
Tepat setelah Arya pergi memeriksa alamat yang diberikan oleh Siska. Ponsel Geral tiba-tiba berdering, layar ponselnya memperlihatkan nama Haris, Ayah Nevan.
"Nevan sudah sadar.. " Ucap Haris dari seberang tanpa basa-basi lagi
"Aku segera ke rumah sakit" Balas Geral lalu memutus panggilan telepon itu
"Ada apa?" Tanya Anggi menatap Geral bingung
"Nevan sudah sadar" Jawab Geral merasa sedikit lega mendengar kabar barusan
"Kalau begitu ayo cepat ke rumah sakit"
"Kurung dia, jangan biarkan dia pergi dari rumah ini" Perintah Geral pada bawahannya, yang hampir melupakan keberadaan Siska
"Bagaimana bisa kalian seperti itu, aku datang kesini bukan untuk menjadi tahanan kalian. Lepaskan aku..! " Ujar Siska berusaha memberontak namun tetap percuma karena kedua tangannya di tahan oleh dua orang pria yang cukup berotot
Siska dibawa keduanya ke sebuah ruangan di bangunan belakang yang khusus digunakan oleh Nevan untuk mengurung tahanannya.
....
Sementara Geral dan Anggi segera bergegas menuju ke rumah sakit dengan perasaan campur aduk karena Nevan yang sudah beberapa hari terakhir ini berbaring tak sadarkan diri.
Butuh waktu hampir 30 menit untuk keduanya menempuh perjalanan dari rumah Nevan dengan kecepatan maksimal Geral.
Keduanya langsung menuju ke kamar Nevan yang berada di lantai 4, salah satu kamar VIP di rumah sakit tersebut, mengingat lantai 4 yang memang di khususkan untuk pasien VIP.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Geral tepat saat ia masuk ke dalam kamar bertuliskan nomor satu itu
Terlihat Ibu Nevan yang kini memegang tangan Nevan dengan Ayah Nevan yang juga menatap lega dari samping.
"Dia akan baik-baik saja setelah menjalani proses pemulihan lebih lanjut. Bagaimana pun, dia memiliki fisik yang bagus, tidak akan memakan waktu yang lama baginya untuk bisa kembali beraktivitas normal" Ucap Dr. Dani setelah memeriksa keadaan Nevan barusan
"Hanya saja aku tidak yakin dia akan menerima proses pemulihan ini, bukankah begitu?" Sambung Dr. Dani menatap Nevan yang memang sedari tadi menatapnya
"Bagaimana dengan Reva?" Tanya Nevan dengan suara rendah namun tetap memiliki penekanan disetiap katanya
"Dia masih belum ditemukan. Tapi kami baru saja mendapat informasi tentang lokasi Rehan" Jawab Geral tidak berniat menyembunyikan apapun dari Nevan
__ADS_1
"Tidak bisa.. Aku harus mencarinya, berikan aku obat pereda rasa sakit, aku sendiri yang akan mencarinya" Pinta Nevan tepat seperti yang dipikirkan oleh Dr. dani barusan
"Tidak bisa. Kamu bahkan baru sadar kembali, bagaimana mungkin aku mengirimmu ke tempat berbahaya seperti itu"
"Aku tidak perduli, Reva pasti sangat menderita, dia menbutuhkanku"
"Ikuti permintaannya, berikan dia obat itu" Sahut Anggi menatap Dr. Dani
Dr. Dani hanya bisa menghela nafas panjang, lalu keluar dari ruangan itu untuk mengambil obatnya.
"Anggi, apa yang kamu lakukan sekarang. Dia baru saja sadar Anggi.. " Tegur Ayah Nevan tidak setuju
"Memangnya kenapa jika dia baru sadar, dia sendiri yang memintanya" Ucap Anggi tidak perduli
"Tidak bisa. Aku tidak setuju, kamu baru saja sadar. Kamu tidak boleh bertindak gegabah lagi" Ucap Ibu Nevan khawatir
"Maaf Ma.. Tapi aku tidak mau duduk diam di rumah sakit tanpa bisa melakukan apapun"
"Bukankah ada ayah kamu, ada Geral, ada Arya dan Bagas yang saat ini masih mencari keberadaan Reva"
...
Pintu kamar kembali terbuka, dengan Dr. Dani yang kini membawa sebotol obat dengan suntikan.
"Tunggu, biarkan aku memeriksanya" Cegat Nevan tepat sebelum Dr. Dani menyutiknya
Dr. Dani langsung menatap Anggi, keduanya saling memberi isyarat satu sama lain.
"Pegang dia.. " Pinta Anggi dengan cepat menahan lengan Nevan begitu pun dengan Geral dan Harus yang bergerak begitu saja tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi
"Lepas! Apa yang kalian lakukan? Aku harus pergi mencari Reva" Ucap Nevan berusaha berontak
"Lakukan itu saat kamu sudah sembuh. Suntik dia sekarang.. " Ujar Anggi yang langsung dilaksanakan oleh Dr. Dani
"Daniel.. Berhenti.. " Seru Nevan menatap Dr. Dani tajam
"Aku tahu bagaimana perasaanmu, tapi soal Reva sebaiknya serahkan pada yang lainnya. Pasien hanya harus berdiam di rumah sakit. Dan audha menjadi tugasku untuk merawatmu bukannya mengirimmu ke tempat berbahaya seperti itu" Ucap Dr. Dani tidak perduli lagi dengan Nevan yang kini emosi hingga memanggil Namanya secara lengkap seperti itu
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan sebenarnya? " Tanya Ibu Nevan tidak mengerti
"Tante tidak perlu khawatir. Yang baru aku suntik kan hanyalah obat penenang, ia akan tertidur selama beberapa jam" Jawab Dr. Dani diikuti oleh Nevan yang kini mulai kehilangan kesadarannya
"Woah kalian berdua, sejak kapan kalian merencanakannya?" Tanya Geral tidak menyangka
"Aku hanya asal menebak, bagaimana pun aku ini seorang dokter Paman. Aku tidak mungkin berbuat hal seperti itu pada pasien yang baru sadarkan diri dari komanya" Jawab Dr. Dani yang lebih tidak menyangka jika tebakannya benar
"Itu benar.. Kalian harus cukup cerdik untuk bisa menangani orang seperti Nevan " Sahut Anggi sembari duduk di sofa dengan santainya
...***...
Di sisi lain, Arya bersama dengan Bagas dan juga Rangga kini tiba di sekitar lokasi yang diberitahukan oleh Siska sebelumnya.
"Kamu yakin disini?" Tanya Bagas kurang yakin karena jalan yang dilalui ketiganya semakin masuk ke dalam hutan
"Aku yakin. Aku sudah bertanya pada penduduk tadi, memang benar jika ada rumah dengan pagar yang tinggi di sini" Jawab Arya yakin
"Kalau begitu kalian lanjut mencarinya, aku akan kembali ke tempat semua dan mencari CCTV" Ujar Bagas berniat membagi tugas
Arya dan Bagas hanya mengangguk menyetujui, lalu kembali melanjutkan pencarian dengan diikuti 2 pengawal lainnya agar tidak begitu mencolok.
....
Beberapa saat kemudian, salah satu pengawal yang bersama dengan Arya tiba-tiba mendapatu sebuah jalan yang cukup rahasia yang ternyata mengarah ke sebuah mansion. Ia dengan cepat langsung berlari ke arah Arya untuk memberi tahu kabar tersebut.
"Tuan disana ada sebuah mansion " Tutur pengawal itu menunjuk jalan yang dilaluinya tadi
Arya dan Rangga dengan cepat berlari ke arah yang ditunjuk pengawal itu. Dan benar saja, terdapat sebuah mansion dengan tembok tinggi menjulang yang selalu memang sengaja dibuat untuk menutupi akses dunia luar.
"Ini persis seperti yang dikatakan siska Sebelumnya" Ujar Bagas memperhatikan pagar dinding yang menjulang tinggi mengeitari rumah didalamnya
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?"
"Ayo pergi. Kita tidak bisa bertindak gegabah disini, lagipula aku sangat yakin jika disekitar rumah itu terdapat banyak CCTV yang mengawasi" Ucap Arya bersikap tenang di situasi itu
Mereka lalu meninggalkan tempat itu, menyusul Bagas yang saat ini tengah mengumpulkan CCTV yang mengarah ke tempat itu.
__ADS_1