Belenggu Cinta, Mafia Kejam

Belenggu Cinta, Mafia Kejam
Sedikit Aneh


__ADS_3

"Cepatlah sembuh"


Sejak tadi Rehan tidak berhenti tersenyum memperhatikan tulisan semangat dari Reva di gips kakinya. Hanya sedikit hal sederhana namun membuatnya begitu bahagia. Entah sejak kapan, ia tidak pernah merasa sebahagia ini terutama saat sedang terluka parah seperti ini.


"Jika seperti ini, aku mungkin akan rela terluka demi menarik perhatianmu" Gumam Rehan megusap tulisan tadi


Dddrrr.. . Drrrrtt..


Senyum yang tadinya merekah di wajah Rehan seketika memudar saat teleponnya tiba-tiba berdering memperlihatkan nama asistennya di layar.


"Ada apa?" Tanya Rehan sesaat setelah ia menerima panggilan tersebut


"Maaf mengganggu waktu tuan.. Hanya saja, Siska berulang kali mencari tuan" Jawab nya dari seberang


"Katakan padanya untuk bersabar. Terburu-buru hanya akan merusak rencanaku. Dengan kondisi ku yang seperti ini, hanya akan percuma jika melakukannya sekarang"


"Baik tuan, aku pasti akan menyampaikannya"


"Jika dia menolak, kamu tidak perlu sungkan padanya, lakukan saja seperti biasanya. Kalau perlu ancam dia sekali lagi dengan video itu, lagipula aku tidak terlalu perduli dengannya karena aku tidak benar-benar membutuhkannya untuk rencanaku"


"Baik tuan" Jawab pria dari seberang sebelum Rehan memutus panggilannya


Rehan menghela nafasnya panjang sembari menyandarkan tubuhnya menatap langit-langit kamarnya "Aku pasti akan membalaskan dendam ini, Ma.. " Gumam Rehan mengepalkan tangannya penuh amarah


"Tapi sebelum itu, biarkan aku menikmati waktu saat ini" Lanjutnya menatap tulisan Reva sekali lagi


Perasaan dendam yang selama bertahun-tahun ini ditahannya seketika goyah saat membayangkan Reva. Untuk pertama kalinya ia begitu tertarik dengan seseorang wanita hingga membiatnya rela memperlambat waktu balas dendamnya.


...***...


Di sisi lain, Nevan yang baru saja selesai berbincang dengan Arya dan Bagas, kembali naik ke kamarnya menyusul Reva yang sejak tadi naik karena terlalu bosan mendengar percakapan ketiganya.


"Revaa.. Apa yang kamu lakukan?" Tanya Nevan saat masuk ke dalam kamar


Nevan menghampiri Reva yang saat ini tengah sibuk berkutat dengan laptopnya di kasur. Nevan berbaring di sampingnya dengan tangan memeluk pinggang Reva.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Nevan sekali lagi karena Reva yang bahkan tidak menoleh dan menjawab pertanyaannya tadi


"Aku mencari informasi tentang Intan" Jawab Reva kemudian


"Ohh.. " Gumam Nevan cuek tidak terlalu memperdulikan nya


Reva menatap Nevan yang saat ini tengah bersikap manja dengan mendusel-duselkan rambutnya padanya. Karena merasa gemas, Reva menggunakan tangan kanannya beralih dari keyboard dan mengusap rambut Nevan yang terasa halus.


"Kamu sangat wangi.. " Gumam Nevan yang memang sejak tadi menciun aroma tubuh Reva yang bercampur dengan lotion dan parfum


Tangannya juga ikut beraksi dan masuk ke dalam pakaian Reva, mengelus p*rut Reva disana.


"Ihh.. Geli Nevan.. " Protes Rev menarik tangan Nevan keluar dari bajunya


"Tapi aku menyukainya " Ucap Nevan kembali memasukkan tangannya kedalam mengelus perut Reva sementara Kepalanya kini ia sandarkan di paha Reva


Karena Nevan terlihat menyukainya, Reva dengan terpaksa membiarkannya bermain-main disana meski ia benar-benar merasa geli sendiri.


"Ne-nevan... ! " Pekik Reva saat Nevan tiba-tiba saja menyentuh area sensistifnya "Aku tidak bisa fokus Nevan" Tegur nya kemudian


"Kalau begitu hentikan.. " Ucap Nevan lalu meraih laptop Reva dan menyingkirkannya ke samping


"Lagipula.. Siapa yang menolakku tadi... " Lanjut Reva mengingat kejadian tadi pagi


Nevan seketika bungkam mendengar penuturan Reva. Sudah terlambat baginya untuk menyesal karena keputusannya, bagaimana pun kondisi Reva saat ini masih belum stabil.


"Aku mengantuk.. " Ucap Nevan berdalih sembari mengeratkan pelukannya berharap ia benar-benar bisa tertidur dalam kondisi seperti saat ini


Sementara Reva hanya tersenyum simpul, dengan tangan kanan kembali mengelus rambut Nevan dan tangan kiri sibuk berkutat dengan laptopnya.


....


Setelah mencarinya cukup lama, Reva akhirnya mendapat informasi terkait Intan beberapa tahun belakang ini termasuk kedua orang tuanya yang memang berada di luar negeri.


Namun setelah berulang kali membaca informasi terkait Intan, Reva merasakan sebuah kejanggalan dari informasi tersebut.

__ADS_1


"Nevan.. " Panggil Reva menggoyang pelan lengan Nevan


"Ada apa?" Jawab Nevan yang memang sejak tadi hanya menutup matanya karena tidak bisa tidur


"Aku menemukannya, tapi ini sedikit aneh.. " Jawab Reva kurang yakin


Nevan lalu bangun terduduk di samping Reva lalu mengambil alih laptop Reva, membaca semua informasi yang berkaitan dengan Intan.


"Perusahaan ayahnya mengalami masalah, lalu ayahnya sakit dan di rawat di luar negeri. Sementara putrinya hidup cukup mewah di negara ini" Tutur Nevan membaca informasi pentingnya saja


"Perusahaan ayahnya sudah diakusisi oleh seseorang beberapa bulan yang lalu, tepat disaat perusahaan itu hampir bangkrut" Ucap Reva memperlihatkan informasi yang lainnya


"Tapi apa ini ada hubungannya dengan Rangga?" Tanya Nevan yang sama sekali tidak terpikirkan hubungan diantara keduanya


"Memang tidak berhubungan, hanya saja aku masih merasa sedikit aneh. Bagaimana pun, Rangga sama sekali tidak mengingat kejadian malam itu. Hal ini lebih terlihat seperti rencana yang disusun oleh seseorang"


"Dan bahkan jika aku merasa simpati pada Intan, aku tetap tidak mengerti mengapa ia tidak mencoba mencegah kehamilannya dan justru mempertahankannya disaat ia bahkan tidak mengenal Rangga sebelumnya"


"Sudahlah.. Berhenti memikirkan hal ini, aku sendiri yang akan membahasnya dengan Rangga. Jadi sekarang, istirahatlah ini sudah jam 1 tengah malam" Ucap Nevan menunjuk jam di dinding, lalu menutup laptop Reva dan meletakkan nya di atas meja


"Tapi aku sudah janji akan membantunya, lagipula aku tidak memiliki pekerjaan lain saat ini"


"Reva.. Aku tidak tahu kamu masih ingat atau sudah lupa, tapi saat ini kamu masihlah seorang mahasiswa" Tutur Nevan mengingatkan Reva akan identasnya saat ini


Reva menghela nafasnya panjang, jika Nevan tidak menyebutnya mungkin ia benar-benar akan melupakannya "Baiklah.. Aku akan tidur sekarang" Tutur Reva pada akhirnya


Reva lalu berbaring dengan patuh di kasur, sementara Nevan kini mematikan lampu di kedua sisi. Nevan menarik selimutnya menutupi tubuh keduanya.


"Aku berjanji untuk tidak bersikap keras kepala sebelumnya, tapi sepertinya sikap itu tidak bisa dipisahkan dariku begitu saja" Ucap Reva tiba-tiba


"Kamu bisa bersikap keras kepala jika hal itu untuk kepentingan dirimu sendiri. Tapi jika untuk orang lain, aku harap kamu menahannya terutama jika aku tidak berada di sisimu"


"Aku akan mengingatnya" Balas Reva mengeratkan pelukannya


"Bukan hanya mengingatnya. Tapi kamu harus melakukannya. Kamu harus tahu kapan untuk berhenti ikut campur urusan orang lain" Tutur Nevan mengingatkan

__ADS_1


"Aku tahu.. Jadi berhenti mengomeliku" ucap Reva kemudian


"Aku hanya mengkhawatirkanmu, aku tidak ingin hal seperti kemarin terjadi untuk yang ketiga kalinya" tutur Nevan teringat akan Reva yang sudah dua kali diculik bahkan setelah ia menempatkan pengawal terbaiknya di sisinya


__ADS_2