
Sekitar jam setengah tiga malam, Nevan tiba di rumah sakit. Karena permintaan darinya tadi, ia diizinkan untuk berjaga di dekat Reva sekedar berhati-hati jika terjadi hal yang tidak diinginkannya lagi.
Paman dan Bibi yang mendapat kabar akan kondisi Reva tadi masih berada di ruangan Reva saat Nevan masuk ke dalam. Raut wajahnya keduanya terlihat pucat dengan mata yang membengkak karena menangis.
"Paman dan Bibi bisa pulang, aku yang akan menjaganya" Tutur Nevan pada keduanya
"Tidak.. Kamu sebaiknya istirahat, wajahmu terlihat lebih pucat" Ucap Bi Eka memperhatikan raut wajah Nevan yang memang terlihat pucat terutama karena ia belum beristirahat sejak tadi
"Tidak apa-apa Bi. Aku akan lebih tenang jika berada di sini" Balas Nevan kekeuh tidak ingin pergi, karena percuma ia pergi jika hatinya terus-menerus merasakan sakit karena kehilangan anaknya dan juga memikirkan kondisi Reva yang masih terbaring lemah di rumah sakit
"Kalau begitu kami pergi, kabari kami jika Reva sudah sadar" Ucap Paman menepuk pundak Nevan
"Iya Paman" Jawab Nevan mengangguk
Keduanya lalu mengambil tas dan keluar dari ruangan setelah menatap Reva selama beberapa saat.
Sementara Nevan kini duduk di kursi samping tempat tidur Reva sembari menggenggam tangan Reva erat. Berbagai penyesalan di hatinya kini dirasanya. Penyesalan karena tidak menjaga Reva dengan baik, penyesalan karena datang terlambat, penyesalan karena menyetujui Reva untuk kembali ke rumah itu. Semuanya perlahan menggerogoti pikiran hati Nevan.
Tak dirasanya, air mata kini menetes dari sudut matanya. Ia menangis terisak dengan tangan yang masih menggenggam tangan Reva erat.
"Maafkan aku Reva.. Maafkan ayah.. Seharusnya aku datang lebih awal.. " Ucap Nevan terisak
Anak yang selama ini selalu didambakan nya, yang bahkan belum sempat ia beri nama dan lahir kedunia ini kini telah tiada. Selain mengikhlaskan dan melepaskannya, tak ada lagi yang bisa dilakukan oleh Nevan selain meratapi kepergiannya.
Nevan menangis selama hampir setengah jam, hingga akhirnya ia tanpa sadar tertidur dengan mata bengkak dan memerah di samping Reva yang masih belum sadarkan diri.
...***...
Keesokan paginya, sekitar pukul 7 pagi, Nevan yang masih tertidur dengan tangan yang masih menggenggam tangan Reva perlahan sadar setelah menyadari beberapa gerakan kecil dari jari-jari Reva.
Nevan sontak bangun untuk memeriksa keadaan Reva "Reva.. Sayang.. Kamu bangun?" Tanya Nevan setelah memperhatikan kelopak mata Reva yang perlahan bergerak hingga akhirnya terbuka
"N-nevan? Kamu disini?" Tutur Reva terbata dengan suara lemas
__ADS_1
"Iya sayang.. Aku disini.. " Ucap Nevan senang
Nevan lalu menekan tombol yang berada di samping tempat tidur, untuk mengabari dokter agar segera datang ke ruangan itu untuk memeriksa keadaan Reva.
Reva yang perlahan sadar, mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan yang lalu membuat nya sadar jika dia berada di rumah sakit, terutama karena bau khas obat-obatannya yang begitu menyengat.
...
Tak berselang lama kemudian, seorang dokter wanita tiba-tiba yang lalu dengan cepat memeriksa kondisi Reva.
"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Nevan tak sabar
"Tidak ada masalah yang serius. Ia hanya perlu beristirahat selama beberapa hari di rumah sakit, sebelum ia bisa pulang" Tutur dokter itu merasa lega begitupun dengan Nevan yang juga menghela nafas lega sembari mengusap dadanya
Namun berbeda dengan Reva yang kini mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tidak perduli dengan kondisi tubuhnya karena saat ini yang ingin ia dengar adalah kondisi dari kandungannya.
Dokter wanita itu sama sekali tidak memeriksa perutnya. Dan sangat tidak mungkin jika dia tidak mengetahui akan kandungannya setelah ia dirawat di rumah sakit.
"Kalau begitu saya pamit pergi Pak" Tutur Dokter itu berniat pergi
"Ya? Apa ada masalah? Apa kamu merasakan sakit?" Tanya Dokter itu kemudian
"Tidak. Aku baik-baik saja. Tapi bagaimana dengan kandunganku?" Tanya Reva pada akhirnya
Deghh..
Dada Nevan berdegup kencang, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"A-apa maksud kamu Reva?"
"Aku hamil" Jawab Reva serius
Nevan dan Dokter wanita itu saling beradu pandangan membuat Reva semakin merasa curiga "Apa yang kalian sembunyikan dariku?" Tanya Reva kemudian
__ADS_1
"Mungkin sebaiknya saya keluar. Kalian bisa bicarakan ini baik-baik" Tutur Dokter itu tak ingin ikut campur karena semalam Negan yang ingin menyembunyikannya karena ia pikir Reva tidak mengetahui akan kandungannya sendiri
Namun yang terjadi justru sebaliknya, Reva sudah mengetahui akan kandungannya jauh lebih dari Nevan.
"Apa yang terjadi disini?" Tanya Reva menatap Negan meminta penjelasan
Nevan menunduk lemah, bibirnya kamu tak sanggup menjawab pertanyaan dari Reva.
"Jawab Nevan.. Apa terjadi sesuatu dengan anakku?" Tanya Reva memegang lengan Nevan
"Iya.. K-kamu mengalami keguguran" Jawab Nevan pada akhirnya dengan suara bergetar menahan tangisnya
"Ke-kegugu-ran? A-aku keguguran? Kamu tidk berbohong kan? Bagaimana mungkin anak kita... Nevaaannn.. Kamu bohong kan?" Tubuh Reva bergetar hebat, dadanya terasa begitu sesak dengan air mata yang kini menetes
Bayangan akan kejadian sebelumnya kembali memenuhi isi pikirannya, semua perlakuan Ibu tirinya terutama saat ia menendang perutnya.
"Maafkan aku Reva... " Nevan memeluk tubuh istrinya yang kini menangis "Ini salahku.. Aku seharusnya datang lebih awal.. Maafkan aku.. " Ucap Nevan merasa begitu menyesal dan kecewa akan ketidakbecusan dirinya
"Anakku.. Hikss.. Nevvaannn.. Apa yang harus aku lakukan sekarang hikss.. Anakku pergi... Hikss.. Ini tidak mungkin Hikss.. " Reva menggelengkan kepalanya sembari memukul dada Nevan tak sanggup menerima kenyataan yang dialaminya ini
"Maafkan aku.. Aku janji akan membalas perlakuan mereka.. Aku janjii.. " Meski perasaannya juga kacau, Nevan tak bisa berbuat apa-apa selain menenangkan dan berusaha terlihat kuat di hadapan Reva yang saat ini begitu terpukul
.....
Ditengah kesedihan keduanya, pintu ruangan terbuka memperlihatkan Orang tua Nevan dan juga Arya yang baru saja tiba untuk memeriksa keadaan Reva. Namun dikejutkan dengan pemandangan akan Nevan yang tengah memeluk Reva erat untuk menenangkannya.
"Nevan.. Apa yang terjadi?" Tanya Ibu Nevan khawatir dan segera menghampiri keduanya
Nevan tidak menjawab dan bahkan menoleh barang sedikit pun. Begitu pun Reva yang masih menangis histeros dalam pelukan Nevan.
"A-anakku.. Hikss.. Aku tidak bisa menerimanya.. Bagaimana aku akan hidup Nevan.. Hikss.. "
Mendengar ucapan Reva, Nevan sontak melepas pelukannya dan menangkup wajah Reva dengan tangannya "Tidak.. Tidak.. Aku mohon jangan katakan itu.. " Ucap Nevan menggelengkan kepalanya tak ingin merasakan kehilangan untuk kedua kalinya
__ADS_1
"Masih ada aku.. Aku tidak bisa hidup tanpamu.. Jangan pernah memikirkan hal itu Reva.. " Nevan kembali memeluk tubuh Reva erat
Orang tuanya dan juga Arya yang mendengar percakapan keduanya kini mengerti. Ketiganya tertegun lemas, mengetahui jika Reva tahu akan keguguran nya. Mereka bahkan baru saja akan menikah dan sekarang mereka justru dihadapkan pada keadaan yang begitu menyedihkan ini.