
Setelah kembali dari rumah sakit, Ayah Reva langsung memberitahu keputusannya pada Kristin mengenai perceraiannya dengan Ibunya.
"Jadi maksud Papa. Papa mau cerai sama Mama. Disaat kita bahkan tidak tahu bagaimana keadaan Mama sekarang" Protes Kristin menatap emosi pada Ayah Reva
"Cukup Kristin. Papa tidak akan berubah pikiran, bahkan jika Papa membantu Ibu kamu, itu hanya akan semakin membuat Nevan marah. Jadi mari hentikan pembahasan ini, karena keputusan Papa sudah bulat"
"Papa nggak boleh seperti itu, bagaimana dengan aku dan Kakak?"
"Papa yang akan mengurus kalian. Jadi sampai kamu bisa mengurus dan menghidupi dirimu sendiri, Papa yang akan menanggung semua kebutuhanmu" Jawab Ayah Reva sebelum pergi meninggalkan Kristin di ruang tamu
Kristin jatuh terduduk di sofa. Tangannya mengepal erat penuh emosi "Ini semua gara-gara Reva. Jika saja dia tidak pulang ke rumah, semua ini tidak akan terjadi" Geram Kristin
"Berhenti menyalahkan Reva, seharusnya kamu introspeksi diri sendiri" Tegur sebuah suara dari arah pintu masuk
Kristin lalu berbalik ke arah pintu, yang ternyata merupakan Gavin yang baru saja tiba dan kebetulan mendengar penuturan nya tadi
"Gavin? Kenapa kamu datang malam-malam begini? " Tanya Kristin merasa aneh
Tak pernah sekalipun Gavin datang menghampirinya terlebih dahulu, jika bukan ia yang datang dan menghubunginya mungkin Gavin akan selalu bersikap cuek terhadapnya.
"Aku ingin membahas sesuatu denganmu, tapi sebelum itu tolong panggil Paman untuk turun ke sini" Tutur Gavin serius
Perasaan Kristin mulai tidak enak. Meski begitu ia tetap menyuruh pembantu rumahnya untuk memanggil ayahnya turun ke bawah.
....
Tak berselang lama kemudian, Ayah Reva kembali turun ke bawah dan duduk di dekat Gavin bingung dengan kedatangannya yang begitu tiba-tiba.
"Apa yang terjadi? " Tanya Ayah Reva penasaran
"Sebelumnya aku minta maaf Paman, Kristin. Kedatanganku malam ini adalah untuk membatalkan pernikahan kita" Ucap Gavin serius
"Gavin.. Apa maksud ucapanmu?" Tanya Kristin kaget
"Aku serius. Aku ingin membatalkan pertunangan ini" Tutur Gavin masih dengan raut wajah serius
"Boleh Paman tahu alasan kamu membatalkannya? Ini bukan karena apa yang terjadi pada Ibu Kristin kan?" Tanya Ayah Reva secara baik-baik
"Tidak Paman. Sejak awal aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada Kristin, jika bukan karena desakan dari orang tuaku, aku tidak akan pernah menerima perjodohan ini. Dan jika harus jujur, aku sudah mencintai seseorang"
__ADS_1
"Reva.. Orang yang kamu cintai adalah Reva bukan?" Ucap Kristin menertawai nasibnya
"Apa benar seperti itu?" Tanya Ayah Reva memastikan
"Iya Paman. Orang yang aku cintai memang Reva. Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali dan dari pertemuan itu aku menyadari jika aku memiliki perasaan terhadapnya"
"Tapi Reva sebentar lagi akan menikah"
"Aku tahu itu Paman. Tapi perasaan tidak bisa di paksa. Bahkan jika aku tidak bisa bersama dengannya, aku juga tetap tidak bisa bersama dengan Kristin karena aku tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya. Karena itulah, aku mohon tolong batalkan perjodohan ini" Tutur Gavin kini bertekuk lutut dan menundukkan kepalanya memohon dihadapan Ayah Reva dan Kristin
"Tidak, cepat berdiri... "
"Tidak Paman, aku akan tetap seperti ini sampai Paman menyetujui nya" Kekeh Gavin keras kepala
"Kamu benar-benar akan seperti ini?"
"Kristin, kamu tahu perasaanku dengan jelas. Sejak awal aku sudah memberitahumu bahwa aku tidak memiliki perasaan apapun terhadapmu.. "
Ayah Reva tertegun diam. Pernikahan yang bahkan dimulai karena cinta bisa berakhir buruk. Apalagi jika pernikahan yang tidak memiliki cinta didalamnya.
"Bangunlah.. Paman akan berbicara dengan orang tuamu"
"Cukup Kristin. Tak ada gunanya memaksakan perasaanmu pada seseorang yang tidak mencintaimu. Kamu hanya akan berakhir menderita dan melukai dirimu sendiri" Ucap Ayah Reva menasehati meski Kristin tidak menganggapnya seperti itu
"Kalian jahat.. " Kristin menghentakkan kakinya kesal lalu berlari naik ke kamarnya meninggalkan keduanga
"Bangunlah.. Cepat atau lambat dia akan mengerti dengan keputusanmu ini" Tutur Ayah Reva
"Maaf Paman.. " Ucap Gavin merasa tidak enak dengan semua keributan yang diperbuatnya malam ini
"Tidak apa-apa. Ini bukan salah kamu, seharusnya sejak awal kami menanyakan pendapat kalian bukannya memutuskan secara sepihak seperti itu" Ucap Ayah Reva
"Kalau begitu saya pamit Paman.. " Ucap Gavin berpamitan sebelum pergi
Ayah Reva kembali terduduk di sofa, menyandarkan tubuhnya dengan tangan naik memijat pelipisnya yang terasa pening. Satu-persatu masalah datang tanpa henti.
...***...
Keesokan paginya..
__ADS_1
Reva yang masih berada di rumah sakit, kini bersiap-siap keluar. Ia kini telah selesai berganti pakaian pasiennya dengan dibantu oleh Nevan.
"Aku benar-benar ingin mandi sekarang.. " Gerutu Reva merasa lengket karena beberapa hari ini ia sama sekali tidak mandi
"Lakukan saat tiba di rumah nanti.. " Ucap Nevan mengecup kening Reva sebelum mengenakan topi di kepalanya
"Sekarang ayo berangkat, kita akan telat jika terlalu lama disini" Tutur Nevan kemudian
Keduanya lalu keluar dari rumah sakit, bersiap untuk pergi ke bandara mengingat jam penerbangan mereka adalah jam 8 pagi, yang mana tersisa setengah jam lagi untuk mereka tiba di bandara.
Setibanya di luar rumah sakit, keduanya bertemu dengan Ayah Reva yang ternyata datang menjemput mereka.
"Biarkan Papa yang mengantar kalian ke bandara" Pinta Ayah Reva menghampiri keduanya
Reva menatap Nevan yang hanya diam, sebelum akhirnya mengangguk menyetujui "Baik Pa.. " Jawab Reva lalu masuk ke dalam mobil diikuti oleh Nevan yang hanya diam tak berniat bersua
Selama di perjalanan, tak ada satupun yang bersuara di dalam mobil membuat suasana di dalam mobil terasa begitu akhward dan canggung.
....
20 menit kemudian, mobil akhirnya tiba di bandara. Reva yang sejak tadi merasa bosan kini menghela nafas lega dan segera keluar dari mobil. Tak pernah ia sangka, jika akan ada hari dimana ia akan sangat begitu canggung saat bersama dengan Ayah kandungnya.
Reva menatap Ayahnya yang terlihat ragu-ragu menatapnya. Tanpa pikir panjang, Reva langsung memeluk tubuh Ayahnya, bahkan meskipun ia merasa kecewa, ia tetap adalah ayah kandungnya "Tubuh Papa sedikit kurus. Pergilah ke dokter jika Papa punya waktu. Dan juga tidak perlu ragu-ragu untuk datang menemuiku, aku akan tetap menjadi anak Papa" Ucap Reva sembari memeluk tubuh ayahnya
Ayah Reva kini terisak mendengar ucapan putrinya "Iya. Papa pasti akan datang menemuimu. Kamu jaga diri baik-baik, jika ada masalah, tolong katakan pada Papa. Papa pasti akan membantumu" Ucap Ayah Reva
"Iya. Aku mengerti Pa" Ucap Reva lalu melepas pelukannya "Aku pergi. Jaga diri Papa dan juga jangan terlalu memanjakan Kristin" Ucap Reva untuk yang terakhir kalinya
"Ayo pergi.. " Ucap Nevan lalu merangkul bahu Reva pergi meninggalkan Ayah Reva yang kini mengusap air matanya sedih tak sanggup berpisah dengan putrinya
....
"Rasanya aku akan menangis.. " Tutur Reva
"Menangislah.. " Ucap Nevan menepuk pundaknya agar Reva bersandar disana
"Dia akan baik-baik saja bukan?" Tanya Reva mengenai ayahnya sembari bersandar di pundak Nevan
"Dia akan baik-baik saja.. " Ucap Nevan
__ADS_1
"Semoga" Batin Reva penuh harap agar ayahnya bisa menjalani hidupnya dengan nyaman tanpa gangguan dari ibu dan anak itu