
"Huh... Kemana lagi dia pagi-pagi sudah menghilang?" Ujar Reva saat terbangun dan mendapati Nevan yang sudah tidak berada di sampingnya
Reva lalu berjalan ke kamar mandi, mencuci wajahnya dan menyikat gigi. Lalu turun ke lantai satu jika saja Nevan berada di lantai satu.
Namun setibanya di bawah, ia tidak menemukan siapa-siapa selain sebuah sarapan, roti bakar dan susu di meja yang pastinya disiapkan oleh Nevan sebelum pergi.
"Apa dia benar-benar harus seperti ini saat sedang berlibur denganku.. " Gerutu Reva geram sembari meraih roti bakar itu dan mengigitnya lalu mengambil susu itu, membawanya ke lantai atas
Reva duduk di teras kamarnya, menghabiskan roti bakar itu sembari menikmati pemandangan pegunungan Alpen yang terlihat begitu indah di pagi hari.
Sesaat kemudian, Reva tertidur tak lama setelah ia menutup kedua matanya. Mengabaikan rasa dingin yang perlahan merasuk ke dalam tubuhnya.
....
Sekitar jam 2 siang Nevan kembali pulang ke rumah selepas mengunjungi restoran yang didatanginya kemarin. Ia segera bergegas ke kamar, tak sabar untuk mengajak Reva keluar.
"Bagaimana bisa dia tidur di luar dengan pakaian setipis ini... " Ujar Nevan segera mengangkat tubuh Reva, memindahkannya ke kasur tak lupa menyelimuti nya karena tubuhnya yang terasa dingin saat ia mengangkatnya tadi
Nevan lalu ikut berbaring di samping Reva. Menatap lekat-lekat wajah kekasihnya tampak sedikit pucat. Namun bukannya membiarkannya, Nevan justru berniat mengusik tidur Reva dengan mencium seluruh wajah Reva sembari tersenyum simpul.
Reva yang perlahan merasa tidak nyaman. Membuka kedua matanya, dengan pemandangan pertama yang ia lihat adalah Nevan yang tengah tersenyum manis ke arahnya.
"Berhenti menggangguku Nevan.. Aku benar-benar mengantuk sekarang.. " Lirih Reva memijat pelipisnya yang terasa pening karena sejak kemarin ia benar-benar tidak bisa tertidur pulas
"Maaf .. Mau keluar nggak?" Ajaknya dengan sorot mata penuh harap agar Reva menyetujuinya
Namun sialnya, Reva justru berbalik membelakangi Nevan sebagai tanda penolakan "Nggak. Aku mau lanjut tidur" Tolak Reva acuh
"Reva.. Sayang.. Baby.. Honey.. Aku mohon.. Keluar yah.. Aku mohon.." Bujuk Nevan dengan berbagai panggilan yang dipikirkannya saat ini
"Tau ah.. Nyebelin.. " Gerutu Reva turun dari kasur dan masuk ke dalam kamar mandi
Nevan yang melihatnya hanya bisa menghela nafas berat melihat kekasihnya yang saat ini tengah ngambek. Bagaimana mungkin tidak, selama seharian ia pergi tanpa memberitahu alasannya sama sekali.
....
Pintu kamar mandi lalu terbuka, Nevan yang sejak tadi masih berbaring di kasur menatap ke arah jam. Butuh waktu setengah jam hingga Reva keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Katanya mau keluar, ngapain masih disitu? Atau nggak jadi? " Tanya Reva masih dengan nada ketusnya
"Sabar Nevan.. Sabar.. " Batin Nevan memgusap dadanya untuk tetap sabar menghadapi kekasihnya
Nevan lalu masuk ke dalam kamar mandi, sementara Reva mengenakan pakaian yang ternyata sudah disiapkan oleh Nevan tadi, tak lupa memakai make up seadanya agar wajahnya tidak terlihat begitu pucat.
Reva menatap pantulan dirinya di cermin, memperlihatkan tubuhnya dengan balutan dress hitam.
"Kamu terlihat begitu cantik.. " Puji Nevan dengan tangan yang kini melingkar di pinggang Reva
"Huh.. " Reva hanya memutar bola matanya tidak perduli
Entah mengapa, sejak kemarin Reva benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya seolah-olah ia tengah datang bulan padahal tidak. Karena itulah, bahkan meskipun ia kesal dengan Nevan ia memilih untuk diam tidak perduli karena takut terlalu berlebihan mengeluarkannya seperti saat ini.
"Aku akan siap-siap.. " Ucap Nevan setelah menc*um ceruk leher Reva lalu melepas rangkulan tangannya
...***...
Setelah selesai, Nevan mengajak Reva ke mall layaknya pasangan-pasangan muda lainnya yang tengah berkencan.
"Jadi kita cuma ke mall? Trus ngapain pake ginian, ribet tauu.. " Ujar Reva mendumel kesal terutama di bagian kakinya yang terasa berdenyut tak nyaman
"Hmm.. Yaudah. Sekarang kita kemana?" Tanya Reva menurut
"Kita nonton, aku udah pesan tiket sebelum kesini" Jawab Nevan kembali tersenyum simpul lalu menggenggam tangan Reva, menuju ke bioskop
Selama di perjalanan hingga masuk ke dalam bioskop, Nevan berulang kali menarik perhatian para gadis yang ditemuinya. Membuat Reva lagi-lagi hanya bisa mendumel kesal.
Tidak ada yang bisa dilakukannya, tubuh Nevan tinggi tegap dengan wajah tegas dan bola mata kecoklatan. Pembawaannya yang penuh wibawa membuat siapapun yang bertemu dengannya, sangat tidak mungkin untuk tergoda.
"Berhenti menatapnya.. Kamu sudah memiliki seseorang disisimu dan kamu masih tidak bisa menjaga pandanganmu itu?" Seru Reva pada wanita di depannya yang sejak tadi berulang kali mencuri pandang pada Nevan
"Ccckkk.. " Wanita itu
"Kenapa? Kamu suka diliatin kek gitu? " Tanya Reva beralih pada Nevan yang kini menatapnya bingung
"Dia benar-benar sensitif hari ini.. " Batin Nevan hanya bisa menghela nafasnya pasrah
__ADS_1
.....
2 jam berlalu...
Keduanya keluar dari bioskop dengan Reva yang kini merengganggkan tangannya setelah tertidur pulas di dalam.
"Nevan.. Aku lapar, ayo makan sesuatu.. " Pinta Reva bergelayut di lengan Nevan, bersikap manja bertolak belakang dengan sifatnya yang ketus tadi
"Baiklah" Ujar Nevan setuju karena ia memang berencana membawanya ke restoran
Keduanya lalu keluar dari mall dan menuju ke restoran yang dikunjungi Nevan kemarin.
"Masih jauh? " Tanya Reva memperhatikan ke luar jendela mobil sejak tadi
"Nggak. Ini sudah sampai.. " Jawab Nevan berbelok masuk ke halaman sebuah restoran bintang lima
"Ini bukannya restoran yang didatanginya kemarin?" Batin Reva mengingat kembali nama restoran yang sempat dicarinya kemarin
"Ayo masuk.. " Ajak Nevan menggandeng lengan Reva masuk ke dalam restoran yang kemudian disambut oleh seorang pria dengan name tag manager di seragamnya
"Silahkan.. " Ucap pria itu mempersilahkan dengan sopan dan menuntun keduannya ke lantai dua
"Sejak kapan Manager menyambut tamu ? Dan Ini kenapa sepi gini?" Tanya Reva heran saat memperhatikan seisi restoran yang benar-benar kosong tanpa satu pun pengunjung selain keduanya
"Ini beneran restoran? Kok sepi?" Bisik Reva menarik bahu Nevan
Demi melamar Reva, Nevan sengaja menyewa satu restoran agar ia bisa dengan leluasa merencanakan acara lamarannya tanpa gangguan dari orang lain.
Meski ia tidak yakin, bagaimana reaksi Reva karena seharian ini sikap Reva benar-benar aneh. Ia lebih sensitif dan mudah tersinggung bahkan untuk hal sekecil apapun.
....
"Silahkan Tuan.. Nyonya.. " Ujar pria itu mempersilahkan, saat keduanya tiba di lantai dua
"I.. Ini..? " Reva menatap Nevan kaget saat melihat seisi ruangan itu
Hanya ada satu meja di tengah-tengah ruangan, dengan hiasan bunga bertuliskan "Will you marry with me" di dinding ruangan. Suasana yang begitu romantis dengan hanya lilin yang menerangi ruangan itu.
__ADS_1
"Jadi karena alasan ini, kamu pergi kemarin?" Tanya Reva kini mengerti akan alasan Nevan meninggalkannya seharian
Nevan lalu mengangguk, mengeluarkan sebuah kotak dari saku celananya "Will you marry with me?" Tanya Nevan menekuk lututnya dilantai sembari membuka kotak tersebut, memperlihatkan sebuah cincin berlian di tengahnya