Belenggu Cinta, Mafia Kejam

Belenggu Cinta, Mafia Kejam
Sekedar sandiwara


__ADS_3

Setelah sesi ceramah Reva berakhir, keduanya seketika menjadi sedikit akrab meski Reva masih bersikap waspada terhadap Intan sebelum ia benar-benar mengetahui identasnya.


Bersamaan dengan itu, Nevan dan Rangga yang sejak tadi berada di dapur kini kembali ke ruang tamu setelah jenuh berada disana.


"Apa yang kalian lakukan di dapur, mengapa begitu lama?" Tanya Reva menatap keduanya curiga


"Tentu saja membuat ini.. Minumlah.. " Ucap Nevan meraih segelas minuman yang di bawah Rangga lalu duduk di samping Reva


Sementara Intan kembali beraloh ke sofa di sebelah dan duduk di dekat Rangga.


"Kamu menangis?" Tanya Nevan mengusap sudut mata Reva yang tampak basah


"Tidak.." Jawab Reva menggelengkan kepalanya meski ia memang sedikit terisak namun tidak sampai membuatnya menangis


Dddrr.. . Ddrrrttt.. .


Ponsel Nevan tidak-tiba berdering di sakunya. Ia lalu mengeceknya yang ternyata panggilan dari Arya.


"Halo.. " Jawab Nevan


"... "


"Oh baiklah.. Kami akan pulang sekarang.. "


"..."


Panggilan terputus. Nevan kembali memasukkan ponselnya di saku.


"Apa ada yang terjadi?" Tanya Reva penasaran


"Arya dan Rehan sudah kembali. Sebaiknya kita pulang sekarang.. " Tutur Nevan


Reva menoleh ke arah Rangga "Bagaimana denganmu Rangga? Kamu akan tetap disini atau ikut bersama kami?" Tanya Reva kemudian


"Ini..?" Sedikit ragu Rangga menoleh ke arah Intan


"Pergilah.. Aku akan baik-baik saja sendiri" Tutur Intan mengerti maksud dari lirikan Rangga


Bukannya ia ingin tinggal di sisinya, hanya saja Rangga benar-benar tidak mengerti dengan isi pikiran dari gadis ini. Tiap kali ia bertemu dengannya, ia selalu berada dalam situasi yang buruk misalnya saja berada di bardan tengah mabuk seperti sebelumnya.


Tiap kali Rangga bertanya, gadis itu hanya menjawab 'hanya ingin saja', ia datang ke bar untuk mengisi waktu kosongnya dan mencari kesenangan meski yang dilihat Rangga justru sebaliknya. Dari pada menyebutnya kesenangan, gadis itu terlihat seperti mencari pelampiasan.

__ADS_1


"Kalau begitu aku akan ikut dengan tuan.. " Putus Rangga pada akhirnya


"Aku akan datang berkunjung lain kali, ingat untuk datang ke dokter. Jika perlu, aku sendiri yang akan membawamu kesana" Ucap Reva mengingatkan


"Aku akan mengingatnya.. " Jawab Intan tersenyum lirih


"Kalau begitu kami pergi.. " Pamit Reva untuk terakhir kalinya sebelum benar-benar pergi


"Hati-hati.. " Ucap Intan yang hanya diangguki oleh Rangga


Intan baru masuk ke dalam apartemennya setelah ketiganya masuk ke dalam lift.


"Akhirnya mereka pergi.. " Intan bersandar di depan pintunya sembari menghela nafas lega


Tangan kirinya naik meremas rambutnya, lalu kembali dan masuk ke dalam kamarnya. Intan merebahkan tubuhnya di kasur sembari menatap langit-langit kamarnya hingga tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dari luar.


Lagi-lagi Intan menghela nafasnya berat, sebelum akhirnya ke luar dari kamarnya.


"Sepertinya kalian membahas banyak hal.. " Tutur seorang pria yang kini duduk santai sembari menikmati cemilan yang sempat dipersiapkan oleh Rangga tadi


Intan yang sudah menduga kedatangan nya sejak tadi hanya terdiam sembari menghampirinya dan duduk di sofa berhadapan dengan pria itu.


"Apa yang kamu inginkan?" Tanya Intan sarkaz


"Kapan tuan-mu itu akan bergerak, aku benar-benar muak bersandiwara seperti ini"


"Bicaralah dengan sopan. Kamu tidak berada di posisi yang pantas menanyakan hal seperti itu. Yang harus kamu lakukan adalah diam dan patuhi semua perintah dari tuan. Lagipula, kamu sudah mengandung anaknya, mengapa tidak membuatnya berada di sisimu" Sarkaz pria itu


"Berhenti bercanda. Aku melakukan ini karena terpaksa" Balas Intan tak kalah emosi mengingat dirinya yang kini dijadikan boneka oleh mereka


"Aku hanya mengatakannya, tidak perlu begitu emosi. Aku datang kesini untuk memberitahumu, tuan sudah kembali ke kota ini, namun karena kondisi tubuhny, ia belum bisa menjalankan rencananya. Karena itulah, kamu harus bersabar sementara waktu ini"


"Apalagi yang kamu harapkan, selain bersabar tidak ada lagi yang bisa aku lakukan"


Pria itu menyeringai menatap Intan "Kamu cukup tahu diri" Ucapnya sebelum keluar dari apartemen Intan


Karena perintah dari tuan nya, ia tinggal tepat di depan apartemen Intan untuk mengawasi setiap gerak-gerik dari Intan. Bahkan di apartemennya terdapat beberapa CCTV yang ia gunakan untuk mengontrol setiap gerak-gerik dari Intan.


"Arrgghh. Dasar baj*ngan br*ngsek" Teriak Intan histeris tak tahan dengan sikap pria itu yang tiap saat selalu membuatnya kesal


Bahkan ketika ia beranjak keluar dan berkunjung ke kampus, pria itu selalu mengikutinya layaknya seorang penguntit. Tak ada satupun tindakan dari Intan yang lepas dari pengawasan pria itu, mengingat identitas pria itu yang merupakan tangan kiri dari majikannya yang lebih membuat Intan gemetae ketakutan sama seperti saat ia berhadapan dengan Nevan tadi.

__ADS_1


...***...


Di sisi lain Nevan, Reva dan Rangga kini tiba di rumahnya setelah hampir setengah jam perjalanan dari apartemen milih Intan tadi.


Reva turun terlebih dahulu dari mobil, mengabaikan Nevan dan Rangga yang masih bersikap santai turun dari mobil.


"Kak.. Dimana Rehan?" Tanya Reva setibanya di dalam rumah dan hanya mendapati Arya yang tengah duduk berbincang dengan Bagas di ruang tamu


"Dia sedang beristirahat di kamarnya " Jawab Arya


"Kalau begitu aku akan msngeceknya" Ucap Reva lalu beranjak pergi ke belakang rumah


Sementara Nevan dan Rangga, kini ikut duduk di sofa ruang tamu bersama keduanya.


"Bagaimana perkembangannya?" Tanya Nevan kemudian


"Sesuai dengan permintaanmu, dia sudah di penjara sekarang. Begitupun dengan beberapa orang yang kamu kirim sebelumnya. Selain itu, ayah Reva sudah mengajukan perceraiannya, meski wanita itu menolak ia tidak memiliki jalan lain selain menerimanya mengingat ia masih memiliki anak"


"Itu belum cukup, akan kubuat dia tersiksa puluhan kali dari apa yang terjadi pada anak dan istriku"


"Istri? Seingatku kalian masih belum menikah.. Dan soal kehamiplan Reva, kalian benar-benar menyembunyikannya dariku" Protes Bagas yang entah mendapat keberanian dari mana hingga ia bisa berbicara seperti itu pada Nevan


"Dia akan menjadi istriku cepat atau lambat, jadi tidak masalah memanggilnya dengan sebutan istri. Bagaimana pun selain dia, tidak akan ada yang pantas menyandang gelar itu" Tutur Nevan dengan begitu seriusnya


Bagas sedikit tercengang, ia pikir Nevan akan marah karena ucapannya, namun justru sebaliknya bukannya marah atau menegurnya, Nevan justru memperlihatkan seberapa seriusnya ia pada hubungan ini.


....


Sementara itu, Reva yang ingin memeriksa keadaan Rangga, kini berdiri tepat di depan pintu kamar Rangga. Tanpa mengetuk pintunya, Reva dengan santainya membuka pintu kamar itu dan masuk kedalam.


Rangga yang tengah berbaring sembari memegangi ponselnya, segera mematikan ponselnya saat Reva dengan begitu tiba-tiba datang menemuinya.


"Reva.. Apa yang kamu lakukan disini?"


"Menjengukmu.. " Jawab Reva riang "Jadi bagaimana keadaanmu?" Tanya Reva kemudian


"Perlahan membaik, aku hanya perlu melakukan terapis agar bisa berjalan kembali" Jawab Rehan


Reva hanya mengangguk - ngangguk mendengar ucapan Rehan sembari menulis pada gips yang dikenakan Rehan.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Rehan benar-benar berbicara santai dengan Reva tanpa embel-embel nona

__ADS_1


"Memberimu semngat" Jawab Reva masih melanjutkan coretannya, sementara Rehan kini tersenyum simpul memperhatikan Reva secara diam-diam


__ADS_2