
Belum setengah jam Reva berkutat dengan laptopnya, ia sudah dengan begitu mudah melacak lokasi dari penyadap itu. Dan yang lebih mengejutkannya, lokasi yang didapatnya berada di gedung apartemen Intan. Yang berarti orang yang tengah mengawasinya, selalu berada di dekatnya dan memperhatikan semua gerak-gerik Intan.
"Menarik.. Semakin lama ini semakin menari.. " Ucap Reva menyeringai lalu bangkit berdiri dan meraih kunci mobil di atas meja
Reva lalu keluar dari kamar, sembari memutar-mutar kunci mobil di jari telunjuknya. Ia begitu bersemangat dan tidak sabar untuk bertemu dalang dan penyebab Intan mendekati Rangga.
"Aihh... " Reva menghela nafasnya panjang saat tiba di ruang tamu dan bertemu dengan Nevan, Arya dan Dr. Dani yang kini sudah hampir mabuk setelah minum
"Reva.. Kamu mau keluar?" Tanya Nevan saat menyadari kedatangan Reva
"Iya. Aku mau ke apartemen Intan. Rangga sudah menungguku disana" Jawab Reva
Sebelum turun tadi, ia menyempatkan dirinya untuk mengirim pesan pada Rangga akan temuan barunya itu.
"Kalau begitu biarkan aku ikut denganmu" Ucap Nevan langsung berdiri dan menghampiri Reva
"Kamu mabuk.. " Ucap Reva menutup hidungnya tak tahan dengan aroma tubuh Nevan yang begitu menyengat
"Aku tidak semabuk itu, aku hanya minum beberapa gelas saja. Itu tidak akan membuatku tumbang.. " Ucap Nevan santai
"Terserah kamu. Ayo pergi, aku sudah menemukan alamat dari dalangnya" Ucap Reva tak punya pilihan selain membiarkannya karena ia sudah terlalu malas untuk berdebat dengan Nevan terutama jika ia tengah mabuk
...
Lagi-lagi Reva menghela nafas pasrah, ia kini berada di dalam mobil dengan Nevan yang duduk di kursi penumpang di sampingnya. Namun yang membuatnya berulang kali menghela nafas karena dua orang yang duduk di kursi penumpang di belakang. Mereka adalah Arya dan juga Dr. Dani yang juga ikut memaksa untuk ikut dengan keduanya ke apartemen Intan.
"Aku bisa maklum jika Nevan yang ikut denganku, tapi apa yang kalian berdua lakukan?" Tanya Reva menileh dan menatao keduanya bergantian
"Aku hanya khawatir Nevan tudak bisa melindungi dirimu. Jadi sebagai kakak yang baik, aku tentu saja harus ikut denganmu" Jawab Arya masih dengan tangan yang memegang botol anggurnya
"Dengan anggur?" Tanya Reva menatap anggur di tangannya
"Aku hanya tidak sengaja membawanya hehe.. " Arya lalu dengan cepat meletakkannya
Setelah dengan Arya, Reva lalu mengalihkan pandangannya dan menatap Dr. Dani meminta penjelasan.
__ADS_1
"Oh ayolah.. Apa kamu benar-benar harus bertanya, aku ini seorang dokter. Kemampuanku akan sangat berguna untukmu" Jawab Dr. Dani
"Huh.. Sangat berguna hingga membuatmu menyalahgunakannya" Balas Reva menatap Nevan yang juga ikut terlibat
Dr. Dani hanya tersenyum canggung mendengar Reva mengungkit akan obat penyubur yang diberikannya pada Nevan dulu.
"Sudahlah.. Pakai sabuk pengaman kalian agar bisa tetap aman di perjalanan nanti" Ucap Reva memperingati sebelum ia melajukan mobilnya.
...***...
Hanya dalam waktu tak kurang setengah jam, mobil yang dinedarai oleh Reva kini tiba di depan gedung apartemen Intan. Baik Dr. Dani dan Arya kini keluar dari mobil karena mual karena Reva yang benar-benar tak tanggung dalam mengemudikan mobil tadi.
"Uuueeeekk... " Keduanya bersamaan membungkuk karena mual
"Cih.. Dasar lemah.. " Ucap Nevan meremehkan keduanya
Meski hal tadi cukup membuatnta kaget, namun bukan berarti Nevan tidak bisa menerimanya. Bahkan jika itu dia, ia juga pasti akan bisa mengemudikan mobil secepat itu.
"Ayo masuk.. " Ucap Reva bwrgegas masuk
"Kalian masuk terlebih dahulu, kami akan menyusul di belakang" Ucap Arya masih berusaha mengumpulkan nyawanya
"Aih.. Dasar wanita gila.. " Umpat Dr. Dani mengusap dadanya
Jika bukan karena mabuk, mungkin keduanya tidak akan berakhir seperti ini. Namun karena terlalu banyak minum, keduanya pada akhirnya mual dan hampir memuntahkan minuman tadi.
...***...
Sementara itu, Nevan dan Reva kini tiba di apartemen Intan. Rangga yang memang sudah sejak tadi tiba, masih duduk dengan santai di ruang tamu karena permintaan Reva untuk tidak bertindak sebelum ia datang.
"Apa terjadi sesuatu? Mengapa kalian datang tengah malam seperti ini?" Tanya Intan bingung karena ia belum sadar jika Rangga sudah menemukan salah stau penyadap di apartemennya
"Kami hanya datang berkunjung. Apa kamu keberatan?" Jawab Reva lalu duduk di sofa dengan santainya
"Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin aku keberatan" Jawab Intan menggelengkan kepala "Kalau begitu tunggu sebentar, aku akan membuat minuman untuk kalian" Ucap Intan bangkit berdiri dan pergi ke dapur
__ADS_1
"Iya. Maaf merepotkan" Balas Reva tersenyum simpul
...
Setelah kepergian Intan kedapur, baik Rangga maupun Reva keduanya berulang kali saling berbalas isyarat agar melakukan rencana mereka saat Intan masih berada di dapur.
"Kamu tunggu disini" Perintah Reva pada Nevan untuk tetap disana mengawasi Intan, sementara ia dan Rangga keluar dan mengurus orang di apartemen sebelah.
"Kamu yakin? Aku lebih bisa diandalkan ketimbang dirinya" Ucap Nevan menatap Rangga remeh
"Diamlah. Orang mabuk tidak diperkenankan ikut campur. Sebaiknya kamu mengawasinya dengan baik, jangan biarkan dia kabur. Jika tidak, aku sendiri yang akan berurusan denganmu nanti" Ancam Reva pada Nevan
"Apa yang bisa aku lakukan jika kamu sudah berkata seperti itu. Masalah tempat ini, kalian tidak perlu khawatir. Aku pasti akan membuatnya tinggal dan tidak berani melankahkan kakinya keluar dari pintu itu" Ucap Nevan mengeluarkan pistol dari saku celananya
"Dari mana pistol itu?" Tanya Reva kaget karena tidak sadar jika Nevan terus membawa benda berbahaya seperti itu
"Aku mengambilnya dari Arya tadi.. " Ucap Nevan sembari memutar-mutar pistol itu di tangannya
"Jangan terlalu berlebihan, ingat bahwa dia tengah hamil" Ucap Reva memperingati
Setelah mengatakan hal itu, Reva dan Rangga keluar dari kamar dan berkunjung ke kamar sebelah. Lokasi tempat ia mendeteksi alamat dari orang yang meletakkan penyadap itu.
....
Beberapa saat setelah kepergian dari Reva dan Rangga. Intan yang tadinya membuat minuman kini keluar dari dapur dengan nampan berisi tiga gelas minuman jus yang baru dibuatnya.
"Dimana Rangga dan Reva, mengapa hanya kamu sendiri?" Tanya Intan mengedarkan pandangannya mencari keduanya
Nevan meraih salah satu gelas jus itu lalu meneguknya sedikit "Mereka ada sedikit keperluan di kamar sebelah" Jawab Nevan kemudian, lalu meletakkan jus nya di meja kembali
Intan yang mendengar jawaban dari Nevan seketika memperlihatkan raut wajah pucat "Ti-tidak.. Mereka tidak boleh kesana.. " Ucap Intan terbata dan berniat untuk mencegah keduanya
"Berhenti!" Perintah Negan tegas sembari berdiri dan menghadap ke arah Intan sembari menodongkan pistol di tangannya tanpa sedikit pun rasa belas kasihan
"Sebaiknya kamu tidak ikut campur. Diam disini atau aku tidak akan segan-segan menarik pelatuknya pistol ini. Kamu seharusnya mengenalku dengan baik, aku tidak pernah sekalipun menarik ucapanku" Ancam Nevan menatap Intan begitu dingin dan mengintimidasi
__ADS_1
Intan yang dihadapkan pada pilihan seperti itu kini jatuh tersungkur dengan air mata yang kini mulai menetes, maknya terasa begitu berat bahkan untuk sekedar menggerakkannya.
"Mengapa kalian semua begitu jahat padaku hikss.. " Ucap Intan menangis tersedu memikirkan nasibnya yang begitu tragis ini