Belenggu Cinta, Mafia Kejam

Belenggu Cinta, Mafia Kejam
Harapan


__ADS_3

Dari sejak pagi tadi, Nevan dan Reva menghabiskan waktunya berkeliling di kota Grindelwald dengan mengendarai sepeda. Menikmati suasana alam pegunungan yang begitu asri yang sangat bertolak belakang dengan kehidupan di perkotaan yang dipenuhi asap polusi di udara akibat kendaraan.


Keduanya kini duduk di salah satu bangku di taman kota itu, berniat menikmati bekal yang sempat dibuat oleh Nevan pagi tadi karena permintaan dari Reva. Bekal sederhana dengan sedikit hiasan diatasnya. Menambah kesan romantis diantara keduanya.


"Sejak kapan kamu jadi seromantis ini?" Tanya Reva tersenyum manis menatap isi bekal Nevan


"Aku memang selalu seromantis ini, hanya saja kamu yang terlalu tidak peka" Balas Nevan


"Salahkan dirimu sendiri yang selalu bersikap mesum.. " Balas Reva yang hanya dicengiri oleh Nevan


"Aaaa.. " Pinta Nevan membuka mulut Reva agar ia bisa menyuapi nya


"Hhhmm.. " Reva mengangguk-nganggukkan kepalanya terlena dengan rasa masakan Nevan yang enak "Kamu juga harus mencobanya, ini benar-benar enak.. " Ucap Reva berganti menyuapi Nevan


"Sejak kapan kamu belajar masak? Melihat karaktermu itu, sepertinya sangat tidak mungkin kamu rela menghabiskan waktumu di dapur" Tanya Reva penasaran karena dirinya sendiri yang hanya bisa membuat beberapa masakan yang mudah dan itupun tidak seenak masakan Nevan


"Justru karena sifatku inilah yang membuatku tidak gampang memakan masakan orang lain. Aku memiliki begitu banyak musuh di luar, aku tidak tahu kapan dan dimana aku bisa berjumpa dengan mereka. Jadi tidak ada salahnya belajar untuk memenuhi keperluan sendiri tanpa merepotkan orang lain. Karena selain keluarga aku tidak pernah benar-benar mempercayai orang lain"


"Kamu pernah mempertimbangkan untuk berhenti? Jujur saja, meski tidak sebanyak dirimu. Aku tetap memiliki beberapa musuh di luar karena terlalu sering terlibat dengan Kak Arya dan Kak Bagas. Karena itulah aku selalu bertindak dengan hati-hati dan itu benar-benar melelahkan" Keluh Reva membayangkan kehidupannya selama dua tahun ini


"Aku akan berhenti jika kamu setuju menikah denganku. Aku sudah sejak lama memikirkannya, ketimbang menjalani kehidupan yang suram dan membahayakan diri sendiri, aku berfikir untuk menjalani kehidupan pernikahanku di tempat yang seperti ini bersama istri dan anakku nanti"


"Rasanya aku akan menangis.. " Lirih Reva dengan mata berkaca-kaca karena ucapan dari Nevan yang begitu menyentuh hatinya


"Tapi.. Aku masih memiliki beberapa musuh di luar sana.. Kehidupan seperti ini hanya akan terwujud jika aku selesai berurusan dengan mereka. Karena itulah, aku berharap kamu bisa sedikit bersabar sebelum aku bisa mengabulkannya"


"Bukan hanya kamu yang memiliki masalah, aku juga masih memiliki beberapa urusan dengan keluargaku yang belum terselesaikan. Jadi, untuk kedepannya kita harus saling membantu dan mendukung satu sama lain.. "

__ADS_1


"Hmm.. Kita bisa menyelesaikannya bersama.. " Balas Nevan lalu merangkul bahu Reva


"Apa menurutmu Ibuku juga hidup seperti ini? Menikmati kehidupan sendiri tanpa gangguan dan masalah dari orang lainnya" Tanya Reva tiba-tiba teringat ibunya yang entah berada di mana saat ini


"Mungkin.. Tapi Reva, tindakan ibumu saat ini hanyalah tindakan pelarian.. Bahkan jika dia hidup ditempat yang tentram seperti ini, ia akan tetap teringat akan anak perempuan satu-satunya yang ia tinggal begitu saja. Entah ia merasa kesepian ataupun menyesali perbuatannya saat itu, karena bagaimana pun dia itu seorang ibu" Tutur Nevan mengutarakan pendapatnya karena jika itu dirinya ia pasti akan merasa seperti itu saat meninggalkan orang yang begitu dicintainya


"Apapun itu, aku pasti akan menemukannya dan membuatnya berlutut meminta maaf di makam Nenek" Tutur Reva masih memendam amarah akan kejadian tahun itu


"Jangan terlalu terbawa emosi okay? Ada banyak hal yang tidak kita ketahui dari kejadian itu. Jadi sebelum kamu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi tahun itu jangan terlalu terbawa emosi okay?" Ujar Nevan menasehati Reva sama seperti yang dilakukan oleh orang tuanya saat berurusan dengan pamannya


"Hhmm.. Aku akan berusaha.. " Ucap Reva mengangguk mengerti


"Ayo pulang sebelum cuaca semakin panas.. " Ucap Nevan membereskan kotak bekalnya setelah memperhatikan terik matahari yang semakin panas


...***...


Wanita ini tak lain adalah Siska. Sehari setelah kejadian di hotel sebelumnya, seseorang mengiriminya pesan untuk bertemu di bar ini dengan menggunakan ancaman videonya dengan ketiga gigolo sebelumnya.


Selain mengajak bertemu, orang ini meminta Siska untuk menahan dirinya untuk tidak langsung balas dendam pada Nevan khusunya Reva yang menjadi dalang utama atas kejadian yang menimpanya.


Meski pada awalnya ia benar-benar tidak setuju dan marah, namun pada akhirnya ia tetap menurut setelah melihat videonya. Dan mengikuti semua permintaan dari orang tersebut.


......


Setelah menunggu hampir setengah jam, pintu ruangan tersebut akhirnya terbuka dari luar menampilkan sosok laki-laki bertubuh tegap dengan setelan hoodie hitam yang pastinya disengaja untuk menutupi identasnya.


Tudung hoodienya benar-benar menutupi hampir seluruh wajahnya membuat Siska hanya bisa melihat bibirnya terutama karena pencahayaan dari ruangan itu yang sedikit remang membuatnya semakin sulit melihat keseluruhan wajahnya.

__ADS_1


"Sepertinya kamu menungguku cukup lama.. " Ucap pria itu sembari duduk di depan Siska dengan kaki menyilang


"Baguslah jika kamu mengetahuinya, aku sudah hampir setengah jam menunggumu disini" Jawab Siska dengan nada songongnya selama ini


"Jadi apa yang kamu inginkan dariku?" Tanya Siska masih dengan nada khas memerintah nya


Pria itu terdiam sejenak sebelum akhirnya bangkit dan menghampiri Siska, meraih dagunya dan mencengkeramnya keras.


"Acckkk.. " Ringis Siska menahan sakit


"Kamu tidak dalam posisi dimana kamu bisa memerintahku dan bersikap layaknya tuan putri karena saat ini ini kamu tidak lebih dari seorang ****** sampah tanpa sedikit pun harga diri. Jadi jaga sikapku saat berada dibadapanku. Ngertii.. !" Ancam pria itu kasar


"K-kamu?" Siska sontak terkejut saat matanya bertatapan langsung dengan pria dihapannya


Sorot mata tajam penuh intimidasi dengan rahang mengeras, sangat berbeda dengan sosok yang pernah dijumpainya.


"A-aku mengerti. Aku tidak akan bersikap seperti itu lagi" Ucap Siska segera karena rasa takut dan ngeri


Pria itu menghempas kasar dagu Siska membuatnya terlempar ke sudut sofa. Siska meringis sembari memegangi kedua wajahnya yang kini memerah dan terasa begitu nyeri.


"Untuk sekarang aku mau kamu menjauh dan tidak melakukan tindakan apapun. Biarkan mereka berdua menikmati hari-hari yang damai ini untuk sementara waktu" Tutur Pria itu kembali duduk seolah tidak terjadi apa-apa barusan


"Iya. Aku akan mengikuti permintaanmu selama aku bisa membalas mereka"


"Jika sudah waktunya, aku pasti akan mewujudkannya. Jadi ingat baik-baik, sebelum aku menghubungimu jangan pernah berfikir untuk balas dendam karena jika sampai kamu melakukannya, aku sendiri yang akan berurusan denganmu" Ucap Pria itu lagi-lagi dengan tatapan tajam mengintimidasi nya sebelum pergi meninggalkan Siska di ruangan itu


Siska hanya bisa menghela nafasnya lega setelah kepergian dari pria itu "Kamu membesarkan harimau yang ganas di kandangmu Nevan.. " Ucap Siska menertawai ketidaktahuan dari Nevan

__ADS_1


__ADS_2