Belenggu Cinta, Mafia Kejam

Belenggu Cinta, Mafia Kejam
Aku setuju!


__ADS_3

Setelah meluapkan semua perasaannya melalui tangisan, Reva yang saat ini berbaring di dalam dekapan Nevan kini perlahan merasa tenang kembali.


"Sejujurnya.. Aku kabur dari rumah. Orang tuaku bercerai dan ayah memutuskan untuk menikah kembali. Sementara ibuku dia selingkuh dengan seorang pria dari Inggris"


"Karena permintaan dari ibuku, aku mulai belajar beladiri darinya sembari diam-diam belajar tentang komputer sejak kecil. Namun aku tidak pernah menyangka, jika apa yang aku pelajari darinya, akan aku gunakan untuk kabur dari rumah"


"Kenapa kamu kabur? Apa ayah dan ibu tirimu berbuat jahat padamu?" Tanya Nevan sembari mengelus rambut Reva lembut


"Hhmm.. Aku tidak menyukainya. Sejak awal aku menentang hubungan ini, tapi karena ayahku, aku hanya bisa berpura-pura setuju. Selain itu, aku benar-benar tidak suka dengan saudara tiriku. Aku dan dia tidak akan pernah bisa berdamai apapun yang terjadi"


"Kenapa kamu membencinya?"


"Bukankah itu jelas? Dia ingin merebut semua perhatian ayahku. Dan sekarang dia berhasil. Karena itulah aku kabur dari rumah"


"Keputusan yang bagus" Ujar Nevan


"Hm? Kenapa?"


"Karena aku tidak akan bertemu denganmu jika tidak seperti itu" Jawab Nevan merasa beruntung


"Bagaimana dengan ibu tirimu? Apa dia memperlakukanmu dengan baik?" Tanya Nevan kemudian


"Tidak. Sangat buruk. Karena itulah aku selalu menyebutnya iblis berhati dingin. Aku benar-benar tidak tahu, bagaimana ayahku bisa terpikat dengan iblis sepertinya"


"Keputusan yang bodoh. Dia kehilangan seorang malaikat kecil hanya untuk seorang iblis" Ucap Nevan dengan bangganya


"Nevaaaannnn... Bagaimana bisa kamu mengatakan hal memalukan seperti itu dengan bangganya" Reva menutup kedua telinganya syok dengan apa yang baru saja dikatakan Nevan, benar-benar memalukan


Meski ini bermula dari dirinya yang menyebut ibu tirinya sebagai iblis, tapi bagaimana bisa Nevan menyamakannya dengan malaikat, disaat Reva bahkan menyebut dirinya sendiri iblis saat berurusan dengan musuhnya.


Nevan hanya tersenyum melihat reaksi menggemaskan Reva. Meski dalam hati ia begitu merasa kasihan dan marah karena Reva mendapat perlakuan seperti itu dari keluarganya.


"Mulai sekarang tidak perlu ragu datang padaku. Jika mereka tidak memperlakukanmu dengan baik, maka biarkan aku yang menjagamu mulai sekarang. Jadi.. kedepannya kamu harus mengandalkan aku, berhenti memikul semuanya sendiri"


"Aku tahu.. Terima kasih, Nevan" Balas Reva membenamkan kepalanya di dada Nevan, memeluk tubuhnya erat


"Lagipula sekarang aku adalah kekasihmu, tentu saja sudah menjadi tugasku untuk menjagamu dan melindungimu" Ujar Nevan dengan bangganya


"Hah? Kekasih? Sejak kapan aku setuju?" Tanya Reva melepas kembali pelukannya

__ADS_1


Nevan menatap Reva bingung, menurutnya dengan Reva mengungkapkan isi hatinya, maka ia juga secara langsung setuju menjadi kekasihnya.


"Revaa.. Berhenti bercanda denganku, apa kamu benar-benar akan menolakku?" Rengek Nevan


"Aku tidak bercanda" Balas Reva dengan raut wajah serius


"Serius?" Tanya Nevan yang langsung mendapat anggukan dari Reva


Dalam sekejap, ekspresi bahagia Nevan berubah menjadi ekspresi kecewa karena ekspektasinya tidak sesuai dengan apa yang terjadi.


"Jadi begitu.. " Ujarnya lirih merasa kecewa


Sudut bibir Reva terangkat naik, ia kemudian meraih dagu Nevan "Aku hanya menggodamu. Tentu saja aku setuju" Ujar nya lalu mengecup pelan bibir Nevan


Mendapat serangan yang begitu tiba-tiba membuat Nevan membeku beberapa detik hingga ia benar-benae sadar akan apa yang baru saja terjadi.


"Kamu mempermainkanku. Kalau begitu kamu harusnya siap menerima hukuman dariku" Ujar Nevan meraih tangan Reva lalu menindih tubuhnya


"Hukuman? Nee..Nevan ? "


"Hmm.. Hukuman.. " Ujar Nevan dengan seringai nya, sebelum akhirnya mengecup singkat bibir Reva


"Lain kali jika kamu ingin menciumku maka lakukan seperti ini" Ujar Nevan setelah kecupan singkat itu


Setelah puas dengan bibir mungil merah mudanya, Nevan berpindah pada leher jenjang milik Reva yang kini terpampang jelas di depannya seolah meminta untuk dijamah sejak tadi.


Tanpa ragu-ragu, Nevan mencium dan meninggalkan sebuah kiss mark pada kulit putih itu. Warna merah dan putih yang begitu kontras membuat Nevan semakin dibuat bergairah.


"Ngghhh.. Nee..van.. " Reva mendesah kecil karena perbuatan Nevan tadi. Pikirannya benar-benar kosong, hingga ia bahkan tidak sadar jika ia baru saja mengeluarkan erangan menggoda yang justru membuat gairah Nevan semakin tinggi


"Sepertinya kamu menikmatinya.. " Ucap Nevan mengecup sekali lagi bibir Reva, sebelum akhirnya memperbaiki posisinya dan duduk di samping Reva


Reva mengatur kembali deru nafasnya yang kini tak beraturan. Berusaha menetralkan perasaanya kembali.


"Maaf.. Jika dilanjutkan, aku pasti akan melewati batas" Ujar Nevan memegang jidatnya berusaha menahan dirinya


Dan pada akhirnya, Nevan memutuskan masuk ke dalam wc. Sementara Reva kini bangun bersandar di kasur, memikirkan apa yang terjadi barusan. Mungkin jika Nevan tidak berhenti, ia pasti sudah akan menyerahkan dirinya pada Nevan seutuhnya. Karena sejujurnya, Reva menikmati apa yang baru saja dilakukan oleh Nevan.


Reva menatap pantulan dirinya dari cermin. Sebuah kiss mark kini tertinggal di lehernya, ketimbang merasa khawatir akan pikiran orang lain. Ia justru merasa senang akan hal tersebut.

__ADS_1


....


Reva memutuskan keluar dari kamar, tak berniat menunggu Nevan selesai karena ia bingung harus bersikap seperti apa setelah membiarkannya menyelesaikannya sendiri di kamar mandi.


Reva pergi ke dapur, mengambil sebotol air dari kulkas dan meneguk nya hingga tersisa setengah.


"Apa saja yang kamu lakukan, hingga kehausan seperti ini?" Tanya Kevin yang entah sejak kapan berada di sana


Reva yang kaget, sontak menyemburkan air yang baru di minumnya ke wajah Kevin.


"Yaakkk.. Apa kamu gila?" Protes Kevin karena mendapat semburan


"Kamu yang gila. Sejak kapan kamu disini?"


"Sebelum kamu datang kesini. Aku sudah berada di meja makan" Jawab Kevin menarik beberapa helai tisu


"Oh maaf.. " Ucap Reva santai dengan raut wajah tak berdosa


"Apa-apaan wajahmu itu.. " Protes Kevin, hingga sesaat kemudian perhatiannya tiba-tiba teralihkan pada sebuah tanda merah di leher Reva


"Ada apa? Kenapa kamu tersenyum seperti itu?" Tanya Reva merasa risih dengan senyum misterius Kevin


Kevin menaikkan alisnya menggoda Reva "Apa itu dari kakak?" Tanya Kevin antusias


Reva menyentuh lehernya mengikuti arah pandangan Kevin lalu mengangguk mengiyakan "Iya. Ada masalah?" Jawab Reva jujur karena sejak awal ia tak pernah berniat menyembunyikan hubungannya dari Nevan


Kevin yang mendengarnya seketika melompat kegirangan karena jawaban dari Reva "Yesss.. Akhirnya... " Ujarnya penuh gembira yang semakin membuat Reva bingung


"Ada apa denganmu? Kenapa terlihat lebih bahagia dariku?"


"Tentu saja. Meskipun aku sedikit tidak suka denganmu karena kecelakaan kemarin. Tapi karena kamu berhasil merebut hati kakakku, maka aku akan mengabaikan kejadian kemarin"


"Hah?"


"Aku harus segera memberitahu ibuku kabar terbaik ini.." Ujar Kevin segera mengeluarkan ponselnya dari saku celananya


Reva yang sejak tadi bingung dengan reaksi berlebihan itu segera merampas ponsel Kevin.


"Ada apa denganmu sebenarnya?"

__ADS_1


Kevin menghela nafasnya panjang, lalu menatap Reva serius "Kamu harus tahu, didalam keluargaku tidak ada satupun yang bisa mengatur Nevan. Keputusannya mutlak bahkan untuk orang tuaku sekalipun. Karena itulah, aku merasa sangat senang karena pada akhirnya ada seseorang yang berhasil merebut hatinya. Bukankah kamu seharusnya bangga karena berhasil menaklukkan hati pria iblis sepertinya"


"Lagi-lagi iblis.. " Batin Reva mengingat pembicaraannya dengan Nevan


__ADS_2