Belenggu Cinta, Mafia Kejam

Belenggu Cinta, Mafia Kejam
Rekan Kerja


__ADS_3

Reva meninggalkan ruang rapat Nevan diikuti oleh Rangga di sampingnya. Keduanya berjalan sembari berbicara mengenai Intan.


"Jadi apa yang akan kamu lakukan? Menikahinya atau membiarkannya melahirkan anakmu lalu kamu ambil dan rawat sendiri? Tanya Reva berbisik sembari menggandeng lengan Rangga akrab layaknya kakak adek, sama seperti perlakuannya pada Arya dan Bagas


"Apa tidak ada pilihan ketiga.. "


Mendengar penuturan Rangga, Reva sontak memukul kepalanya bagian belakang "Kamu mau menelantarkan anakmu? Bahkan jika dia menjebakmu, anak yang ada di kandungannya tetap anakmu" Tegur Reva geram


"Bukan begitu Non.. "


"Lalu apa? Memangnya ada pilihan apa lagi?"


"Sepertinya aku tidak akan bisa jika merawat anak itu sendiri" Ucap Rangga menundukkan kepala lesu


"Ada aku. Aku akan membantumu, bagaimana?" Tanya Reva menawarkan dirinya meski ia belum memiliki pengalaman apapun dalam mengurus anak, terutama karena ia anak tunggal


"Non Reva pasti bercanda.. " Ucap Rangga sembari menekan tombol lift


"Aku tidak bercanda. Aku benar-benar akan memperlakukannya dengan baik, kalau perlu dia bisa menjadi anakku" Tutur Reva begitu antusiasnya hingga tidak menyadari pintu lift yang sudah terbuka


"Non..." Rangga menutup mulut Reva agar berhenti berbicara sembarangan lagi


"Permisi, kalian menghalangi jalanku" Tutur seorang wanita dengan setelan yang cukup modis diikuti seorang laki-laki berjas di belakangnya


"Maaf.. " Ucap keduanya bersamaan sebari menundukkan kepala sedikit dan berjalan mundur beberapa langkah


Wanita itu lalu melewati keduanya dengan langkah anggunnya namun sedikit arogan yang terlihat begitu jelas dari wajahnya.


"Tunggu.. Aku ada rapat dengan Nevan setengah jam lagi, bagaimana jika kalian membuatkan aku minuman" Tutur wanita itu berbalik dan menghentikan langkah Rangga dan Reva yang kini masuk di dalam lift


"Maaf Nyo.. "


Belum selesai Rangga berbicara, Reva sudah terlebih dahulu menghentikannya.


"Baiklah. Saya akan membuatnya untuk anda"


"Tapi Non.. " Cegat Rangga masih berusaha mencegahnya


"Tidak apa-apa" Balas Reva


"Kalau begitu, aku tunggu di ruangan Nevan. Sebaiknya lakukan dengan cepat dan berhenti bermesraan di kantor seperti itu" Tutur wanita itu sebelum berbalik pergi meninggalkan keduanya


"Bermesraan?"


Keduanya tercengang mendengar ucapan wanita itu khususnya Rangga.

__ADS_1


"Mengapa tidak menolaknya Non? Dia jelas-jelas sengaja melakukannya" Protes Rangga tak suka dengan wanita tadi


"Siapa dia?" Tanya Reva tidak mengenalnya


Wanita tadi sama sekali bukan karyawan dari Nevan. Terlihat dengan semua pakaian branded yang digunakannya dan caranya berinteraksi dengan orang lain membuat Reva yakin jika dia bukan karyawan di perusahaan itu.


"Dia rekan bisnis Tuan. Tapi aku sama sekali tidak menyukainya.. " Tutur Rangga kesal jika mengingat semua perbuatan wanita itu sebelumnya


"Oh, memangnya apa yang dia perbuat padamu?" Tanya Reva penasaran akan wanita yang berkeliaran di sekitar Nevan tanpa sepengetahuannya


"Dia memperlakukanku seperti seorang pembantu... " Jawab Rangga geram


"Seperti tadi?"


Rangga lalu mengangguk mengiyakan "Wanita itu bahkan tidak mengenal Nona dan malah bersikap lancang seperti tadi"


Reva terkekeh pelan menatap Rangga "Ayo ke dapur, kita masih harus membuatkannya minuman" Ucap Reva menarik lengan Rangga


"Non Reva serius akan membuatnya?" Tanya Rangga memastikan sekali lagi


Reva lalu mengangguk sembari menyeringai misterius "Mengapa tidak? Itu hanya membuat minuman tidak lebih. Mengapa aku harus begitu perhitungan pada wanita yang tidak tahu apa-apa itu" Tutur Reva tersenyum namun diam-diam menyusun rencana


....


Setelah membuat dua gelas kopi, Reva segera membawanya ke ruangan Nevan dengan Rangga yang hanya bisa pasrah mengikuti dari belakang, berjaga-jaga jika Reva tidak sengaja tersandung dan malah terkena kopi.


"Aku tidak perduli Non, bisa gawat jika Non Reva terluka, Tuan pasti akan sangat marah padaku" Ucap Rangga


Reva hanya mendengus sebal "Buka pintunya.. " Pinta Reva setibanya di depan ruangan Nevan


"Oh.. " Reva masuk ke dalam dan pandangannya langsung tertuju pada Nevan yang kini menataonya bingung dengan apa yang sedang dilakukannya


Namun Reva hanya balas tersenyum sembari meletakkan kedua gelas yang berisi kopi itu di meja.


"Kalau begitu kami pamit pergi, silahkan dinikmati kopinya" Pamit Reva tersenyum simpul sembari membungkuk sopan


"Ayo pergi, sa-yang.. " Ucap Reva menarik lengan Rangga dan merangkulnya mesra


"Sa-sayang?" Rangga seketika cemas dan gugup, tak berani menatao ke arah Nevan


"Mau kemana kalian?" Tanya Nevan berdiri menatap keduanya


"Tentu saja keluar Pak. Aku masih memiliki kencan dengan pacarku ini, jadi kami pamit undur diri. Pak Nevan bisa melanjutkan rapatnya dengan wanita cantik yang ada disana" Jawab Reva sembari melirik sekilas kearah wanita tadi yang hanya duduk diam


"Non Reva benar-benar akan membunuhku.. " Gerutu Rangga dalam hatinya

__ADS_1


"Sejak kapan kalian pacaran? Mengapa aku baru mengetahuinya" Tanya Nevan meladeni permainan Reva


"Sepertinya sudah lama, mereka bahkan membahas anak saat di lift tadi" Sela wanita itu tiba-tiba


"Dasar wanita kurang aj*r... Tutup mulutmu si*lan.. " Umpat Rangga dalam hati sembari menatap manita itu tajam


"Rangga..? Aku baru tahu jika kamu seberani ini?" Tanya Nevan menatap Rangga meminta penjelasan


"Tidak tuan. Bukan seperti itu, kami hanya membahas tentang anakku.. " Jawab Rangga terbata karena panik


"Tidak perlu menjelaskannya, ayo pergi" Ucap Reva memegang lengan Rangga


"Kalian belum boleh pergi.. " Perinta Nevan memegang lengan Reva


"Ada apa Nevan? Ini urusan mereka, kamu tidak seharusnya ikut campur" Sela wanita itu kembali


"Ikut campur? Tentu saja aku bisa ikut campur, wanita ini adalah calon istriku" Tutur Nevan merangkul pundak Reva menghadap wanita itu


Wanita itu tercengang dengan mata membulat kaget dengan penuturan Nevan barusan "Ca-calo istri? Tapi mereka.. ?"


"Kenapa? Tidak ada salahnya sedikit serakah" Tutur Reva menarik Rangga dan merangkulnya bersamaan dengan Nevan


"Ii-ini.. ?" Wanita itu jatuh terduduk menatap Reva syok


"Sudah cukup. Kamu menakutinya Reva.. " Ucap Nevan menghentikan permaian ini


Reva terkekeh kecil menatap reaksi kaget dari wanita itu "Maaf.. Aku hanya sedikit bercanda.. Tentu saja aku hanya memiliki Nevan sebagai pacar dan juga calon suamiku" Ucap Reva tersenyum sembari memeluk lengan Nevan mesra


"Ayo pergi Rangga, aku lapar.. " Ajak Reva kemudian setelah melepas lengan Nevan


Sejak tadi, ia masih belum tiba di kantin yang menjadi tujuan utamanya tadi. Perutnya sudah sejak tadi memberi isyarat mengingat sejak di kantin kampus, ia meninggalkan makanannya begitu saja setelah hanya memakannya beberapa suapan saja.


....


Sementara itu, Nevan kembali duduk di kursi begituoun dengan wanita tadi yang kini memasang ekspresi yang sulit diartikan.


"Harap maklum, dia memang sedikit nakal.. " Tutur Nevan pada wanita itu


"Dia benar-benar wanita yang nakal.. " Balas wanita itu sedikit tak suka dengan Reva yang begitu berani mempermainkan nya


"Tapi biarkan aku memperingatimu untuk tidak bersikap seenaknya didepannya, bahkan jika kita adalah rekan bisnis, aku tidak pernah segan untuk membatalkannya"


"Aku tahu itu. Kamu tidak perlu memperingatiku Nevan"


"Sepertinya kamu tidak mengerti, maksud aku berhenti memperlakukan orang disekitarku seperti bawahanmu" Ucap Nevan melirik ke arah kopi yang tadi di buat Reva

__ADS_1


Wanita itu seketika tersadar, jika Nevan saat ini tengah membahas akan sikapnya yang selalu memerintah bawahannya sesuai hatinya terkhusus Rangga.


__ADS_2