Belenggu Cinta, Mafia Kejam

Belenggu Cinta, Mafia Kejam
Kamu yakin?


__ADS_3

Pintu rumah makan terbuka, seorang pria paru bayah masuk dengan kedua tangan penuh akan belanjaan yang baru saja di belinya di pasar.


Bersamaan dengan itu, Reva yang tadinya asik berbincang dengan bibinya kini berbalik dan berdiri menatap pria itu "Paman.. " Panggilnya lalu segera menghampirinya berniat membantunya membawa belanjaannya


"R-reva? Ini benar kamu? Kamu sudah pulang?" Tanya pria itu tanpa jeda karena terlalu kaget


"Iya. Aku pulang Paman.. " Reva mengangguk mengiyakan


"Berikan belanjaannya.. " Pinta Nevan tak ingin jika Reva melakukan pekerjaan fisik


Setelah belanjaannya diambil Nevan, Reva lalu dengan leluasa memeluk pamannya. Keduanya melepas rasa rindu masing-masing. Hingga seperdetik kemudian, Reva meringis saat Pamannya menjewer kupingnya.


"Acckkk... Paman.. Aku tahu, aku salah. Tidak seharusnya aku pergi tanpa pamit.. Pamann.. " Ucap Reva memegang lengan Pamannya meminta untuk dilepaskan


"Kamu masih berani menyebutnya, bagaimana jika terjadi sesuatu denganmu diluar sana. Bahkan jika ayahmu tidak perduli denganmu, masih ada kami disini? Apa kamu tidak menganggap kami hah? " Omelnya


"Iya-iya.. Aku janji ini terakhir kalinya, lain kali aku tidak akan melakukannya lagi.. "


"Hmmp.. Dasar gadis nakal.. Aku benar-benar mengkhawatirkan mu, selama dua tahun ini" Ucap Damar, Suami Bi Eka, lalu melepas jewerannya dan beralih memeluk Reva kembali


"Apapun itu, aku bersyukur kamu bisa pulang dengan aman.. " Lanjutnya merasa lega


"Aku bukan anak kecil lagi Paman, dengan kemampuanku ini, bukan hal sulit untuk bertahan hidup diluar sana" Ujar Reva memuji dirinya sendiri


"Ngomong-ngomong, siapa pria yang berdiri di samping Bibi mu, sejak tadi dia menatapku.. " Tanya Paman, merasa bingung


"Oh.. Biar aku perkenalkan, dia calon suami aku, Nevan Roderick" Ucap Reva memperkenalkan


"Salam Paman. Seperti yang dikatakan Reva, saya Nevan, calon suaminya, kami akan menikah 3 minggu kemudian" Tutur Nevan sedikit membungkuk memperkenalkan dirinya berusaha terlihat sopan dan baik di hadapan mereka

__ADS_1


"Calon suami?" Paman menatap Reva meminta penjelasan "Ikut dengan Paman sekarang" Ia menarik lengan Reva meninggalkan Bibi dan Nevan


....


"Apa menurut Bibi, Paman akan menentang hubungan ini?" Tanya Nevan pada Bi Eka karena merasa khawatir


Sangat terlihat jelas di wajah Paman tadi, raut wajah menentang namun didominasi oleh perasaan kekhawatiran. Bagaimanapun, Reva sudah dianggap sebagai anak dari keduanya. Bukan perkara mudah untuk setuju akan pernikahan, yang bahkan Reva masih begitu muda.


Bahkan Bi Eka yang sejak tadi terlihat setuju, tetap memasang wajah khawatir, berusaha tetap tenang untuk menunggu kedatangan Paman yang sudah pasti akan berbicara dengan Reva.


"Dari karakternya, ia sudah pasti akan menentangnya. Tapi dibandingkan dengan sikap keras kepala Reva, ia tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti keputusan Reva" Jawab Bi Eka sudah mengetahui apa yang akan terjadi karena ia sangat mengenal watak dari kedua orang itu


Bahkan jika Suaminya akan menentangnya, Reva akan tetap bisa membuatnya menyetujuinya.


"Aku harap ia akan memberikan restunya" Gumam Nevan penuh harap


....


"Tidak. Hanya saja, apa kamu sudah yakin akan pernikahan ini? Kamu masih kuliah, umurmu masih begitu muda, akan ada banyak hal yang akan kamu korbankan jika kamu menikah. Paman takut kamu akan menyesalinya di masa depan"


"Tidak apa-apa Paman. Aku yakin akan keputusanku ini. Menikah dengannya adalah keputusan paling benar yang pernah aku lakukan dalam hidupku. Dan aku tidak akan menyesalinya"


"Bagaimana dengannya? Sejak kapan kamu mengenalnya? Apa kamu benar-benar sudah mengenal dirinya?"


"Iya. Aku sudah sangat mengenalnya. Bahkan meskipun aku hanya mengenalnya selama beberapa bulan, itu sudah cukup untuk membuatku yakin untuk menikah dengannya"


"Paman.. Aku tahu apa yang paman khawatirkan, tapi aku bisa jamin jika dia adalah pasangan yang terbaik untukku. Dengan dia sisiku, Ibu tiriku tidak akan pernah bisa menyentuhku"


"Kamu yakin?" Tanya Paman sekali lagi

__ADS_1


"Aku yakin Paman.. " Jawab Reva penuh keyakinan "Bagaimanapun aku sudah mengandung anaknya" Lanjutnya dalam hati, ia tiba-tiba teringat jika ia masih menyembunyikannya dari Nevan


"Baiklah. Paman akan mendukungmu, tapi jika dia memperlakukanmu dengan buruk di masa depan, ingat untuk datang pada Paman"


"Iya. Aku mengerti, Paman" Jawab Reva mengangguk mengiyakan


...***...


Malam harinya, Reva dan Nevan memutuskan untuk tinggal bermalam selama sehari di rumah Pamannya. Bahkan Arya dan Rehan juga ikut menghampiri keduanya setelah mengabari keluarga Reva.


Reva bersama dengan Bibi dan Arya, kini sibuk di dapur memasak makan malam untuk yang lainnya. Sementara Nevan dan Paman berada di balkon, dengan perbincangan yang sedikit serius.


Meski ia tahu apa yang akan dibicarakan Paman, Nevan tetap bersikap santai sembari menikmati Kopi yang tadi dibuat Reva. Bagaimana pun ia masih merasa kaget akan rumah Paman dan Bibi. Siapapun akan kaget jika mengetahui, pemilik rumah makan sederhana di pinggir jalan tadi, ternyata memiliki rumah yang tak kalah besarnya dari rumahnya.


"Aku tebak, Paman pasti tengah memikirkan hubungan ku dengan Reva" Tutur Nevan memulai pembicaraan karena sejak tadi Paman fokus memperhatikan dirinya seolah tengah menilai sifat dan penampilannya


"Aku memang memikirkannya, bagaimana pun Reva masih begitu muda. Jika dia menikah di umurnya yang begitu mudah ini, akan ada banyak hal yang akan dilewatkan nya di masa muda ini. Aku tidak ingin melihatnya menyesal dikemudian hari"


"Jika itu yang Paman khawatirkan, maka bisa aku katakan, meskipun aku menikah dengan Reva, ia tetap akan memiliki kehidupan pribadinya. Aku tidak pernah berniat mengekangnya dan menjadikannya ibu rumah tangga. Aku menikahinya, agar ia bisa tetap berada di sisiku dan memudahkanku melindunginya"


"Aku tahu itu. Reva sudah meyakinkanku tadi, tapi apa kamu yakin kamu mampu melindunginya? Sepengetahuan ku, kehidupanmu saat ini cukup berbahaya untuknya"


"Aku akan melepaskannya setelah semua urusan ku selesai dengan beberapa orang. Karena itulah, setelah menikah nanti, aku dan Reva berencana untuk hidup sederhana di suatu tempat"


Sejak dulu hingga sekarang, keinginan Reva maaih tetap sama. Hidup sederhana di suatu tempat yang damai tanpa gangguan dari orang lain dan Paman mengetahui hal itu dengan jelas. Reva sedikit terinspirasi oleh dirinya yang memilih hidup sederhana dengan membuka warung makan tadi, meski sebenarnya ia memiliki kekayaan.


"Apapun itu, aku akan berusaha mendukung kalian semampuku. Tapi jika suatu saat kamu berani menyakitinya, bahkan jika kamu seorang mafia sekalipun, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Reva sudah cukup menderita di masa mudanya, aku tidak ingin di masa depan nanti ia merasakannya sekali lagi" Tutur Paman serius memperingati Nevan


"Iya. Paman bisa memegang ucapanku" Balas Nevan tak kalah serius

__ADS_1


"Dia sangat berbeda dengan ayah kandung Reva. Meski Reva bukan anak kandungnya, perasaannya lebih tulus ketimbang ayah kandung Reva yang bahkan masih meragukan anak kandungnya sendiri" Batin Nevan membandingkan keduanya


Mungkin jika Reva belum memperkenalkannya, ia mungkin akan berfikir jika Paman adalah ayah kandungnya. Entah ini takdir atau tidak, nyatanya ketimbang keluarga sendiri, Reva justru mendapat kebahagiaan dari orang luar seperti mereka yang bahkan tidak memiliki hubungan darah sekalipun.


__ADS_2