Tidak sama sekali. Karena hal ini penting untuk masa depan aku.. " Kekeh Geral serius
Anggi menghela nafasnya panjang, jika sudah seperti ini Geral tidak akan menyerah hingga ia mendapat apa yang ia inginkan.
"Oke. Aku hanya mengingat saat aku menciummu. Sebelum atau sesudah hal itu, aku sama sekali tidak mengingatnya" Jawab Anggi pada akhirnya
Mendengar jawaban dari Anggi, Geral menghela nafasnya lega karena hanya itu yang diingat oleh Anggi.
"Kenapa kamu menghela nafas seperti itu? Apa ada yang kamu rahasiakan dariku?" Tanya Anggi merasa curiga
"Tidak ada. Memang benar kalau malam itu kita berciuman. Hanya itu. Tidak lebih. Aku sama sekali tidak berbuat hal yang berlebihan selain menciummu. Itu saja, jadi kamu tidak perlu khawatir" Ucap Geral menjelaskan
"Hanya saja.. Aku sedikit berharap jika bisa mengingat percakapan kita malam itu" Sambung Geral, mengingat malam itu Anggi yang pertama kali berinisiatif bukak dirinya
"Sepertinya hubungan persahabatan sudah seharusnya diakhiri" Tutur Anggi yang sontak membuat Geral menatapnya bingung
"A-apa maksud kamu?" Tanya Geral bingung
"Kita sudah berciuman. Dan hal seperti itu tidak dilakukan dalam persahabatan, karena itulah hubungan persahabatan ini sebaiknya diakhiri" Tutur Anggi menjelaskan maksud kata-katanya barusan
"Tidak.. Aku tidak mau dan tidak akan pernah setuju. Bagaiaman bisa kamu mendorongku pergi begitu saja" Tolak Geral tak setuju
"Kamu beneran tidak setuju? Aku baru saja memberimu kesempatan untuk mengejarku, tapi kamu malah menolaknya dan memilih melanjutkan persahabatan ini. Kuharap kamu tidak menyesalinya" Tutur Anggi sebelum bangkit dari kursinya berniat pergi setelah menghabiskan makanannya
Geral yang masih duduk diam mencerna ucapan Anggi, sontak berdiri saat pikirannya kembali dan segera menghampiri Anggi.
"Kamu serius kan dengan kata-kata kamu barusan? Aku beneran bisa ngejar kamu? Anggiii?" Tanya Geral bergelayutan di lengan Anggi
__ADS_1
"Bukankah kamu tidak setuju.. "
"Salahkan dirimu karena tidak menjelaskannya. Karena sekarang aku tahu, maka aku akan benar-benar mengejarmu mulai sekarang. Sebaiknya kamu mempersiapkan dirimu" Tutur Gerak kemudian dengan rait wajah penuh percaya dirinya membuat Anggi hanya memggelengkan kepalanya melihat tingkah Geral yang dianggapnya lucu
"Terserah. Lakukan sesukamu, mungkin aku akan benar-benar berubah pikiran" Tutur Anggi tersenyum simpul menatap Geral
Meski ia tidak tahu keputusann ini benar atau salah. Anggi hanya bisa berharap yang terbaik untuknya. Tidak ada salahnya memberi Geral kesempatan mengingat ia sudah mengenalnya sejak dulu. Dan fakta bahwa ia masih menaruh perasaan terhadapnya, cukup membuat Anggi tergerak.
Geral yang tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya, tidak bisa berhenti tersenyum dari sejak keduanya meninggalkan restoran hingga keduanya tiba di hotel.
...***...
Di kediaman Nevan...
Reva yang sudah memiliki janji dengan Rehan sebelumnya. Kini menepati janjinya dan menemani Rehan melakukan terapi di taman rumah Nevan. Keduanya ditemani oleh Regan yang kebetulan datang berkunjung untuk bertemu dengan Reva.
Rehan yang tengah fokus dengan terapinya, sementara Reva yang tengah sibuk bermain dengan Regan sembari menikmati buah yang baru saja di bawakan oleh pembantu tadi.
"Kak Reva seharusnya sedikit mengalah terhadapku.. " Protes Regan saat kalah bermain game
"Tapi tetap saja, Kak Reva harus sedikit mengalah. Kita bahkan baru mulai bermain dan aku sudah kalah.. "
"Oke-oke.. Kita lakukan sekali lagi.. " Tutur Reva kembali memulai permainan itu
Regan yang kesal, hanya bisa pasrah dan kembali memainkan gamenya. Namun belum 10 menit keduanya memainkannya, layar laptop nya sudah menghitam dengan tulisan Kalah.
"Ahh.. Kak Reva nggak seru.. Masa sama bocil, nggak bisa ngalah.. " Ucap Regan ngambek dengan raut wajah cemberut
"Padahal aku sudah cukup mengalah-nya.. Sepertinya memang kamu yang perlu belajar lagi.. " Balas Reva
"Kalian berdua sudah cukup berantemnya.. Regan mending main sama aku" Tutur Rehan menengahi keduanya sembari duduk di kursi dengan dibantu oleh terapinya
"Kamu udah selesai terapinya?" Tanya Reva yang memang sejak tadi fokus pada gamenya, membuatnya tidak memperhatikan Rehan sama sekali
"Iya. Katanya hari ini sudah cukup. Lagian aku sudah bisa berdiri sendiri.. " Jawab Rehan sembari meraih laptopnya bersiap untuk bermain dengan Regan
__ADS_1
Regan yang kembali bersemangat karena tidak sabar bermain dengan Rehan kembali memasang wajah cemberut saat ia sekali lagi dikalahkan oleh Rehan sama seperti Reva tadi.
Reva yang menonton keduanya, kini tertawa ngakak "Bukankah sudah kukatakan Regan, kamu seharusnya berlajar kembali. Bahkan Rehan bisa menang darimu hahah.. " Ejek Reva tertawa
"Kaaakkk... "
"Oke.. Oke.. Kakak berhenti ketawa, nanti malam biar aku ajarin lagi.. " Ucap Reva maaih terkekh kecil
"Deal. Ingat untuk datang ke kamarku" Ucap Regan mengingatkan karena kebiasaan Reva yang terkadang suka lupa, terutama jika Nevan sudah bersama dengannya
"Iya. Nanti aku datang. Sekarang ayo masuk ke dalam.. " Ucap Reva bangkit berdiri lalu membantu Regan duduk di kursi rodanya, sebelum masuk ke dalam rumah
...***...
Jam di dinding menunjukkan pukul 7 malam, saat Reva selesai mandi begitupun dengan Nevan yang kini berbaring di kasur membaca laporannya.
"Kamu kalau ngantuk, tidur duluan. Aku mau ke kamar Regan" Tutur Reva sebelum pergi
"Regan? Dia disini?" Tanya Nevan yang tidak mengetahui kedatangan adik bungsunya karena terlalu sibuk bekerja
"Hmm.. Tadi siang dia datang. Aku sudah janji akan mengajarinya bermain game.. " Jawab Reva memganggukkan kepala
"Dasar bocah menyebalkan... " Gumam Nevan geram karena Regan yang tak pernah absen menyita waktu Reva saat datang berkunjung kerumahnya
"Aku pergi.. " Ucap Reva untuk terakhir kalinya, sebelum keluar dari kamarnya meninggalkan Nevan yang hanya mendumel kesal sembari membaca laporannya kembali
....
Reva lalu menuju ke kamar Regan yang juga berada di lantai dua, hanya berjarak dua kamar dari kamar miliknya dan juga Nevan.
"Regaann.. " Panggil Reva langsung membuka pintu kamar Regan setibanya disana
"Masuk kak.. Aku masih bermain " Ucap Regan tanpa mengalihkan pandangannya barang sedikitpun dari komputernya
Reva lalu masuk kedalam dan duduk di samping Regan menyaksikannya bermain. "Kamu akan kalah jika terus bermain seperti itu" Tutur Reva lalu menggantikan Regan bermain, yang hanya dibiarkan oleh Regan ketimbang kalah dalam gamenya
__ADS_1
*Maaf yah, kalau rada gaje partnya.. soalnya lagi kekurangan ide buat nyambung alurnya😌