
Esok paginya Nevan dan Reva kembali ke kediaman Keluarga Nelson setelah mendapat kabar dari keluarga Nevan yang ternyata sudah tiba tanpa sepengetahuan keduanya.
Keduanya yang kini masuk ke dalam, segera ke ruang tamu, menghampiri orang tua Nevan yang kini tengah berbincang dengan orang tua Reva.
"Kak Revaa.. " Panggil Regan segera menghampiri Reva berniat memeluknya namun terhalang saat Nevan dengan gesit nya berdiri di depan Reva membuat Regan hanya bisa memeluk Nevan
"Kamu bisa membuatnya terluka jika kamu berlari memeluknya seperti itu" Tegur Nevan mengkhawatirkan kandungan Reva
"Ishh.. Apa sih kak, aku itu mau meluk Kak Reva, bukan Kak Nevan" Protes Regan mengerucutkan bibirnya kesal dengan sikap kakaknya
"Tetap saja, tidak boleh" Tutur Nevan tak ingin dibantah
"Kaaakk.. " Panggil Regan pada Reva di belakang Nevan
"Sudahlah Nevan, bagaimana bisa kamu menghalangi adikku seperti itu" Tutur Reva memegang pundak Nevan agar ia menyingkir dari depannya
"Lihatlah.. Kak Reva bahkan tidak protes, bagaimana bisa Kak Nevan begitu posesif seperti ini" Ejek Regan yang langsung memeluk lengan Reva mencoba berlindung dari Nevan yang kini menatapnya tajam
"Dasar bocah kurang ajar.. " Gumam Nevan kesal
"Kalian bertiga, ayo duduk disini" Panggil Ibu Nevan yah sudah terbiasa dengan pertengkaran kecil seperti itu
Ketiganya lalu duduk di sofa, dengan Regan yang masih setia bergelayutan di lengan Reva membuat Nevan semakin kesal dan kesal melihatnya.
...
"Awas kamu Reva.. " Batin Ibu tiri Reva mengepalkan tangan penuh amarah saat melihat Reva
Berbeda dengan ayah Reva yang kini melemparkan sorot mata sendu, ada kesedihan dan perasaan syukur di hatinya "Dia terlihat lebih bahagia dari sebelumnya" Batin Ayah Reva
Pemandangan seperti ini membuat hatinya sakit, putri satu-satunya yang selama ini diabaikannya kini terlihat begitu bahagia di hadapan keluarga lain. Ekspresi yang selama ini tidak pernah ia lihat kini ia lihat saat Reva bersama dengan Nevan.
"Maafkan Ayah, Reva.. " Batin ayah Reva menunduk malu akan sikapnya yang sudah begitu mengecewakan selama ini
"Paa.. Papa kenapa? Papa baik-baik saja kan?" Tanya Reva merasakan keanehan karena melihat ayahnya menunduk sedih
"Papa baik-baik saja. Papa hanya tidak menyangka, jika kamu akan meninggalkan rumah ini dengan begitu cepat seperti ini" Jawab Ayah Reva sendu
__ADS_1
"Reva pasti akan sering-sering mengunjungi Papa" Tutur Reva berpindah tempat dan duduk di samping Ayahnya sembari memeluknya hangat
"Itu benar Om. Kami akan datang berkunjung, lagi pula setelah menikah nanti, aku memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanku jadi akan ada banyak waktu di masa depan nanti"
"Berhenti? Kamu belum membahas hal ini dengan Papa" Tanya ayah Nevan
"Aku terlalu sibuk Pa, aku baru akan memberitahu Papa saat pulang nanti. Lagi pula, Kevin akan segera lulus, jadi biarkan dia yang mengurus perusahaan"
"Bukankah ini terlalu cepat buatmu?"
"Aku bukannya akan berhenti saat ini juga Pa, aku akan melakukannya saat Kevin menyelesaikan kuliahnya. Lagipula, bukankah kalian juga sama, kalian berhenti dari pekerjaan setelah aku mewarisinya"
Berdebat dengan Nevan benar-benar hanya membuang-buang waktu dan tenaga keduanya. Seusai ia mengambil keputusan, ia akan tetap melakukannya dengan atau tanpa persetujuan dari keduanya.
"Lagipula, dengan penghasilan ku selama ini, itu sudah lebih dari cukup untuk membiayai kami, bahkan hingga tujuh turunan sekalipun" Ucap Nevan dengan santainya
Selama menjadi seorang ceo, Nevan tidak pernah sekalipun menggunakan uang yang dihasilkannya dari perusahaan. Bahkan penghasilannya sebagai seorang Mafia masih terbilang banyak dan mungkin melebihi penghasilannya dari perusahaan, bahkan setelah ia gunakan sebagian.
"Sekarang bukan saatnya membicarakan hal itu, kita seharusnya membicarakan masalah pernikahan mereka berdua" Sela ibu Nevan sudah tak tahan dengan keduanya
"Itu benar.. Kita sebaiknya membicarakan pernikahan mereka" Ucap Ibu tiri Reva ikut nimbrung
"Bagaimana dengan lokasinya?" Tanya Ayah Reva
"Sebelumnya kami sudah pernah melihat beberapa lokasi yang sesuai dengan permintaan mereka. Pernikahan akan dilaksanakan di kota X, tapi jika kalian menginginkannya, kita bisa mengadakannya kembali di kota S"
"Tidak perlu. Aku akan mengikuti apa yang sudah kalian atur" Tutur Ayah Reva tidak mempermasalahkan
"Ini hanya acara privasi. Di masa depan setelah Reva lulus kuliah, kami akan kembali mengadakan resepsi yang tak kalah besar untuknya" Tutur Ayah Nevan
"Sebenarnya tidak perlu sampai seperti itu. Cukup dengan sekali pernikahan saja, lagipula pernikahan yang mewah dan ramai seperti itu, sama sekali tidak akan memiliki kesan yang bagus untuk ku" Tutur Reva menyuarakan pendapatnya
"Apa yang Reva katakan benar. Pernikahan tidak harus dilaksanakan dengan mewah, karena makna sebenarnya dari pernikahan bukan hal yang seperti itu. Selama mereka saling mencintai dan bersedia saling menjaga seumur hidup, itu sudah lebih dari cukup" Sambung Ayah Reva mengiyakan ucapan Reva tadi
"Itu terserah kamu Reva, aku akan mengikutimu semua keinginanmu" Lanjut Nevan kemudian yang hanya diangguki oleh Reva
....
__ADS_1
Pembicaraan pernikahan ini sudah hampir satu jam, meski begitu orang tuanya dan orang tua Nevan masih belum selesai membicarakannya.
Regan yang sejak tadi memegang lengan Reva, kini terkantuk bosan mendengar pembahasan yang menurutnya sangat membosankan ini karena ia yang sama sekali tidak mengerti.
"Kak, aku bosan.. " Bisik Regan di dekat telinganya Reva
"Oh, mau ke kamarku?" Tanya Reva kemudian
"Boleh?" Tanya Regan yang kemudian di angguki oleh Reva
"Hmm.. Sepertinya Regan mengantuk, aku akan membawanya ke atas untuk beristirahat terlebih dahulu. Untuk persiapan pernikahan, kalian bisa membahasnya dengan Nevan" Pamit Reva pada mereka
"Aku? Sendiri? " Tutur Nevan tak ingin berlama-lama disana, terutama karena Regan yang kini menatapnya mengejek yang akhir-akhir ini semakin berani mengejek dirinya terutama jika ada Reva di dekatnya
"Kamu tidak sendiri Nevan.. " Balas Reva menatap orang tuanya dan orang tua Nevan bergantian "Kalau begitu aku naik"
"Uhhhh.. Dasar bocah tengil.. " Batin Nevan mengumpati adiknya sendiri
Entah karena ini perngaruh dari kehamilannya, Reva menjadi semakin dekat dan lengket dengan adiknya. Terutama karena keduanya memiliki hobi yang sama, yang semakin membuat keduanya bisa dengan cepat akrab dan dekat.
.....
Setibanya di kamarnya, Reva membawa Regan masuk ke dalam room secret nya untuk memperlihatkan semua koleksi komputer dan perlengkapan hackernya yang lain.
"Ini punya Kakak semua?" Tanya Regan dengan mata berbinar sembari mencoba satu persatu komputer tersebut
"Hmm.. Ini punya aku semua. Sebagian lagi sudah aku jual saat aku ingin kabur" Jawab Reva mengingat kembali
"Apa Kak Reva tidak ingin membawanya pulang?" Tanya Regan
"Masih belum Kakak putuskan, entah aku akan membeli yang baru atau memindahkan yang ini, tapi pastikan akan sangat merepotkan"
"Kalau begitu, Kak Reva bisa membeli yang baru. Yang ini biar kan aku mengambilnya" Tutur Regan terkekeh sembari menggaruk bagian belakang rambutnya
"Dasar.. Kamu bisa mengambilnya " Ucap Reva
"Yesss.. Janji lo kak, jangan nyesel" Ucap Regan bahagia
__ADS_1
Bukan karena ia tidak mampu membeli, tapi karena ia lebih menyukai komputer lama yang menurutnya lebih bagus dan tahan ketimbang keluaran terbaru.