Belenggu Cinta, Mafia Kejam

Belenggu Cinta, Mafia Kejam
Membujuk Reva


__ADS_3

Setelah pertikaiannya dengan wanita tadi, Reva kini mengurung dirinya di ruangan pribadi Nevan. Rencana yang ia susun dari pagi tadi, gagal total karena kedatangan wanita tadi.


Bahkan Nevan yang tadinya berusaha membujuknya hanya bisa pasrah saat Reva dengan tegasnya mengusirnya dari ruangan dan tidak membiarkannya masuk ke dalam.


Nevan saat ini tengah meeting bersama dengan karyawan lainnya, namun sejak tadi ia sama sekali tidak bisa fokus. Semua laporan yang disampaikan oleh karyawannya, tak satu pun yang ia dengar dan pahami. Bahkan pulpen yang sedang dipegangnya saat ini, terlihat rusak karena Nevan yang sejak tadi menggenggamnya erat.


Di tengah ruangan yang sedikit mencekam itu, pintu ruangan tiba-tiba terbuka dengan Rehan yang baru saja tiba.


Rehan lalu menghampiri Nevan dan membungkuk sedikit di sampingnya "Non Reva mau pulang Tuan" Tutur Rehan yang sontak membuat Nevan berdiri dan berlari keluar dari ruangan berniat menghampiri Reva


Semua karyawan yang hadir di ruangan meeting, kembali menghela nafas lega karena kepergian dari Nevan yang sejak tadi membuat mereka tak berkutik dan bahkan sulit untuk sekedar bernafas karena hawa mengintimidasi darinya.


"Aku tidak menyangka akan ada hari dimana aku bisa melihat Tuan ketakutan seperti itu.. " Tukas seorang karyawan wanita di ruang meeting itu


"Itu benar. Aku juga sedikit kaget saat melihatnya tadi. Bagaimana pun, selama ini dia tidak pernah terlihat tertarik pada siapapun" Timpal yang lainnya ikut membenarkan


"Sepertinya kalian akan lebih kaget lagi jika melihatnya di rumah, dia sangat bucin dan posesif pada kekasihnya itu.. " Ucap Rehan yang masih berada di ruangan itu


"Aku masih kagum saat dia menampar Sinta siang tadi, aku pikir dia akan menjadi korban, ternyata justru sebaliknya. Seperti yang diharapkan dari calon istri Pak Nevan"


"Tentu saja. Dia bukan gadis yang bisa dengan mudah di singgung seperti tadi, dengan karakternya itu, dua tamparan seharusnya masih belum cukup untuk melampiaskan emosinya. Sebaiknya kalian mengingatnya, dia tidak berbeda jauh dengan Tuan" Tutur Rehan sedikit menakuti sebelum berlalu pergi membuat beberapa karyawan tadi bergidik ngeri jika membayangkan sosok dari Nevan selama ini


"Karna itulah dia melampiaskan nya pada Nevan.. " Batin Rehan dengan smirknya karena sudah terlalu paham akan karakter dari Reva


...***...


Sementara itu, Nevan yang baru saja meninggalkan ruangan meeting kini bertemu dengan Reva yang benar-benar berniat untuk pergi.


"Kamu beneran mau pulang?" Tanya Nevan


"Hmm.. Tidak ada gunanya aku tinggal disini, aku hanya akan menghambat pekerjaanmu jadi lebih baik aku pulang ke rumah" Jawab Reva dengan raut wajah datar


"Kamu sama sekali tidak menghambat. Jadi aku mohon.. Tetaplah disini, bukankah kamu berdandan seperti ini karena ingin menemuiku" Ucap Nevan memeluk Reva berusaha membujuknya

__ADS_1


Bukannya terbujuk, Reva justru semakin emosi jika mengingat wanita tadi yang sempat menyinggung penampilannya "Aku memang berdandan karena tidak ingin terlihat begitu muda, tapi aku malah disebut sebagai wanita penggoda? Berani sekali dia... " Seru Reva perlahan mengeratkan tangannya di pundak Nevan


"Aku sudah memecatnya barusan. Aku janji tidak akan terjadi hal seperti ini lagi kedepannya, jadi bisakah kamu tidak marah padaku..?" Bujuk Nevan memohon


"Terserah lah, aku tidak perduli lagi. Aku mau pulang. Aku lapar" Ucap Reva kekeh ingin kembali


"Kalau begitu, aku juga akan ikut denganmu" Nevan lalu meraih jasnya di gantungan dan memakainya bersiap untuk ikut pulang bersama dengan Reva


"Bagaimana dengan pekerjaanmu?"


"Masih ada Rehan.. Dia bisa mengurus sisanya, selain itu sebentar lagi Rangga akan datang kesini jadi tidak masalah meninggalkannya" Jawab Nevan tidak perduli lagi dengan pekerjaannya karena yang paling penting saat ini adalah membujuk Reva


"Terserah kamu.. " Balas Reva membuat Nevan langsung merangkul lengannya


"Kalau begitu, biar aku membawamu ke restoran. Bukankah kamu lapar.. "


"Bagaimana dengan kantin di perusahaanmu? " Tanya Reva penasaran karena ia tidak terlalu suka makan di restoran selain itu masakan di kantin perusahaan seharusnya tidak berbeda jauh dengan kantin di kampusnya


"Memangnya tidak apa-apa?"


...


Nevan hanya pasrah mengikuti permintaan Reva dan membawanya ke kantin perusahaan yang bahkan jarang ia kunjungi selama ini.


"Berikan aku satu porsi untuk masing-masing makanan yang ada disini" Pinta Reva bingung harus memilih apa jadi memutuskan untuk memesan semua jenis menunya


Pelayan itu menatap ke arah Nevan memastikan jika saja pendengarannya salah karena permintaan dari Reva tadi.


"Ikuti permintaannya" Ucap Nevan memastikan lalu membawa Reva duduk ke salah satu meja disana


"Apa kamu menghabisi semuanya?" Tanya Nevan kemudian


"Tidak. Karena itulah aku membutuhkan bantuanmu untuk membantuku menghabisinya" Jawab Reva yang seolah terdengar tengah mempermainkan Nevan

__ADS_1


....


Tak berselang lama kemudian, meja yang ditempati keduanya dengan cepat penuh akan berbagai hidangan makanan. Beberapa yang melihatnya sedikit tertegun kaget karena nafsu makan Reva yang begitu tinggi.


Berbeda dengan Reva yang kini tak sabar mencicipi makanan itu. Selama beberapa hari belakangan, sejak dari swiss, Reva semakin sulit mengontrol emosinya, selain itu ia menjadi sedikit rakus dan mudah lapar.


Tanpa malu-malu Reva dengan semangat memakan makanan tersebut, dengan Nevan yang hanya duduk dengan tangan menopang dagunya memperhatikan Reva yang terlihat senang saat di depan makanan.


"Sepertinya dia sudah merasa baikan.. " Batin Nevan tersenyum hangat ke arah Reva


....


"Mimpi apa aku semalam, Pak Nevan benar-benar tersenyum"


"Apa aku harus membeli lotre hari ini.. "


"Betapa beruntungnya gadis itu, dia bahkan tidak terlihat jaim saat dihadapan Pak Nevan.. "


Bisik-bisik para karyawan yang ada di kantin setelah menyaksikan kearah keduanya yang sejak tadi seolah tidak menganggap keberadaan mereka sama sekali dan sibuk dengan dunianya masing-masing.


....


"Rangga.. " Panggil Reva saat pandangannya tiba-tiba menangkap sosok yang selama beberapa ini sibuk dengan urusan pribadinya


Rangga yang baru saja tiba di perusahaan dan berniat mengambil segelas kopi, dengan cepat merespon panggilan dari Reva dan menghampirinya di mejanya.


"Duduklah.. Ayo makan denganku" Pinta Reva menyodorkan beberapa makanan yang belum disentugnya sejak tadi


Rangga yang sedikit bingung, menoleh ke arah Nevan yang hanya membalasnya "Makanlah, ikuti permintaannya" Tutur Nevan tersenyum, namun diartikan lain oleh Rangga yang justru melihatnya sebagai ancaman agar mengikuti permintaan dari Reva tanpa bertanya lagi


"Bagaimana dengan masalahmu? Apa kamu sudah menyelesaikannya?" Tanya Reva tak sungkan


"A-apa maksud Non Reva?" Tanya Rangga gugup karena ia belum pernah mengungkit masalahnya meski ia sudah menduganya jika Nevan dan Reva akan mengetahuinya cepat atau lambat

__ADS_1


"Siapa yang coba kamu bohongi, jadi masalah apa yang kamu temui? Kamu bisa meminta bantuan dariku?" Tanya Reva lagi-lagi menawarkan bantuannya


__ADS_2