
Reva dan ibunya kini berada di kamar, dengan Reva yang kini berbaring di pangkuan ibunya sama seperti semasa kecilnya dulu. Matanya kini begitu sembab dengan air mata yang masih mengalir keluar tanpa bisa ia hentikan.
"Sejak kapan kamu jadi secengeng ini?" Tanya Ibu Reva mengusap air mata putrinya
"Aku masih tidak menyangka akan bertemu dengan Mama hiks.. " Ucap Reva memeluk tubuh Ibunya membuat pakaiannya menjadi sedikit basah karena tetesn air matanya
"Ini berkat Geral, jika bukan karena dia, Mama tidak akan mengetahui apapun yang terjadi pada putri Mama selama ini"
"Nevan sudah mengurusnya.. " Ucap Reva lirih
Hatinya terasa sesak jika mengingat kembali kejadian sebelumnya. Meski ia kembali menjalani kehidupannya sehari-hari, perasaan amarahnya masih tetap ada dan bersemayang di hatinya yang entah kapan ia akan bisa merelakannya.
"Apa dia pria yang baik? Kata Geral kalian akan menikah" Tanya Ibu Reva kemudian
"Iya. Dia pria yang baik Ma.. Jauh lebih baik dari pria pilihan Mama.. " Jawab Reva yang kemudian menyindir Ibunya mengenai ayahnya yang selama ini tidak menyadari sifat munafik dari istrinya
Ibu Reva tersenyum kecut "Itu benar.. Aku memang salah memilih pendamping hidup.. " Ujarnya menyetujui setelah dua perbuatan ayah Reva yang sudah begitu menyakiti hatinya
"Tapi bukankah masih ada seseorang di sisi Mama.. Apa Mama benar-benar tidak akan mempertimbangkan dirinya?" Ungkit Reva mengenai Gerald yang sudah bertahun-tahun memendam rasa pada ibunya ini
"Entahlah.. Mama belum pernah memikirkannya, lagipula setelah berpisah dengan ayahmu, Mama belum pernah lagi berfikir untuk menjalin hubungan dengan seseorang di usiaku yang sudah tidak muda lagi"
"Tapi dia masih menunggu Mama, tidak ada salahnya untuk mencobanya.. " Tutur Reva begitu membela dan memuji Geral
Memikirkan dirinya yang saat ini mendukung Geral membuatnya tertawa, mengingat dirinya yang dulu begitu membencinya lantaran menjadi penyebab kekacauan keluarganya namun ternyata semua hanyalah kesalah pahaman belaka. Dia lebih tulus dan bertanggung jawab dari apa yang dibayangkan nya selama ini.
"Mengapa kamu begitu ingin menjodohkan Mama. Mama sengaja pulang agar bisa menghabiskan waktu bersama denganmu dan kamu malah mendorongku ke sisi yang lain? " Protes Ibu Reva
"Aku mencoba mengikat Mama.. Hidup sendirian tanpa satupun keluarga sudah cukup menyesakkan, karena itulah aku mau Mama tetap berada di sisiku" Jawab Reva memeluk erat tubuh Ibunya agar tetap berada di sisinya
__ADS_1
"Mama janji tidak akan pergi lagi. Mama akan tetap berada di sisimu dan melindungimu, jadi kamu tidak perlu khawatir lagi" Ujar Ibu Reva menenangkan putrinya sembari mengusap kepalanya penuh kasih sayang
"Tapi Mama benar-benar tidak menyangka, jika kamu akan secepat ini menjadi milik orang lain dan bahkan hampir memiliki anak. Dan pria itu adalah keponakan dari sahabat Mama sendiri. Dunia benar-benar sempit"
"Setidaknya dengan begitu, aku bisa bertemu dengan Mama lagi" Ucap Reva merasa bersyukur
"Itu benar. Sekarang ceritakan lebih banyak lagi tentangnya, akan Mama pertimbangkan untuk merestui nya atau tidak setelah mendengar ceritamu" Pinta Ibu Reva ingin mengenal lebih jauh calon Menantunya itu
Reva lalu menuruti permintaan ibunya dan mulai menceritakan semua terkait Nevan dari sejak pertama kali bertemu hingga sekarang dan tentu saja ia tidak benar-benar menceritakan semua sifat menyebalkan Nevan terutama saat pertama bertemu.
Bagaimana pun ia memikirkannya, ia masih tidak menyangka jika ia akan benar-benar menjalin hubungan dengan pria yang dulu dianggapnya begitu menyebalkan. Siapa pun yang melihat sifatnya yang dulu, sangat tidak mungkin untuk menjalin hubungan asmara dengannya, terutama dengan pria dominan sepertinya. Yang melakukan segalanya sesuai dengan kehendak hatinya tanpa menghiraukan pendapat dan perasaan orang lain.
Namun sekarang, pandangannya terhadap Nevan telah benar-benar berubah. Bahkan jika semua orang mengenal Nevan sebagai seorang Mafia yang kejam, dimatanya Nevan tetap adalah seseorang yang dicintainya dengan semua sikap perhatian dan juga sikap posesifnya yang sudah diluar nalar, mengingat ia yang bahkan cemburu pada adik-adiknya. Namun mendapat perlakuan seperti itu dari orang yang dicintai, merupakan berkah tersendiri yang begitu sangat disyukuri oleh Reva saat ini.
...***...
Ibu Reva baru keluar dari kamar Reva setelah malam hari. Jika bukan karena Reva yang ketiduran, mungkin ia akan tetap berada di dalam sana mendengar semua curhatan dan keluh kesah Reva selama ini.
"Dia tertidur" Jawab Ibu Reva lalu duduk di salah satu kursi dekat ayah Nevan
"Dia pasti sangat merindukanmu mengingat kamu menghilang selama bertahun-tahun tanpa mengabari nya barang sekalipun " Tutur Ayah Nevan
"Aku merasa begitu buruk karena hal itu. Aku pikir dia akan hidup bahagia dengan ayahnya, namun ternyata sebaliknya.. Seharusnya aku tidak mempercayainya setelah ia bahkan begitu bodoh membuangku karena wanita m*rahan itu" Ucap Ibu Reva dengan tatapan mata dingin
"Minumlah.. " Ucap Geral menawarkan bir, sekedar untuk melampiaskan amarahnya
"Jadi apa yang akan kamu lakukan? Wanita itu kini dipenjara, Orang-orang suruhan Nevan tiap hari berada di sisinya, hidupnya benar-benar sudah berakhir di penjara" Ucap Ayah Nevan
"Tentu saja aku harus memberinya salam. Bagaimana pun aku baru pulang setelah pergi bertahun-tahun, bagaimana mungkin aku tidak menyapa mantan suami dan wanita s*alan itu" Tutur Ibu Reva geram sembari meneguk birnya kembali
__ADS_1
"Dia benar-benar sudah tamat.. "
"Apa yang dialaminya masih belum bisa di bandingkan dengan aku yang kehilangan cucuku" Tutur Ibu Reva
"Aih.. Aku akan mendukungmu, bagaimana pun kita akan menjadi keluarga.. "
"Sekarang, ayo kita minum sepuasnya. Sangat jarang untuk bisa berkumpul bersama seperti ini" Ucap Geral mengangkat gelasnya yang kemudian di ikuti oleh keduanya
"Cheerss.. " Ucap ketiganga bersamaan sembari menyatukan gelasnya
...***...
Di sisi lain, Nevan yang sejak tadi sibuk di dapur membuat makan malam kini naik ke atas menghampiri Reva, sembari membawa nampan berisi makanan yang di masaknya.
Nevan meletakkan makanan yang dibawahnya di atas meja lalu mencoba membangunkan Reva yang masih tertidur pulas.
"Revaa.. Bangulah sebentar, kamu masih belum makan malam.. " Panggil Nevan menepuk pelan pundak Reva
"Hmmm...?" Reva bergumam menggeliat kan badannya sebelum akhirnya membuka kedua matanya
"Ayo bangun.. Aku sudah membawakanmu makan malam" Tutur Nevan membantu Reva bangun
"Hhmm.. " Reva mengalunkan tangannya di leher Nevan, meminta agar Nevan mengangkat nya
Dengan senang hati, Nevan lalu mengangkat tubuh Reva lalu mendudukkannya di sofa.
"Kapan Ibuku pergi?" Tanya Reva kemudian
"Satu jam yang lalu, mungkin sekarang dia sudah mabuk dengan Paman dan Papa"Jawab Nevan tanpa sengaja mendapati ketiganya tengah minum bir di balkon
__ADS_1
"Aku pikir mereka juga merasakan hal yang sama denganku.. " Tutur Reva membandingkan dirinya karena bagaimana pun Ibunya adalah sahabat dari keduanya, jadi apa yang dirasakannya saat ibunya menghilang juga sama seperti keduanya